Senin, 16 November 2009

PROFESIONALISME GURU

MENUJU GURU YANG PROFESIONAL

Disusun dan untuk Bahan Diskusi pada Forum

Temu Ilmiah Guru Nasional di Universitas Terbuka

Jakarta, 7 s.d. 8 Agustus 2009


Disusun Oleh:

Nama : Rohmad Widiyanto, S.Pd

NIP : 19700624 199801 1 001

Tugas : Mengajar MP Bahasa Indonesia

Unit Kerja : SMA Negeri 3 Sampit, Kalimantan Tengah

Alamat : Jln. Gunung Kerinci No. 2 Sampit

Kalimantan Tengah 74322 Phone 0531 24133

E-mail : rohmadwidiyanto@rocketmail.com

Blog : http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com

Jakarta, 7-8 Agustus 2009

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang tak terhingga, penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena makalah yang berjudul Menuju Guru Yang Profesional, dapat terselesaikan.

Standar Nasional Pendidikan, adalah sebuah rambu-rambu dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Implementasi dan pelaksanaannya masih perlu mendapat kajian yang komprehensif dari segenap unsur yang terkait dengan dunia pendidikan. Khususnya yang menyangkut kualifikasi dan profesinalisme Guru dalam menjalankan tugas pun juga perlu terus ditafsirkan dan diskusikan bersama. Tujuan akhirnya adalah, menciptakan guru Indonesia yang profesional.

Makalah ini disusun dengan menggunakan sistematika penulisan yang amat sederhana. Yaitu hanya terdiri dari tiga bab. Hal ini dilakukan agar pemahaman terhadap karya tulis ini menjadi lebih mudah, sehingga kandungan isinya pun mudah pula dipahami. Makalah ini berisi konsep guru profesional sesuai tuntutan Standar Nasional Pendidikan, Kegiatan-kegiatan penunjang profesionalisme guru, serta MGMP sebagai menunjang profesionalitas Guru.

Pada Kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada:

1. Rektor Universitas Terbuka yang telah memberikan kepercayaan pada saya untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan Temu Ilmiah Guru Nasional.

2. Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kotawaringin Timur, yang berkenan mendukung saya untuk berpartisipasi dalam kegiatan Temu Ilmiah Guru Nasional

3. Kepala SMA negeri 3 Sampit yang telah mendukung dan memotivasi penulis untuk berpartisipasi dalam kegiatan Temu Ilmiah Guru Nasional.

Ibarat pepatah tiada gading yang tak retak, penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Timbang saran dari berbagai pihak amat diperlukan guna perbaikan makalah ini. Semoga makalah yang singkat ini akan bermanfaat bagi banyak pihak.

Sampit, 28 Juli 2009

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul ……………………………………………………………………

i

KATAPENGANTAR ………………………………………………………….....

ii

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………..

iii

Abstrak ……………………………………………………………………………

iv

BAB I PENDAHULUAN ………………………………………………………

1

A. Dasar Pemikiran ………………………………………………………………

1

B. Permasalahan …………………………………………………………………

3

C. Tujuan Penulisan ……………………………………………………………...

3



BAB II PEMBAHASAN ………………………………………………………

4

1. Konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional ………….…

4

2. Kegiatan-kegiatan yang Menunjang Peningkatan Profesionalisme guru .........

6

3. Peran MGMP dalam menunjang profesionalitas Guru ………………………...

8

BAB III PENUTUP ...............................................................................................

11

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................

12



MENUJU GURU YANG PROFESIONAL

Oleh : Rohmad Widiyanto, S.Pd

Abstrak

Makalah ini disusun untu dipresentasikan dalam forum Temu Ilmiah Guru Nasional yang bertujuan bertujuan 1) Mendeskripsikan konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional Pendidikan, 2) Mendeskripsikan kegiatan-kegiatan yang menunjang peningkatan profesionalisme guru, 3) Mendeskripsikan peran MGMP dalam menunjang profesionalitas Guru.

Makalah ini disusun dengan menggunakan metode yang amat sederhana, sistematika penulisannya pun juga hanya terdiri dari tiga bab, yaitu Bab I Pendahuluan, Bab II Pembahasan, dan Bab III Penutup. Ketiga Bab tersebut merupakan sebuah alur pikir yang saling berhubungan.

Sesuai dengan tujuan tersebut, kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini 1) Konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional. Sesuai tuntutan standar nasional seorang guru harus memiliki sejumlah kompetensi sebagai bekal menjalankan tugas-tugas keprofesionalannya. Standar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. sebagaimana tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005, 2) Kegiatan-kegiatan yang Menunjang Peningkatan Profesionalisme guru Keprofesionalan seorang guru bisa dibangun dan diusahakan melalui berbagai jenis kegiatan. Jenis-jenis kegiatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi: a. Pendidikan b. Melaksanakan PBM dan Proses Bimbingan Siswa c. Pengembangan Profesi d. Penunjang PBM/Bimbingan. 3) Peran MGMP dalam menunjang profesionalitas Guru









BAB I PENDAHULUAN

A. Dasar Pemikiran

Secara tradisional sebutan profesi hanya diperuntukkan bagi jabatan dan bidang kerja tenaga medis, hukum dan kependetaan. Guru pada perkembangannya dikatakan sebagai profesi karena jabatan dan bidang kerjanya memang memenuhi syarat untuk disebut sebagai suatu profesi. Jabatan dan bidang kerja guru bukan sekedar suatu cara untuk memperoleh nafkah atau mencari uang, tetapi suatu jabatan pelayanan bagi pemenuhan salah satu kebutuhan akan pendidikan. Selain itu jabatan dan bidang kerja guru memenuhi persyaratan profesi dalam pengertiannya sebagai jabatan dan bidang kerja yang menuntut pengetahuan dan kondisi khusus.

Tanpa guru, pendidikan hanya akan menjadi slogan muluk karena segala bentuk kebijakan dan program pada akhirnya akan ditentukan oleh kinerja pihak yang berada di garis terdepan yaitu guru. “No teacher no education, no education no economic and social development” demikian prinsip dasar yang diterapkan dalam pembangunan pendidikan di Vietnam berdasarkan amanat Bapak bangsanya yaitu Ho Chi Minh. Guru menjadi titik sentral dan awal dari semua pembangunan pendidikan. Di Indonesia, saatnya kini untuk membuat kebijakan dengan paradigma baru yaitu membangun pendidikan dengan memulainya dari subyek “guru”. Tanpa itu semua dikhawatirkan mutu pendidikan tidak sampai pada cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengembangan sumber daya manusia.

Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005, disebutkan bahwa prinsip profesionalitas dari profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan:

1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealism.

2. Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia.

3. Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas.

4. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas.

5. Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan.

6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.

7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.

8. Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

9. Memeiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Untuk dapat menjamin integritas profesionalnya dalam berbagai segi hubungan, seorang guru sebagai tenaga edukatif secara profesional terikat oleh moral (baik terhadap anak didik, institusi, maupun teman sejawat), serta berbagai sikap etis profesi yang antara lain sebagai berikut:

1. Sikap Tanggung Jawab sebagai Pendidik

Tanggung jawab ini meliputi tanggung jawab professional maupun sosial. Guru sebagai tenaga edukatif dibedakan dari tenaga administrasi, karena peran pokoknya sebagai pendidik. Pendidik berarti pengajar dan pembina. Kendati pendidikan tidak identik dengan pengajaran, namun pengajaran merupakan bagian hakiki dari pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah. Karena pengajaran penting dari tenaga mendidik, maka sikap dan tanggung jawab pendidik menuntut dikuasai dan dimilikinya hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas kepengajaran. Untuk dapat dapat menjadi pendidik yang baik, seorang guru perlu dapat mengajar dengan baik. Untuk ini, pertama-tama guru dituntut menguasai bahan yang bukan sekedar mampu menghafal semalam sebelum disajikan di depan kelas. Menguasai bahan berarti memprogram, mengetahui, memahami, mampu menerapkan, mampu membuat analisa dan sintesis, serta mampu mengevaluasinya. Untuk itu sebagai konsekuensi dari semua itu, kepada guru dituntut harus membuat prosem, prota, Silabus, RPP, menyusun bahan ajar, melaksanakan PBM dengan berbagai metode, menyusun program dan melaksanakan evaluasi, pemeberian remedial dan pengayaan, menganalisis hasil evaluasi belajar siswa, serta menyusun PTK.

Selain penguasaan materi pelajaran dan pemilikan ketrampilan mengajar, termasuk dalam sikap tanggung jawab pendidik adalah adanya usaha untuk memiliki integritas dan kemakmuran sebagai seorang pendidik. Tidak semua orang pandai mempunyai kualitas sebagai pendidik. Karena dalam mendidik tidak hanya tergantung pengertian penataran pengetahuan tetapi juga melatih ketrampilan dan menanamkan nilai-nilai. Seorang pendidik diharapkan mampu memantau terbentuknya sikap dan pandangan hidup yang benar dalam diri peserta didik. Pendidikan nilai tidak dapat dilakukan melulu hanya secara kognitif dengan mengacu pada pemahaman nalar saja, tetapi juga perlu memperlihatkan dimensi afektif (menggerakkan hati) dan konatif (melatih kehendak) dalam diri peserta didik. Untuk ini keteladanan diri sendiri mempunyai peran penting. Dimensi keteladanan ini memang lebih mendesak pentingnya bagi pendidikan nilai di tingkat dasar dan menengah, karena pada masa ini merupakan masa pembentukan kepribadian anak menuju kedewasaan.

2. Sikap Adil terhadap Siswa dan Lembaga Pendidikan Tempat Bekerja

Sikap adil merupakan sikap etis yang paling dasar, karena dalam sikap ini terkait tuntutan minimal perwujudan sikap tanggung jawab. Sikap adil berarti sikap menghormati dan memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya. Seorang guru bersikap tidak adil pada siswanya misalnya dalam pemberian tugas dan penilaiannya ia dipengaruhi oleh keterlibatan emosional (baik yang negative dalam bentuk sentimen pribadi maupun yang positif dalam bentuk penganakemasan) terhadap pribadi itu, yang oleh T Person dinyatakan ‘perlu ada pada pemegang setiap profesi’.

Bersikap adil terhadap lembaga pendidikan tempat guru bekerja berarti melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai dengan aturan pada masing-masing instansi.

Memang sikap adil dari guru terhadap sekolah tempat ia bekerja biasanya dapat terjadi kalau diimbangi dengan oleh sikap adil pemerintah terhap gurunya. Kalau kesejahteraan guru sebagaimana menurut ukuran kewajaran yang dapat dituntut tidak diperhatikan, maka cukup sulit untuk mengharapkan agar para guru bersikap adil terhadap sekolah tempat ia bekerja.

3. Sikap Cinta Terhadap Profesi dan Terhadap Ilmu yang Diajarkan

Berbeda dengan kedua sikap etis sebelumnya yang mengikat guru sebagai suatu kewajiban. Sikap etis yang ketiga lebih merupakan suatu kemajuan yang kalau dimiliki dapat menunjang pelaksaan tugasnya. Sikap cinta tidak pernah dapat dipaksakan, tetapi pantas untuk dikejar dan dicita-citakan serta diusahakan terwujudnya.

Seorang guru diharapkan mempunyai sikap cinta terhadap profesinya. Sikap cinta terhadap profesi akan mendorong munculnya semangat dan dedikasi dalam melaksanakan tugasnya yang diemban. Karena guru merupakan salah satu profesi yang tidak memiliki gengsi social tidak terlalu tinggi, tanpa adanya idealisme tidak banyak yang sungguh berminat menjadi guru. Karena tidak disertai kecintaan terhadapnya, kadangkala menjadikan profesi guru hanya sebagai sarana mencari nafkah dan bukan suatu cara hidup. (a way of making maney, and not way of life). Mencintai profesi sebagai guru berarti menemukan kebahagiaan hidup dalam mengajar, mendidik siswa dalam menyebar luaskan pengetahuan.

B. Permasalahan

Sejumlah permasalah yang muncul berdasarkan dasar pemkiran di atas adalah:

1. Bagaimanakah konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional?

2. Kegiatan-kegiatan apa sajakah yang menunjang peningkatan profesionalisme guru?

3. Bagaimanakah peran MGMP dalam menunjang profesionalitas Guru?

C. Tujuan Penulisan

1. Mendeskripsikan konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional Pendidikan.

2. Mendeskripsikan kegiatan-kegiatan yang menunjang peningkatan profesionalisme guru.

3. Mendeskripsikan peran MGMP dalam menunjang profesionalitas Guru.

BAB II. PEMBAHASAN

1. Konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional.

Sesuai tuntutan standar nasional seorang guru harus memiliki sejumlah kompetensi sebagai bekal menjalankan tugas-tugas keprofesionalannya. Standar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. sebagaimana tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005, seperti terlihat dalam uraian berikut.

  1. Kompetensi Pedagogik, meliputi:

1) Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral, spiritual, sosial, kultural, emosional, dan intelektual

2) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik

3) Mengembangkan kurikulum yang terkait dengan mata pelajaran yang diampu.

4) Menyelenggarakan pembelajaran yang mendidik

5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran

6) Memfasilitasi pengembangan potensi peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliki.

7) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan peserta didik.

8) Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil bela jar.

9) Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.

10) Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

  1. Kompetensi Kepribadian

1) Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.

2) Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat.

3) Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.

4) Menunjukkan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.

5) Menjunjung tinggi kode etik profesi guru.

c. Kompetensi Sosial

1) Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.

2) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.

3) Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.

4) Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

  1. Kompetensi Profesional

1) Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung mata pelajaran yang diampu.

2) Menguasai standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran yang diampu.

3) Mengembangkan materi pembelajaran yang diampu secara kreatif.

4) Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melakukan tindakan reflektif

5) Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan diri.

Di pihak lain yang juga bisa dijadikan acuan untuk membangun profesionalitas guru adalah pendapat yang disampaikan Michael Fullan (2006:3) dengan 3 terobosan baru dalam dunia pendidikan. Pemikiran tersebut bertujuan untuk membangun profesionalisme guru, yang terkenal dengan ”Tripel P Model”.

Personalisasi adalah pendidikan yang “memposisikakan siswa sebagai pusat” (Leadbeater,2002, p. 1), atau dengan kata lain, masing-masing individu siswa memiliki kedudukan yang amat penting dalam sebuah proses pembelajaran. Dalam proses ini siswa diharapkan mendapat perhatian yang khusus dalam mendapatkan pelajaran, serta terjaminnya kebutuhan motivasionalnya di setiap saat/momen. Siswa tidak dapat memperoleh hak ini jika guru hanya setengah-setengah dalam ”melayaninya”. Jika ingin menempatkan siswa sebagai pusat perhatian, guru hendaklah menangani secara all Out, menyeluruh dan berkesinambungan.

Precission, teori penilaian dalam pembelajaran dipersiapkan dalam terminologi [yang] comprehensif. Beberapa tahun yang lalu sejumlah penulis mencoba menyampaikan hal ini. Sebagai contoh, Sadler (1989) yang mengembangkan jawaban atas dua permasalahan: (1) ketiadaan suatu teori umpan balik dan penilaian dalam setting pembelajaran yang kompleks, dan ( 2) kebingungan pengamatan pada guru pada saat memberikan pertimbangan penilaian pada siswa yang reliable dan valid tentang hasil pekerjaan siswa dan usaha untuk meningkatkannya.

Sadler’S (1989) solusi utamanya adalah, memusatkan "bagaimana” pertimbangan tentang mutu tanggapan siswa ( capaian belajar, portofolio hasil karya atau pekerjaan) dapat digunakan untuk membentuk dan meningkatkan kemampuan siswa. Lebih lanjut Sadler menyampaikan, bahwa umpan balik itu menjadi kunci unsur penilaian perkembangan siswa, tetapi umpan balik hendaknya digunakan untuk mengubah kesenjangan dalam pelajaran. Untuk itu sebelumnya siswa harus: a) memiliki suatu konsep standard (atau goal, atau tingkatan acuan) tentang tujuan yang akan dicapai, ( b) berusaha membandingkan antara tingkat pencapaian hasil belajar dengan standard yang telah ditentukan, dan (c) mulai bertindak untuk meminimalis kesenjangan nilai antara mata pelajaran satu dengan yang lain.

Professional Learning. Pembelajaran yang profesional adalah suatu alat utama untuk menerapkan perubahan: salah satu dari ketiga kunci standard strategis yaitu perubahan berbasis standar, dan perubahan bentuk proses perencanaan Akademis. Dalam hal ini Guru dituntut untuk selalu berinovasi dalam pembelajaran. Salah satu Implementasinya adalah dengan terus mengkaji ulang semua perangkat pembelajaran dan metode yang dipergunakan dalam pembelajaran tersebut.

Sebuah paradigma yang perlu diubah adalah, adanya anggapan bahwa Silabus dan RPP merupakan harga mati dan tidak perlu diubah-ubah lagi. Kondisi nyata yang ada, banyak diantara kita yang hanya sekedar ”meng-copy-paste” dalam menyusun silabus dan RPP. Akibat langsungnya adalah, perangkat tersebut menjadi ”tidak berbunyi” (meminjam istilah Pangesti Widarti: Moderator KGI). Jika pembelajaran ingin lebih profesional, seorang guru dituntut untuk selalu berinovasi dan mengadakan perubahan RPP beserta proses pembelajaran di kelas.

Untuk lebih bisa menjamin keprofesionalan seorang guru pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada jenjang SMA/MA/SMK, kompetensi awal yang harus dimiliki adalah:

  1. Memahami konsep, teori, dan materi berbagai aliran linguistik yang
    terkait dengan pengembangan materi pembelajaran bahasa.
  2. Memahami hakekat bahasa dan pemerolehan bahasa.
  3. Memahami kedudukan, fungsi, dan ragam bahasa Indonesia.
  4. Menguasai kaidah bahasa Indonesia sebagai rujukan penggunaan
    bahasa Indonesia yang baik dan benar.
  5. Memahami teori dan genre sastra Indonesia.
  6. Mengapresiasi karya sastra secara reseptif dan produktif.

2. Kegiatan-kegiatan yang Menunjang Peningkatan Profesionalisme guru

Sesuai konsep di atas, keprofesionalan seorang guru bisa dibangun dan diusahakan melalui berbagai jenis kegiatan. Jenis-jenis kegiatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi:

a. Pendidikan

1) Seorang guru harus memenuhi Kualifikasi Pendidikan Sekolah dan Memperoleh Ijazah/Gelar sesuai standar minimal yang telah diamatkan undang-undang. Jika memungkinkan, guna mendukung keprofesionalan tugasnya seorang guru bisa menempuh pendidikan yang melebihi dari standar minimum yang telah ditetapkan Depdiknas (misalnya menempuh pendidikan S2).

2) Mengikuti berbagai Pendidikan dan Latihan Kedinasan yang relefan/tidak relefan dengan bidang kerja.

Pendidikan dan latihan yang relefan maupun tidak relefan dengan bidang kerja/tugas guru amatlah besar peranannya dalam memupuk profesinalisme guru. Melalui diklat-diklat, wawasan dan pengetahuan seorang guru akan terus dikembangkan. Seorang guru yang profesional adalah seseorang yang “mau” terus belajar, dan kadang diperlukan berfikir yang ‘out of the box

b. Melaksanakan PBM dan Proses Bimbingan Siswa

1) Melaksanakan PBM/Bimbingan

Kegiatan ini merupakan tugas utama bagi seorang Guru. Untuk itu, pada kegiatan ini harus dilaksanakan secara serius, sungguh-sungguh dan profesional mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pada tahap evaluasi.

2) Melaksanakan Tugas Tertentu di Sekolah

Seorang guru yang profesional, bukanlah sekedar guru yang hanya bisa mengajar di depan kelas saja, namun juga bisa menjalankan tugas-tugas tertentu di sekolah. Tugas-tugas tertentu tersebut meliputi, wakil kepala sekolah, wali kelas, pembimbing kegiatan ekstra kurikuler siswa, serta kegiatan-kegiatan insidental lain di sekolah.

Khusus pada proses pembibingan siswa, seorang guru yang baik adalah guru yang bisa membimbing siswanya sampai meraih prestasi sesuai yang telah ditargetkan. Tak ada artinya segudang prestasi bisa diraih oleh seorang guru, jika yang bersangkutan tidak mampu ”menghantarkan” siswanya untuk meraih prestasi. Untuk itu, dalam hal bimbingan siswa ini pun juga perlu mendapatkan perhatian yang lebih dari seorang guru. Bagaimanapun iklim dan kondisi sekolah, jika seorang guru memiliki keiklasan, ketulusan hati dan bersungguh-sungguh dalam membimbing siswa, hasilnya tidak akan sia-sia.

c. Pengembangan Profesi

1) Membuat Karya Tulis Ilmiah, yang meliput:

i. Penelitian

ii. Karangan Ilmiah

iii. Ilmiah Populer

iv. Prasaran Seminar

v. Buku

vi. Diktat

vii. Terjemahan

2) Membuat Alat Peraga/Pelajaran/Bimbingan

3) Menciptakan Karya Seni

4) Menemukan Teknologi Tepat Guna

5) Mengikuti Kegiatan Pengembangan Kurikulum

Kegiatan ini merupakan kegiatan tambahan bagi seorang guru yang memiliki sifat sebagai ’pengembang’. Layaknya membuat sebuah kue, meskipun bukan sebagai bahan pokok, namun jika kehadirannya diabaikan, hasilnya pun juga tidak akan maksimal, bahkan amat jelek dipandang mata. Demikian juga seorang guru, jika kegiatan ini tidak dilakukan, keprofesionalannya juga tidak akan bisa maksimal.

Berdasarkan pengalaman penulis, kegiatan inilah yang sering menghantar posisi guru ke tempat yang lebih ’tinggi’ dibandingkan teman guru yang lainnya yang tidak melakukan kegiatan pengembangan profesi. Jika guru mau melakukan kegiatan ini, disamping berfungsi untuk mengembangkan profesi individu guru, juga mendatangkan banyak keuntungan, baik moril maupun materiil. Niat baik, adalah kunci utama dari suksesnya para guru dalam melakukan kegiatan ini.

d. Penunjang PBM/Bimbingan

1) Melaksanakan Pengabdian Pada Masyarakat

2) Melaksanakan Kegiatan Pendukung Pendidikan

3. Peran MGMP dalam menunjang profesionalitas Guru

a. Konsep Dasar dan Pelaksanaan MGMP

Banyak upaya yang telah ditempuh untuk meningkatkan profesional Guru. Diantaranya melalui optimalisasi peran dan aktivitas MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Program pemerintah untuk mendukung MGMP pun mulai digulirkan dalam program Better Education through Reformed Management Universal Teacher Upgriding (kalau mau disingkat menjadi: BERMUTU) oleh Departemen Pendidikan Nasional. Kegiatan ini melibatkan PMPTK (Bindiklat & Profesi), Dikti (Ketenagaan), Pemerintah Daerah/Dinas Pendidikan, P4TK, LPMP, LPTK, MGMP, Kelompok Kerja Guru, Kepala Sekolah & Pengawas, Jardiknas (Putekkom) dan Balitbang.

Pembinaan guru harus berlangsung secara berkesinambungan, karena prinsip mendasar adalah guru harus merupakan a learning person, belajar sepanjang hayat masih dikandung badan. Sebagai guru profesional guru berkewajiban untuk terus mempertahankan profesionalitasnya sebagai guru. Pembinaan profesi guru secara terus menerus (continuous profesional development) menggunakan wadah guru yang sudah ada, yaitu musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) untuk tingkat sekolah menengah. Aktivitas guru di MGMP tidak saja untuk menyelesaikan persoalan pengajaran yang dialami guru dan berbagi pengalaman mengajar antar guru, tetapi dengan strategi mengembangkan kontak akademik dan melakukan refleksi diri.

Desain jejaring kerja (networking) peningkatan profesionalitas guru berkelanjutan melibatkan instansi Pusat, Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (P4TK), Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) dan Dinas Pendidikan Propinsi/ Kabupaten/Kota serta Perguruan Tinggi setempat. P4TK yang berbasis mata pelajaran membentuk Tim Pengembang Materi Pembelajaran, bekerjasama dengan Perguruan Tinggi bertugas:

1) menelaah dan mengembangkan materi untuk kegiatan MGMP

2) mengembangkan model- model pembelajaran

3) mengembangkan modul untuk pelatihan instruktur dan guru inti

4) memberikan pembekalan kepada instruktur pada LPMP

5) mendesain pola dan mek anisme kerja instruktur dan guru inti dalam kegiatan MGMP

LPMP bersama dengan Dinas Pendidikan Propinsi melakukan seleksi guru untuk menjadi Instruktur Mata Pelajaran Tingkat Propinsi per mata pelajaran dengan tugas:

1) menjadi narasumber dan fasilitator pada kegiatan MGMP

2) mengembangkan inovasi pembelajar an untuk MGMP

3) menjamin keterlaksanaan kegiatan MGMP

Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota melakukan seleksi Instruktur Mata Pelajaran Tingkat Kab/Kota dan membentuk Guru Inti per mata pelajaran dengan tugas:

1) motivator bagi guru untuk aktif dalam MGMP

2) menjadi fasilitator pada kegiatan MGMP

3) mengembangkan inovasi pembelajaran

4) menjadi narasumber pada kegiatan MGMP

Meningkatnya kinerja guru akan meningkatkan kualitas pembelajaran, yang pada akhirnya akan meningkatkan mutu pendidikan secara keseluruhan, karena ujung tombak dari kegiatan pendidikan adalah pada kegiatan pembelajaran yang dirancang dan dilaksanakan oleh guru.

Perubahan paradigma pendidikan di era globalisasi ini mengharuskan adanya perubahan pola pikir bagi guru. Guru harus terus berinovasi dan mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berorientasi pada pembelajaran dari teaching menjadi learning. Perubahan pola pikir bagi guru dalam mengelola kelas dan melaksanakan proses pembelajaran mendesak sekali untuk terus dilaksanakan. Tuntutan ini merupakan implikasi dari perubahan reorientasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru mata pelajaran.

Musyawarah Guru Mata Pelajaran merupakan suatu wadah asosiasi atau perkumpulan bagi guru mata pelajaran yang berada di sekolah maupun kabupaten/kota. Organisasi ini bersifat mandiri dan terbuka bagi semua guru mata pelajaran baik yang berstatus pegawai negeri sipil, guru tidak tetap, dan guru pada sekolah swasta yang berada dilingkungan wilayah kabupaten/kota.

Secara konseptual Dasar Kebijakan/Dasar Hukum penyelenggaraan MGMP adalah a) Undang-Undang Dasar 1945, b) Undang-Undang nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah, c) Peraturan Pemerintah nomor 25 tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom, d) Undang-Undang nomor nomor 25 tahun 2000 tentang Propenas, e) Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP No. 19 Tahun 2005 tentang SNP, dan Undang-undang Republik Indonesia, No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.

Adapun tujuan MGMP meliputi Tujuan Umum: mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan profesionalisme guru. Tujuan Khusus: 1) memperluas wawasan dan pengetahuan guru mata pelajaran dalam upaya mewujudkan pembelajaran yang efektif dan efisien. 2) mengembangkan kultur kelas yang kondusif sebagai tempat proses pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan dan mencerdaskan siswa. 3) membangun kerja sama dengan masyarakat sebagai mitra guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Kesungguhan dan tekad untuk berani memperbaiki dan memperbaharui diri bagi setiap guru yang bergabung dalam MGMP merupakan salah satu hal yang diharapkan dari kegiatan ini. Dalam MGMP, guru dapat memperluas wawasan dan pengetahuan dalam berbagai hal, khususnya penguasaan substansi materi pembelajaran, penyusunan silabus, penyusunan bahan-bahan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, memaksimalkan pemakaian sarana/prtasarana belajar dan memanfaatkan sumber belajar. Berbagi (sharing) pengalaman juga akan menghantar guru menjadi lebih percaya diri dan merasa mendapat bantuan dan umpan balik dalam proses pembelajaran. Semua aktivitas dalam MGMP akan menghantar guru lebih berpengetahuan dan lebih terampil dalam langkah pembaharuan pembelajaran yang menyenangkan dan bermartabat.

Tentunya semua berpulang kepada kemampuan mengokohkan: Kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial; sebagaimana tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005 secara bersama-sama dalam wadah yang kuat dengan didukung orang/manusia yang punya tanggung-jawab dan moral yang tinggi. Perjuangan ini memerlukan kesungguhan dan kejujuran dari semua pihak yang terlibat didalamnya. Berpenghasilan yang sangat cukup bukanlah cita-cita akhir bagi guru, sebab yang menjadi harapan guru adalah mampu mengamalkan ilmu dan ketrampilan untuk meningkatkan mutu dan proses belajar mengajar yang bermanfaat bagi kepentingan pendidikan.

b. Kondisi Nyata dan Tantangan Pelaksanaan MGMP

Dalam waktu yang cukup singkat penulis berusaha mencari tahu tentang pelaksanaan MGMP di beberapa daerah, terutama melalui teman-teman di KGI. Berdasarkan informasi tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa , secara konseptual pelaksanaan MGMP pada masing-masing daerah memiliki banyak kesamaan, yang membedakan hanyalah teknik pelaksanaan dan jenis kegiatannya yang dilaksanakan. Kehadirannya dalam lingkup dunia pendidikan mendapatkan reaksi yang berbeda-beda.

Ada sebagian orang yang menganggap bahwa MGMP masih terlalu mandul dalam memberikan kontribusi terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia, sehingga kehadiran dan pelaksanaannya perlu ditinjau ulang. Bahkan ada yang berpendapat bahwa forum MGMP hanyalah dijadikan alat oleh pengurusnya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Yang lebih menyedihkan, MGMP dinilai hanya dijadikan “jembatan” bagi guru tertentu untuk memburu jenjang karier yang lebih tinggi, misalnya kepala sekolah atau jabatan kependidikan bergengsi lainnya. Tidak heran jika sikap sinis pun tak jarang ditimpakan kepada MGMP. MGMP lebih sering diplesetkan menjadi “Mulih Gasik Mampir Pasar” (Pulang awal, kemudian mampir ke pasar) ketimbang Musyawarah Guru Mata Pelajaran. Sebuah ungkapan yang menyiratkan makna betapa MGMP hanya sekadar tempat kumpul-kumpul dan ngrumpi yang jauh dari ingar-bingar dan dinamika untuk mendiskusikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan dunia pembelajaran. Jadwal MGMP pun tak jarang dijadikan sebagai alasan pembenar dan apologi untuk mangkir dari tugas-tugas kedinasan di sekolah. Ya, sebuah tragedi bagi wadah profesi guru semacam MGMP (admin,2009:2)

Terlepas dari kondisi di atas, yang pasti bukan forum MGMP-nya yang perlu dipertanyakan, namun konsep pelaksanaan, pola dan jenis kegiatannyalah yang perlu untuk lebih dimaksimalkan peranannya. Nada-nada sumbang yang menghiasi pelaksanaan MGMP haruslah dipergunakan sebagai daya picu terhadap kemajuan kegiatan MGMP. Anggap itu sebagai sebuah kritik membangun yang akan dijadikan bahan pertimbangan dalam memberdayakan MGMP.



BAB III. PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional

Sesuai tuntutan standar nasional seorang guru harus memiliki sejumlah kompetensi sebagai bekal menjalankan tugas-tugas keprofesionalannya. Standar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. sebagaimana tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005.

2. Kegiatan-kegiatan yang Menunjang Peningkatan Profesionalisme guru

Keprofesionalan seorang guru bisa dibangun dan diusahakan melalui berbagai jenis kegiatan. Jenis-jenis kegiatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi:

a. Pendidikan

1) Seorang guru harus memenuhi Kualifikasi Pendidikan Sekolah dan Memperoleh Ijazah/Gelar

2) Mengikuti berbagai Pendidikan dan Latihan Kedinasan yang relefan/tidak relefan dengan bidang kerja.

b. Melaksanakan PBM dan Proses Bimbingan Siswa

1) Melaksanakan PBM/Bimbingan

2) Melaksanakan Tugas Tertentu di Sekolah

c. Pengembangan Profesi

1) Membuat Karya Tulis Ilmiah, yang meliput:

i) Penelitian, ii) Karangan Ilmiah, iii) Ilmiah Populer, iv) Prasaran Seminar, v) Buku, vi) Diktat, dan vii) Terjemahan

2) Membuat Alat Peraga/Pelajaran/Bimbingan

3) Menciptakan Karya Seni

4) Menemukan Teknologi Tepat Guna

5) Mengikuti Kegiatan Pengembangan Kurikulum

d. Penunjang PBM/Bimbingan

1) Melaksanakan Pengabdian Pada Masyarakat

2) Melaksanakan Kegiatan Pendukung Pendidikan

3. Peran MGMP dalam menunjang profesionalitas Guru

a. Konsep Dasar dan Pelaksanaan MGMP

Musyawarah Guru Mata Pelajaran merupakan suatu wadah asosiasi atau perkumpulan bagi guru mata pelajaran yang berada di sekolah maupun kabupaten/kota. Organisasi ini bersifat mandiri dan terbuka bagi semua guru mata pelajaran baik yang berstatus pegawai negeri sipil, guru tidak tetap, dan guru pada sekolah swasta yang berada dilingkungan wilayah kabupaten/kota.

b. Kondisi Nyata dan Tantangan Pelaksanaan MGMP

MGMP-nya yang perlu dipertanyakan, namun konsep pelaksanaan, pola dan jenis kegiatannyalah yang perlu untuk lebih dimaksimalkan peranannya. Nada-nada sumbang yang menghiasi pelaksanaan MGMP haruslah dipergunakan sebagai daya picu terhadap kemajuan kegiatan MGMP. Anggap itu sebagai sebuah kritik membangun yang akan dijadikan bahan pertimbangan dalam memberdayakan MGMP.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, Panduan bagi Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. Jakarta:BP. Dharma Bhakti

Admin. 2009. Blog article: Pemberdayaan MGMP dan “Therapi Kejut.

Depdikbud, 1999. Panduan Manajemen Sekolah. Jakarta: Ditjen Dikmenum

Depdiknas.2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

-------------, 2002. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah. Jakarta:Dir. Dikmenum

-------------. 2002. Pedoman Manajemen Sekolah. Jakarta:Dir. Dikmenum

-------------. 2002. Konsep Dasar dan Pola Pelaksanaan. Jakarta:Dir. Dikmenum

Departemen Pendidikan Nasional,2006.Undang-undang Republik Indonesia, No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Jakarta

Direktoran Jendral Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Pedoman Penyelenggaraan Program Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Melalui Jalur Pendidikan. Jakarta.

http://Bernardsalassa.wordpress.com

Fasli Jalal. (2007). Sertifikasi Guru Untuk Mewujudkan Pendidikan Yang Bermutu. Makalah disampaikan pada seminar pendidikan yang diselenggarakan oleh Program Pascasarjana Unair, tanggal 28 April 2007.Surabaya

Presiden Republik Indonesia.2003.Undang-undang Republik Indonesia. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Setneg

Presiden Republik Indonesia.2003.PeraturanPemerintah Nomor 19 tahun 2005. Standar Nasional Pendidikan. Jakarta: Setneg

Tidak ada komentar: