<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548</id><updated>2011-12-27T21:33:28.959-08:00</updated><category term='UJIAN NASIONAL'/><title type='text'>ROHMAD WIDIYANTO - SMA Negeri 3 Sampit</title><subtitle type='html'>Membangkitkan ketulusan, menggugah kreativitas, menuju prestasi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-8725666018948534255</id><published>2011-02-10T16:55:00.000-08:00</published><updated>2011-02-10T16:56:45.889-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>MEMBANGUN TRADISI SASTRA: MENYEMAI BENIH KEGAIRAHAN BERSASTRA DI KALANGAN SISWA&lt;br /&gt;Oleh: Rohmad Widiyanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang menyengat, jam terakhir di sebuah Sekolah Berstandar Nasional  diisi dengan mata pelajaran bahasa Indonesia. Pada saat memulai pelajaran sang guru (dengan gaya mirip-mirip pak Arfan Laskar Pelangi) mengajukan pertanyaan pada siswa,&lt;br /&gt;“Anak-anak, siapa di antara kalian yang tahu tentang Laskar Pelangi?”&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan tersebut, hampir seluruh siswa mengacungkan tangannya sambil berkata penuh semangat, &lt;br /&gt;“Saya Pak!”&lt;br /&gt;Belum puas dengan reaksi tersebut dengan semangat yang tinggi sang guru bertanya lagi pada siswa,&lt;br /&gt;“Anak-anak, siapa di antara kalian yang sudah membaca tuntas novel Laskar Pelangi?”&lt;br /&gt;Reaksi siswa pada saat menerima pertanyaan kedua amatlah berbeda dengan reaksi saat menerima pertanyaan pertama. Tak satu pun siswa yang mengacungkan tangan. Satu, dua orang anak menjawab dengan kata &lt;br /&gt;“belum Pak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenggal kisah di atas bukanlah sebuah anekdot yang rumpang dari sebuah pembelajaran sastra, namun sebuah kisah nyata yang terjadi di lingkungan Sekolah Menengah Atas Negeri dengan kategori Sekolah Berstandar Nasional. Sebuah berita yang cukup menyedihkan tentunya, bagi dunia sastra Indonesia. Mengapa demikian? Pertanyaan guru dengan memilih novel Laskar Pelangi sebagai subjek bukanlah bersifat kebetulan semata, namun sebuah kesengajaan untuk ‘mengintip’ sejauh mana apresiasi siswa terhadap karya sastra. &lt;br /&gt;Pemilihan novel Laskar Pelangi dilandasi oleh kesuksesan novel tersebut dalam menarik simpati pembaca. Penjualan novel tersebut amatlah spetktakuler. Berdasarkan data pada tahun 2008, belum genap satu tahun beredar, Laskar pelangi  telah terjual kurang lebih satu juta eksemplar, dengan royalti melampaui dua milyar rupiah. Hal tersebut sekaligus meruntuhkan mitos Kutukan Tiga Ribu Buku, bahwa buku sastra susah menembus penjualan tiga ribu eksemplar setahun (Karni, 2008:3). &lt;br /&gt;Jawaban kedua atas pertanyaan guru di atas menjadi bukti konkrit bahwa ternyata tradisi bersastra pada kalangan siswa SMA belum begitu membanggakan. Jika novel sekaliber Laskar Pelangi saja belum terbaca secara tuntas, apalagi novel-novel yang lain. Berdasarkan hal tersebut, tugas berat untuk menggairahkan pembelajaran sastra masih terpampang di depan mata. Guna merealisasikan hal tersebut, komitmen dan keseriusan guru dalam mengemas pembelajaran bersastra di kalangan siswa amatlah diperlukan, tanpa itu semua, sastra akan semakin jauh dari kehidupan siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas Sastra: Penyemai Kegairahan Pembelajaran dan Tradisi Bersastra di SMA&lt;br /&gt;Robert M. Mac Iver dan Charles H. Page (1961:251) mendefinisikan  komunitas sebagai wilayah kehidupan sosial dengan derajat hubungan sosial tertentu. Derajat hubungan sosial itu biasanya ditandai dengan interaksi yang intens di dalam suatu dinamika internal dalam jangka waktu tertentu. Dasar-dasar suatu komunitas adalah lokalitas dan perasaan sekomunitas.&lt;br /&gt;Dalam komunitas sastra, interaksi sosial itu dibentuk melalui kepentingan yang dapat bersumber dari tujuan-tujuan yang sama yang hendak dicapai anggota-anggota komunitas yang bersangkutan dalam kehidupan kesusastraan. Lokalitas dan perasaan sekomunitas menjadi daya lekat komunitas itu dalam mencapai tujuan bersama mereka.&lt;br /&gt;Tinggi atau rendahnya peran komunitas sastra dalam menumbuhkan tradisi sastra yang kuat tidak terletak pada bentuk formal atau informalnya melainkan pada intensitas diskursus pemikiran yang berlangsung di dalamnya. Lokalitas dan perasaan sekomunitas menggerakkan aktivitas dan dinamika internal komunitas sastra dalam berbagai-bagai bentuk, seperti pemublikasian buku, buletin, majalah, jurnal kebudayaan, pementasan teater, dialog sastra, dan sebagainya. &lt;br /&gt;Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa guru bahasa Indonesia di Yogyakarta dan Sampit Kalimantan Tengah, keberadaan komunitas sastra di sekitar lingkungan sekolah ternyata mampu menyemai kegairahan baru dalam kegiatan maupun pembelajaran bersastra di sekolah. Dalam hal ini diperlukan komitmen yang serius antara pihak sekolah dengan komunitas sastra di lingkungan sekitar sekolah terhadap pembelajaran sastra di sekolah.&lt;br /&gt;Salah satu bukti dari hal tersebut adalah kegiatan yang dirintis komunitas sastra Horison, kepedulian tersebut terpicu oleh hasil observasi Taufiq Ismail (2003). Dari hasil survei tersebut disusunlah enam butir kegiatan gerakan sastra dengan sasaran dunia pendidikan yang bertujuan meningkatkan: (1) budaya membaca buku; (2) kemampuan mengarang; dan (3) apresiasi sastra. &lt;br /&gt;Enam gerakan sastra Horison yang mulai dilaksanakan sejak tahun 1996 itu adalah: (1) Sisipan Kakilangit. Sasaran: Siswa dan Guru. Pendanaan: Majalah sastra Horison; (2) Pelatihan MMAS (Membaca, Menulis, dan Apresiasi Sastra). Sasaran: Guru. Pendanaan: Depdiknas; (3) Kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya). Sasaran: Siswa dan Guru. Pendanaan:  The Ford Foundation; (4) Kegiatan SBMM (Sastrawan Bicara Mahasiswa Membaca). Sasaran: Mahasiswa. Pendanaan: The Ford Foundation; (5) LMKS (Lomba Mengulas Karya Sastra) dan LMCP (Lomba Menulis Cerita Pendek). Sasaran: Guru. Pendanaan: Depdiknas; (6) SSSI/SSRI (Sanggar Sastra Siswa Indonesia/ Sanggar Sastra Remaja Indonesia). Sasaran: Siswa. Pendanaan: The Ford Foundation dan Depdiknas.&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil evaluasi dari kegitan tersebut, terlihat bahwa keenam program itu dapat memberikan dorongan dan stimulasi kepada siswa untuk melahirkan gairah dan semangat baru dalam melakukan kegiatan bersastra di lingkungan sekolah masing-masing. Dengan lahirnya gairah baru tersebut, akan turut mendorong motivasi siswa dalam mendalami sastra, baik dalam bentuk proses kreatif maupun pendalaman secara teoretis melalui pelajaran sastra di kelas. &lt;br /&gt;Dengan mengingat besarnya manfaat dari kegiatan yang telah dirintis Komunitas Sastra Horison tersebut, semangat dari rintisan kegiatan bersastra itu hendaknya bisa ditindaklanjuti sekolah dengan cara menjalin kerjasama dengan Komunitas Sastra di lingkungan sekolah tersebut berada.  Berkaca pada kesuksesan kegiatan SBSB (Sastrawan Bicara Siswa Bertanya) yang dilaksanakan Horison, jalinan kerjasama dengan komunitas sastra tersebut pada dasarnya  merupakan sebuah upaya untuk membangun sebuah kemistri antara siswa, sastrawan, dan hasil karya sastra. Tanpa adanya kemistri antara ketiga unsur tersebut, pembelajaran sastra akan sulit mencapai tujuan seperti yang diharapkan. Sasaran akhir dari kegiatan ini adalah terciptanya tradisi sastra di lingkungan sekolah. Tradisi itu bisa diimplementasikan dalam bentuk kegiatan ekstra kurikuler maupun intra kurikuler.&lt;br /&gt;Berdasarkan hasil survei yang dilakukan mahasiswa prodi Linguistik Terapan khususnya konsentrasi Pendidikan Sastra ke beberapa sekolah maju di Yogyakarta, menunjukkan bahwa semaraknya kegiatan apresiasi sastra Indonesia di lingkungan sekolah karena didukung oleh berbagai kegiatan bersastra, baik dilakukan secara intern maupun secara ekstern dengan melibatkan komunitas sastra di lingkungan sekitar sekolah. Kegiatan tersebut antara lain berupa pembentukan sanggar sastra di sekolah, pendirian teater sekolah, temu sastrawan, pengikutsertaan siswa ke dalam berbagai lomba kesastraan di luar sekolah, lomba baca puisi, lomba membaca cerpen, serta lomba minat baca buku cerita di perpustakaan. &lt;br /&gt;Berkaca dari hal tersebut, ternyata kegiatan bersastra yang dilakukan di lingkungan sekolah berpengaruh positif terhadap pembelajaran sastra. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa, mustahil pembelajaran sastra bisa memenuhi harapan guru jika siswa tak pernah mengenal sastrawan maupun hasil karyanya. Sangat mustahil pembelajaran sastra akan berpengaruh terhadap afeksi siswa, jika dalam kehidupan mereka tak pernah bersentuhan dengan kegiatan bersastra. Sangat mustahil pula jika siswa akan mencintai sastra jika dalam diri siswa tidak pernah mengenal karya sastra. Jadi, singkatnya pembelajaran sastra di kelas tidak akan mampu membentuk karakter siswa, jika siswa tidak pernah bersentuhan dengan kegiatan sastra, sastrawan, dan karya sastra. Barangkali kita tidak menginginkan jika pembelajaran sastra di sekolah hanya bersifat formalitas belaka, tanpa ruh, tanpa makna, dan tanpa menimbulkan kesan apapun dalam diri siswa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melongok Pembelajaran Sastra di SMA dalam Kacamata Kurikulum dan Upaya Penyiasatan Pembelajaran Sastra   &lt;br /&gt;Alasan klise yang sering dilontarkan guru bahasa Indonesia (sekaligus pengampu pelajaran sastra) berkenaan dengan pembelajaran sastra yang kurang bermakna, adalah beratnya tuntutan kurikulum yang harus mereka penuhi. Akibatnya, para guru tidak memiliki waktu yang memadahi untuk melakukan pembenahan dalam pembelajaran sastra.  Bahkan, tidak jarang apresiasi sastra seolah-olah terabaikan dengan alasan sangat klise: tidak tersedianya bahan bacaan sastra yang memadahi di perpustakaan sekolah. Benarkah tuntutan kurikulum tersebut terkesan memberatkan sehingga pembelajaran sastra tidak mendapatkan porsi yang memadahi?&lt;br /&gt;Kurikulum pada dasarnya adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian  dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian dan pengembangan program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah. &lt;br /&gt;Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.&lt;br /&gt;Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 (UU 20/2003) tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 (PP 19/2005) tentang Standar Nasional Pendidikan mengamanatkan kurikulum pada KTSP jenjang pendidikan dasar dan menengah disusun oleh satuan pendidikan dengan mengacu kepada SI dan SKL serta berpedoman pada panduan yang disusun oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Selain dari itu, penyusunan KTSP juga harus mengikuti ketentuan lain yang menyangkut kurikulum dalam UU 20/2003 dan PP 19/2005 (BSNP, 2006:3)&lt;br /&gt;Mencermati semangat yang mendasari Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), kurikulum ini sesungguhnya memberi peluang bagi guru dan sekolah di berbagai daerah untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan kondisi guru, siswa, komite sekolah, sekolah, dan keadaan masyarakat serta budaya setempat. Sedikitnya ada lima hal penting yang menjadi ciri KTSP, adalah sebagai berikut. &lt;br /&gt;1)  KTSP bersifat fleksibel. Adanya semangat fleksibilitas ini tampak dari adanya kebebasan untuk menambahkan empat jam untuk mata pelajaran wajib atau mata pelajaran muatan lokal.&lt;br /&gt;2)  KTSP dikembangkan berdasarkan pertimbangan (a) satuan pendidikan, (b) potensi daerah, (c) kondisi sosial budaya setempat, dan (d) kondisi peserta didik, maka pihak guru dan sekolah dapat leluasa mengelola sendiri manajemen sekolah dan mengembangkan satuan pendidikan yang sesuai dengan kondisi sekolah, guru, dan peserta didik; &lt;br /&gt;3) KTSP menuntut kreativitas guru dan sekaligus juga mendorong peserta didik lebih aktif; &lt;br /&gt;4)  KTSP juga dikembangkan dengan prinsip diversifikasi, artinya sekolah dimungkinkan menjabarkan sendiri standar isi dan standar kompetensinya dengan memasukkan muatan lokal –propinsi, kabupaten/kota, dan lokal sekolah. &lt;br /&gt;5)  KTSP sejalan dengan konsep desentralisasi pendidikan dan manajemen berbasis sekolah (school-based management). Dengan demikian, sekolah dapat meningkatkan peran komite sekolah untuk kepentingan pengembangan satuan pendidikannya. Demikian juga, sekolah dapat bekerja sama dengan stakeholders pendidikan atau dengan organisasi kemasyarakatan atau organisasi profesi, dalam hal yang menyangkut manajemen sekolah, pengembangan muatan lokal, atau pengembangan kegiatan kurikuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan pembelajaran sastra di SMA, beberapa pertanyaan yang perlu ditinjau ulang jawabannya, meliputi beberapa pertanyaan berikut. Apakah pembelajaran sastra (Indonesia) di sekolah telah memenuhi tujuan yang diharapkan dalam kurikulum tersebut. Apakah juga pembelajaran sastra bertujuan agar siswa (a) bisa menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan dan memperbaiki budi pekerti (afeksi), serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, (b) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia, atau agar siswa memperoleh pengetahuan tentang sastra dengan berbagai teori? Jika merujuk pada tujuan yang hendak dicapai pada tujuan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sesungguhnya KTSP memberi peluang yang lebih leluasa bagi guru dan pihak sekolah untuk mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensinya untuk memcapai tujuan pembelajaran sastra.&lt;br /&gt;Sesuai  Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) dalam KTSP, segalanya terkesan sangat menjanjikan, ideal, dan penuh pengharapan. Demikian juga dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pengajaran Bahasa Indonesia. Kesan itu menjadi begitu optimistik manakala ada keterangan berikut: “Pada akhir pendidikan di SMA/MA, peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya 15 buku sastra dan nonsastra.”&lt;br /&gt;Dalam konteks pembelajaran sastra, KTPS memang tidak memberikan tempat khusus. Keberadaannya masih dipersandingkan dengan mata pelajaran lain yaitu bahasa Indonesia. Dengan kondisi semacam itu, pembelajaran sastra terkesan hanya sebagai pelengkap saja.  Dengan nama mata pelajaran yang tidak mencantumkan kata ’sastra’, mengesankan bahwa pembelajaran sastra seolah-olah tidak mememiliki tempat dalam KTSP. &lt;br /&gt;Berkenaan dengan Standar Kompetensi yang menyangkut (1) Mendengarkan, (2) Berbicara, (3) Membaca, dan (4) Menulis, penjabaran dalam Kompetensi Dasar khusus sastra Indonesia terdiri atas 36 - 38 materi dalam setiap semester, pelajaran sastra berkisar antara 16 - 18 materi. Jadi, cukup proporsional. Dari materi sejumlah itu, sekitar 6 - 8 menyangkut teori dan pengetahuan sastra, selebihnya apresiasi. Meskipun materi sejarah sastra tidak disinggung, materi apresiasi mendapat tempat yang cukup memadahi. Jika hal itu dijalankan secara benar, apresiasi sastra sesungguhnya tidaklah menjadi masalah. Jadi secara teoretis, kurikulum bahasa Indonesia telah menempatkan sastra secara proporsional dan amat memadahi untuk memupuk apresiasi sastra Indonesia di kalangan siswa.      &lt;br /&gt;Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA meliputi: (1) peserta didik dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan, dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya kesastraan dan hasil intelektual bangsa sendiri; (2) guru dapat memusatkan perhatian kepada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar; (3) guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya; (4) orang tua dan masyarakat dapat secara aktif terlibat dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah; (5) sekolah dapat menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia; (6) daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional.&lt;br /&gt;Berikut enam tujuan pelajaran Bahasa Indonesia: agar peserta didik memiliki kemampuan dalam (1) berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan, maupun tulis, (2) menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, (3) memahami bahasa Indonesia dan (dapat) menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan, (4) menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual serta kematangan emosional dan sosial, (5) menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, (6) menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.&lt;br /&gt;Berkenaan dengan problematika pembelajaran sastra di SMA, setidaknya ada tiga faktor yang memungkinkan terjadinya masalah dalam pembelajaran sastra, yaitu faktor individu siswa, faktor pembelajaran dan faktor lingkungan. Faktor individu siswa meliputi bakat, sikap, minat, dan motivasi (Brown, 1987:244). Faktor pembelajaran (mikro) meliputi kurikulum, materi, metode, evaluasi, dan guru (Dubin &amp; Olshtain, 1986: 27 - 32). Faktor lingkungan (makro) meliputi keluarga dan masyarakat. &lt;br /&gt;Pada faktor individu siswa, bakat yang berarti kemampuan bawaan (inborn capacity) bisa menjadi sumber masalah dalam pembelajaran sastra karena sastra adalah seni; dan kemampuan bersastra akan berkembang baik jika siswa mempunyai bakat seni. Namun hal ini tidak berarti bahwa sastra hanya bisa dipelajari oleh mereka yang berbakat saja. Sebagaimana bahasa, pemerolehan kompetensi kesastraan bisa bersifat alamiah (natural) dan juga bisa melalui pengasuhan (nurtural). Bakat bersifat natural, sedangkan pelatihan, pengasuhan, dan proses pendidikan bersifat nurtural. Sikap (attitude) memiliki dua wajah, bersifat positif atau negatif. Apabila siswa bersikap positif terhadap sastra, maka dia akan menerima dan tidak menganggap sastra sebagai beban, halangan, atau ancaman. Sebaliknya, jika bersikap negatif berarti siswa tidak menerima adanya sastra atau tidak menyukainya. Sikap biasanya dipengaruhi oleh pengalaman. Jika selama menjalani proses pembelajaran, siswa mendapat pengalaman yang pahit atau tidak menyenangkan, maka dia akan bersikap negatif terhadap sastra. Sebaliknya, bila dia mendapatkan pengalaman yang baik dan menyenangkan, maka dia akan bersikap positif. Idealnya, sebuah pembelajaran hendaknya diarahkan pada pemerolehan pengalaman yang baik pada diri siswa.&lt;br /&gt;Salah satu permasalahan yang sifatnya mendasar berkenaan dengan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Indonesia sesungguhnya juga terletak pada kemauan, motivasi dan semangat guru untuk dalam mengemas pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna bagi siswa. Khusus dalam pembelajaran sastra (Indonesia), seringkali guru terjebak dalam materi yang bersifat teoretis belaka. Siswa terkesan dipaksa untuk menghafal tentang teori kesastraan yang berhubungan dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik karya sastra, gaya bahasa, dan sejarah sastra dari masa ke masa. Jika hal itu dikembalikan pada muara akhir pembelajaran sastra yaitu apresiasi karya sastra, lantas apa manfaatnya para siswa mengetahui, memahami, dan hapal di luar kepada tentang materi-materi tersebut, jika mereka sama sekali tidak diberi kesempatan bergumul langsung dengan karya sastra. Hal itulah yang menjadi titik tolak kegagalan pembelajaran sastra di SMA.  &lt;br /&gt;Salah satu Implementasi dalam pembelajaran sastra (Indonesia) di Sekolah Menengah Atas adalah dengan cara memberi kesempatan para siswa untuk bersentuhan langsung dengan karya sastra, dalam hal ini adalah membaca karya sastra maupun kegiatan bersastra lainnya. Sebagai contoh tindak lanjut dari kegiatan tersebut, siswa diberi kesempatan untuk mendiskusikan hasil pembacaan yang telah dilakukan. Tugas guru selanjutnya adalah bertindak sebagai moderator pada saat para siswa mendiskusikan karya itu. Dari karya sastra yang telah dibaca siswa itulah, guru bisa menerangkan soal yang berkenaan dengan penguasaan konsep-konsep yang didapat siswa dari kegiatan pembacaan karya sastra. &lt;br /&gt;Melalui cara seperti itu, pelajaran sastra tidak hanya dapat menumbuhkan apresiasi siswa pada karya sastra, tetapi juga dapat menjadi ajang saling menghargai pendapat. Sebuah pelajaran demokrasi telah berlangsung di dalam kelas, karena di sana urusan benar - salah, tidak berlaku lantaran yang diutamakan adalah alasan di balik jawaban apa pun yang disampaikan peserta didik. Di samping contoh di atas, tentunya masih banyak metode yang bisa diterapkan oleh guru dalam pembelajaran sastra. Permasalahan yang sifatnya cukup mendasar dalam pemebelajaran sastra adalah berkenaan dengan bahan bacaan sastra yang disediakan sekolah untuk menunjang pembelajaran sastra. Cukup tersediakah bahan bacaan sastra tersebut guna menunjang kegiatan apresiasi anak? Jika di perpustakaan belum tersedia bahan bacaan sastra yang memadahi, guru bisa memanfaatkan karya sastra yang sering dimuat di koran-koran lokal maupun memberi tugas tidak terstruktur pada siswa untuk mendownload karya sastra yang jumlahnya ribuan file di internet. Selanjutnya tugas tersebut bisa didokumentasikan di perpustakaan sekolah. Guna memotivasi anak mengerjakan tugas tersebut, barangkali tidak cukup hanya sekedar memberikan nilai terhadap tugas itu, namun seharusnya ada semacam penghargaan dari sekolah bagi siswa yang mampu mengerjakan tugas dengan baik. Penghargaan tersebut bisa berupa piagam yang diserahkan pada saat upacara bendera di hari Senin. Kini bukan saatnya lagi mempermasalahkan kelangkaan sumber bacaan sastra, karena semua itu bisa didapat dengan mudah di jaringan dunia maya.  &lt;br /&gt;Berkenaan dengan tersebut, inovasi seorang guru untuk mengemas pembelajaran sastra menjadi lebih menarik perhatian siswa amatlah terbuka lebar. Kurikulum bukanlah sebuah kitab suci, yang harus dijalankan secara mutlak, implementasinya dalam pembelajaran haruslah bersifat fleksibel.  Kemajuan Iptek, hendaknya dapat dijadikan momentum guru sastra untuk lebih mengoptimalkan praktik pembelajaran sastra di sekolah. Akhirnya, pembelajaran sastra di sekolah pada dasarnya adalah sebuah unikum, yang memiliki karakteristik yang berbeda dari pembelajaran lainnya. Keberhasilan pembelajaran sastra tidak hanya ditentukan oleh pelajaran tatap muka di depan kelas saja, namun juga didorong oleh faktor-faktor di luar pelajaran. Komitmen guru untuk menghidupkan pembelajaran sastra dengan berbagai kegiatan bertradisi sastra adalah kunci keberhasilan pembelajaran sastra di sekolah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-8725666018948534255?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/8725666018948534255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=8725666018948534255' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/8725666018948534255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/8725666018948534255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2011/02/membangun-tradisi-sastra-menyemai-benih.html' title=''/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-1623334525807217350</id><published>2011-02-10T16:50:00.000-08:00</published><updated>2011-02-10T16:53:50.267-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>Reformasi Moral dan Intelektual Kaum Marginal atas Dominasi PN Timah dalam Novel “Laskar Pelangi” Karya Andrea Hirata: Sebuah Tinjauan Sosiologi Sastra Gramsci&lt;br /&gt;Rohmad Widiyanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Awal Kata&lt;br /&gt;Sastra khususnya fiksi adalah dunia dalam kemungkinan, juga dikatakan sebagai dunia dalam kata (Nurgiyantoro,2009:272). Kendati demikian, kemungkinan-kemungkinan yang terdapat dalam  sastra bukanlah sekedar imajinasi kosong dan mengada-ada dari pengarang. Hubungan antara sastra (sebagai produk imajiner), masyarakat (sebagai tempat persemaian dan tumbuh kembangnya sastra), dan pengarang sebagai “produsen” sastra adalah hubungan yang amat bermakna. Kebermaknaan itu terlihat dari pengaruh timbal-balik antara ketiganya.  Dengan kata lain, sastra tidak jatuh begitu saja dari langit. Hubungan antara sastrawan, sastra dan masyarakat bukanlah sesuatu yang dicari-cari (Damono,1979:1) Dalam hal ini Rene Wellek dan Austin Waren (1993:3) menyatakan bahwa sastra merupakan bentuk kegiatan kreatif dan produktif dalam menghasilkan sebuah karya yang memiliki nilai rasa estetis serta mencerminkan realitas sosial kemasyarakatan. &lt;br /&gt;Sejauh mana tingkat hubungan antara sastra, masyarakat dan sastrawan yang muncul dalam sebuah teks bergantung pada bagaimana seorang sastrawan mengimplementasikan pengalaman hidup itu ke dalam karyanya. Dalam hubungan ini, sangat mungkin jika pengalaman hidup sastrawan dan segala konteks budaya yang melingkupi akan mengilhami seluruh jalinan peristiwa dalam karyanya. Atau bisa jadi pengalaman hidup itu hanya sebagai anak tangga untuk ‘meloncat’ lebih tinggi dalam kembara imajinasinya. Dengan demikian, sebagai efek logis dari hubungan itu akan memunculkan perbedaan kadar dan jenis kebenaran yang disuguhkan dalam sastra dan kebenaran dalam dunia nyata.&lt;br /&gt;“Laskar Pelangi”, adalah sebuah fenomena. Kehadirannya dalam dunia sastra Indonesia cukup mencengangkan banyak pihak. Dalam kurun waktu September 2005, awal ”Laskar Pelangi” muncul hingga  Januari 2008, telah mengalami cetak ulang selama tujuh belas kali. Sebuah fenomena ajaib yang belum pernah terjadi pada buku apapun yang diedarkan di Indonesia. Hal itu menunjukkan bahwa animo masyarakat untuk mengetahui hal ihkwal ”Laskar Pelangi” sangatlah besar.&lt;br /&gt;Hal lain yang cukup membuat decak kagum para peminat sastra Indonesia adalah proses kelahiran ’bayi’ fenomental ”Laskar Pelangi”, bukan ditangangi oleh ’dukun’ dari kalangan dunia sastra, namun dari sosok yang nota bene tidak memiliki singgungan dengan sastra. &lt;br /&gt;”Laskar Pelangi” adalah drama kehidupan, cermin realita kehidupan masyarakat marginal Belitong akibat dominasi kapital PN Timah. Dengan ketajaman deskripsi dan metafor-metafor menggigit, kehidupan di Belitong dipaparkan,  meneguhkan bahwa ketidakadilan telah terjadi di Belitong. Perjuangan sekumpulan anak ”Laskar Pelangi” adalah sebuah respon moral terhadap realita itu. Dinamika kehidupan yang melingkupi perjalanan hidup ”Laskar Pelangi” adalah sebuah pencarian format ’perlawanan’ moral menuju pembaharuan; sebuah reformasi moral dan intelektual yang terbangun dari ’mimpi-mimpi’ mereka. Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, Harun, dan belakangan Flo adalah representasi dari seluruh kehidupan di Belitong. Sebagai sosok pencanang tonggak reformasi, dinamika kehidupan mereka diwarnai berbagai ujian. &lt;br /&gt;Beberapa permasalahan yang diangkat dalam makalah ini meliputi, 1) bagaimanakah gambaran umum kehidupan masyarakat marginal Belitong dalam ”Laskar Pelangi”?, 2) bagaimanakah realita kehidupan kaum marginal Belitong akibat hegemoni PN Timah, 3) bagaimanakah bentuk reformasi moral dan intelektual dalam ”Laskar Pelangi”?, dan 4) bagaimanakah dampak reformasi moral dan intelektual ”Laskar Pelangi”?&lt;br /&gt;Jenis penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif. Berkenaan dengan itu, penelitian ini berusaha mendeskripsikan dan menjelaskan secara rinci bentuk satuan lingual (kalimat) dalam novel “Laskar Pelangi. &lt;br /&gt;Keseluruhan satuan lingual  (kalimat) tersebut dikaitkan dengan konteks bahasa serta konteks budaya yang melatar belakanginya. Selanjutnya, satuan lingual (kalimat) itu diidentifikasi, diklasifikasikan, dan ditafsirkan maknya berdasarkan konteks-konteks tersebut. &lt;br /&gt;Subjek penelitian ini adalah novel ”Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh penerbit Betang tahun 2008, sedangkan objek penelitian ini adalah kalimat dalam novel ”Laskar Pelangi” yang memuat 1) bentuk perlawanan moral dan intelektual kaum marginal dalam ”Laskar Pelangi”, 2) bentuk hegemoni PN Timah. Setelah kedua jenis data itu teridentifikasi, kemudian dianalisis, dengan mengaitkan dengan  kondisi sosial budaya masyarakat beserta dampak sosialnya dalam ”Laskar Pelangi”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Landasan Teori&lt;br /&gt;1. Pengertian Hegemoni&lt;br /&gt;Kata hegemoni sering dikacaukan dengan ideologi. Hegemoni berasal dari akar kata bahasa Yunani, hegeisthai yang berarti memimpin, kepemimpinan, kekuasaan, yang melebihi kekuasaan yang lain. Dalam praktiknya di Yunani, hegemoni diterapkan untuk menunjukkan dominasi posisi yang diklaim oleh negara-negara kota (polis atau citystates) secara individual (Patria, 2003:115). Dalam kehidupan sehari-hari istilah hegemoni biasanya dikaitkan dengan dominasi (Ratna, 2007:174)&lt;br /&gt;2. Teori Ideologi dan Hegemoni Gramsci  &lt;br /&gt;Hegemoni Gramsci memberikan perhatian terhadap proses pemaknaan yang didominasi oleh praktik otoritatif. Dalam analisis Gramsci, ideologi dipahami sebagai ide yang mendukung kekuasaan kelompok sosial tertentu (Ratna,2007:179).&lt;br /&gt;Dunia gagasan, kebudayaan, superstruktur, bukan hanya sebagai refleksi atau ekspresi dari struktur kelas ekonomi atau infrastrutur yang bersifat material, melainkan sebagai salah satu kekuatan material itu sendiri. Sebagai kekuatan material itu, dunia gagasan atau ideologi berfungsi mengorganisasi massa manusia, menciptakan tanah lapang yang di atasnya manusia bergerak (Faruk,1999:61).&lt;br /&gt;Gagasan-gagasan dan opini-opini tidak lahir begitu saja dari otak individual, melainkan mempunyai pusat informasi, irradiasi, penyebaran, dan persuasi. Kemampuan gagasan/opini menguasai seluruh lapisan masyarakat merupakan puncaknya. Puncak tersebutlah yang disebut hegemoni (Faruk,1999:62). Menurut Gramsci  (via Hendarto, 1993) faktor terpenting sebagai pendorong terjadinya hegemoni adalah faktor ideologi dan politik yang diciptakan penguasa dalam mempengaruhi, mengarahkan, dan membentuk pola pikir masyarakat. Faktor lainnya adalah pertama paksaan yang dialami masyarakat, sanksi yang diterapkan penguasa, hukuman yang menakutkan, kedua kebiasaan masyarakat dalam mengikuti suatu hal yang baru dan ketiga kesadaran dan persetujuan dengan unsur-unsur dalam masyarakat. &lt;br /&gt;Lebih lanjut dikatakan bahwa, Gramsci memakai istilah tersebut untuk menyebut ideologi penguasa. Konsep ideologi Gramsci ini menekankan pada bentuk ekspresi, cara penerapan, dan mekanisme yang dijalankan pemerintah atau penguasa untuk mempertahankan dan mengembangkan diri melalui kepatuhan para korbannya (anggota masyarakat terutama kelas pekerja) sehingga upaya itu akan berhasil memasyarakat. Secara umum konsep otoriter ini sama dengan konsep hegemoni atau dominasi Gramsci yang artinya pemaksaan kerangka pandangan secara langsung terhadap kelas yang lebih lemah melalui penggunaan kekuatan otoriter dan keharusan ideologi yang terang-terangan.&lt;br /&gt;Gramsci memakai berbagai istilah yang menurutnya ekuivalen dengan ideologi, seperti kebudayaan, filsafat, pandangan dunia, atau konsepsi mengenai dunia. Demikian pula istilah ‘reformasi moral dan intelektual’ ketika Gramsci membicarakan transformasi kesadaran sebagai prasyarat perbaikan menuju sosialisme.