Kamis, 10 Februari 2011

Reformasi Moral dan Intelektual Kaum Marginal atas Dominasi PN Timah dalam Novel “Laskar Pelangi” Karya Andrea Hirata: Sebuah Tinjauan Sosiologi Sastra Gramsci
Rohmad Widiyanto

A. Awal Kata
Sastra khususnya fiksi adalah dunia dalam kemungkinan, juga dikatakan sebagai dunia dalam kata (Nurgiyantoro,2009:272). Kendati demikian, kemungkinan-kemungkinan yang terdapat dalam sastra bukanlah sekedar imajinasi kosong dan mengada-ada dari pengarang. Hubungan antara sastra (sebagai produk imajiner), masyarakat (sebagai tempat persemaian dan tumbuh kembangnya sastra), dan pengarang sebagai “produsen” sastra adalah hubungan yang amat bermakna. Kebermaknaan itu terlihat dari pengaruh timbal-balik antara ketiganya. Dengan kata lain, sastra tidak jatuh begitu saja dari langit. Hubungan antara sastrawan, sastra dan masyarakat bukanlah sesuatu yang dicari-cari (Damono,1979:1) Dalam hal ini Rene Wellek dan Austin Waren (1993:3) menyatakan bahwa sastra merupakan bentuk kegiatan kreatif dan produktif dalam menghasilkan sebuah karya yang memiliki nilai rasa estetis serta mencerminkan realitas sosial kemasyarakatan.
Sejauh mana tingkat hubungan antara sastra, masyarakat dan sastrawan yang muncul dalam sebuah teks bergantung pada bagaimana seorang sastrawan mengimplementasikan pengalaman hidup itu ke dalam karyanya. Dalam hubungan ini, sangat mungkin jika pengalaman hidup sastrawan dan segala konteks budaya yang melingkupi akan mengilhami seluruh jalinan peristiwa dalam karyanya. Atau bisa jadi pengalaman hidup itu hanya sebagai anak tangga untuk ‘meloncat’ lebih tinggi dalam kembara imajinasinya. Dengan demikian, sebagai efek logis dari hubungan itu akan memunculkan perbedaan kadar dan jenis kebenaran yang disuguhkan dalam sastra dan kebenaran dalam dunia nyata.
“Laskar Pelangi”, adalah sebuah fenomena. Kehadirannya dalam dunia sastra Indonesia cukup mencengangkan banyak pihak. Dalam kurun waktu September 2005, awal ”Laskar Pelangi” muncul hingga Januari 2008, telah mengalami cetak ulang selama tujuh belas kali. Sebuah fenomena ajaib yang belum pernah terjadi pada buku apapun yang diedarkan di Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa animo masyarakat untuk mengetahui hal ihkwal ”Laskar Pelangi” sangatlah besar.
Hal lain yang cukup membuat decak kagum para peminat sastra Indonesia adalah proses kelahiran ’bayi’ fenomental ”Laskar Pelangi”, bukan ditangangi oleh ’dukun’ dari kalangan dunia sastra, namun dari sosok yang nota bene tidak memiliki singgungan dengan sastra.
”Laskar Pelangi” adalah drama kehidupan, cermin realita kehidupan masyarakat marginal Belitong akibat dominasi kapital PN Timah. Dengan ketajaman deskripsi dan metafor-metafor menggigit, kehidupan di Belitong dipaparkan, meneguhkan bahwa ketidakadilan telah terjadi di Belitong. Perjuangan sekumpulan anak ”Laskar Pelangi” adalah sebuah respon moral terhadap realita itu. Dinamika kehidupan yang melingkupi perjalanan hidup ”Laskar Pelangi” adalah sebuah pencarian format ’perlawanan’ moral menuju pembaharuan; sebuah reformasi moral dan intelektual yang terbangun dari ’mimpi-mimpi’ mereka. Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, Harun, dan belakangan Flo adalah representasi dari seluruh kehidupan di Belitong. Sebagai sosok pencanang tonggak reformasi, dinamika kehidupan mereka diwarnai berbagai ujian.
Beberapa permasalahan yang diangkat dalam makalah ini meliputi, 1) bagaimanakah gambaran umum kehidupan masyarakat marginal Belitong dalam ”Laskar Pelangi”?, 2) bagaimanakah realita kehidupan kaum marginal Belitong akibat hegemoni PN Timah, 3) bagaimanakah bentuk reformasi moral dan intelektual dalam ”Laskar Pelangi”?, dan 4) bagaimanakah dampak reformasi moral dan intelektual ”Laskar Pelangi”?
Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Berkenaan dengan itu, penelitian ini berusaha mendeskripsikan dan menjelaskan secara rinci bentuk satuan lingual (kalimat) dalam novel “Laskar Pelangi.
Keseluruhan satuan lingual (kalimat) tersebut dikaitkan dengan konteks bahasa serta konteks budaya yang melatar belakanginya. Selanjutnya, satuan lingual (kalimat) itu diidentifikasi, diklasifikasikan, dan ditafsirkan maknya berdasarkan konteks-konteks tersebut.
Subjek penelitian ini adalah novel ”Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh penerbit Betang tahun 2008, sedangkan objek penelitian ini adalah kalimat dalam novel ”Laskar Pelangi” yang memuat 1) bentuk perlawanan moral dan intelektual kaum marginal dalam ”Laskar Pelangi”, 2) bentuk hegemoni PN Timah. Setelah kedua jenis data itu teridentifikasi, kemudian dianalisis, dengan mengaitkan dengan kondisi sosial budaya masyarakat beserta dampak sosialnya dalam ”Laskar Pelangi”.


B. Landasan Teori
1. Pengertian Hegemoni
Kata hegemoni sering dikacaukan dengan ideologi. Hegemoni berasal dari akar kata bahasa Yunani, hegeisthai yang berarti memimpin, kepemimpinan, kekuasaan, yang melebihi kekuasaan yang lain. Dalam praktiknya di Yunani, hegemoni diterapkan untuk menunjukkan dominasi posisi yang diklaim oleh negara-negara kota (polis atau citystates) secara individual (Patria, 2003:115). Dalam kehidupan sehari-hari istilah hegemoni biasanya dikaitkan dengan dominasi (Ratna, 2007:174)
2. Teori Ideologi dan Hegemoni Gramsci
Hegemoni Gramsci memberikan perhatian terhadap proses pemaknaan yang didominasi oleh praktik otoritatif. Dalam analisis Gramsci, ideologi dipahami sebagai ide yang mendukung kekuasaan kelompok sosial tertentu (Ratna,2007:179).
Dunia gagasan, kebudayaan, superstruktur, bukan hanya sebagai refleksi atau ekspresi dari struktur kelas ekonomi atau infrastrutur yang bersifat material, melainkan sebagai salah satu kekuatan material itu sendiri. Sebagai kekuatan material itu, dunia gagasan atau ideologi berfungsi mengorganisasi massa manusia, menciptakan tanah lapang yang di atasnya manusia bergerak (Faruk,1999:61).
Gagasan-gagasan dan opini-opini tidak lahir begitu saja dari otak individual, melainkan mempunyai pusat informasi, irradiasi, penyebaran, dan persuasi. Kemampuan gagasan/opini menguasai seluruh lapisan masyarakat merupakan puncaknya. Puncak tersebutlah yang disebut hegemoni (Faruk,1999:62). Menurut Gramsci (via Hendarto, 1993) faktor terpenting sebagai pendorong terjadinya hegemoni adalah faktor ideologi dan politik yang diciptakan penguasa dalam mempengaruhi, mengarahkan, dan membentuk pola pikir masyarakat. Faktor lainnya adalah pertama paksaan yang dialami masyarakat, sanksi yang diterapkan penguasa, hukuman yang menakutkan, kedua kebiasaan masyarakat dalam mengikuti suatu hal yang baru dan ketiga kesadaran dan persetujuan dengan unsur-unsur dalam masyarakat.
Lebih lanjut dikatakan bahwa, Gramsci memakai istilah tersebut untuk menyebut ideologi penguasa. Konsep ideologi Gramsci ini menekankan pada bentuk ekspresi, cara penerapan, dan mekanisme yang dijalankan pemerintah atau penguasa untuk mempertahankan dan mengembangkan diri melalui kepatuhan para korbannya (anggota masyarakat terutama kelas pekerja) sehingga upaya itu akan berhasil memasyarakat. Secara umum konsep otoriter ini sama dengan konsep hegemoni atau dominasi Gramsci yang artinya pemaksaan kerangka pandangan secara langsung terhadap kelas yang lebih lemah melalui penggunaan kekuatan otoriter dan keharusan ideologi yang terang-terangan.
Gramsci memakai berbagai istilah yang menurutnya ekuivalen dengan ideologi, seperti kebudayaan, filsafat, pandangan dunia, atau konsepsi mengenai dunia. Demikian pula istilah ‘reformasi moral dan intelektual’ ketika Gramsci membicarakan transformasi kesadaran sebagai prasyarat perbaikan menuju sosialisme.(Simon, 2004:85)
Sebagaimana halnya Marx, tetapi berbeda dengan kaum Marxis ortodoks, Gramsci menganggap dunia gagasan, kebudayaan, superstruktur, bukan hanya refleksi atau ekspresi dari struktur kelas ekonomi atau infrastruktur yang bersifat material, melainkan sebagai salah satu kekuatan material itu sendiri. Sebagai kekuatan material itu, dunia gagasan atau ideologi berfungsi mengorganisasi massa manusia, menciptakan tanah lapang yang di atasnya menusia bergerak. Bagi Gramsci, hubungan antara yang ideal dengan yang material tidak berlangsung searah, melainkan bersifat tergantung dan interaktif. Kekuatan material merupakan isi, sedangkan ideologi-ideologi merupakan bentuknya. Kekuatan material tidak akan dapat dipahami secara historis tanpa bentuk dan ideologi-ideologi akan menjadi khayalan individu belaka tanpa kekuatan material (Faruk,1999:61-62).
Titik awal konsep Gramsci tentang hegemoni, bahwa suatu kelas dan anggotanya menjalankan kekuasaan terhadap kelas-kelas di bawahnya dengan dua cara, yaitu kekerasan dan persuasi. (Simon, 2004:9) Cara kekerasan (represif) yang dilakukan kelas atas terhadap kelas bawah disebut dengan tindakan dominasi, sedangkan cara persuasinya dilaksanakan dengan cara-cara halus, dengan maksud untuk menguasai guna melanggengkan dominasi. Perantara tindak dominasi ini dilakukan oleh para aparatur negara seperti polisi, tentara, dan hakim.

C. PEMBAHASAN
1. Selayang Pandang Potret Kehidupan Masyarakat Marginal Belitong dalam ”Laskar Pelangi”
Secara umum pemukiman penduduk Belitong terbagi atas tiga zona, pertama adalah Gedong: sebuah kawasan eksklusif tempat tinggal para borjuis: orang-orang staf pada PN Timah. Sebuah ”negeri asing” yang jika berada di dalamnya seolah tidak sedang berada di Belitong. Kedua adalah kawasan urban (perkotaan), letaknya berbatasan langsung dengan ”tembok-tembok kuasa” PN timah, dihuni oleh orang-orang Melayu Belitong , Tionghoa, orang Hokian, orang Tongsan, dan orang-orang yang tak tahu asal-usulnya. Ketiga, adalah wilayah rural sebuah kawasan pedesaan yang memanjang ke barat hingga puluhan kilometer, dan ke selatan menuju pedalaman.
Perbedaan zona pemukiman tersebut bukanlah sekedar pembagian atas perbedaan kawasan teritorial, namun sekaligus merujuk pada sebuah perbedaan pola hidup, strata, dan status sosial. Sebuah realitas sosial yang unik, semacam tatanan kehidupan dalam nafas feodalisme. Bersekat-sekat, dan berkasta-kasta. Sebuah unikum tatanan sosial terjadi di Belitong. Feodalisme di Belitong adalah sesuatu yang unik, karena ia merupakan konsekuensi dari adanya budaya korporasi, bukan karena tradisi paternalistik dari silsilah, atau subkultur yang dianugerahkan oleh penguasa seperti biasa terjadi di berbagai tempat lain.
Pada abad 19, ketika korporasi secara sistematis mengeskploitasi timah di Belitong, kehidupan unik dalam karakteristik sosiologi tertentu yang atribut-atributnya mencerminkan perbedaan mencolok layaknya sebuah kasta mulai terbentuk. Kasta majemuk itu tersusun rapi mulai dari para petinggi PN Timah yang disebut ”orang staf”, sebagai kasta tertinggi, sampai pada warga suku Sawang yang menjadi buruh-buruh yuka penjahit karung timah, sebagai kasta rendah.
Implikasi sosiologisnya, strata sosial di Belitong bukanlah sebuah akibat dari tradisi paternalistik, namun akibat sebuah budaya korporasi yang melahirkan sebuah kekuatan ekonomi Belitong, dampak langsung dari kegiatan eksploitasi timah, atau lebih tepatnya disebut Hirata (2008:36) sebagai sebuah Hegemoni, karena timah adalah denyut nadi pulau kecil itu. Kekuatan ekonomi Belitong dipimpin oleh orang staf PN Timah dan para cukong swasta yang mengerjakan setiap konsesi eksploitasi tanah. Mereka menempati strata tertinggi dalam lapisan yang sangat tipis namun memiliki kuasa yang tiada banding di tanah Belitong.
Hal di atas menunjukkan bahwa simbul-simbul feodalisme dari budaya paternalistik tak memiliki makna apa-apa dibanding dengan budaya korporasi dan kapitalis di tanah Belitong. Gelar KA (Ki Agus) bagi laki-laki dan NA (Nyi Ayu) bagi perempuan, yang merupakan gelar bangsawan pada kerajaan lama Belitong tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap kepemilikan status maupun strata sosial. Status ekonomi lah yang justru menjadi faktor terpenting dalam penentuan strata sosial seseorang. Gelar bangsawan tak lebih dari sekedar menunjukkan bahwa orang tersebut masih memiliki garis keturunan raja-raja Belitong.
Kelas Menengah, diisi oleh segelintir masyarakat Belitong yang berprofesi sebagai Camat, para kepala dinas dan pejabat-pejabat publik yang korupsi kecil-kecilan, dan aparat penegak hukum yang mendapat uang dari menggertaki cukong-cukong swasta. Strata terendah dari masyarakat Belitong ditempati oleh pegawai kantor desa, karyawan rendahan PN Timah, pencari madu dan nira, para pemain organ tunggal, semua orang Sawang, nelayan, dan semua orang Tionghoa kebun, semua orang Melayu yang hidup di pesisir, para tenaga honorer Pemda, dan semua guru dan kepala sekolah – baik sekolah negeri maupun sekolah kampung – kecuali guru dan kepala sekolah PN.

2. Realita Kehidupan Kaum Marginal Belitong: Bentuk-bentuk Ketidakadilan atas Hegemoni Kekuasaan dan Kapital PN Timah
Bentuk hegemoni PN Timah yang terjadi di Belitong dijalankan dengan dua cara, yaitu kekerasan dan persuasi. Cara kekerasan (represif/dominasi) lebih lebih sering terjadi dibanding cara persuasif dilakukan PN Timah dan segala perangkat atribut kekuasaanya (Polsus Timah) terhadap strata bawah (kaum marginal).
Dominasi ekonomi akibat monopoli pengeksplotasian timah telah menjadikan PN Timah sebagai penguasa tunggal di wilayah Belitong. Kekuatan dan pengaruhnya mengakar hingga sampai tulang sungsum warga di luar komunitas Gedong. Gedong adalah representasi dan simbul kekuatan kapital PN Timah. Tembok panjang pembatas wilayah Gedong dan Urban adalah bukti nyata dari sebuah hegemoni kekuasaan. Sebagai batas teritorial, tembok-tembok itu dijaga ketat oleh Polsus Timah, yang tak sembarang orang bisa melewatinya. seperti terlihat dari kutipan-kutipan berikut,
Gedong adalah land mark Belitong. Ia lebih seperti sebuah kota satelit yang dijaga ketat oleh para Polsus (Polisi Khusus) Timah. Jika ada yang lancang masuk maka koboi-koboi tengik itu akan menyergap, menginterogasi, lalu interogasi akan ditutup dengan mengingatkan sang tangkapan pada tulisan “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”, ... sebuah power statement tipikal kompeni (Hirata,2008:43)

Persis bersebelahan dengan toko-toko kelontong milik warga Tionghoa ini berdiri tembok tinggi yang panjang dan di sana-sini tergantung papan peringatan ”DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”. Di atas tembok ini tidak hanya ditancapi pecahan-pecahan kaca yang mengancam, tapi juga dililitkan empat jalur tembok berduri. Di Belitong tembok yang angkuh dan berkelok-kelok sepanjang kiloan meter ini adalah pengukuhan sebuah dominasi dan perbedaan status sosial (Hirata,2008:36).

Timah Belitong yang melimpah ruah adalah sumber kemakmuran berkah dari Tuhan. Seharusnya, timah yang dialirkan-Nya ke sana untuk menjadi mencusuar bagi penduduk pulau itu sendiri. Namun ironisnya, penduduk asli Melayu Belitong yang hidup berserakan di atasnya, tetaplah miskin secara turun temurun. Belitong dalam batas kuasa eksklusif PN Timah, ibarat kota praja Konstantinopel yang makmur. PN adalah penguasa tunggal pulau Belitong. Tak ada satu orang pun yang berhak atas Timah di Belitong kecuali PN. Jika ada pihak lain yang mencoba untuk mengusik kesombongannya, misalnya ikut menggali timah, maka dia adalah pencuri, dan hukumnya ‘wajib’ dimusnahkan. Seperti terlihat pada kutipan berikut:
Para pendulang liar menggali timah nun jauh di lereng gunung secara ilegal dan menjualnya pada para penyelundup yang menyamar sebagai nelayan di perairan Bangka Belitong. Pencuri dan penyelundup timah – menurut anggapan PN Timah - adalah profesi yang sangat tua. Aktivitas kriminal ini – kriminal dari kacamata PN Timah tentu saja – telah ada sejak orang-orang Kek datang dari daratan Tiongkok untuk menggali timah secara resmi di Belitong dalam rangka mengerjakan konsesi kompeni, hari-hari itu adalah abad ke-17.

PN Timah memperlakukan pelaku eksploitasi timah ilegal dan penyelundup dengan sangat keras, tanpa kemanusiaan. Pelakunya diperlakukan seolah pelaku tindak pidana subversif. Jika tertangkap tak jarang kepala mereka diledakkan di tempat dengan AKA 47 oleh manusia-manusia tengik bernama Polsus Timah. (Hirata,2008:319-320)


Hal di atas menunjukkan, betapa dominasi dan monopoli PN Timah terhadap kekayaan alam di Belitong dilaksanakan dengan cara yang amat otoriter dan represif. Para penambang liar (menurut versi PN Timah) yang rata-rata merupakan penduduk asli Belitong dianggap sebagai pencuri. Mereka diperlakukan layaknya seekor binatang, bahkan kadang nyawa mereka melayang oleh peluru panas Polsus timah: tumbal keserakahan sekaligus bukti nyata hegemoni kekerasan yang diterapkan PN Timah.
Kaum marginal di tanah Belitong adalah penduduk yang menempati zona urban dan zona rural. Sebagian besar masyarakatnya memiliki strata sosial yang rendah dalam tatanan sosial kehidupan di Belitong. Sebagai konsekuensi logis dari kenyataan ini, kaum marginal di Belitong hidupnya selalu didera kemiskinan. Kondisi ini amat berbeda dengan orang-orang staff di PN Timah.
Kekayaan alam melimpah dari bumi yang telah melahirkan dan membesarkannya ternyata tak mampu mengangkat derajat ekonomi dan sosial sebagian besar penduduk asli Belitong. Simbul-simbul kehidupan yang menandai tingginya tingkat kesejahteraan, tak pernah menyentuh kehidupannya. Kekayaan alam yang begitu melimpah itu hanya dapat dinikmati oleh orang-orang staf PN Timah, yang notabene tidak berasal dari bumi Belitong.
Masyarakat Melayu Belitong yang seharusnya menjadi pewaris tunggal atas kekayaan alam yang terkandung di dalam tanah tumpah darahnya, justru harus puas menjadi penonton dari sebuah drama kemewahan. Kompensasi atas tanah hutan yang diwariskan turun-temurun pada mereka pun tak kunjung diterima. Dengan dalih keterbatasan sumber daya manusia, masyarakat Belitong tak pernah mendapat kesempatan untuk terlibat dan sekedar mencicipi ’nikmatnya’ timah. Sebuah bentuk dominasi kekuasaan yang menjadikan masyarakat Melayu Belitong terpuruk pada strata sosial paling bawah di bumi sendiri, tersisih dari gegap gempita kemewahan timah.
Sementara seperti sering dialami oleh warga pribumi dimana pun yang sumber daya alamnya di eksploitasi habis-habisan, sebagian besar komunitas Belitong juga termarginalkan dalam ketidakadilan kompensasi tanah ulayah, persamaan kesempatan, dan trickle down effects.(Hirata,2008:40)

Sebuah ironi telah terjadi di bumi yang kaya raya. Milyaran dollar telah disumbangkan pada negara tercinta ini, namun hanya rupiah rupiah kecil saja mereka terima, itu pun setelah melalui perjuangan keras memeras keringat, dan bahkan dengan resiko terbesar dalam kehidupan. Masyarakat Belitong tetap miskin, fasilitas kesehatan, pendidikan, transportasi, hiburan, dan logistik yang mereka terima jauh dari standar hidup minimal sebuah keluarga. Dominasi kapital PN Timah, telah mencengkeram masyarakat lokal Belitong hingga sampai pada titik paling rendah dalam kehidupan, seperti terlihat dari kutipan-kutipan berikut:
Seperti Lintang, Syahdan yang miskin juga anak seorang nelayan. Tapi bukan maksudku mencela dia, karena kenyataannya secara ekonomi kami, sepuluh kawan sekelas ini, memang semuanya orang susah. Ayahku, contohnya, hanya pegawa rendahan PN Timah. Beliau bekerja selama 25 tahun mencedok tailing, yaitu material buangan dalam instalasi pencucian timah yang disebut wasserij. Selain bergaji rendah, beliau juga rentan pada resiko aktif dari monazite dan senotim. (Hirata,2008:69)

… bahkan kami memiliki sumber tenaga nuklir; uranium yang kaya raya. Semua ini sangat kontradiktif dengan kemiskinan turun temurun penduduk asli Belitong yang hidup berserakan di atasnya. Kami seperti sekawanan tikus yang paceklik di lumbung padi (Hirata,2008:38-39)

Sebagian besar penduduk marginal Belitong bermatapencaharian sebagai karyawan rendahan PN Timah (kuli-kuli kasar), pencari madu dan nira, para pemain organ tunggal, semua orang Sawang, nelayan, dan berkebun. Hegemoni kapital yang telah diciptakan PN Timah telah menjadikan mereka seperti sekawanan tikus yang paceklik di lumbung padi. Kekayaan alam yang seharusnya berhak mereka miliki, justru jatuh di tangan Kapitalis peninggalan Belanda (PN Timah). Menjelma menjadi sebuah misteri. Masyarakat Belitong tak lagi bisa memaknai arti ”tuan rumah di Negeri sendiri”, karena mereka justru ’menjadi orang terasing di negeri sendiri”. Hidupnya tetap miskin. Sebuah kemisknan abadi.
Tak disangsikan, jika di zoom-out, kampung kami adalah kampung terkaya di Indonesia. Inilah kampung tambang yang menghasilkan timah dengan harga segenggam lebih mahal puluhan kali lipat dibanding segantang padi. Triliunan rupiah aset tertanam di sana, miliaran rupiah uang berputar sangat cepat seperti putaran mesin parut, dan miliaran dollar devisa mengalir deras seperti kawanan tikus terpanggil pemain seruling ajaib Der Rattenfanger von Hameln. Namun jika di zoom-in, kekayaan itu terperangkap di satu tempat, ia tertimbun di dalam batas tembok-tembok tinggi Gedong. (Hirata,2008:49).

Pada umumnya mereka tidak memeroleh kesempatan pendidikan yang memadahi, tidak seperti orang-orang Gedong yang mendapat fasilitas pendidikan yang amat mewah. Bahkan banyak diantara mereka tidak yakin bahwa pendidikan akan dapat membantu memecahkan permasalahan dalam merumuskan masa depan. Mereka juga tidak tahu jika memeroleh pendidikan yang layak adalah hak dari setiap warga negara.
Aku tahu beliau sedang gugup dan aku maklum bahwa tak mudah bagi seorang pria berusia empat puluh tujuh tahun, seorang buruh tambang yang beranak banyak dan bergaji kecil, untuk menyerahkan anak laki-lakinya ke sekolah. Lebih mudah menyerahkannya pada tauke pasar pagi untuk jadi tukang parut atau pada juragan pantai untuk menjadi kuli kopra agar dapat membantu ekonomi keluarga. Menyekolahkan anak berarti mengikatkan diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu bukan perkara gampang bagi keluarga kami (Hirata,2008:11)

Setiap wajah orangtua di depanku mengesankan bahwa mereka tidak sedang duduk di bangku panjang itu, karena pikiran mereka, seperti pikiran ayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba di tepian laut membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh di sana. Para orangtua ini sama sekali tak yakin bahwa pendidikan anaknya yang hanya mampu mereka biayai paling tinggi sampai SMP akan dapat mempercerah masa depan keluarga. Pagi ini mereka terpaksa berada di sekolah ini untuk menghindarkan diri dari celaan aparat desa karena tak menyekolahkan anak atau sebagai orang yang terjebak tuntutan zaman baru, tuntutan memerdekakan anak dari buta huruf (Hirata,2008:11-12)


Rata-rata anak mereka menempuh pendidikan di sekolah-sekolah negeri atau sekolah kampung yang miskin dengan fasilitas apa adanya. Tipikal sekolah mereka tercermin dari kutipan-kutipan berikut
Tak susah melukiskan sekolah kami, karena sekolah kami adalah salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan sekolah miskin di seantero negeri ini yang jika disenggol seikit saja oleh kambing senewen ingin kawin, bisa rubuh berantakan (Hirata,2008:17)

Maka pada intinya tak ada yang baru dalam pembicaraan tentang sekolah yang atapnya bocor, berlantai tanah, atau yang kalau malam dipakai untuk menyimpan ternak, semua itu telah dialam oleh sekolah kami (Hirata,2008:20).

Kondisi di atas sangat berlawanan dengan apa yang ada di lingkungan Gedong. Sekolah-sekolah di PN Timah mulai dari tingkat TK hingga SMP berdiri amat megah dengan bangunan-bangunan berasiktektur layaknya istana dengan gaya victoria. Sekolah-sekolah tersebut merupakan sebuah center of excellence atau tempat bagi semua yang terbaik. Keberadaannya didukung penuh oleh PN Timah, sebuah korporasi yang kelebihan duit.
Sebuah paradoks, terjadi di bumi Belitong. Simbul-simbul kesejahteraan dan pemerolehan kesempatan pendidikan yang layak, adalah barang langka bagi komunitas kaum marginal. Jangankan untuk dapat menyekolahkan anaknya di sekolah PN, untuk dapat sekedar melongok ke dalam lingkungan Gedong pun merupakan kesempatan yang langka. Mereka dianggap tak memiliki hak untuk melintas batas tembok kuasa itu. Dominasi represif tu telah mengantarkan penduduk Belitong ke dalam sebuah kubangan lumpur yang dalam. Kemiskinan abadi adalah citra yang melekat dalam setiap kehidupan mereka dari generasi ke generasi.
Tempat tinggal dan pola kehidupan kaum marginal adalah bentuk proteksi sederhana dari kondisi kekurangan; bertahan hidup dalam kemiskinan, tak ada nafas berlebihan maupun kemewahan dalam kehidupan meraka. Makan adalah sekedar untuk mengisi perut dari ancaman kelaparan, jauh dari pemenuhan selera kenikmatan dan kelezatan. Tempat tinggalnya pun lebih pada sebuah perlindungan sementara dari serangan terik matahari, deraan angin dan terpaan hujan. Tak layak sesungguhnya jika dikaitkan dengan standar hidup minimal. Realita kehidupan mereka rata-rata merosok jauh ke bawah dari ambang batas garis kemiskinan.
Gubuk itu beratap daun sagu dan berdinding kulit pohon meranti. Apapun yang yang dilakukan orang di dalam gubuk itu dapat dilihat dari luar karena dinding kulit kayu yang telah berusia puluhan tahun mereka pecah seperti lumpur musim kemarau. Ruangan di dalamnya sempit dan berbentuk memanjang dengan dua pintu depan dan belakang. Seluruh pintu dan jendela tidak memiliki kunci, jika malam mereka ditutup dengan cara diikatkan pada kusennya. Benda di dalam rumah itu ada enammacam: beberapa helai tikar lais dan bantal, sajadah dan Alqur’an, sebuah lemari lemari kaca kecil yang sudah tidak ada kacanya, tungku dan alat dapaur, tumpukan pakaian dan enam ekor kucing (Hirata,2008:98-99)

Potret kehidupan itu amatlah kontradiktif jika dibandingkan dengan orang-rang staf di PN Timah. Segala bentuk kemewahan bisa dinikmati dalam kehidupan orang-orang Gedong. Semua jenis fasilitas hidup pun terpenuhi dengan melimpah ruah. Mata mereka telah dibutakan dari keadaan masyarakat di luar tembok Gedong akibat mental kapitalis dan budaya hedonisme yang mengalir dalam darahnya. Mental bobrok yang diwariskan kompeni adalah ciri yang melekat pada setiap individu di lingkungan Gedong. Kutipan-kutipan berikut adalah gambaran kemewahan di Gedong:
PN Timah melimpahi orang-orang staf dengan penghasilan dan fasilitas kesehatan, pendidikan, transportasi, hiburan, dan logistik yang sangat diskriminatif dibanding dengan kompensasi yang diberikan kepada mereka yang bukan staf. Mereka, kaum borjuis ini bersemayam di kawasan eksklusif yang disebut Gedong (Hirata,2008:42)

Kawasan warisan Belanda ini menjunjung tinggi kesan menjaga jarak, ... mobil-mobil mewah berjejal sampai keluar garasi. Rumah-rumah mewah besar bergaya Victoria memiliki jendela-jendela kaca lebar dan tinggi degan tirai yang berlapis-lapis laksana layar bioskop... Setiap rumah memiliki empat bangunan terpisah yang disambungkan oleh selasar-selasar megelilingi kolam kecil yang ditumbuhi Nymphaea caerreula atau the blue water lily.( Hirata,2008:43)

3. ”Laskar Pelangi” sebagai Agen of Change: Bentuk Reformasi Moral dan Intelektual
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:642), laskar berarti tentara; kelompok serdadu, atau pasukan. Sedangkan pelangi, berarti lengkung spektrum warna di langit, tampak karena pembiasan sinar matahari oleh titik-tik hujan atau embun; bisa juga disebut bianglala (Alwi,2001:844). Dari terminologi di atas, meski terdapat titik singgung dengan makna ”Laskar Pelangi”, namun memiliki kandungan makna filosofi yang berbeda. ”Laskar Pelangi” dalam konteks Hirata, merupakan sebuah semangat zaman, semacam ’group of heroes” yang bermodalkan semangat ’amar makruf nahi munkar’ menuju perubahan
Sebutan ”Laskar Pelangi” muncul dari sosok ibu guru Muslimah (bu Mus) tatkala mereka diajak belajar di alam terbuka, di sebuah pantai tepatnya. Sebuah metode mengajar yang lebih didorong oleh sebuah ’keterpaksaan’ dari pada sebuah metode yang sengaja direncanakan, bagian dari metode Contectual Teaching and Learning (CTL), karena ruang kelas tak bisa digunakan untuk belajar. Becek oleh guyuran hujan melalui atap sekolah yang bocor. Sebuah ironi, di sebuah pulau yang kaya raya.
Makna ”Laskar Pelangi”, sesuai harapan bu Mus adalah ’pejuang’ (Program acara Kick Andy di Metro TV, Kamis 4 Oktober 2007 pukul 22.05 WIB). Sebuah perjuangan hidup dari sekumpulan anak melayu Belitong yang menyandarkan harapan dan keyakinannya pada sebuah institusi pendidikan yang amat bersahaja, SD Muhammadiyah. Tembok-tembok kuasa PN Timah telah mengkotak-kotakkan kesempatan dan harapan mereka, kemerdekaan ternyata belum mampu mengantarkannya pada sebuah ”tanah kering” yang subur yang akan mengangkat derajatnya sebagai manusia. Namun, sebesar apa pun dampak yang ditimbulkan oleh ’tembok-tembok’ itu, ternyata tak mampu mematahkan semangat juang mereka. Semangat ”amar makruf nahi munkar” terus saja bergelora dalam setiap dada anggota ”Laskar Pelangi”. Sebuah ajaran moral pedoman utama warga Muhammadiyah, telah tertanamkan dalam diri mereka dan melekat dalam kalbunya, sebagai landasan moral perjuangan hingga dewasa.
… amar makruf nahi munkar artinya “menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar”. Itulah pedoman utama warga Muhammadiyah. Kata-kata itu melekat dalam kalbu kami sampai dewasa nanti (Hirata,2008:19)

Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, dan Harun adalah sosok pribadi pembentuk ”Laskar Pelangi”. Masing-masing di antara mereka merupakan pribadi-pribadi unik yang memiliki karakter, kepandaian, dan minat yang berbeda-beda. Sebuah heterogenitas yang indah, membentuk sebuah ’kekuatan’ yang mampu membuka sejarah baru dalam rangkaian panjang kehidupan SD Muhammadiyah: memaknai pentingnya cita-cita dan pendidikan.
Satu-satunya hal yang barangkali menyamakan adalah nasib mereka yang hidup dalam nafas kesahajaan, kemiskinan dan tertindas. Kesamaan nasib itulah yang menjadi perekat kuat jalinan persahabatan di antara mereka. Dengan terinspirasi kecerdasan Lintang yang luar biasa, dan semangat baja seluruh anggota ”Laskar Pelangi” untuk berubah, ajaran moral yang ditanamkan oleh gurunya diimplementasikan dalam segenap kehidupan mereka. Hal inilah yang menjadikan ”Laskar Pelangi” sebagai komunitas yang bukan hanya membuat sejarah baru dalam masyarakat marginal Belitong, namun sekaligus mampu mengeliminasi ’sekat-sekat’ kehidupan akibat dominasi PN Timah, menjelma menjadi sebuah anakronisme. Dengan gerakan spektakulernya, mereka melawan hegemoni dan dominasi itu. Reformasi moral dan intelektual itulah makna seluruh perjuangan mereka: sebuah hegemoni tandingan melawan dominasi represif PN Timah.
”Laskar Pelangi”, meski sekecil apa pun bentuk perjuangan mereka, namun dapat dikatakan sebagai agent of change bagi kehidupan di Belitong. Keteguhan pendirian, ketekunan, keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, keiklasan, kesederhanaan, dan berjuang pantang menyerah adalah nilai-nilai moral perubahan yang sulit ditemui pada generasi sebelumnya. Orang-orang yang termarginalkan oleh sistem kehidupan adalah orang-orang yang skeptis, pasrah, dan tak berdaya, seperti terlihat dari kutipan-kutipan beribut:
Para orang tua ini sama sekali tak yakin bahwa pendidikan anaknya yang hanya mampu mampu mereka biayai paling tinggi sampai SMP akan dapat mempercerah masa depan keluarga.(Hirata,2008:3)

Bagi beliau pendidikan adalah enigma, sebuah misteri. Dari empat generasi yang diingatnya, baru lintang yang sekolah. Generasi kelima sebelumnya adalah masa antedelivium. Suatu masa yang amat lampau ketika orang-orang Melayu masih berkelana sebagai nomad (Hirata,2008:13).

Menyekolahkan anak berarti mengikat diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu bukan perkara gampang bagi keluarga kami.( Hirata,2008:3)

Setiap wajah orang tua di depanku mengesankan bahwa mereka tidak sedang duduk di bangku panjang itu, arena pikiran mereka, seperti pikiran ayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba di tepian laut membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh disana.( Hirata,2008:3)

Kutipan-kutipan di atas menunjukkan pesimisme yang luar biasa terjadi dalam diri masyarakat marginal yang miskin pada generasi sebelumnya. ”Laskar Pelangi” hadir dengan semangat baru, mendobrak pola pikir generasi tuanya. Semangat amar makruf nahi munkar dan filsafat hidup pak Harfan ”hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”, adalah motivator terbesar dalam setiap dada mereka. Dengan bermodal pengalaman hidup, mereka mencoba bangkit, optimis, mandiri, dan penuh semangat untuk melakukan perubahan. Seperti terlihat dari kutipan berikut
Sejak kecil aku tertarik untuk menjadi pengamat kehidupan dan sekarang aku menemukan kenyataan yang memesona dalam sosiologi lingkungan kami yang ironis. Di sisini ada sekolahku yang sederhana, para sahabtku yang melarat, orang Melayu yang terabaikan, juga ada orang staf dan sekolah PN yang glamor, serta PN Timah yang gemah ripah dengan Gedong, tembok feodalistisnya. Semua elemen itu adalah perpustakaan berjalan yang memberiku pengetahuan baru setap hari.
Pengetahuan terbesar terutama kudapat dari sekolahku, karena perguruan Muhammadiyah bukanlah center of excellence, tapi ia merupakan pusat marginalitas sehingga ia adalah sebuah universitas kehidupan. Di sekolah ini aku memahami arti keikhlasan, perjuangan, dan integritas. Lebih dari itu, perintis perguruan ini mewariskan pelajaran yang amat berharga tentang ide-ide besar Islam yang mulia, keberanian untuk merealisasi ide itu meskipun tak putus dirundung kesulitan, dan konsep menjalani hidup dengan gagasan memberi manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain melalui pengorbanan tanpa pamrih (Hirata,2008:84-85)

Kemiskinan dan kesederhanaan tak menjadikan dirinya larut dalam kesedihan. Tak ada tetes air mata mengiringi perjuangan hidupnya. Berbagai perbedaan pandangan, perselisihan-perselisihan kecil, dan ’berbeloknya haluan’ anggota komunitas karena terjebak dalam arus okultisme , adalah dinamika kelompok dalam usaha mencari format keindahan perjuangan mereka. Ada keindahan yang unik dalam interaksi masing-masing sifat anggota ”Laskar Pelangi”.
Salah satu bukti nyata kereformisan ”Laskar Pelangi” adalah perspektif mereka dalam menatap masa depan, yang berbeda dari pandangan masyarakat umum, yang tentu telah berjalan selama berpuluh-puluh tahun. Cara pandang inilah yang ternyata menjadikan masyarakat marginal Belitong mampu beranjak dari keterpurukan akibat dominasi dan hegemoni kapital dari PN Timah: sebuah reformasi intelektual, bentuk hegemoni tandingan. Meski terkadang implikasi dari perbedaan pandangan itu membuatnya kelimpungan, tersandung onak dan duri, jatuh dan bangun dalam nafas perubahan.
Ada keindahan yang unik dalam interaksi masing-masing sifat para sahabatku. Tersembunyi daya tarik pada cara mereka mengartikan sekstan untuk mengukur diri sendiri, menilai kemampuan orang tua, melihat arah masa depan, dan memersepsi pandangan lingkungan terhadap mereka. Kadangkala pemikiran mereka kontradiktif terhadap pendapat umum laksana gurun bertemu pantai atau ibarat hujan ketika matahari sedang terik. Tak jarang mereka seperti kelelawar yang tersasar masuk kamar, menabrak-nabrak kaca ingin keluar dan frustasi (Hirata,2008:84)

Masyarakat yang skeptis, pasrah dengan segala keadaan yang diterima, hidup tanpa tujuan dan cita-cita adalah back ground mental sebagian besar kaum marginal di seluruh kawasan urban (perkotaan) maupun rural (pedesaan). Berawal dari keputusan mereka untuk memasukkan anaknya di sekolah Muhammadiyah, pola pikir itu sedikit demi sedikit telah berubah. Walau awalnya mereka menyekolahkan anaknya di SD Muhammadiyah hanya karena tiga alasan, yaitu karena biaya murah, keinginan mendapatkan pendidikan Islam yang baik guna menghindari pengaruh iblis, serta memang karena tidak diterima di sekolah lain, namun lama kelamaan, kesadaran tentang arti pentingnya pendidikan amatlah disadari. Optimisme itu kian nampak dalam diri mereka.
Agaknya selama turun temurun keluarga laki-laki ‘cemara angin’ (nelayan) itu tak mampu terangkat dari endemik kemiskinan komunitas Melayu yang menjadi nelayan. Tahun ini menginginkan perubahan dan ia memutuskan anak laki-laki tertuanya, Lintang, tak akan menjadi seperti dirinya. Lintang akan duduk di samping pria kecil berambut ikal yaitu aku, dan ia akan sekolah di sini lalu pulang pergi setiap hari naik sepeda (Hirata,2008:11)

Di bangku itu ia seumpama balita yang dinaikkan ke atas tank, girang tak alang kepalang, tak mau turun lagi. Ayahnya telah melepaskan belut yang licin itu, dan anaknya baru saja meloncati nasib, merebut pendidikan (10)

Keyakinan pada prinsip bahwa ilmu pengetahuan dapat merubah nasib, adalah bukti lain dari bentuk reformasi intelektual. Keyakinan itu menjelma menjadi sebuah kekuatan yang seolah mampu mengatasi segala masalah. Sebuah pola pikir baru yang tak pernah ada pada masyarakat Belitong sebelumnya. Inti reformasi yang diperjuangkan ”Laskar Pelangi” pada dasarnya adalah perubahan pola pikir yang dilandasi keteguhan memegang dan menerapkan ajaran moral pada setiap langkah mereka. Keteguhan pendirian, ketekunan, keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, keiklasan berkorban untuk sesama adalah sebuah abstraksi dari nafas reformasi moral yang mereka jalankan secara konsisten. ”Hidup untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya” adalah muara akhir dari ajaran moral itu. Sebuah ajaran yang dilandasi pada kepekaan sosial dalam kemiskinan.
Kesadaran tentang pentingnya pendidikan, perlunya merumuskan cita-cita dengan mempertimbangan bakat dan kemampuan, memandang permasalahan dari berbagai perspektif, adalah inti dari reformasi intelektualnya. Seperti terlihat pada kutipan-kutipan berikut,
Hari ini aku belajar bahwa setiap orang, bagaimana pun terbatas keadannya, berhak memiliki cita-cita, dan keinginan yang kuat untuk mencapai cita-cita itu mampu menimbulkan prestasi-prestasi lain sebelum cita-cita sesungguhnya tercapai. Keinginan kuat itu juga memunculkan kemampuan-kemampuan besar yang tersembunyi dan keajaiban-keajaiban di luar perkiraan. (Hirata,2008:383)

Cita-cita ini adalah kutub magnet yang menggerakkan jarum kompas di dalam kepalaku dan membimbing hidupku secara meyakinkan. Setelah selesai merumuskan masa depanku itu sejenak aku merasa menjadi manusia yang agak berguna (Hirata,2008:342)

Kemiskinan tak menyurutkan keberanian seluruh anggota ”Laskar Pelangi” untuk merumuskan masa depan mereka dengan sebuah cita-cita. Bagi mereka cita-cita (= baca mimpi) mampu memberikan energi dan visi dalam berjuang. Dia akan menjelma menjadi sebuah kekuatan baru yang tak terduga-duga pengaruhnya. Tenaga mimpi adalah luar biasa. Don’t ever underestimate the power of dreams! So, dream on!”, demikian dikatakan Andrea Hirata.
Menurut Andre Hirata Kesuksesan merupakan masalah paradigma sebenarnya. Sesuatu yang meaningful sifatnya itu tidak datang dengan mudah. Kemiskinan adalah sebuah momentum dan jalan seseorang menuju fight . Lebih lanjut Andrea Hirata mengatakan:
”Saya pikir kalau saya kaya, I can do much better than this, karena saya punya resources gitu. Jadi kalau kita kaya ya harus fight bener, tidak ada hubungannya orang miskin terus fight. Banyak orang miskin, fight, jeblok tambah miskin, ada tuh yang kaya gitu. Jadi itu personalan attitude aja, saya pikir bagaimana orang bisa bersyukur aja. Tiga rumus yang selalu saya sampaikan, positive thinking, positive feeling, and positive action!”. Jadi kalau positive thinkingnya positif, terus positive feelingnya positif, maka akan menghasilkan positive action yang positif juga. Tapi kalau positive thinkingnya positif, terus positive feelingnya nol, maka akan menghasilkan positive action yang nol, nggak ada apa-apa. Ini adalah suatu sistem dalam personality. Ini adalah buku yang menertawakan tragedi, memparodikan ironi akan mengkritik tanpa memaki-maki. Inilah implementasi dari positive feeling saya rasa.”


4. Dampak Reformasi Moral dan Intelektual ”Laskar Pelangi”: Sebuah Akhir Kata
Perjalanan panjang yang dialami seluruh anggota “Laskar Pelangi” selalu diwarnai gejolak. Suka, duka, dan berbagai macam jenis sandungan hidup telah mereka alami. Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, Harun, dan belakangan Flo adalah representasi dari seluruh kehidupan di Belitong. Sebagai sosok pencanang tonggak reformasi, dinamika kehidupan mereka diwarnai berbagai ujian. Keteguhan pendirian, ketekunan, keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, keiklasan berkorban untuk sesama adalah pegangan moral, pengendali dari segenap langkah dan perjuangannya. Keberagaman kepribadian dan bakat, potensi, serta minat mereka, berpengaruh terhadap cita-cita yang mereka idamkan.
Cita-cita ibarat kutub magnet yang menggerakkan jarum kompas di dalam kepala dan membimbing hidup mereka secara meyakinkan. Dengan berbekal semangat moral yang ditanamkan gurunya, cita-cita dan mimpi itu mereka perjuangkan dengan semangat yang membaja.
Meski tidak semua yang mereka mimpikan dapat terealisasi, namun setidaknya cakrawala baru itu telah menjadikan mereka sebagai sosok baru dalam khasanah kehidupan di Belitong. Keberhasilan anggota ”Laskar Pelangi” dalam menumbangkan dominasi sekolah PN Timah adalah bukti awal dari reformasi moral dan intelektual yang mereka gulirkan. Dua predikat kejuaraan berhasil mereka raih, setelah mengalami perjuangan dan pengorbanan yang panjang: Juara 1 dalam lomba Karnaval dan juara 1 dalam Lomba Kecerdasan. Sebuah bukti bahwa keinginan kuat menggapai cita-cita, dan kepercayaan mereka terhadap kekuatan ilmu pengetahuan mampu menempatkan derajat mereka setingkat di atas sekolah PN Timah yang tersohor sebagai center of excellence.
Cita-cita yang mereka mimpikan sejak kecil pun sedikit demi sedikit telah dapat mereka raih. Lintang misalnya, sosok jenius dari Tanjung Kelumpang, meski ia tidak menamatkan SMP, namun berkat kecerdasannya ia telah mampu mewujudkan cita-cita orang tuanya untuk tidak menjadi seorang nelayan. Ia menjadi seorang juragan kopra yang cukup berhasil (dalam Maryamah Kaorpov,2008). Ikal, sosok ’aku’ dalam ”Laskar Pelangi” yang juga sesungguhnya Andrea Hirata, dia berhasil mendapatkan beasiswa S2 di Paris, Perancis. Mahar, tokoh eksentrik itu, menjadi seorang penulis buku yang sukses. Kucai, sang ketua kelas mereka, telah menjadi ketua salah satu fraksi di DPRD Belitong dengan gelar MBA di belakang namanya. Syahdan, menjadi seorang Information Technology Manager, setelah menempuh pendidikan di Kyoto Jepang. Sebuah akibat dari kekuatan mimpi dan memaknai kemiskinan sebagai bentuk kekuatan baru untuk maju.
Sebuah anakronisme terjadi di Belitong, seiring dengan jatuhnya PN Timah pada tahun 1987 akibat merosotnya harga Timah dunia, hegemoni pun berakhir, sekolah-sekolah PN ditutup. Sebuah awal kehancuran agen kapitalis. Orang-orang Staf yang terbiasa dengan segala kemewahan seolah mengalami post power sindrome. Tak jarang yang hidupnya berakhir dengan stroke, operasi jantung, mati mendadak, drop out massal, dan lilitan utang (Hirata,2008:485).
Kondisi ini amatlah berbeda dengan kaum marginal di Belitong. Jatuhnya PN Timah justru membawa berkah bagi mereka. Mereka bangkit di atas puing-puing PN Timah. Mereka telah terbiasa hidup dalam kekurangan. Jatuhnya PN Timah justru mampu membangkitkan semangat kaum marginal untuk lebih maju. Bentuk kontra hegemoni dari PN Timah oleh kelompok ”Laskar Pelangi” ternyata melahirkan pula sebuah bentuk hegemoni baru kaum tertindas. Reformasi moral dan intelektual ternyata mampu mengantarkan seluruh anggota komunitas ke dalam ”derajat” kehidupan yang lebih tinggi.

Tidak ada komentar: