Rabu, 09 Desember 2009

TUGAS FILSAFAT 2 - ONTOLOGI DIRI

Oleh Rohmad Widiyanto


Jenang Abrit pethak puniko kangge nguri-uri lan mepetri Kyai Among, Nyai Among, Kyai Bodho, Nyai Bodho, injih sedherek kita ingkang lahir tunggil papan ingkang sanes panggenan ingkang momong badan seliranipun si ’A’. Menopo to wigatinipun dipun uri-uri lan dipepetri? Mboten sanes kejawi sampun ngantos nggothangi lan ngribeti sedoyo lampah kito wiwit dinten meniko ngantos sak piturut-piturutipun.

Jika Anda pernah mengikuti kenduri di sebuah pedesaan masyarakat jawa. Kalimat itu tidaklah asing di telinga. Setiap awal kenduri (apapun niat kenduri itu) pasti kata-kata itu selalu diucapkan oleh pak Kaum (modin). Jenang abrit pethak (merah-putih) adalah bagian utama dari seluruh rangkaian prosesi.

Dalam terminologi Jawa, di kenal istilah Jenang Merah Putih dalam setiap penyelenggaraan ritual “kenduri” (=baca selamatan). Jenang yang secara kasat mata hanya berupa perpaduan antara nasi putih dan nasi putih yang telah dicampur dengan gula merah itu, ternyata memiliki makna persembahan yang amat penting dalam perjalanan ritual itu. Sebuah kenduri-an tidak dapat dikatakan syah jika tanpa itu. Jenang merah putih bahkan menjadi bagian utama dari sejumlah ’persembahan’ lainnya. Ia adalah pembuka dan penutup doa ritual.
Jenang merah putih (=abrit pethak dalam bahasa Jawa) dimaknai sebagai persembahan bagi kyai Among, dan Nyai Among, yang menjaga diri pribadi si empunya hajat. Seperti terlihat dalam kutipan kalimat uraian makna jenang oleh Bapak Kaum (penyampai niat dan pembaca doa dalam kendurian di Jawa) sebagai berikut: ”Jenang abrit pethak meniko kangge nguri-uri lan mepetri Kyai Among, Nyai Among, Kyai Bodho, Nyai Bodho, injih sedherek kita ingkang lahir tunggil papan ingkang sanes panggenan ingkang momong badan seliranipun si ’A’, sampun ngantos nggothangi lan ngribeti wiwit dinten meniko ngantos sak lajeng-lajengipun” dst... Dari penggalan tersebut bisa dimaknai bahwa jenang Merah Putih adalah sebuah persembahan untuk menghormati Kyai Among, Nyai Among, Kyai Bodho, dan Nyai Bodho, sosok imajiner yang menjaga dan melindungi ”si A” (atau seseorang) dari segala macam gangguan dan godaan.

Dalam ranah filsafati, konsep Kyai Among, Nyai Among, Kyai Bodho, dan Nyai Bodho bisa disejajarkan dengan ”si A yang bukan A”. Dalam konteks ini ”si A yang bukan A” lebih berperan sebagai subjek atas ”si A”. Sedangkan ”si A” hanyalah Objek belaka. Dia selalu mengendalikan, menjaga dan selalu melindungi ”si A” dari segala macam mara bahaya yang akan menimpa ”si A”, bahkan semua yang dilakukan ”si A” di bawah kendalinya. Jika ”si A yang bukan A” sakit, maka ”si A” juga akan sakit. Ini pula yang menjadi dasar pengobatan versi orang pintar (=baca dukun) jika ”si A” sakit.

Pandangan di atas kini mulai meredup, pudar oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengedapankan logika. Tingkat kepercayaan orang mengenai ”si A yang bukan A” pun tak seperti dalam ilustrasi di atas. Pembahasan mengenai kesejatian diri pun kini merambah dunia logika dengan psikoanalisisnya. Benarkah dalam diri ”si A” memiliki ”pelindung diri” dari ”si A yang bukab A”?. Dapatkah konsep ini bisa disejajarkan dengan konsep ‘jiwa’ dan ‘raga’ Salah satu rujukan yang bisa disejajarkan dengan pandangan di atas barangkali tak salah bila disebutkan bahwa Sigmund Freud lah yang paling relefan.
Sigmun Freud, dalam uraiannya tentang jiwa dan raga, yang sadar dan yang bawah sadar, menyimpulkan bahwa jiwa merupakan gabungan keseluruhan dari proses konatif serta proses kognitif yang terdapat dalam tingkatan yang-sadar dan yang-di bawah sadar. Dalam raga setiap individu terdapat jiwa. Jiwa memiliki peranan yang amat besar dalam segala pikiran dan tingkah laku raga. Dengan kata lain jiwa mengendalikan raga. Setiap bentuk keputusan dan tindakan raga pada dasarnya dikendalikan oleh jiwa, baik secara sadar maupun di bawah sadar. Tentang bagaimana jiwa bisa mempengaruhi raga, masih menjadi teka-teki dan sulit mencari jawabannya.

Menurut Freud, jiwa seseorang terdiri dari id, ego, dan superego, yang di dalamnya terdapat segenap kegiatan jiwa manusia berupa dorongan konatif serta proses-proses kognitif . Id dan nafsu-nafsunya. Merupakan lapisan paling bawah jiwa manusia, terdiri dari nafsu-nafsu bawaan. Dua diantaranya adalah mempunyai peranan penting sekali, yaitu libido atau nafsu kelamin dan nafsu agresif. Id merupakan tempat kedudukan nafsu-nafsu, yang menurut maslow dikatakan sebagai nafsu kebinatangan. Nafsu-nafsu tersebut berusaha menyembul ke permukaan tingkat kesadaran, sehingga dapat terjelma. Terjelmanya nafsu ke dalam bentuk aksi individu, merupakan bukti konkrit, bahwa jiwa berpengaruh besar terhadap raga. Sayang sekali Freud tidak bisa menjelaskan bagaimana proses pengaruh itu.

Jiwa kedua menurut Freud adalag ego atau “aku”. Ego merupakan hasil terjadinya pertentangan antara prinsip dengan kenyataan yang terdapat dalam sesuatu ruang da waktu tertentu. Ego meliputi hampir segenap kesadaran manusia dan bertugas melakukan penyaringan terhadap nafsu-nafsu yang diijinkan muncul dari id yang meunjukkan sikap “keaku-an” diri invdividu. Dia juga bertugas menekan kembali nafsu-nafsu yang bersifat merusak. Dapat dikatakan bahwa ego merupakan semacam perantara yang terdapat diantara nafsu-nafsu di dalam id dengan dunia luar yang terdiri dari kenyataan material serta
Terbitkan Entri
kemasyarakatan.
Jiwa ketiga manusia adalah superego. Merupakan sejenis perantara yang menghubungkan id dengan perangkat cita-cita yang dipunyai manusia. Ketika manusia mengalami kemajuan dalam kehidupannya, ia tidak hanya berhasil mengembangkan cara-cara untuk menghadapi kenyataan, melainkan melalui masyarakat ia telah menetapkan seperangkat kaidah serta cita-cita yang merupakan bagian dari segi khidupan kejiwaan manusia. Dengan kata lain, superego merupakan pengendali ego manusia.

3 komentar:

Dr. Marsigit M.A. mengatakan...

Semoga usaha Bapak membawa manfaat dan kebaikan. Setidaknya Bapak telah membuktikan bahwa berfilsafat itu mungkin. Mohon agar tugas-tugas yang lain juga dibuat. Amiin.
Komentar:
Jenang Abrit pethak puniko kangge nguri-uri lan mepetri Kyai Among, Nyai Among, Kyai Bodho, Nyai Bodho, injih sedherek kita ingkang lahir tunggil papan ingkang sanes panggenan ingkang momong badan seliranipun si ’A’. Menopo to wigatinipun dipun uri-uri lan dipepetri? Mboten sanes kejawi mbok bilih saged minangka tambah-tambah referensi gesang kula, kangge imbuh sangu sesrawungan kula hing dunya tumujuning akhirat. Amiin.

Dr. Marsigit M.A. mengatakan...

Jenang Abrit pethak puniko kangge nguri-uri lan mepetri Kyai Among, Nyai Among, Kyai Bodho, Nyai Bodho, injih sedherek kita ingkang lahir tunggil papan ingkang sanes panggenan ingkang momong badan seliranipun si ’A’. Menopo to wigatinipun dipun uri-uri lan dipepetri? Mboten sanes kejawi mbok bilih saged kangge tambah-tambah referensi gesang kula kangge sangu sesrawungan kula wonten dunya trusing akhirat. Amiin

Rohmad Widiyanto mengatakan...

Terima kasih pak.
Tugas yang lain baru dalam proses ending. Untuk Tugas tentang bahasan "bahasa Sakit dan bahasa sehat' saya posting di blog saya pada bulan desember, semoga bapak berkenan membacanya. Terima kasih