Selasa, 10 Maret 2015

PANDANGAN TEORI BEHAVIORISTIK TENTANG PEMBELAJARAN BAHASA
Oleh: Rohmad Widiyanto, M. Hum


Pembelajaran merupakan suatu sistem.  Artinya, pembelajaran merupakan satu kesatuan yang terdiri atas berbagai komponen yang saling menunjang. Karena itu, keberhasilan pembelajaran akan ditentukan oleh komponen-komponen yang terlibat dalam pembelajaran tersebut. Komponen-komponen tersebut adalah guru, siswa, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode dan teknik pembelajaran, evaluasi, serta sarana yang dibutuhkan. Demikian pula dalam pembelajaran Bahasa, agar pembelajaran bahasa berhasil, komponen-komponen tadi harus diperhatikan. Pernyataan di atas mengisyaratkan bahwa dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran bahasa, bukan hanya faktor guru dan materi pembelajaran bahasa yang harus diperhatikan, siswa pun sebagai subjek didik harus diperhatikan demi keberhasilan pembelajaran.
Penelitian mengenai proses-proses psikologi pembelajaran yang dimulai sejak akhir abad kesembilan belas membawakan tiga buah model kenyataan psikologi yang berbeda dalam dunia pendidikan: model behavioris, model kognitif, dan model interaksionis (Gredler, 1991: 104). Model behavoris menjelaskan hubungan stimulus yang dapat diukur dan respons tingkah-laku. Beberapa teori telah dikembangkan dari pandangan ini. Model kognitif berpusat pada fikiran dan bekerjanya fikiran. Dalam model ini, tingkah laku dan peranan lingkungan bersifat insidental bagi memahami proses kognitif. Strukturalisme merupakan contoh yang awal dari pandangan ini, dan teori-teori pengolah informasi adalah contoh yang paling baru.
Masalah belajar dan bagaimana proses seseorang memperoleh pengetahuan merupakan masalah yang sangat menarik. Pandangan-pandangan tentang teori belajar kognitif dan behavioristik yang penerapannya di lapangan sangat luas perlu kiranya dipahami secara mendalam oleh para pelaku-pelaku pendidikan dengan kelebihan dan kekurangannya. Oleh karena itu pada paparan ini, akan diuraikan secara ringkas pandangan tentang proses pembelajaran dari tokoh psikologi behavioristik.

Konsep dan Prinsip Pembelajaran Behavoristik
Pembelajaran memiliki pengertian yang amat beragam. Brown (2007:8) menyampaikan, pembelajaran adalah penguasaan atau pemerolehan pengetahuan tentang suatu subjek atau sebuah ketrampilan dengan belajar, pengalaman, atau instruksi. Lebih lanjut Slevin (via Brown, 2007: 8) berpendapat bahwa pembelajaran adalah sebuah perubahan dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalaman. Prinsip dalam pembelajaran yang berdasarkan teori behaviorisme (hubungan (S-R) meliputi,  recency principle dan frequency principle.
Aliran behavioristik yang lebih bersifat elementaristik memandang manusia sebagai organisme yang pasif, yang dikuasai oleh stimulus-stimulus yang ada di lingkungannya. Pada dasarnya, manusia dapat dimanipulasi, tingkah lakunya dapat dikontrol dengan jalan mengontrol stimulus-stimulus yang ada dalam lingkungannya (Mukminan, 1997: 7). Masalah belajar dalam pandangan behaviorisme, secara umum, memiliki beberapa teori, antara lain: teori Connectionism, Classical Conditioning, Contiguous Conditioning, serta Descriptive Behaviorisme atau yang lebih dikenal dengan nama Operant Conditioning.
Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu belajar. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme ini, diantaranya Connectionism ( S-R Bond) menurut Thorndike.
Teori koneksionisme yang dipelopori oleh Thorndike, memandang bahwa yang menjadi dasar terjadinya belajar adalah adanya asosiasi antara kesan panca indera (sense of impression) dengan dorongan yang muncul untuk bertindak (impuls to action) (Mukminan, 1997: 8) . Ini artinya, teori behaviorisme yang lebih dikenal dengan nama contemporary behaviorist ini memandang bahwa belajar akan terjadi pada diri anak, jika anak mempunyai ketertarikan terhadap masalah yang dihadapi.
Siswa dalam konteks ini dihadapkan pada sikap untuk dapat memilih respons yang tepat dari berbagai respons yang mungin bisa dilakukan. Teori ini menggambarkan bahwa tingkah laku siswa dikontrol oleh kemungkinan mendapat hadiah external atau reinforcement yang ada hubungannya antara respons tingkah laku dengan pengaruh hadiah.
Dari eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya: (1) Law of Effect (hukum pengaruh); artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus - Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons. (2) Law of Readiness (hukum kesiapan belajar); artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. (3) Law of Exercise (hukum latihan); artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.



Prinsip Umum Penerapan  Teori Behavirostik dalam Pembelajaran
Teori behaviorisme yang menekankan adanya hubungan antara stimulus (S) dengan respons (R) secara umum dapat dikatakan memiliki arti yang penting bagi siswa untuk meraih keberhasilan belajar. Caranya, guru banyak memberikan stimulus dalam proses pembelajaran, dan dengan cara ini siswa akan merespons secara positif apa lagi jika diikuti dengan adanya reward yang berfungsi sebagai reinforcement (penguatan terhadap respons yang telah ditunjukkan). Oleh karena teori ini berawal dari adanya percobaan sang tokoh behavioristik terhadap binatang. Dalam konteks pembelajaran, ada beberapa prinsip umum yang harus diperhatikan. Beberapa prinsip tersebut adalah, (1) teori ini beranggapan bahwa yang dinamakan belajar adalah perubahan tingkah laku. Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu jika yang bersangkutan dapat menunjukkan perubahan tingkah laku tertentu. (2) Teori ini beranggapan bahwa yang terpenting dalam belajar adalah adanya stimulus dan respons, sebab inilah yang dapat diamati. Sedangkan apa yang terjadi di antaranya dianggap tidak penting karena tidak dapat diamati. Reinforcement, yakni apa saja yang dapat menguatkan timbulnya respons, merupakan faktor penting dalam belajar. Respons akan semakin kuat apabila reinforcement (baik positif maupun negatif) ditambah.
Jika yang menjadi titik tekan dalam proses terjadinya belajar pada diri siswa adalah timbulnya hubungan antara stimulus dengan respons, di mana hal ini berkaitan dengan tingkah laku apa yang ditunjukkan oleh siswa, maka penting kiranya untuk memperhatikan hal-hal lainnya di bawah ini, agar guru dapat mendeteksi atau menyimpulkan bahwa proses pembelajaran itu telah berhasil. Hal yang dimaksud adalah sebagai berikut. 1) Guru hendaknya paham tentang jenis stimulus apa yang tepat untuk diberikan kepada siswa. 2) Guru juga mengerti tentang jenis respons apa yang akan muncul pada diri siswa. 3) Untuk mengetahui apakah respons yang ditunjukkan siswa ini benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan, maka guru harus mampu menetapkan bahwa respons itu dapat diamati (observable), dapat pula diukur (measurable), dapat dinyatakan secara eksplisit atau jelas kebermaknaannya (eksplisit). Agar respons itu dapat senantiasa terus terjadi atau setia dalam ingatan/tingkah laku siswa, maka diperlukan sekali adanya semacam hadiah (reward). Penerapan teori behavioristik dalam proses pembelajaran  adalah sebagai berikut:.
1.    Menganalisis Kemampuan Awal dan Karakteristik Siswa
Siswa sebagai subjek yang akan diharapkan mampu memiliki sejumlah kompetensi sebagaimana yang telah ditetapkan dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar, perlu kiranya dianalisis kemampuan awal dan karakteristiknya. Hal ini dilakukan mengingat siswa yang belajar di sekolah tidak datang tanpa berbekal apapun sama sekali. Selain itu, setiap siswa juga memiliki karakteristik sendiri-sendiri dalam hal mengakses dan atau merespons sejumlah materi dalam pembelajaran. Ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh guru jika melakasanakan analisis terhadap kemampuan dan karakteristik siswa, yaitu : a). akan memeroleh gambaran yang lengkap dan terperinci tentang kemampuan awal para siswa, yang berfungsi sebagai prasyarat  (prerequisite) bagi bahan baru yang akan disampaikan, b) akan memperoleh gambaran tentang luas dan jenis pengalaman yang telah dimiliki oleh siswa. Dengan berdasar pengalaman tersebut, guru dapat memberikan bahan yang lebih relevan dan memberi contoh serta ilustrasi yang tidak asing bagi siswa, c) akan dapat mengetahui latar belakang sosio-kultural para siswa, termasuk latar belakang keluarga, latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain, d) akan dapat mengetahui tingkat pertumbuhan dan perkembangan siswa, baik jasmaniah maupun rohaniah, e) akan dapat mengetahui aspirasi dan kebutuhan para siswa, f) dapat mengetahui tingkat penguasaan bahasa siswa, g) dapat mengetahui tingkat penguasaan pengetahuan yang telah diperoleh siswa sebelumnya, dan h) dapat mengetahui sikap dan nilai yang menjiwai pribadi para siswa.

2. Merencanakan Materi Pembelajaran
Idealnya proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru benar-benar sesuai dengan apa yang diharapkan oleh siswa dan juga sesuai dengan kondisi siswa, sehingga di sini guru tidak akan over-estimate dan atau under-estimate terhadap siswa. Namun kenyataan tidak demikian adanya. Sebagian siswa ada yang sudah tahu dan sebagian yang lain belum tahu sama sekali tentang materi yang akan dibelajarkan di dalam kelas. Untuk dapat memberi layanan pembelajaran kepada semua kelompok siswa yang mendekati idealnya (sesuai dengan kemampuan awal dan karakteristik masing-masing kelompok) kita dapat menggunakan dua pendekatan yaitu:  (a).      siswa menyesuaikan diri dengan materi yang akan dibelajarkan, yaitu dengan cara guru melakukan tes dan pengelompokkan (dalam hal ini tes dilakukan sebelum siswa mengikuti pelajaran), atau (b). Materi pembelajaran disesuaikan dengan keadaan siswa (Atwi Suparman, 1997 : 108).
Materi pembelajaran yang akan diajarkan apakah disesuaikan dengan keadaan siswa atau siswa menyesuaikan materi, keduanya dapat didahului dengan mengadakan tes awal atau tes prasyarat (prerequisite test). Hasil dari prerequisite test ini dapat menghasilkan dua keputusan, yaitu: siswa dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yakni a) sudah cukup paham dan mengerti, serta b) belum paham dan mengerti. Jika keputusan yang diambil siswa dikelompokkan menjadi dua di atas, maka  onsekuensinya: materi, guru dan ruang belajar harus dipisah.
Hal seperti ini tampaknya sangat susah untuk diterapkan, karena berimplikasi pada penyediaan perangkat pembelajaran yang lebih memadai, di samping memerlukan dana (budget) yang lebih besar. Cara lain yang dapat dilakukan adalah, atas dasar hasil analisis kemampuan awal siswa dimaksud, guru dapat menganalisis tingkat persentase penguasaan materi pembelajaran. Hasil yang mungkin diketahui adalah bahwa pada pokok materi pembelajaran tertentu sebagian besar siswa sudah banyak yang paham dan mengerti, dan pada sebagian pokok materi pembalajaran yang lain sebagian besar siswa belum atau tidak mengerti dan paham.
Rencana strategi pembelajaran yang dapat dilakukan oleh guru terhadap kondisi materi pembelajaran yang sebagian besar siswa sudah mengetahuinya, materi ini bisa dilakukan pembelajaran dalam bentuk ko-kurikuler (siswa diminta untuk menelaah dan membahas di rumah atau dalam kelompok belajar, lalu diminta melaporkan hasil diskusi kelompok dimaksud). Sedangkan terhadap sebagian besar pokok materi pembelajaran yang tidak dan belum diketahui oleh siswa, pada pokok materi inilah yang akan dibelajarkan secara penuh di dalam kelas.

Sedangkan langkah umum yang dapat dilakukan guru dalam menerapkan teori behaviorisme dalam proses pembelajaran adalah: a) mengidentifikasi tujuan pembelajaran, b) melakukan analisis pembelajaran, c) mengidentifikasi karakteristik dan kemampuan awal pembelajar, d) menentukan indikator-indikator keberhasilan belajar, e) mengembangkan bahan ajar (pokok bahasan, topik, dll), f) mengembangkan strategi pembelajaran (kegiatan, metode, media dan waktu), g) mengamati stimulus yang mungkin dapat diberikan (latihan, tugas, tes dan sejenisnya), h) mengamati dan menganalisis respons pembelajar, h) memberikan penguatan (reinfrocement) baik posistif maupun negatif, serta merevisi kegiatan pembelajaran.

Tidak ada komentar: