Senin, 30 November 2009

TUGAS FILSAFAT 1 - BAHASA SEHAT DAN BAHASA SAKIT DALAM KACA MATA FILSAFAT

Rohmad Widiyanto


Definisi tentang bahasa amatlah beragam. Keberagaman tersebut diakibatkan oleh adanya perpedaan cara pandang tentang bahasa. Salah satu definisi bahasa yang paling banyak disinggung oleh berbagai kalangan yang berbeda latar belakang ilmu yang dimiliki adalah definisi menurut aliran Struktural. Menurut aliran ini, bahasa merupakan sistem tanda arbitrer yang konvensional. Dikatakan sebagai suatu sistem, karena bahasa mengikuti ketentuan-ketentuan atau kaidah-kaidah yang teratur. Dikatakan arbitrer, karena hubungan antara penanda dan petanda (bentuk dan makna, =signifiant, signifie) bersifat semena-mena, namun kesemena-menaan itu masih dibatasi oleh kesepakatan antarpenutur. Makna suatu bahasa sesungguhnya bersifat kesepakatan antarpenutur (konvensional). Lebih lanjut menurut aliran ini, bahwa hanya ujaran saja lah yang dapat dikatakan sebagai bahasa.

Menurut pandangan di atas, menyiratkan bahwa sesungguhnya tidak ada kata salah dalam berbahasa jika antar sesama penutur itu telah saling memahami makna bahasa yang dipergunakan dalam berkomunikasi. Namun, jika antara penutur satu dengan penutur yang lain terjadi ketidaksepahaman dalam memahami bahasa yang dipergunakan, berarti ada ’permasalahan’ dalam penggunaan bahasa tersebut. ’Permasalahan’ itulah yang menjadi tugas para ahli bahasa untuk menganalisanya dalam tataran ilmu ’bicara tentang bahasa’

Tatkala kita ’berbicara tentang bahasa’, muncul lah istilah ’salah’ dan ’benar’ dalam berbahasa, karena pada bagian ini, bahasa akan dikupas tuntas dalam berbagai aspek dan sudut pandang. Dari kata ’permasaahan’ itu pula rupanya yang melahirkan berbagai variasi pandangan tentang bahasa. Satu hal yang barangkali belum disadari oleh para ahli bahasa, bahwa tak satupun pengguna bahasa yang dengan sengaja melakukan kesalahan dalam berbahasa. Kesalahan berbahasa muncul tatkala bahasa tersebut dimaknai oleh orang lain. Dengan kata lain, kesalahan berbahasa lebih disebabkan oleh kerancuan makna yang ditimbulkan oleh perbedaan penafsiran makna antara penutur dan petutur. Jika digambarkan dalam sebuah diagram, kurang lebih demikian:




Dari diagram diatas ’Konsep’ merupakan unsur dalam (deep structure) dari penutur, sedangkan ’cara’ adalah perwujudan dari bahasa yang muncul dalam berbagai bentuk (verbal. Nonverbal – lisan atau tertulis) sedangkan ’makna’ merupakan perpaduan dari ’konsep’ dan ’cara’. Antara ’konsep’ dan ’cara’ seringkali tidaklah sama, namun maknanya bisa jadi sama dengan ’konsep’ atau sama dengan ’cara’. Contoh dari argumen ini dapat dilihat dari diagram berikut.






Berkenaan dengan ’sehat’ atau ’sakitnya’ bahasa, dalam tataran struktural, sesungguhnya tidak ada istilah itu. Analogi yang bisa dilakukan, bahasa dikatan sehat, jika tidak menimbulkan ’permasalahan’, dan bahasa dikatakan sakit jika menimbulkan ’permasalahan’. Tanpa ’permasalahan’ berarti antar penutur dengan petutur telah terjadi suatu ’intergibility’. Ada ’permasalahan’ berarti antara penutur dengan petutur belum menemukan kesepahaman bahasa. Jadi konsep sehat dan sakitnya suatu bahasa lebih ditentukan pada ada tidaknya kesepahaman ’makna’ antara petutur dan penutur.

Dalam perkembangannya, bahasa mengalami kemajuan yang sangat spektakuler terutama pada tataran ’CARA’. Manifestasi sebuah ’konsep’ menjadi amatlah beragam. Keberagaman itu jumlah amat banyak. Antara individu satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan ’cara’ untuk memanifestasikan ’konsep’. Keberagaman juga sekaligus menunjuk pada sebuah jati diri (=identitas) pribadi yang membedakan antara satu individu dengan yang lainnya. Dalam tataran fragmatig, masing-masing individu memiliki kebebasan dalam ber-’cara’. Pada sudut ini sesungguhnya tidak ada istilah ’salah’ dan ’benar’, tidak ada istilah ’sakit’ dan ’sehat’ dalam berbahasa, karena masing-masing individu memiliki pertimbangan tersendiri dalam ber-’cara’ sebagai bagian dari ’pencarian’ jati diri.

’Cara’ adalah salah satu bentuk dari pilihan yang telah dipertimbangkan dengan masak untuk memanifestasikan sebuah ’konsep’. Sebelum sampai pada penentuan sebuah pilihan ’cara’, masing-masing individu telah mempertimbangkan latar belakang, alasan dan tujuannya dengan cermat. Contoh konkretnya adalah ’matamu’ menjadi ’dagadu’. Tak ada satupun yang bisa mengklaim sebuah ’cara’ dikatakan ’sakit’ atau ’sehat’, ini adalah kekayaan yang menarik untuk diolah dalam tataran ’bicara bahasa’. Sakit itu indah, dan sehat itu menarik. Salah satu catatan yang mungkin perlu untuk diperhatikan, bahwa pilihan ’cara’ janganlah sampai mengaburkan ’makna’.

Rutam nuwun Kab. Iki halas enijiwas odholut owonem ’arac’ uki aro ana ngis halas, ongkem owonem ono natapmesek uka meleg silun kis hiwul owod. Kap Marsigit rutam nuwun, anerak kapab ayas idajnem kiratret rajaleb tafasfil.

1 komentar:

Dr. Marsigit M.A. mengatakan...

Dimanakah bahasa sakit dan bahasa sehat itu? Apakah yang bisa kita pikirkan perihal bahasa sakit yang sehat? Atau bahasa sehat yang sakit? Apakah pertanyaanku yang terakhir ini sehat atau sakit? Jika aku pikirkan bahwa segalau sesuatu itu adalah bahasa, maka apa makna bahasa sehat dan bahasa sakit itu? Apa penjelasan kita perihal yang ada dan yang mungkin ada di antara bahasa sehat dan bahasa sakit itu? Apakah bahasa sehat dan bahasa sakit itu mengenal taraf-tarafnya? Jika aku memikirkan bahwa semua yang ada dan yang mungkin ada, termasuk bahasa, adalah SATU maka dimanakah bahasa yang sehat dan yang sakit itu? Maka semua jawaban anda tentang pertanyaanku itulah sebenar-benar filsafat anda. Selamat mencoba. Amiin.