Selasa, 05 Januari 2010

CATATAN SEKILAS TENTANG PENDIDIKAN, GURU DAN BERBAGAI BEBAN PROFESINYA

CATATAN SEKILAS TENTANG PENDIDIKAN, GURU DAN BERBAGAI BEBAN PROFESINYA
Oleh: Rohmad Widiyanto, S.Pd*)



Kesulitan atau bahkan kebingungan dalam setiap pembicaraan mengenai pendidikan mungkin bersumber pada kenyataan bahwa lembaga ini merefleksikan masalah-masalah atau tantangan mendalam yang dihadapi bangsa Indonesia sebagai Negara berkembang. Pembicaraan mengenai filsafat dan kebijaksanaan pendidikan selalu dengan sendirinya menuntut kejelasan wawasan masa lalu, kebutuhan mendesak masa kini dan harapan subjektif masa depan. Jika wawasan terhadap tiga dimensi kesejarahan dari suatu masyarakat dan suatu negara itu kabur, maka sulitlah diharapkan suatu filsafat dan kebijaksanaan yang jernih dan mantap.
Pendidikan merupakan lembaga yang sarat dengan beban kesejarahan. Melalui lembaga pendidikan, suatu masyarakat akan melestarikan nilai-nilai. Suatu masalah yang substansial sifatnya atau muncul jika suatu masyarakat tidak mampu secara tegas mendefinisikan masa lalunya serta pertentangan-pertentangan yang terkandung dalam tradisinya.
Dalam jajaran persoalan ini , berhubung Indonesia sedang mengalami masa krisis multidimensional, langkah yang tepat guna mengatasi masalah tersebut seharusnya yang dikedepankan adalah masalah pembinaan wawasan kebangsaan, kemasyarakatan, dan kehidupan kenegaraan yang bersatu. Bukan penyemaian benih primordialisme sempit yang membuat menjadi terkotak-kotak, yang tentu hal ini akan berakibat buruk pada dunia pendidikan.
Tidak kalah beratnya dengan hal tersebut, adalah tuntutan mendesak masa kini yang tumbuh secara objektif, baik dari dalam maupun dari luar. Tekanan penduduk dan penyiapan sumber daya manusia dalam berbagai tingkatannya, serta perencanaan dan koordinasi dengan bidang-bidang lain dalam kehidupan ekonomi masyarakat dengan Negara, tentulah mebutuhkan pemetaan persoalan secara jelas.
Sementara itu, kehidupan di luar pendidikan itu sendiri berubah-ubah dan terkadang menolak untuk diramalkan secara tepat. Kenyataan bahwa Indonesia kini tengah berjuang keras agar terbebas dari segala bentuk krisis, tentulah tercipta pada dirinya suatu tekanan-tekanan yang cukup berat. Kesulitan ekonomi yang menimpa Indonesia dan banyak kawasan dunia, dihadapi dengan sikap keras proteksionis, peningkatan efisiensi dan penataan kembali perekonomian, juga merupakan pertanda yang bias tidak bisa haruslah ditangkap maknanya oleh pemikir pendidikan dan pengelola yang bertanggung jawab atas kelangsungan pendidikan. Dan bukan hanya itu, perubahan jangka pendek juga menimbulkan implikasi terhadap anggaran, dan oleh satu dan lain hal pertimbangan, pendidikan yang kadang-kadang terpaksa tidak memperoleh prioritas yang tinggi, termasuk di dalamnya adalah system penggajian guru yang disamaratakan dengan yang lain. Bukankah ini suatu pertanda buruk terhadap dunia pendidikan kita, apabila dilihat dilihat dari ketiga beban kesejarahan di atas.
Masa depan suatu bangsa, sedikit banyak terbebankan pada dunia pendidikan. Ketidakjelasan secara operasional mengenai masa depan suatu bangsa juga akan mempersulit penegasan filsafat pendidikan dan pemikahan perangkat kebijakan, sebab pada dasarnya pendidikan adalah tempat penempaan manusia untuk masa depan, dan masa depan itu secara subjektif menuntut disiplin dimasa kini. Jika ada pertanyaan siapa penempa manusia itu? Mungkin tidak ada opsi lain kecuali guru.

DIMENSI DAN SIKAP ETIS YANG TERKANDUNG DALAM PROFESI GURU

Secara tradisional sebutan profesi hanya diperuntukkan bagi jabatan dan bidang kerja tenaga medis, hokum dan kependetaan. Guru pada perkembangannya dikatakan sebagai profesi karena jabatan dan bidang kerjanya memang memenuhi syarat untuk disebut sebagai suatu profesi. Jabatan dan bidang kerja guru bukan sekedar suatu cara untuk memperoleh nafkah atau mencari uang, tetapi suatu jabatan pelayanan bagi pemenuhan salah satu kebutuhan akan pendidikan. Selain itu jabatan dan bidang kerja guru memenuhi persyaratan profesi dalam pengertiannya sebagai jabatan dan bidang kerja yang menuntut pengetahuan dan kondisi khusus.
Untuk dapat menjamin integritas profesionalnya dalam berbagai segi hubungan tersebut, seorang guru sebagai tenaga edukatif secara professional terikat oleh moral (baik terhadap anak didik, institusi, maupun teman sejawat), serta berbagai sikap etis profesi yang antara lain sebagai berikut:

1. Sikap Tanggung Jawab sebagai Pendidik

Tanggung jawab ini meliputi tanggung jawab professional maupun sosial. Guru sebagai tenaga edukatif dibedakan dari tenaga administrates, karena peran pokoknya sebagai pendidik. Pendidik berarti pengajar dan Pembina. Kendati pendidikan tidak identik dengan pengajaran, namun pengajaran merupakan bagian hakiki dari pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah. Karena pengajaran penting dari tenaga mendidik, maka sikap dan tanggung jawab pendidik menuntu dikuasai dan dimilikinya hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas kepengajaran. Untuk dapat dapat menjadi pendidik yang baik, seorang guru perlu dapat mengajar dengan baik. Untuk ini, pertama-tama guru dituntut menguasai bahan yang bukan sekedar mampu menghafal semalam sebelum disajikan di depan kelas. Menguasai bahan berarti memprogram, mengetahui, memahami, mampu menerapkan, mampu membuat analisa dan sintesis, serta mampu mengevaluasinya. Untuk itu sebagai konsekuensi dari semua itu, kepada guru dituntut harus membuat prosem, prota, Silabus, RPP, analisis materi pelajaran, program evaluasi, remedial, pengayaan, serta analisis hasil evaluasinya.
Selain penguasaan materi pelajaran dan pemilikan ketrampilan mengajar, termasuk dalam sikap tanggung jawab pendidik adalah adanya usaha untuk memiliki integritas dan kemakmuran sebagai seorang pendidik. Tidak semua orang pandai mempunyai kualitas sebagai pendidik. Karena dalam mendidik tidak hanya tergantung pengertian penataran pengetahuan tetapi juga melatih ketrampilan dan menanamkan nilai-nilai. Seorang pendidik diharapkan mampu memantau terbentuknya sikap dan pandangan hidup yang benar dalam diri peserta didik. Pendidikan nilai tidak dapat dilakukan melulu hanya secara kognitif dengan mengacu pada pemahaman nalar saja, tetapi juga perlu memperlihatkan dimensi afektif (menggerakkan hati) dan konatif (melatih kehendak) dalam diri peserta didik. Untuk ini keteladanan sendiri mempunyai peran penting. Dimensi keteladanan ini memang lebih mendesak pentingnya bagi pendidikan nilai di tingkat dasar dan menengah, karena pada masa ini merupakan masa pembentukan kepribadian anak menuju kedewasaan.

2. Sikap Adil terhadap Siswa dan Lembaga Pendidikan Tempat Bekerja

Sikap adil merupakan sikap etis yang paling dasar, karena dalam sikap ini terkait tuntutan minimal perwujudan sikap tanggung jawab. Sikap adil berarti sikap menghormati dan memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya. Seorang guru bersikap tidak adil pada siswanya misalnya dalam pemberian tugas dan penilaiannya ia dipengaruhi oleh keterlibatan emosional (baik yang negative dalam bentuk sentiment pribadi maupun yang positif dalam bentuk penganakemasan) terhadap pribadi itu, yang oleh T Person dinyatakan perlu ada pada pemegang setiap profesi.
Bersikap adil terhadap lembaga pendidikan tempat guru bekerja berarti melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai dengan aturan pada masing-masing instansi.
Memang sikap adil dari guru terhadap ekolah tempat ia bekerja biasanya dapat terjadi kalau diimbangi dengan oleh sikap adil pemerintah terhap gurunya. Kalau kesejahteraan guru sebagaimana menurut ukuran kewajaran yang dapat dituntut tidak diperhatikan, maka cukup sulit untuk mengharapkan agar para guru bersikap adil terhadap sekolah tempat ia bekerja.

3. Sikap Cinta Terhadap Profesi dan Terhadap Ilmu yang Diajarkan

Berbeda dengan kedua sikap etis sebelumnya yang mengikat guru sebagai suatu kewajiban. Sikap etis yang ketiga lebih merupakan suatu kemajuan yang kalau dimiliki dapat menunjang pelaksaan tugasnya. Sikap cinta tidak pernah dapat dipaksakan, tetapi pantas untuk dikejar dan dicita-citakan serta diusahakan terwujudnya.
Seorang guru diharapkan mempunyai sikap cinta terhadap profesinya. Karena sikap cinta terhadap profesi akan mendorong munculnya semangat dan dedikasi dalam melaksanakan tugasnya yang diemban. Karena guru merupakan salah satu profesi yang tidak memiliki gengsi social tidak terlalu tinggi, tanpa adanya idealisme tidak banyak yang sungguh berminat menjadi guru. Karena tidak disertai kecintaan terhadapnya, kadangkala menjadikan profesi guru hanya sebagai sarana mencari nafkah dan bukan suatu cara hidup. (a way of making maney, and not way of life). Mencintai profesi sebagai guru berarti menemukan kebahagiaan hidup dalam mengajar, mendidik siswa dalam menyebar luaskan pengetahuan.

Tidak ada komentar: