Selasa, 05 Januari 2010

KATA: SEBUAH PANGLIMA

KATA: SEBUAH PANGLIMA


Orang tua berambut putih:
Setiap kata-katamu itulah sebenar-benar puncak gunung es.
Pelaut:
Kalau setiap kata-kataku adalah puncak gunung es, maka dimanakah ngarai-ngarai?. Dimanakah lembah-lembahnya? Dimanakah sungai-sungainya? Dimanakah tanaman-tanamannya? Dimanakah kampung-kampungnya? Dimanakah penghuninya? Dan, dimanakah magmanya?
Orang tua berambut putih:
Semua yang engkau tanyakan itu sebenar-benarnya adalah tersembunyi di bawah permukaan laut. (http://powermathematics.blogspot.com/elegimenggapaidasargunung Es, 17 MARET 2009)


A. Awal Kata
Penggalan elegi di atas menyiratkan bahwa dalam implementasinya sebagai sarana berpikir ilmiah, ’kata’ (=baca bahasa) memiliki tafsiran makna yang amat luas. Bahkan menurut kaum Atomis Logis, dengan bahasa diharapkan dapat menjelaskan realitas dunia. Dunia pada hakikatnya adalah tersusun atas fakta-fakta yang menunjukkan keberadaan atau peristiwa, adapun fakta-fakta terungkap melalui bahasa. (Kaelan, 2009:263). Lebih lanjut filsuf Hermeneutika mengatakan bahwa melalui bahasa kita dapat mentransformasikan dunia, melalui bahasa pula dunia mentranformasikan kita. Penafsiran kehadiran kata dalam ilmu bahasa dan fungsinya sebagai sarana berfikir ilmiah lebih dari sekedar semantik dan semiotika, namun perlu hermeneutika sebagai pokok acuannya.
Jalan seseorang sampai pada tingkat pemahaman tentang sesuatu menurut paham hermeneutika, terjadi dengan melakukan analogi (Kaelan, 2009:266). Analogi yang dimaksud adalah dengan jalan membandingkan sesutu dengan sesuatu yang lain yang sudah diketahuinya. Sesuatu yang telah diketahuinya membentuk kesatuan-kesatuan sistematis atau juga membentuk lingkaran yang terdiri atas bagian-bagian. Lingkaran yang dimaksudkan sebagai suatu keseluruhan, menentukan masing-masing bagian, dan masing-masing bagian tersebut secara bersama-sama membentuk suatu lingkaran.
Kata (=baca bahasa) yang merupakan unsur yang fundamental dalam hermeneutika merupakan suatu sistem, artinya suatu kata ditentukan artinya lewat makna fungsinalnya dalam kalimat secara keseluruhan, dan makna kalimat ditentukan maknanya lewat arti satu persatu dari kata yang membentuk kalimat tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan suatu simbol yang tidak sekedar urutan bunyi-bunyi secara empiris, melainkan memiliki makna yang sifatnya nonempiris. Dengan demikian kata (bahasa) merupakan alat komunikasi manusia, penuangan emosi manusia serta merupakan sarana pengejawantahan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya.
Berkenaan dengan hal di atas, adanya wacana pensejajaran kata dengan panglima, bukanlah reduksi dari sebuah kata, namun merupakan salah satu bentuk analogi metafisik dibalik kata. Fenomena ini amatlah menarik untuk diperbincangkan guna mencari kebenaran dari tesis tersebut. Benarkah kata merupakan panglima? Berikut adalah salah satu upaya untuk mencari jawabannya.

B. Awal Penggolongan Kata
Pada awal pemunculan filsafat, kajian sintagmatik kata dalam kerangka ilmiah pada dasarnya didahului oleh adanya sebuah kepentingan telaaf filsafati. Asal muasalnya seorang filsuf Yunani Kuno, Plato menelorkan pembagian jenis kata bahasa Yunani Kuno dalam kerangka teaah filsafati. Murid Socrates tersebut tidak menyadari bahwa ia akan menjadi orang pertama yang memikirkan bahasa dan ilmu bahasa.
Dalam pada itu, Plato membagi jenis kata bahasa Yunani Kuno menjadi dua golongan yakni onoma dan rhemma. Dan oleh Aristoteles ditambahkan satu jenis kata yang dikenal dengan syndesmos. Syndesmos adalah golongan kata yang tidak mengalami perubahan bentuk secara deklinatif maupun secara konjugatif, jadi tidak pernah mengalami perubahan bentuk oleh perbedaan apapun (Soeparno,2006:10). Sedangkan onoma adalah jenis kata yang biasanya menjadi pangkal pernyataan atau pembicaraan. Rhemma adalah jenis kata yang biasanya dipakai untuk mengungkapkan pernyataan atau pembicaraan (Soeparno,2006:6).
Dari uraian tentang penggolongan kata di atas mencerminkan bahwa kata memiliki peranan yang amat penting dalam telaah filsafat. Kejelasan makna sebuah kata amatlah penting dalam menafsirkan sebuah konsep filsafat. Bukan hanya itu saja, bahkan di India jauh sebelum era Saussure, seorang Panini dan Patanjali telah berusaha menyusun tata bahasa sansekerta demi diperolehnya sebuah pemahaman yang benar terhadap kitab Weda. Dari sepenggal uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa telaah kata pada awal mula berkembangnya pengetahuan telah mendapatkan posisi yang amat penting. Satu tujuan yang ingin dicapai, yaitu kebulatan makna.

C. Kepanglimaan sebuah Kata
Kata adalah panglima, sebuah kontradiksi yang sepintas lalu tak memiliki hubungan apa-apa. Sebab jika dirunut makna leksikalnya, antara keduanya memiliki pengertian yang tak ada titik singgungnya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata memiliki arti sebagai unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. Sedangkan panglima memiliki pengertian sebagai hulubalang, pemimpin pasukan atau pemimpin kesatuan tentara.
Dari batasan di atas nampak jelas sekali bahwa pensejajaran makna leksikal atas predikat kata sebagai panglima jauh mendekati titik singgung. Tak ada satupun ciri fisik yang bisa menjadikan kata mendapat predikat sebagai panglima. Dalam benak setiap orang akan tercipta sebuah imagi tegap, kokoh, tangguh, dan sakti jika disebutkan kata ’panglima’. Seperti halnya tatkala komunitas suku Dayak mendengar kata ’Pangkalima burung’ (=sosok imaginer yang dianggap sebagai panglima perang suku Dayak), dalam imagi masyarakat Dayak tergambar sosok yang sakti mandraguna yang bisa menjadi ’dewa penolong’ saat suku Dayak mendapat ancaman (Nila Riwut,2003:56)
Pantaskah ’kata’ menggantikan imagery yang sejajar dengan panglima sehingga pantas mendapat jabatan sebagai panglima? Mungkin jawaban sementaranya adalah ’belum tentu’, bisa iya dan bisa juga tidak, bergantung dari sisi mana menafsirkannya.
Dalam kancah pragmatisme dan dunia empiris, kata memang memiliki kesaktian yang luar biasa yang kadang melebihi daya kekuatan manusia sendiri, kata terkadang menjelma menjadi sebuah kekuatan destruktif yang sulit untuk dibendung, kata juga sekaligus bisa membangkitkan semangat manusia melebihi ahli motifator manapun. Kata juga dapat mengiris tanpa percikan darah, dapat memukul tanpa meninggalkan lebam, membelai tanpa usapan, dan segalanya. Dalam konteks ini penafsiran kata ibarat sebuah lingkaran yang jalin menjalin menjadi sebuah makna yang amat luas dan kompleks, seperti halnya fenomena gunung es. Kata dapat berperan apa saja. Kata tidak sesempit makna leksikal yang terkandung di dalamnya.
Dalam telaah filsafati, kata (bahasa) merupakan sarana berfikir ilmiah. Berfikir sebagai proses bekerjanya akal dalam menelaah sesuatu merupakan ciri hakiki dari manusia, dan hasil bekerjanya akal ini tidak dapat diketahui oleh orang lain jika tidak dinyatakan dalam bentuk bahasa. Bahasa merupakan pernyataan pikiran atau perasaan sebagai alat komunikasi manusia (Tim Dosen Filsafat Ilmu, 2007:98)
Bahasa pada dasarnya terdiri dari kata-kata. Kata atau istilah merupakan simbol dari arti sesuatu, atau juga hubungan-hubungan. Dalam taraf ini kata memiliki pengertian yang lebih dari sekedar makna leksikal yang terkandung di dalamnya. Keluasan makna sebuah kata terkadang memerlukan penafsiran yang amat panjang. Bahasa juga merupakan penuangan emosi serta pengejawantahan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya. Bahasa dalam kaitannya dengan kegiatan berfilsafat memiliki sifat vagueness karena makna yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa pada dasarnya mewakili realitas yang diacunya (Kaelan,2009:7) Pada taraf ini lah ’kepanglimaan’ sebuah kata barangkali dapat ditarik benang merahnya.
Pada dataran ’panglima’ kata lebih berperan sebagai subyek dibanding dengan objek. Kehadirannya mampu ditaruh didepan apa saja yang memiliki jangkauan makna yang melebihi kapasitas makna leksikalnya. Kesaktian, ketangguhan, sekaligus daya destruksi kata kadang melebihi apa yang dimiliki panglima dalam kehidupan nyata. Bahkan dalam tafsir negatif, kata seringkali dianggap lebih tajam dari belati, sayatannya tak meninggalkan percikan darah, namun meningglakan luka yang amat mendalam.

D. Akhir Kata
Kata, potensial menjadi subjek yang dapat menentukan gerak langkah kehidupan manusia. Kebijakan manusia sangat diharapkan agar potensi kata tidak menjelma menjadi sebuah kekuatan yang memiliki daya destruksi yang tinggi. Menjaga sang ’panglima’ agar tetap dan terus berkembang menjadi cermin budaya sekaligus sarana berfikir ilmiah adalah tugas kita semua, sebab ’bahasa menunjukkan bangsa’

Tidak ada komentar: