Selasa, 10 Maret 2015

MENUJU PERSPEKTIF BARU PENDIDIKAN: SEBUAH TINJAUAN TEORETIS PSIKOLOGI KEPENDIDIKAN
Oleh: Rohmad Widiyanto, M. Hum

A.      Perbandingan Berbagai model Teori Pendidikan
Perspektif memiliki makna sebagai pandangan ke depan dengan maksud untuk menentukan arah dan petunjuk pendidikan pada masa yang akan datang  (Barnadib, 1994: 3). Salah satu implementasi dari pernyataan tersebut adalah merubah landasan filsafati dan perspektif tentang praktik penyelenggaraan pendidikan.
Penelitian mengenai proses-proses psikologi yang dimulai pada akhir abad kesembilan belas membawakan  model kenyataan psikologi yang berbeda tentang pendidikan, yaitu model Psikoanalisis, model behavioris, model kognitif, dan model interaksionis (Gredler, 1991: 104), serta model Humanistik Abraham Maslow.

1.      Model Psikoanalisis Sigmund Freud
Psikoanalisis dilukiskan sebagai “sebuah dinamik yang mereduksikan kehidupan mental sebagai saling pengaruh antara daya-daya yang mendorong dan menghambat secara timbal balik” (Goble, 1993: 20). Menurut Freud, dalam diri setiap manusia terbagi menjadi tiga bagian, yaitu id, ego, dan super ego.
“Id” adalah naluri kebinatangan yang memiliki msifat-sifat penuh daya, anti social, dan irasional. “Id” manusia hanya mengenal dorongan untuk memeroleh kepuasan bagi kebutuhan-kebutuhan naluriah. “Ego” adalah sifat dasar yang menonjolkan ‘keakuan’. “Superego” merupakan lapis tanggapan manusia yang bukan merupakan faktor bawaan, yang bertugas menurunkan daya-daya id dan super ego untuk memutuskan tindakan.
Freud percaya bahwa arah dasar kehidupan manusia biasanya ditentukan pada usia awal (kira-kira pada unsure lima tahun), walaupun kadang-kadang arah dasar itu berubah dan dapat dibelokkan melalui psikoanalisis, metode terapi Freudian. Lebih lanjut Freud menyampaikan (via Goble, 1993: 21) bahwa perbuatan susila, budi pekerti luhur, tingkah laku yang tidak mementingkan diri adalah tidak alamiah, namun dapat terjadi karena belajar merepresikan atau mengendalikan arah id-nya. Implikasinya dalam filsafat pendidikan, kecerdasan dan ketrampilan adalah factor bawaan,
      
2.      Model Behavioristik
Model behavioris menjelaskan hubungan stimulus yang dapat diukur dan respons tingkah-laku. Beberapa teori telah dikembangkan dari pandangan ini. Teori behaviorisme merupakan salah satu bidang kajian psikologi eksperimental yang kemudian diadopsi oleh dunia pendidikan. Meskipun dikemudian hari muncul berbagai aliran baru sebagai reaksi terhadap behaviorisme, namun harus diakui bahwa teori ini telah mendominasi argumentasi tentang fenomena belajar manusia hingga penghujung abad 20.
Menurut teori behaviorisme, belajar dipandang sebagai perubahan tingkah laku, perubahan tersebut muncul sebagai respons terhadap berbagai stimulus yang datang dari luar diri subyek. Secara teoritik, belajar dalam konteks behaviorisme melibatkan empat unsur pokok yaitu: drive, stimulus, response dan reinforcement. Apa yang dimaksudkan dengan drive yaitu suatu mekanisme psikologis yang mendorong seseorang untuk memenuhi kebutuhannya melalui aktivitas belajar. Stimulus yaitu ransangan dari luar diri subyek yang dapat menyebabkan terjadinya respons. Response adalah tanggapan atau reaksi terhadap rangsangan atau stimulus yang diberikan.
Dalam perspektif behaviorisme, respons biasanya muncul dalam bentuk perilaku yang kelihatan. Reinforcement adalah penguatan yang diberikan kepada subyek belajar agar ia merasakan adanya kebutuhan untuk memberikan respons secara berkelanjutan.

Implikasi Teori Behaviorisme dalam Pembelajaran
Berangkat dari asumsi bahwa belajar merupakan perubahan perilaku sebagai akibat interaksi antara stimulus dengan respons, maka pembelajaran kemudian dipandang sebagai sebuah aktivitas alih pengetahuan (transfer of knowledge) oleh guru kepada siswa. Dalam perspektif semacam ini, terlihat bahwa peran guru dipandang sebagai satu-satunya sumber pengetahuan.
Kedudukan siswa dalam konteks pembelajaran behaviorisme menjadi “orang yang tidak tahu apa-apa” dan karena itu perlu diberitahu oleh guru. Dengan demikian perubahan perilaku siswa mesti bersesuaian dengan apa yang dikehendaki oleh guru. Jika terjadi perubahan perilaku yang tidak sesuai maka hal tersebut dipandang sebagai error behavior yang perlu diberikan ganjaran.
Pembelajaran dengan demikian dirancang secara seragam dan berlaku untuk semua konteks, tanpa mempersoalkan perbedaan karakteristik siswa maupun konteks sosial dimana siswa hidup. Kontrol belajar dalam pembelajaran behavioristik tidak memberi peluang bagi siswa untuk berekspresi menurut potensi yang dimilikinya melainkan menurut apa yang ditentukan.
Mengacu pada berbagai argumentasi yang telah dipaparkan, maka secara ringkas implikasi teori behavioristik dalam pembelajaran dapat dideskripsikan sebagai berikut.
a)    Pembelajaran adalah upaya alih pengetahuan dari guru kepada siswa.
b)   Tujuan pembelajaran lebih ditekankan pada bagaimana menambah pengetahuan.
c)    Strategi pembelajaran lebih ditekankan pada perolehan keterampilan yang terisolasi dengan akumulasi fakta yang berbasis pada logika liner.
d)   Pembelajaran mengikuti aturan kurikulum secara ketat dan belah lebih ditekankan pada keterampilan mengungkapkan kembali apa yang dipelajari.
e)    Kegagalan dalam belajar atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum, dan keberhasilan atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah.
f)    Evaluasi lebih ditekankan pada respons pasif melalui sistem paper and pencil test dan menuntut hanya ada satu jawaban yang benar. Dengan demikian, evaluasi lebih ditekankan pada hasil dan bukan pada proses, atau sintesis antara keduanya.

3.      Model Kognitif
Berlawanan dengan model behavioristik, model kognitif berpusat pada fikiran dan bekerjanya fikiran. Dalam model ini, tingkah laku dan peranan lingkungan bersifat insidental untuk memahami proses kognitif. Strukturalisme merupakan contoh yang awal dari pandangan ini, dan teori-teori pengolah informasi adalah contoh yang paling baru.
Kebalikannya, pandangan interaksionis beranggapan bahwa tingkah-laku, proses mental, dan lingkungan itu saling berkaitan. Pandangan ini pertama kali dikemukakan dalam gerakan kaum fungsionalis. Dewasa ini aliran yang menerima pandangan interaksionis tentang peranan pengaruh lingkungan dan individu termasuk kondisi belajar dari Gagne, teori perkembangan kognitif dari Jean Piaget, dan teori belajar sosial dari Albert Bandura (Gredler, 1991: 104).
Masalah belajar dan bagaimana proses seseorang memeroleh pengetahuan merupakan masalah yang sangat menarik dan telah banyak studi yang telah dilakukan oleh banyak ahli, oleh karena itu masalah ini masih terus menjadi kajian yang menarik untuk dibahas secara mendalam. Pandangan-pandangan tentang teori belajar kognitif yang penerapannya di lapangan sangat luas perlu dipahami oleh para pelaku-pelaku pendidikan dengan kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu pada paparan makalah ini, akan diuraikan secara ringkas beberapa pandangan tentang belajar dari tokoh-tokoh psikologi kognitif tersebut, diantaranya yang teorinya masih banyak digunakan adalah teori perkembangan kognitif Jean Piaget, teori belajar penemuan Jerome S. Bruner, teori belajar bermakna David Ausubel dan teori kondisi belajar dari Robert M. Gagne.

Teori Perkembangan Kognitif (Cognitive Development) Jean Piaget
Yang menjadi titik pusat perhatian dalam teori Jean Piaget ialah perkembangan fikiran secara alami dari lahir sampai dewasa. Untuk memahami teori ini bergantung baik pada pemahaman asumsi-asumsi biologi yang menurunkan teori itu maupun implikasi asumsi-asumsi tersebut dalam mengartikan pengetahuan (Piaget, 1970b:703 dalam Gredler,1991:304).
Dalam teori ini, Piaget memandang bahwa proses berfikir merupakan aktivitas gradual (secara perlahan-lahan) dari fungsi intelektual, yaitu dari berpikir konkrit menuju abstrak. Berarti perkembangan kapasitas mental memberikan kemampuan baru yang sebelumnya tidak ada.
Perkembangan intelektual adalah kualitatif, dan bukan kuantitatif. Intelegensi itu terdiri dari tiga aspek, yaitu:
(1)   struktur atau scheme, ialah pola tingkah laku yang dapat diulang,
(2)   isi atau content ialah pola tingkah laku spesifik, ketika seseorang menghadapi suatu masalah,
(3)   fungsi atau function terdiri dari dua macam fungsi invarian yaitu organisasi dan adaptasi.

Sumbangan analisa yang dibuat Piaget ialah dikenalinya perbedaan kualitatif dalam pola pikir dari masa bayi sampai masa dewasa. Tahap skema tindakan pada bayi lambat laun digantikan oleh tahap berfikir semilogis pada anak kecil. Pada gilirannya, ini berkembang menjadi struktur berfikir logis yang disebut operasi konkrit, dan kemudian operasi formal.
Penelitian awal yang dilakukan Piaget (1967, 1970) memberikan kerangka awal kerja untuk melakukan analisa yang disebut di muka terhadap proses berpikir. Secara rinci, dalam penyelidikan awal yang dilakukan Piaget mengenai berpikirnya anak-anak dikenali adanya empat periode umum atau tahap perkembangan kognitif. Keempat tahapan itu ialah sensorimotor, praoperasi, operasi konkrit, dan operasi formal. Masing-masing melanjutkan proses periode sebelumnya, merekonstruksikannya pada tingkat yang baru dan kemudian melampauinya ketingkat yang semakin tinggi. Meskipun individu berkembang dari satu tahap ke tahap yang lainnya pada usia yang berbeda-beda, tahap-tahap itu terjadi dalam satu tata urutan.

Tabel 1
Tahap perkembangan kognitif menurut Piaget (Gredler, 1991:322)

Tahap
Keterangan umum
Periode sensorimotor
(lahir sampai usia 1,5-2 tahun)
Prasimbolik dan praverbal. Kecerdasan melihatkan perkembangan skema tindakan. Contoh: “meraih-menggenggam- menarik” dimainkan untuk mengambil obyek yang jauh
Tahun kedua: anak membedakan dirinya dari lingkungan. Anak mengembangkan identitas tubuhnya dan yang lain dalam waktu dan ruang dan konsep tentang sifat permanen obyek.
Periode praoperasi
(usia 2-3 sampai 7-8 tahun)
Berpikir setengah logis (pra rasional) mulai. Pengertian tentang sifat permanen obyek membawa anak ke identitas kualitatif. Air yang dituangkan ke dalam wadah yang lain adalah air yang sama; a=a. proses pikiran didasarkan atas perisyaratan perseptual dan anak tidak sadar akan pernyataan-pernyataan yang saling bertentangan. Contoh: sabun mengapung karena kecil dan sepotong besi tenggelam sebab tipis. Perkembangan bahasa mulai dan meningkat cepat; ujar anak yang spontan banyak mengandung monolog.
Periode operasi konkrit
(usia 7-8 sampai 12-14 tahun)
Tingkah-laku impulsif diganti dengan paling kurang pemikiran tingkat permulaan; anak dapat melihat pandangan orang/anak lain. Permainan kelompok termasuk kesepakatan tentang peraturan dan kerjasama berdasarkan peraturan. Cara berpikir logis yang dikaitkan dengan obyek-obyek konkrit terbentuk (operasi konkrit). Berpikir tidak terikat pada pengisyarat perseptual; “lebih panjang” tidak sama artinya dengan “lebih jauh”.
Periode operasi formal
(usia di atas 14 tahun)
Berpikir tentang rencana masa depan dan peranan orang dewasa mulai. Kecakapan menangani secara logis situasi multi faktor mulai (operasi formal). Individu dapat bernalar dari situasi rekaan ke situasi nyata.

Terdapat lima kategori keanekaan belajar Gagne. Kategori-kategori itu ialah informasi ferbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat kognitif. (Gagne, 1972, 1977 dalam Margaret, 1991: 190)


Tabel 2
Keanekaan belajar menurut Gagne (1977: 46-62)

Kategori Belajar
Kapabilitas (kemampuan)
Kinerja/performansi
Contoh
Informasi verbal
Pengungkapan informasi yang disimpan (fakta, label)
Menyatakan atau mengkomunikasikan informasi dengan suatu cara
Memparafrase definisi patriotisme
Keterampilan intelek
Operasi mental yang memungkinkan merespon terhadap lingkungan
Berinteraksi dengan lingkungan menggunakan lambang
Membedakan warna merah dan biru; menghitung luas segitiga
Strategi kognitif
Proses pengontrolan yang mengatur berfikir dan belajar pada diri si belajar
Mengelola secara efisien kegiatan mengingat, berfikir, dan belajar
Membuat satu set kartu catatan untuk penulisan karya ilmiah
Keterampilan gerak
Kemampuan dan kemulusan dalam melakukan serangkaian gerakan fisik
Mendemonstrasikan serangkaian gerakan fisik atan tindakan
Mengikat tali sepatu; menirukan cara terbang kupu-kupu
Sikap
Predisposisi untuk tindakan positif atau negatif terhadap orang, obyek atau peristiwa
Memilih tindakan pribadi untuk mendekati atau menjauhi orang, obyek atau peristiwa
Memilih mengunjungi museum seni; menghindari konser rock

      
       Hubungan Pendidikan Anak Usia Dini (Paud) Dengan Perkembangan Kognitif   Anak Usia Prasekolah
      
Sejak lahir sampai usia 3 tahun anak memiliki kepekaan sensoris dan daya pikir yang sudah mulai dapat menyerap pengalaman-pengalaman melalui sensorinya;  usia satu setengah tahun sampai kira-kira 3 tahun mulai memiliki kepekaan bahasa dan sangat tepat untuk mengembangkan bahasanya (berbicara, bercakap-cakap) (Theo & Martin, 2004).
Hasil-hasil studi dibidang neurologi mengetengahkan antara lain bahwa perkembangan kognitif anak telah mencapai 50% ketika anak berusia 4 tahun, 80% ketika anak berusia 8 tahun, dan genap 100% ketika anak berusia 18 tahun (Osborn, White, dan Bloom). Studi tersebut makin menguatkan pendapat para ahli sebelumnya, tentang keberadaan masa peka atau masa emas (golden age) pada anak-anak usia dini. Masa emas perkembangan anak yang hanya datang sekali seumur hidup tidak boleh disia-siakan. Hal itu yang memicu makin mantapnya anggapan bahwa sesungguhnya pendidikan yang dimulai setelah usia SD tidaklah benar. Pendidikan harus sudah dimulai sejak usia dini supaya tidak terlambat. Sehingga penting bagi anak untuk mendapatkan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) (martini, 2006).
Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) justru belum banyak mendapat perhatian. Saat ini, pendidikan usia dini baru diperoleh oleh sebagian kecil anak di Indonesia.

4.    Model Mazhab Ketiga (Psikologi Humanistik Abraham Maslow)
Pencetus model Mazhab Ketiga ini adalah Abraham Maslow, seorang psikolog berkebangsaan Amerika, berdarah Yahudi. Pada awal kiprahnya di dunia psikologi, Maslow adalah seorang behaviorisme. Ia sangat mengagumi tokoh J. B. Watson (tokoh ternama aliran Behaviorisme). Di samping itu, ia juga sangat tekun memelajari teori psikoanalisis Sigmund Freud.
Setelah kelahiran anak pertamanya, Maslow mendapatkan suatu penemuan penting dalam ilmu psikologis. Maslow mengatakan (Goble, 1993: 29) “anak kami yang pertama telah mengubah diri saya sebagai seorang psikolog, pengalaman memiliki anak, telah membuat behaviorisme yang selama ini saya gandrungi tampak begitu bodoh dan tidak masuk akal… Saya ingin menegaskan bahwa seseorang yang mempunyai sendiri anak tidak mungkin menjadi seorang Behavioristik”
Berikut akan disajikan beberapa konsep pendidikan yang ditawarkan Abraham Maslow(via Goble, 1993: 112-121) dalam teorinya tentang Psikologi  Humanistik.
a.    Konsep utama perkembangan psikologis manusia dalam kodratnya, ia memerlihatkan desakan ke arah proses menjadi makhluk  yang makin penuh, desakan ke arah aktualisasi diri yang semakin sempurna atas kemanusiaannya.
b.    Cara mengasuh anak yang disarankan adalah pemberian kebebasan dengan batas-batas. Maslow menyadari adanya bahaya terhadap sikap yang serba membolehkan atau memanjakan dari pihak orang tua dan sekaligus juga mengakui akibat yang merusak dari orang tua yang menindas, mengekang ataupun terlampau  melindungi anak hingga anak tidak dapat mengembangkan kepribadiannya sendiri.
c.    Gagasan tentang pemberian kebebasan yang lebih luas dalam mengasuh anak ini harus diimbangi dengan keharusan mengajarkan kepada anak disiplin serta sikap menghargai orang lain dan mengajarkan suatu system nilai.
d.   Anak membutuhkan kebebasan untuk tumbuh, belajar, menemukan dirinya sendiri, serta mengembangkan ketrampilan, namun ia juga membutuhkan jaminan tata tertib serta batas-batas, suatu kesempatan untuk belajar memahami, mengendalikan, menyalurkan, mengatasi frustasi, serta belajar mendisiplinkan diri.
e.    Proses pendidikan harus diarahkan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, bukan hanya mengekang dan menjinakkannya demi meringankan beban orang tua/guru.
f.     Anak didik selalu ditanamkan tentang kekuatan diri, harga diri, sikap tidak menyerah pada propaganda dan ketidakbenaran.

Selayang Pandang tentang Kecerdasan Manusia
Apa Kecerdasan Itu? Kecerdasan dapat kita pahami sebagai kemampuan sesorang untuk melakukan sesuatu. Kemampuan manusia seringkali hanya diukur dari segi kognitif semata, yaitu hal-hal yang dapat diukur dengan angka. Contoh mudahnya adalah bagaimana ketika anak-anak menerima buku rapor. Banyak orang yang mengambil kesimpulan bahwa anak tersbut cerdas, bilamana nilai-nilanya sangat membanggakan. Begitu juga sebaliknya. Atau lebih sempit lagi, pada usia dini kecerdasan hanya diukur dari kelancaran baca-tulis, kelancaran berbicara dan berhitung. Kecerdasan atau kemampuan manusia sebenarnya sangat beragam. Dan secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
1.  Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)
2. Kecersanan Emosional (Emotional Quotient)
3. Kecerdasan Intelektual (Intellectual Quotient)
Mengapa selama ini hanya kecerdasan intelektual saja yang dibangga-banggakan oleh masyarakat dan diri kita?
Apakah kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual itu tidak penting?
Lalu apa sebenarnya kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual itu?

Kecerdasan Spiritual (SQ)
Merupakan kemampuan kita untuk berahlak mulia dan mengenal siapa diri kita dan Tuhan kita. Jadi SQ bukan hanya kemampuan menjalankan shalat atau membaca Al-Qur’an semata, tapi bagaimana semua ibadah yang kita laksanakan dapat dimaknai dan diaplikasikan dalam kehidupan kita, artinya bagaimana perilaku kita adalah merupakan cerminan dari ibadah yang telah kita laksanakan. Sehingga kita menjadi manusia yang dicintai oleh Tuhan dan mahluk-Nya.
Kecerdasan Emosional (EQ)
Adalah kemampuan kita untuk dapat mempengaruhi dan diterima orang lain dengan baik. Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya. Selama ini EQ kurang diajarkan pada anak-anak, sehingga kemampuan anak untuk mencinta dan dicinta oleh sesame menjadi kendala dalam bergaul dan berteman. Dan kesulitan dalam bermasyarakat berawal dari kurangnya kecerdasan emosional kita

Kecerdasan Intelektual (IQ)
Ialah kemampuan kita untuk mengolah dan berfikir kognitif. Kecerdasan yang terukur dengan angka-angka sejak kita di bangku sekolah hingga kuliah, adalah kecerdasan intelektual. Kecerdasan inilah merupakan kemampuan yang diolah pada otak sebelah kiri kita. Bagaimana dengan otak sebelah kanan? Mansusia siapapun dia, adalah makhluk yang diciptakan Tuhan dan telah mengikat perjanjian dengan-Nya, bahwa dia adalah mahluk-Nya. Pada saat ruh ditiupkan oleh Sang Pencipta, manusia dibekali dengan sifat-sifat yang mulia untuk bekal hidupnya. Sifat-sifat yang ditiupkan Tuhan itulah fitrah yang dibawa lahir di dunia. Jadi ketika manusia telah menjadi janin dan lahir di dunia ini dia telah memiliki fitrah yang suci, fitrah dari Tuhannya.
Oleh karena itulah fitrah manusia harus selalu dijaga agar tidak terkotori dan teracuni oleh sifat-sifat syaitan yang sering kita sebut dengan nafsu manusia. Yaitu: dengki, sombong, dusta, malas, berlebihan dan lain sebagainya. Namun kita sering menyebutnya itu adalah manusiawi. Sebenarnya hal-hal tersebut adalah sifat-sifat syaitan yang dikirim syaitan sejak manusia lahir ke muka bumi ini.


Mana Yang Harus Didahulukan?
Untuk menjaga fitrah, maka perlu dilakukan pengenalan kembali tentang siapa Tuhannya, bagaimana kita sebagai mahluk Tuhan harus menjalankan hidup di dunia ini, bagaimana agar kita dicinta oleh Tuhan. Itulah kecerdasan spiritual. Dengan mengenal siapa Tuhannya dan bagaimana agar dicintai Tuhan serta mahluk-Nya. Maka karakter ini perlu dibentuk atau ditanamkan terlebih dahulu sebelum kita mendapatkan kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual. 

Tidak ada komentar: