Jumat, 19 Juni 2009





DI BAWAH AKAR ILALANG
Oleh : Rohmad Widiyanto, S,Pd


(1)
Bulan separuh baya menari-nari di atas air, seolah malas menyaput awan kelabu yang menyelimuti badannya. Temaram sinarnya membuat suasana redup bersama turunnya embun pagi yang mulai menggeliat, menari di atas dedaunan, atap rumah dan segala yang menengadah ke langit. Kokok ayam jantan di perkampungan amat sangat memukau merdunya, seolah memanggil semua makhluk untuk segera terjaga dari istirahat panjang.
Basiput, sebuah desa yang cukup padat penduduknya, terletak di pinggiran sebuah sungai, masih tertidur lelap. Rumah-rumah panggung di pinggiran sungai itu seolah mirip berhala apabila dipandang dari kejauhan. Anggun dan berwibawa. Liukan jukung[1], kelotok[2], dan lanting[3] yang tertambat di tongkat-tongkat rumah warga manambah pesona tersendiri, berlenggak-lenggok bagai seorang ‘puteri’ yang sedang menari. Lemah gemulai, lembut dan berkarisma.
Sebentar lagi biasanya akan ramai orang turun ke batang4 untuk mengambil air wudlu dan membuang hajat pada jamban yang dibangun di atas beberapa batang kayu yang mengapung di pinggir sungai tersebut. Ya, orang-orang di sana memanfaatkan sungai sebagai multi fungsi. Sebagai lalu lintas air, sebagai tempat mandi, sebagai tempat mencuci, dan sekaligus buang hajat. Satu jamban biasanya dipakai oleh dua sampai tiga keluarga. Kayu-kayu penyangga jamban tersebut diikat pada kedua ujungnya dan ditambatkan pada tongkat kayu ulin penyangga rumah panggung dan di tengah-tengahnya ditancapkan beberapa tongkat panjang untuk mengunci ‘batang’ agar tidak terbawa arus sungai.
Sebuah kenikmatan tambahan saat buang hajat adalah ketika ada kelotok lewat, jamban akan terayun-ayun mengikuti irama gelombang air.
Tak seperti hari-hari biasanya, suana pagi itu terasa amat lain, hampir semua warga desa turun ke batang, hingga terlihat antrean di depan batang jamban. Pemandangan seperti ini hanya terjadi beberapa kali saja dalam setahun, biasanya pada hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.
Hari ini sesungguhnya bukan hari raya keagamaan, namun warga masyarakat menyambutnya dengan sangat antusias layaknya menghadapi hari-hari besar keagamaan. Itu pertanda bahwa masyarakat sangat mendukung acara yang akan dilaksanakan pada pagi hingga siang ini
Sejak subuh tadi alunan ayat-ayat suci Al-qur’an telah dikumandangkan dari pengeras suara yang di pasang di lapangan depan kantor kecamatan. Ya, hari ini akan diadakan tabligh akbar, upacara selamatan doa bersama dan sekaligus acara kirim doa buat arwah yang dikubur massal di ujung kampung beberapa tahun silam, akibat sebuah ‘tragedi kemanusiaan’.
Siapapun tak akan menyangka, desa yang begitu indah tersebut ternyata menyimpan kenangan yang tidak menyenangkan.


(2)
Jauh di ujung kampung, di pinggiran hutan lindung, sekelompok ‘massa’ dari dunia yang berbeda sedang mengadakan pembicaraan yang serius mengenai nasib mereka.
“Saudaraku, sulit rasanya kita melupakan kata-kata bapak Camat, kita juga tidak menyangka bahwa itulah pesan terakhir yang sempat kita dengarkan, masih terbayang dalam ingatan kita kata-kata bapak Camat ‘kita ini adalah saudara, berdoalah dan tabahkanlah hatimu Saudaraku, Tuhan Maha Tahu, kulepas kepergianmu dengan isak tangisku, akupun turut berdoa semoga Saudaraku semua mendapat keselamatan dan bimbingan ke jalan yang diridloi Tuhan’. Ya, itulah pesan terakhir yang tak pernah bisa aku lupakan. Setelah itu kita berangkat ‘mengungsi’, seolah lega rasanya setelah kita berada di atas truk pengangkut dengan pengawalan ketat aparat” ‘seseorang’ mulai membuka pembicaraan.
“Betul, betul sekali apa yang kau katakan saudaraku, namun, ….. siapa pun tak akan menyangka, kita semua juga tidak menyangka, hanya dalam hitungan menit setelah itu, lalu tiba-tiba dari balik kegelapan malam beratus orang menghadang kita. Beratus tumbak, pedang, dan parang seolah menghipnotis kita, menghipnotis bapak-bapak aparat, hingga diluar kesadaran kita, kita digiring ke sebuah lapangan, dan dengan suka rela kita menyerahkan kepala, menyerahkan jantung, hati, serta semua yang kita miliki untuk santapan pedang tumbak dan parang mereka. Aku tak sanggup mengingatnya lagi saudaraku!” Kata hati salah seorang penghuni liang lahat massal di ujung desa, yang rupanya sebagai orang yang paling dipercaya memimpin ratusan penduduk di sana.
Sementara yang lainnya hanya bisa tertunduk, lemas tanpa daya mendengar kata hati pemimpinnya. Ada yang tanpa kepala, tanpa lengan, tanpa telinga, tanpa hati, tanpa jantung, bahkan banyak diantara mereka yang tanpa alat kelamin. Mereka saling bicara dengan kata hati, dan perasaan. Itupun hanya segelentir orang yang mau menyampaikannya. Sebagian besar lainnya hanya dapat terdiam, pasrah seolah-olah tanpa keinginan dan tanpa tuntutan. Walau sesungguhnya mereka ingin angkat bicara, namun mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan, dan untuk apa mereka bicara. Keadaan menyudutkan mereka ke dalam sebuah kondisi selalu diam, diam dan diam, jangankan hanya dengan kata hati, orang-orang kecil seperti mereka berbicara dengan mulutpun tak ada yang mau mendengarkan. Itulah rupanya yang membuat mereka enggan bicara.
“Betul katamu pemimpinku, tapi apa yang dapat kita perbuat disini?” sahut penghuni yang lainnya.
“Ya, itulah yang kini sedang kupikirkan” sahut sang pemimpin
“Empat tahun sudah kita disini pemimpinku, aku tak berpikir lagi rumah dan hartaku yang sudah dibakar, dijarah, dan diperebutkan, itu tiada lagi berarti bagi kita. Aku pun juga sama sekali tak mempersoalkan siapa yang salah dan siapa yang benar, karena dalam kondisi kita semacam ini bukanlah pengakuan seperti itu yang kita perlukan, lagian antara benar dan salah sangatlah tipis batasnya, dan tinggal dari sisi mana kita melihatnya, dan toh itu juga bukan urusan kita lagi. Jujur aku katakan, aku rela sudah seperti ini, dan andai kita yang dianggap bersalah menurut tata hukum manusia, biarlah itu semua, bukan waktunya lagi kita mengadakan pembelaan. Menurutku, hanya Tuhan sendiri yang tahu. Andai pun kita dianggap bersalah, sudah cukuplah kejadian ini untuk yang terakhir kalinya. Aku hanya merindukan alunan ayat-ayat-Nya, yang tak pernah lagi kita dengar, berkatalah, bertindaklah pemimpinku, agar nasib kita tidak terus begini!” sambung yang lainnya.
“Betul pemimpinku, kita tidak bisa lagi begini terus, aku hanya meminta, agar kita semua yang disini dirawat dengan sewajarnya, aku sudah muak berjejal dan bertumpuk begini Saudaraku!” sahut yang lain lagi dengan emosi yang tinggi.
“Aku setuju sekali dengan apa yang kalian katakan, tapi bagaimana dan kepada siapa kita meminta, sementara dari sini segala doa sudah tidak akan didengar Tuhan, dari sini suara kita tak terdengar lagi oleh siapapun, Polisi, Lurah, Camat, atau Bupati sekalipun, dan bahkan sampai komnas HAM. Kita tidak didengar lagi. Kita semua disini orang kecil saudaraku. Tangan, kepala, hati, jantung, mata, bahkan alat kelamin kita yang kita korbankan paksa tak mampu lagi mengetuk hati sipapun. Lihatlah anak-anak kita saudaraku, mereka seharusnya tidak disini, mereka semua tanpa dosa, tapi mengapa berada disini pula, seharusnya mereka masih sibuk dengan urusan sekolahnya. Tapi apa yang dapat kita perbuat, Apa!?, sebagai pemimpin kalian aku menyerah saudaraku!”. Pemimpin kelompok itu bicara dengan nada yang sedikit meninggi, sambil sesekali pandangannya menerawang jauh entah kemana.
Seluruh penghuni terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing sambil menunggu apa yang akan dikatakan lagi oleh pemimpinnya. Hening, syahdu, dan menyayat hati. Mereka sama-sama berharap akan datang perubahan nasib. Ini adalah pembicaraan penting yang sudah mereka lakukan entah untuk yang keberapa kali. Mereka juga berharap kepada pemimpinnya agar bisa menuntaskan masalah yang mereka hadapi.
“Saudaraku, … pada dasarnya saya memiliki kedudukan yang sama dengan kalian, sama persis. Kalau toh kalian menganggap aku sebagai pemimpin di sini, itu pun tanpa dasar yang kuat. Jadi suaraku sama dengan suara kalian semua. Apa yang dapat kuperbuat di bawah akar ilalang ini, nyaris tak ada saudaraku. Tengoklah di atas sana, tak satu pun orang ada yang peduli dengan kita di sini. ‘Rumah’ kita telah ditutup ilalang yang lebat, yang tak seorang pun pernah menjamahnya. Kita adalah generasi yang hilang saudaraku. Tengoklah juga di seberang pulau sana, di Poso, Ambon, Aceh, Jawa, juga terdapat ribuan orang yang memiliki nasib serupa dengan kita, dan kita semua tahu apa yang mereka terima? Apa? sama persis, persis dengan kita di sini saudaraku, memang kadangkala kesalahpahaman harus ditebus dengan amat mahal, bahkan teramat mahal bagi orang kecil seperti kita ini, dan kita harus sadar itu, kita pun tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, ibarat dalam keluarga, andai terjadi percekcokan antara anak dengan anak, lantas siapa yang harus bertanggung jawab? Siapa?.. Ya tentu orang tuanya, tak bisa dong orang tua main tunjuk siapa yang salah dan siapa yang benar, orang tua harus bisa berdiri di tengah untuk mereda ketegangan. Harusnya orang tua cepat tanggap mengapa anak sampai cekcok, apa masalahnya, kenapa bisa begitu, dan segera menumpas bibit-bibit percekcokan tersebut agar tidak sampai tumbuh menjadi persengketaan yang lebih lebar. Bukan malah membiarkan anak kelahi sampai babak belur atau justru kelahi sendiri, itu namanya orang tua pengecut dan tidak bertanggung jawab, serta tidak pantas dijadikan contoh. Jadi apa yang kita alami ini persis dengan contoh itu. Kita semua ini sesungguhnya punya orang tua, punya pemimpin Saudaraku, harapan satu-satunya adalah mengetuk hati para orang tua kita, para pemimpin kita, karena kita begini juga karena orang tua kita membiarkan anak-anaknya kelahi sendiri, coba dari awal orang tua cepat tanggap, mungkin tidak akan terjadi seperti ini. Sebagai orang tua harus bertanggung jawab dan jangan hanya berkutat menangani orang-orang di atas sana saja, kita-kita yang di sini juga perlu untuk ditangani, toh kesalahan mereka juga kita sampai begini” penjelasan panjang pemimpin dengan tegas dan berwibawa.
Para warga yang mendengarkan uraian pemimpinnya hanya bisa diam dan membisu, mungkin mereka tidak paham apa yang disampaikan pemimpin kelompoknya, mereka justru mengalami masa puncak kebingungan dan semakin tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Keberadaan mereka yang antara ada dan tiada ternyata sangatlah menyulitkan untuk diatasi. Hanya orang yang memiliki mata hati yang tajam yang memahami permasalahan mereka.
Memecah keheningan suasana waktu itu, salah seorang dari mereka mengajukan usul, “Mohon maaf Saudara-saudara, apapun yang kita bicarakan di sini hasilnya akan sia-sia saja, tak ada gunanya lagi kita ngomong, tak ada! Jangankan sekarang, dulu sewaktu kita masih hidup saja para pemimpin kita telinganya telah diprogram dengan teknologi canggih untuk tidak bisa mendengar jeritan hati rakyat kecil dan matanya pun juga telah dilapisi lensa kontak yang dirancang khusus agar tidak bisa melihat penderitaan orang kecil. Apalagi sekarang kita di sini, jelas tak akan mampu menerobos teknologi itu. Kita ini kan cuma bikin pusing kepala para pemimpin aja. Ya sudahlah, sudah jadi nasib kita begini. Tak perlu macam-macam. Sejak jaman Gestok dulu juga sudah begini, yang pasti kita bisa berbangga karena penderitaan kita telah mengantarkan orang pada kedudukan yang lebih mapan dan tinggi, kita ini agen perubahan. Sudah janganlah berharap terlalu banyak kepada bapak-bapak aparat sebagai pemimpin kita dan sekaligus orang tua kita di atas sana, tiada gunanya mengurus kita. Nambah kerjaan aja, yang hidup aja tidak keurusan apalagi yang seperti kita, sudah baiknya kita jadi hantu aja hingga kita bebas kemana saja suka”
Seluruh penghuni tiba-tiba tertawa mendengar pernyataan temannya. Mula-mula tawa mereka pelan saja, tetapi semakin lama semakin keras, semakin keras, dan akhirnya meledaklah seluruh penghuni. Satu persatu mereka bangkit dan membubarkan diri, membentuk sebuah barisan panjang, terus tertawa dan tertawa. Dan tiba-tiba suasana jadi berubah, semua penghuni kubur berhenti tertawa, lalu mereka menangis, semua menangis, gerakan tubuhnya semakin tak teratur, saling tabrak saling tindih dan saling menginjak. Perundingan kali itu tak membuahkan hasil apa-apa selain kekacaun.


(3)
Ruang pertemuan di kantor lembaga independen telah dipadati oleh warga masyarakat dari berbagai latar belakang desa dan etnis. Pada hari ini akan diadakan musyawarah bersama untuk yang kesekian kalinya sebagai wujud nyata rasa empati mereka terhadap tragedi kemanusiaan beberapa tahun silam.
Dari pertemuan-pertemuan terdahulu nyatalah bahwa sesungguhnya mereka tak menghendaki peristiwa tersebut sampai terulang kembali, mereka sama-sama menyadari perlunya iktikat baik dari semua unsur, untuk menyikapi permasalahan yang melanda daerah mereka beberapa tahun silam.
Setelah pembicaraan panjang dilakukan, mereka berinisiatif untuk mengadakan sebuah acara khusus keagamaan, semacam doa bersama dan sekaligus mengirim doa khusus untuk para korban yang telah tiada agar arwahnya dapat diterima disisi-Nya. Ini adalah sebuah langkah positif demi terciptanya kedamain, sambil menunggu keputusan dari pemerintah yang tak kunjung ada.
“Bapak-bapak, dan Ibu-ibu yang saya hormati, sesungguhnya apa yang kita lakukan sekarang ini adalah sebuah langkah yang terlambat. Namun keterlambatan ini bukanlah tanpa sebab. Kita tahu bersama langkah-langkah rekonsiliasi yang pernah dilakukan selalu dan selalu menemui jalan buntu, hingga kata sepakat itu tak pernah terwujud. Untuk itu sebuah langkah yang tepat apabila kita berinisiatif mengadakan acara yang telah kita susun secara matang tersebut, semoga acara yang akan kita lakukan beberapa hari mendatang dapat berjalan dengan lancar dan mendapatkan sambutan yang cukup antuasias dari seluruh warga,” demikian kata penutup pertemuan yang disampaikan oleh pemimpin rapat.
Sampit, 2005
[1] Semacam perahu sampan, terbuat dari batang kayu ulin yang dipahat. Biasanya dipergunakan petani sebagai alat pengangkut karet sadapan dari kebun dan memancing memancing udang
[2] Perahu dengan mesin, biasanya digunakan sebagai sarana angkutan penduduk.

[3] Bangunan rumah yang didirikan di atas beberapa batang kayu meranti yang dijajarkan terapung sebagai tempat mandi dan jamban
4. Semacam MCK di pinggiran sungai yang terbuat dari susunan batang meranti

1 komentar:

Anonim mengatakan...

kritik dan saran yg dapat di ambil dari cerita itu apa?