(Simon, 2004:85)&lt;br /&gt;Sebagaimana halnya Marx, tetapi berbeda dengan kaum Marxis ortodoks, Gramsci menganggap dunia gagasan, kebudayaan, superstruktur, bukan hanya refleksi atau ekspresi dari struktur kelas ekonomi atau infrastruktur yang bersifat material, melainkan sebagai salah satu kekuatan material itu sendiri. Sebagai kekuatan material itu, dunia gagasan atau ideologi berfungsi mengorganisasi massa manusia, menciptakan tanah lapang yang di atasnya menusia bergerak. Bagi Gramsci, hubungan antara yang ideal dengan yang material tidak berlangsung searah, melainkan bersifat tergantung dan interaktif. Kekuatan material merupakan isi, sedangkan ideologi-ideologi merupakan bentuknya. Kekuatan material tidak akan dapat dipahami secara historis tanpa bentuk dan ideologi-ideologi akan menjadi khayalan individu belaka tanpa kekuatan material (Faruk,1999:61-62). &lt;br /&gt;Titik awal konsep Gramsci tentang hegemoni, bahwa suatu kelas dan anggotanya menjalankan kekuasaan terhadap kelas-kelas di bawahnya dengan dua cara, yaitu kekerasan dan persuasi. (Simon, 2004:9) Cara kekerasan (represif) yang dilakukan kelas atas terhadap kelas bawah disebut dengan tindakan dominasi, sedangkan cara persuasinya dilaksanakan dengan cara-cara halus, dengan maksud untuk menguasai guna melanggengkan dominasi. Perantara tindak dominasi ini dilakukan oleh para aparatur negara seperti polisi, tentara, dan hakim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. PEMBAHASAN&lt;br /&gt;1. Selayang Pandang Potret Kehidupan Masyarakat Marginal Belitong dalam ”Laskar Pelangi”&lt;br /&gt;Secara umum pemukiman penduduk Belitong terbagi atas tiga zona, pertama adalah Gedong: sebuah kawasan eksklusif tempat tinggal para borjuis: orang-orang staf pada PN Timah. Sebuah ”negeri asing”  yang jika berada di dalamnya seolah tidak sedang berada di Belitong. Kedua adalah kawasan urban (perkotaan), letaknya berbatasan langsung dengan ”tembok-tembok kuasa” PN timah, dihuni oleh orang-orang Melayu Belitong , Tionghoa, orang Hokian, orang Tongsan, dan orang-orang yang tak tahu asal-usulnya. Ketiga,  adalah wilayah rural sebuah kawasan pedesaan yang memanjang ke barat hingga puluhan kilometer, dan ke selatan menuju pedalaman.&lt;br /&gt;Perbedaan zona pemukiman tersebut bukanlah sekedar pembagian atas perbedaan kawasan teritorial, namun sekaligus merujuk pada sebuah perbedaan pola hidup, strata, dan status sosial. Sebuah realitas sosial yang unik, semacam tatanan kehidupan dalam nafas feodalisme. Bersekat-sekat, dan berkasta-kasta. Sebuah unikum tatanan sosial terjadi di Belitong. Feodalisme di Belitong adalah sesuatu yang unik, karena ia merupakan konsekuensi dari adanya budaya korporasi, bukan karena tradisi paternalistik dari silsilah, atau subkultur yang dianugerahkan oleh penguasa seperti biasa terjadi di berbagai tempat lain.&lt;br /&gt;Pada abad 19, ketika korporasi secara sistematis mengeskploitasi timah di Belitong, kehidupan unik dalam karakteristik sosiologi tertentu yang atribut-atributnya mencerminkan perbedaan mencolok layaknya sebuah kasta mulai terbentuk. Kasta majemuk itu tersusun rapi mulai dari para petinggi PN Timah yang disebut ”orang staf”, sebagai kasta tertinggi, sampai pada warga suku Sawang yang menjadi buruh-buruh yuka penjahit karung timah, sebagai kasta rendah.&lt;br /&gt; Implikasi sosiologisnya, strata sosial di Belitong bukanlah sebuah akibat dari tradisi paternalistik, namun akibat sebuah budaya korporasi yang melahirkan sebuah kekuatan ekonomi Belitong, dampak langsung dari kegiatan eksploitasi timah, atau lebih tepatnya disebut Hirata (2008:36) sebagai sebuah Hegemoni, karena timah adalah denyut nadi pulau kecil itu. Kekuatan ekonomi Belitong dipimpin oleh orang staf  PN Timah dan para cukong swasta yang mengerjakan setiap konsesi eksploitasi tanah. Mereka menempati strata tertinggi dalam lapisan yang sangat tipis namun memiliki kuasa yang tiada banding di tanah Belitong. &lt;br /&gt;Hal di atas menunjukkan bahwa simbul-simbul feodalisme dari budaya paternalistik tak memiliki makna apa-apa dibanding dengan budaya korporasi dan kapitalis di tanah Belitong. Gelar KA (Ki Agus) bagi laki-laki dan NA (Nyi Ayu) bagi perempuan,  yang merupakan gelar bangsawan pada kerajaan lama Belitong tidak memberikan pengaruh yang berarti terhadap kepemilikan status maupun strata sosial. Status ekonomi lah yang justru menjadi faktor terpenting dalam penentuan strata sosial seseorang. Gelar bangsawan tak lebih dari sekedar menunjukkan bahwa orang tersebut masih memiliki garis keturunan raja-raja Belitong. &lt;br /&gt;Kelas Menengah, diisi oleh segelintir masyarakat Belitong yang berprofesi sebagai Camat, para kepala dinas dan pejabat-pejabat publik yang korupsi kecil-kecilan, dan aparat penegak hukum yang mendapat uang dari menggertaki cukong-cukong swasta. Strata terendah dari masyarakat Belitong ditempati oleh pegawai kantor desa, karyawan rendahan PN Timah, pencari madu dan nira, para pemain organ tunggal, semua orang Sawang, nelayan, dan semua orang Tionghoa kebun, semua orang Melayu yang hidup di pesisir, para tenaga honorer Pemda, dan semua guru dan kepala sekolah – baik sekolah negeri maupun sekolah kampung – kecuali guru dan kepala sekolah PN. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Realita Kehidupan Kaum Marginal Belitong: Bentuk-bentuk Ketidakadilan atas Hegemoni Kekuasaan dan Kapital PN Timah&lt;br /&gt;Bentuk hegemoni PN Timah yang terjadi di Belitong dijalankan dengan dua cara, yaitu kekerasan dan persuasi. Cara kekerasan (represif/dominasi) lebih lebih sering terjadi dibanding cara persuasif dilakukan PN Timah dan segala perangkat atribut kekuasaanya (Polsus Timah) terhadap strata bawah (kaum marginal). &lt;br /&gt;Dominasi ekonomi akibat monopoli pengeksplotasian timah telah menjadikan PN Timah sebagai penguasa tunggal di wilayah Belitong. Kekuatan dan pengaruhnya mengakar hingga sampai tulang sungsum warga di luar komunitas Gedong. Gedong adalah representasi dan simbul kekuatan kapital PN Timah. Tembok panjang pembatas wilayah Gedong dan Urban adalah  bukti nyata dari sebuah hegemoni kekuasaan. Sebagai batas teritorial, tembok-tembok itu dijaga ketat oleh Polsus Timah, yang tak sembarang orang bisa melewatinya. seperti terlihat dari kutipan-kutipan berikut,&lt;br /&gt;Gedong adalah land mark Belitong. Ia lebih seperti sebuah kota satelit yang dijaga ketat oleh para Polsus (Polisi Khusus) Timah. Jika ada yang lancang masuk maka koboi-koboi tengik itu akan menyergap, menginterogasi, lalu interogasi akan ditutup dengan mengingatkan sang tangkapan pada tulisan “DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”, ... sebuah power statement tipikal kompeni (Hirata,2008:43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis bersebelahan dengan toko-toko kelontong milik warga Tionghoa ini berdiri tembok tinggi yang panjang dan di sana-sini tergantung papan peringatan ”DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK”. Di atas tembok ini tidak hanya ditancapi pecahan-pecahan kaca yang mengancam, tapi juga dililitkan empat jalur tembok berduri. Di Belitong tembok yang angkuh dan berkelok-kelok sepanjang kiloan meter ini adalah pengukuhan sebuah dominasi dan perbedaan status sosial (Hirata,2008:36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Timah Belitong yang melimpah ruah adalah sumber kemakmuran berkah dari Tuhan. Seharusnya, timah yang dialirkan-Nya ke sana untuk menjadi mencusuar bagi penduduk pulau itu sendiri. Namun ironisnya, penduduk asli Melayu Belitong yang hidup berserakan di atasnya, tetaplah miskin secara turun temurun. Belitong dalam batas kuasa eksklusif PN Timah,  ibarat kota praja Konstantinopel yang makmur. PN adalah penguasa tunggal pulau Belitong. Tak ada satu orang pun yang berhak atas Timah di Belitong kecuali PN. Jika ada pihak lain yang mencoba untuk mengusik kesombongannya, misalnya ikut menggali timah, maka dia adalah pencuri, dan hukumnya ‘wajib’ dimusnahkan. Seperti terlihat pada kutipan berikut:&lt;br /&gt;Para pendulang liar menggali timah nun jauh di lereng gunung secara ilegal dan menjualnya pada para penyelundup yang menyamar sebagai nelayan di perairan Bangka Belitong. Pencuri dan penyelundup timah – menurut anggapan PN Timah - adalah profesi yang sangat tua. Aktivitas kriminal ini – kriminal dari kacamata PN Timah tentu saja – telah ada sejak orang-orang Kek datang dari daratan Tiongkok untuk menggali timah secara resmi di Belitong dalam rangka mengerjakan konsesi kompeni, hari-hari itu adalah abad ke-17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PN Timah memperlakukan pelaku eksploitasi timah ilegal dan penyelundup dengan sangat keras, tanpa kemanusiaan. Pelakunya diperlakukan seolah pelaku tindak pidana subversif. Jika tertangkap tak jarang kepala mereka diledakkan di tempat dengan AKA 47 oleh manusia-manusia tengik bernama Polsus Timah.  (Hirata,2008:319-320)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal di atas menunjukkan, betapa dominasi dan monopoli PN Timah terhadap kekayaan alam di Belitong dilaksanakan dengan cara yang amat otoriter dan represif. Para penambang liar (menurut versi PN Timah) yang rata-rata merupakan penduduk asli Belitong  dianggap sebagai pencuri. Mereka diperlakukan layaknya seekor binatang, bahkan kadang nyawa mereka melayang oleh peluru panas Polsus timah: tumbal keserakahan sekaligus bukti nyata hegemoni kekerasan yang diterapkan PN Timah. &lt;br /&gt;Kaum marginal di tanah Belitong adalah penduduk yang menempati zona urban dan zona rural. Sebagian besar masyarakatnya memiliki strata sosial yang rendah dalam tatanan sosial kehidupan di Belitong. Sebagai konsekuensi logis dari kenyataan ini, kaum marginal di Belitong hidupnya selalu didera kemiskinan. Kondisi ini amat berbeda dengan orang-orang staff di PN Timah. &lt;br /&gt;Kekayaan alam  melimpah dari bumi yang telah melahirkan dan membesarkannya ternyata tak mampu mengangkat derajat ekonomi dan sosial sebagian besar penduduk asli Belitong. Simbul-simbul kehidupan yang menandai tingginya tingkat kesejahteraan, tak pernah menyentuh kehidupannya. Kekayaan alam yang begitu melimpah itu hanya dapat dinikmati oleh orang-orang staf PN Timah, yang notabene tidak berasal dari bumi Belitong.&lt;br /&gt;Masyarakat Melayu Belitong yang seharusnya menjadi pewaris tunggal atas kekayaan alam yang terkandung di dalam tanah tumpah darahnya, justru harus puas menjadi penonton dari sebuah drama kemewahan. Kompensasi atas tanah hutan yang diwariskan turun-temurun pada mereka pun tak kunjung diterima. Dengan dalih keterbatasan sumber daya manusia, masyarakat Belitong tak pernah mendapat kesempatan untuk terlibat dan sekedar mencicipi ’nikmatnya’ timah. Sebuah bentuk dominasi kekuasaan yang menjadikan masyarakat Melayu Belitong terpuruk pada strata sosial paling bawah di bumi sendiri, tersisih dari gegap gempita kemewahan timah.&lt;br /&gt;Sementara seperti sering dialami oleh warga pribumi dimana pun yang sumber daya alamnya di eksploitasi habis-habisan, sebagian besar komunitas Belitong juga termarginalkan dalam ketidakadilan kompensasi tanah ulayah, persamaan kesempatan, dan trickle down effects.(Hirata,2008:40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ironi telah terjadi di bumi yang kaya raya. Milyaran dollar telah disumbangkan pada negara tercinta ini, namun hanya rupiah rupiah kecil saja mereka terima, itu pun setelah melalui perjuangan keras memeras keringat, dan bahkan dengan resiko terbesar dalam kehidupan. Masyarakat Belitong tetap miskin, fasilitas kesehatan, pendidikan, transportasi, hiburan, dan logistik yang mereka terima jauh dari standar hidup minimal sebuah keluarga. Dominasi kapital PN Timah, telah mencengkeram masyarakat lokal Belitong hingga sampai pada titik paling rendah dalam kehidupan, seperti terlihat dari kutipan-kutipan berikut:&lt;br /&gt;Seperti Lintang, Syahdan yang miskin juga anak seorang nelayan. Tapi bukan maksudku mencela dia, karena kenyataannya secara ekonomi kami, sepuluh kawan sekelas ini, memang semuanya orang susah. Ayahku, contohnya, hanya pegawa rendahan PN Timah. Beliau bekerja selama 25 tahun mencedok tailing, yaitu material buangan dalam instalasi pencucian timah yang disebut wasserij. Selain bergaji rendah, beliau juga rentan pada resiko aktif dari monazite dan senotim. (Hirata,2008:69)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;… bahkan kami memiliki sumber tenaga nuklir; uranium yang kaya raya. Semua ini sangat kontradiktif dengan kemiskinan turun temurun penduduk asli Belitong yang hidup berserakan di atasnya. Kami seperti sekawanan tikus yang paceklik di lumbung padi (Hirata,2008:38-39)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar penduduk marginal Belitong bermatapencaharian sebagai karyawan rendahan PN Timah (kuli-kuli kasar), pencari madu dan nira, para pemain organ tunggal, semua orang Sawang, nelayan, dan berkebun. Hegemoni kapital yang telah diciptakan PN Timah telah menjadikan mereka seperti sekawanan tikus yang paceklik di lumbung padi. Kekayaan alam yang seharusnya berhak mereka miliki, justru jatuh di tangan Kapitalis peninggalan Belanda (PN Timah). Menjelma menjadi sebuah misteri. Masyarakat Belitong tak lagi bisa memaknai arti ”tuan rumah di Negeri sendiri”, karena mereka justru ’menjadi orang terasing di negeri sendiri”. Hidupnya tetap miskin. Sebuah kemisknan abadi.&lt;br /&gt;Tak disangsikan, jika di zoom-out, kampung kami adalah kampung terkaya di Indonesia. Inilah kampung tambang yang menghasilkan timah dengan harga segenggam lebih mahal puluhan kali lipat dibanding segantang padi. Triliunan rupiah aset tertanam di sana, miliaran rupiah uang berputar sangat cepat seperti putaran mesin parut, dan miliaran dollar devisa mengalir deras seperti kawanan tikus terpanggil pemain seruling ajaib Der Rattenfanger von Hameln. Namun jika di zoom-in, kekayaan itu terperangkap di satu tempat, ia tertimbun di dalam batas tembok-tembok tinggi Gedong. (Hirata,2008:49).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umumnya mereka tidak memeroleh kesempatan pendidikan yang memadahi, tidak seperti orang-orang Gedong yang mendapat fasilitas pendidikan yang amat mewah. Bahkan banyak diantara mereka tidak yakin bahwa pendidikan akan dapat membantu memecahkan permasalahan dalam merumuskan masa depan. Mereka juga tidak tahu jika memeroleh pendidikan yang layak adalah hak dari setiap warga negara.&lt;br /&gt;Aku  tahu  beliau  sedang  gugup  dan  aku  maklum  bahwa  tak mudah bagi seorang pria  berusia  empat puluh  tujuh tahun, seorang buruh  tambang  yang  beranak  banyak  dan  bergaji  kecil,  untuk menyerahkan  anak  laki-lakinya  ke  sekolah.    Lebih  mudah menyerahkannya  pada  tauke  pasar  pagi  untuk  jadi  tukang  parut atau  pada  juragan  pantai  untuk  menjadi  kuli  kopra  agar  dapat membantu  ekonomi  keluarga.  Menyekolahkan  anak  berarti mengikatkan  diri  pada  biaya  selama  belasan  tahun  dan  hal  itu bukan perkara gampang bagi keluarga kami (Hirata,2008:11) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap wajah orangtua  di  depanku  mengesankan  bahwa  mereka  tidak  sedang  duduk  di bangku panjang itu, karena pikiran mereka, seperti pikiran ayahku,  melayang-layang  ke  pasar  pagi  atau  ke  keramba  di  tepian laut  membayangkan  anak  lelakinya  lebih  baik  menjadi  pesuruh  di sana.  Para  orangtua  ini  sama  sekali  tak  yakin  bahwa  pendidikan anaknya  yang  hanya  mampu  mereka  biayai  paling  tinggi  sampai SMP  akan  dapat  mempercerah  masa  depan  keluarga.  Pagi  ini mereka  terpaksa  berada  di  sekolah  ini  untuk  menghindarkan  diri dari  celaan  aparat  desa  karena  tak  menyekolahkan  anak  atau sebagai  orang  yang  terjebak  tuntutan  zaman  baru,  tuntutan memerdekakan anak dari buta huruf (Hirata,2008:11-12)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Rata-rata anak mereka menempuh pendidikan di sekolah-sekolah negeri atau sekolah kampung yang miskin dengan fasilitas apa adanya. Tipikal sekolah mereka tercermin dari kutipan-kutipan berikut&lt;br /&gt;Tak susah melukiskan sekolah kami, karena sekolah kami adalah salah satu dari ratusan atau mungkin ribuan sekolah miskin di seantero negeri ini yang jika disenggol seikit saja oleh kambing senewen  ingin kawin, bisa rubuh berantakan (Hirata,2008:17)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada intinya tak ada yang baru dalam pembicaraan tentang sekolah yang atapnya bocor, berlantai tanah, atau yang kalau malam dipakai untuk menyimpan ternak, semua itu telah dialam oleh sekolah kami (Hirata,2008:20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi di atas sangat berlawanan dengan apa yang ada di lingkungan Gedong. Sekolah-sekolah di PN Timah mulai dari tingkat TK hingga SMP berdiri amat megah dengan bangunan-bangunan berasiktektur layaknya istana dengan gaya victoria. Sekolah-sekolah tersebut merupakan sebuah center of excellence atau tempat bagi semua yang terbaik. Keberadaannya didukung penuh oleh PN Timah, sebuah korporasi yang kelebihan duit. &lt;br /&gt;Sebuah paradoks, terjadi di bumi Belitong. Simbul-simbul kesejahteraan dan pemerolehan kesempatan pendidikan yang layak, adalah barang langka bagi komunitas kaum marginal. Jangankan untuk dapat menyekolahkan anaknya di sekolah PN, untuk dapat sekedar melongok ke dalam lingkungan Gedong pun merupakan kesempatan yang langka. Mereka dianggap tak memiliki hak untuk melintas batas tembok kuasa itu. Dominasi represif tu telah mengantarkan penduduk Belitong ke dalam sebuah kubangan lumpur yang dalam. Kemiskinan abadi adalah citra yang melekat dalam setiap kehidupan mereka dari generasi ke generasi.&lt;br /&gt;Tempat tinggal dan pola kehidupan kaum marginal adalah bentuk proteksi sederhana dari kondisi kekurangan; bertahan hidup dalam kemiskinan, tak ada nafas berlebihan maupun kemewahan dalam kehidupan meraka. Makan adalah sekedar untuk mengisi perut dari ancaman kelaparan, jauh dari pemenuhan selera kenikmatan dan kelezatan. Tempat tinggalnya pun lebih pada sebuah perlindungan sementara dari serangan terik matahari, deraan angin dan terpaan hujan. Tak layak sesungguhnya jika dikaitkan dengan standar hidup minimal. Realita kehidupan mereka rata-rata merosok jauh ke bawah dari ambang batas garis kemiskinan. &lt;br /&gt;Gubuk itu beratap daun sagu dan berdinding kulit pohon meranti. Apapun yang yang dilakukan orang di dalam gubuk itu dapat dilihat dari luar karena dinding kulit kayu yang telah berusia puluhan tahun mereka pecah seperti lumpur musim kemarau.  Ruangan di dalamnya sempit dan berbentuk memanjang dengan dua pintu depan dan belakang. Seluruh pintu dan jendela tidak memiliki kunci, jika malam mereka ditutup dengan cara diikatkan pada kusennya. Benda di dalam rumah itu ada enammacam: beberapa helai tikar lais dan bantal, sajadah dan Alqur’an, sebuah lemari lemari kaca kecil yang sudah tidak ada kacanya, tungku dan alat dapaur, tumpukan pakaian dan enam ekor kucing (Hirata,2008:98-99)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret kehidupan itu amatlah kontradiktif jika dibandingkan dengan orang-rang staf di PN Timah. Segala bentuk kemewahan bisa dinikmati dalam kehidupan orang-orang Gedong. Semua jenis fasilitas hidup pun terpenuhi dengan melimpah ruah.  Mata mereka telah dibutakan dari keadaan masyarakat di luar tembok Gedong akibat  mental kapitalis dan budaya hedonisme yang mengalir dalam darahnya. Mental bobrok yang diwariskan kompeni adalah ciri yang melekat pada setiap individu di lingkungan Gedong. Kutipan-kutipan berikut adalah gambaran kemewahan di Gedong:&lt;br /&gt;PN Timah melimpahi orang-orang staf dengan penghasilan dan fasilitas kesehatan, pendidikan, transportasi, hiburan, dan logistik yang sangat diskriminatif dibanding dengan kompensasi yang diberikan kepada mereka yang bukan staf. Mereka, kaum borjuis ini bersemayam di kawasan eksklusif yang disebut Gedong (Hirata,2008:42)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawasan warisan Belanda ini menjunjung tinggi kesan menjaga jarak, ... mobil-mobil mewah berjejal sampai keluar garasi. Rumah-rumah mewah besar bergaya Victoria memiliki jendela-jendela kaca lebar dan tinggi degan tirai yang berlapis-lapis laksana layar bioskop... Setiap rumah memiliki empat bangunan terpisah yang disambungkan oleh selasar-selasar megelilingi kolam kecil yang ditumbuhi Nymphaea caerreula atau the blue water lily.( Hirata,2008:43)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. ”Laskar Pelangi” sebagai Agen of Change: Bentuk Reformasi Moral dan Intelektual &lt;br /&gt;Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:642), laskar berarti tentara; kelompok serdadu, atau pasukan. Sedangkan pelangi, berarti lengkung spektrum warna di langit, tampak karena pembiasan sinar matahari oleh titik-tik hujan atau embun; bisa juga disebut bianglala (Alwi,2001:844). Dari terminologi di atas, meski terdapat titik singgung dengan makna ”Laskar Pelangi”, namun memiliki kandungan makna filosofi yang berbeda. ”Laskar Pelangi” dalam konteks Hirata, merupakan sebuah semangat zaman, semacam ’group of heroes” yang bermodalkan semangat  ’amar makruf nahi munkar’ menuju perubahan &lt;br /&gt;Sebutan ”Laskar Pelangi” muncul dari sosok ibu guru Muslimah (bu Mus) tatkala mereka diajak belajar di alam terbuka, di sebuah pantai tepatnya. Sebuah metode mengajar yang lebih didorong oleh sebuah ’keterpaksaan’  dari pada sebuah metode yang sengaja direncanakan, bagian dari metode Contectual Teaching and Learning (CTL), karena ruang kelas tak bisa digunakan untuk belajar. Becek oleh guyuran hujan melalui atap sekolah yang bocor. Sebuah ironi, di sebuah pulau yang kaya raya.&lt;br /&gt;Makna ”Laskar Pelangi”, sesuai harapan bu Mus adalah ’pejuang’ (Program acara Kick Andy di Metro TV, Kamis 4 Oktober 2007 pukul 22.05 WIB). Sebuah perjuangan hidup dari sekumpulan anak melayu Belitong yang menyandarkan harapan dan keyakinannya pada sebuah institusi pendidikan yang amat bersahaja, SD Muhammadiyah.  Tembok-tembok kuasa PN Timah telah mengkotak-kotakkan kesempatan dan harapan mereka, kemerdekaan ternyata belum mampu mengantarkannya pada sebuah ”tanah kering” yang subur yang akan mengangkat derajatnya sebagai manusia. Namun, sebesar apa pun dampak yang ditimbulkan oleh ’tembok-tembok’ itu, ternyata tak mampu mematahkan semangat juang mereka. Semangat ”amar makruf nahi munkar” terus saja bergelora dalam setiap dada anggota ”Laskar Pelangi”. Sebuah ajaran moral pedoman utama warga Muhammadiyah, telah tertanamkan dalam diri mereka dan melekat dalam kalbunya, sebagai landasan moral perjuangan hingga dewasa. &lt;br /&gt;… amar makruf nahi munkar artinya “menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar”. Itulah pedoman utama warga Muhammadiyah. Kata-kata itu melekat dalam kalbu kami sampai dewasa nanti (Hirata,2008:19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, dan Harun adalah sosok pribadi pembentuk ”Laskar Pelangi”. Masing-masing di antara mereka merupakan pribadi-pribadi unik yang memiliki karakter, kepandaian, dan minat yang berbeda-beda. Sebuah heterogenitas yang indah, membentuk sebuah ’kekuatan’  yang mampu membuka sejarah baru dalam rangkaian panjang kehidupan SD Muhammadiyah: memaknai pentingnya cita-cita dan pendidikan. &lt;br /&gt;Satu-satunya hal yang barangkali menyamakan adalah nasib mereka yang hidup dalam nafas kesahajaan, kemiskinan dan tertindas. Kesamaan nasib itulah yang menjadi perekat kuat jalinan persahabatan di antara mereka. Dengan terinspirasi kecerdasan Lintang yang luar biasa, dan semangat baja seluruh anggota ”Laskar Pelangi” untuk berubah, ajaran moral yang ditanamkan oleh gurunya diimplementasikan dalam segenap kehidupan mereka. Hal inilah yang menjadikan ”Laskar Pelangi” sebagai komunitas yang bukan hanya membuat sejarah baru dalam masyarakat marginal Belitong, namun sekaligus mampu mengeliminasi ’sekat-sekat’ kehidupan akibat dominasi PN Timah, menjelma menjadi sebuah anakronisme. Dengan gerakan spektakulernya, mereka melawan hegemoni dan dominasi itu. Reformasi moral dan intelektual itulah makna seluruh perjuangan mereka: sebuah hegemoni tandingan melawan dominasi represif PN Timah.&lt;br /&gt;”Laskar Pelangi”, meski sekecil apa pun bentuk perjuangan mereka, namun dapat dikatakan sebagai agent of change bagi kehidupan di Belitong. Keteguhan pendirian, ketekunan, keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, keiklasan, kesederhanaan, dan berjuang pantang menyerah adalah nilai-nilai moral perubahan yang sulit ditemui pada generasi sebelumnya.  Orang-orang yang termarginalkan oleh sistem kehidupan adalah orang-orang yang skeptis, pasrah, dan tak berdaya, seperti terlihat dari kutipan-kutipan beribut:&lt;br /&gt;Para orang tua ini sama sekali tak yakin bahwa pendidikan anaknya yang hanya mampu mampu mereka biayai paling tinggi sampai SMP akan dapat mempercerah masa depan keluarga.(Hirata,2008:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi beliau pendidikan adalah enigma, sebuah misteri. Dari empat generasi yang diingatnya, baru lintang yang sekolah. Generasi kelima sebelumnya adalah masa antedelivium. Suatu masa yang amat lampau ketika orang-orang Melayu masih berkelana sebagai nomad (Hirata,2008:13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyekolahkan anak berarti mengikat diri pada biaya selama belasan tahun dan hal itu bukan perkara gampang bagi keluarga kami.( Hirata,2008:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap wajah orang tua di depanku mengesankan bahwa mereka tidak sedang duduk di bangku panjang itu, arena pikiran mereka, seperti pikiran ayahku, melayang-layang ke pasar pagi atau ke keramba di tepian laut membayangkan anak lelakinya lebih baik menjadi pesuruh disana.( Hirata,2008:3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutipan-kutipan di atas menunjukkan pesimisme yang luar biasa terjadi dalam diri masyarakat marginal yang miskin pada generasi sebelumnya.  ”Laskar Pelangi” hadir dengan semangat baru, mendobrak pola pikir generasi tuanya. Semangat amar makruf nahi munkar dan filsafat hidup pak Harfan ”hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya”, adalah motivator terbesar dalam setiap dada mereka. Dengan bermodal pengalaman hidup, mereka mencoba bangkit, optimis, mandiri, dan penuh semangat untuk melakukan perubahan. Seperti terlihat dari kutipan berikut&lt;br /&gt;Sejak kecil aku tertarik untuk menjadi pengamat kehidupan dan sekarang aku menemukan kenyataan yang memesona dalam sosiologi lingkungan kami yang ironis. Di sisini ada sekolahku yang sederhana, para sahabtku yang melarat, orang Melayu yang terabaikan, juga ada orang staf dan sekolah PN yang glamor, serta PN Timah yang gemah ripah dengan Gedong, tembok feodalistisnya. Semua elemen itu adalah perpustakaan berjalan yang memberiku pengetahuan baru setap hari.&lt;br /&gt;Pengetahuan terbesar terutama kudapat dari sekolahku, karena perguruan Muhammadiyah bukanlah center of excellence, tapi ia merupakan pusat marginalitas sehingga ia adalah sebuah universitas kehidupan. Di sekolah ini aku memahami arti keikhlasan, perjuangan, dan integritas. Lebih dari itu, perintis perguruan ini mewariskan pelajaran yang amat berharga tentang ide-ide besar Islam yang mulia, keberanian untuk merealisasi ide itu meskipun tak putus dirundung kesulitan, dan konsep menjalani hidup dengan gagasan memberi manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain melalui pengorbanan tanpa pamrih (Hirata,2008:84-85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan dan kesederhanaan tak menjadikan dirinya larut dalam kesedihan. Tak ada tetes air mata mengiringi perjuangan hidupnya. Berbagai perbedaan pandangan, perselisihan-perselisihan kecil, dan ’berbeloknya haluan’ anggota komunitas karena terjebak dalam arus okultisme , adalah dinamika kelompok dalam usaha mencari format keindahan perjuangan mereka. Ada keindahan yang unik dalam interaksi masing-masing sifat anggota ”Laskar Pelangi”.&lt;br /&gt;Salah satu bukti nyata kereformisan ”Laskar Pelangi” adalah perspektif mereka dalam menatap masa depan, yang berbeda dari pandangan masyarakat umum, yang tentu telah berjalan selama berpuluh-puluh tahun. Cara pandang inilah yang ternyata menjadikan masyarakat marginal Belitong mampu beranjak dari keterpurukan akibat dominasi dan hegemoni kapital dari PN Timah: sebuah reformasi intelektual, bentuk hegemoni tandingan. Meski terkadang implikasi dari perbedaan pandangan itu membuatnya kelimpungan, tersandung onak dan duri, jatuh dan bangun dalam nafas perubahan.&lt;br /&gt;Ada keindahan yang unik dalam interaksi masing-masing sifat para sahabatku. Tersembunyi daya tarik pada cara mereka mengartikan sekstan untuk mengukur diri sendiri, menilai kemampuan orang tua, melihat arah masa depan, dan memersepsi pandangan lingkungan terhadap mereka. Kadangkala pemikiran mereka kontradiktif terhadap pendapat umum laksana gurun bertemu pantai atau ibarat hujan ketika matahari sedang terik. Tak jarang mereka seperti kelelawar yang tersasar masuk kamar, menabrak-nabrak kaca ingin keluar dan frustasi (Hirata,2008:84)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat yang skeptis, pasrah dengan segala keadaan yang diterima, hidup tanpa tujuan dan cita-cita adalah back ground mental sebagian besar kaum marginal di seluruh kawasan urban (perkotaan) maupun rural (pedesaan). Berawal dari keputusan mereka untuk memasukkan anaknya di sekolah Muhammadiyah, pola pikir itu sedikit demi sedikit telah berubah. Walau awalnya mereka menyekolahkan anaknya di SD Muhammadiyah hanya karena tiga alasan, yaitu karena biaya murah, keinginan mendapatkan pendidikan Islam yang baik guna menghindari pengaruh iblis, serta memang karena tidak diterima di sekolah lain, namun lama kelamaan, kesadaran tentang arti pentingnya pendidikan amatlah disadari. Optimisme itu kian nampak dalam diri mereka.&lt;br /&gt;Agaknya selama turun temurun keluarga laki-laki ‘cemara angin’ (nelayan) itu tak mampu terangkat dari endemik kemiskinan komunitas Melayu yang menjadi nelayan. Tahun ini menginginkan perubahan dan ia memutuskan anak laki-laki tertuanya, Lintang, tak akan menjadi seperti dirinya. Lintang akan duduk di samping pria kecil berambut ikal yaitu aku, dan ia akan sekolah di sini lalu pulang pergi setiap hari naik sepeda (Hirata,2008:11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bangku itu ia seumpama balita yang dinaikkan ke atas tank, girang tak alang kepalang, tak mau turun lagi. Ayahnya telah melepaskan belut yang licin itu, dan anaknya baru saja meloncati nasib, merebut pendidikan (10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan pada prinsip bahwa ilmu pengetahuan  dapat merubah nasib, adalah bukti lain dari bentuk reformasi intelektual. Keyakinan itu menjelma menjadi sebuah kekuatan yang seolah mampu mengatasi segala masalah. Sebuah pola pikir baru yang tak pernah ada pada masyarakat Belitong sebelumnya.  Inti reformasi yang diperjuangkan ”Laskar Pelangi” pada dasarnya adalah perubahan pola pikir yang dilandasi keteguhan memegang dan menerapkan ajaran moral pada setiap langkah mereka.  Keteguhan pendirian, ketekunan, keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, keiklasan berkorban untuk sesama adalah sebuah abstraksi dari nafas reformasi moral yang mereka jalankan secara konsisten. ”Hidup untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya” adalah muara akhir dari ajaran moral itu. Sebuah ajaran yang dilandasi pada kepekaan sosial dalam kemiskinan. &lt;br /&gt;Kesadaran tentang pentingnya pendidikan, perlunya merumuskan cita-cita dengan mempertimbangan bakat dan kemampuan, memandang permasalahan dari berbagai perspektif, adalah inti dari reformasi intelektualnya. Seperti terlihat pada kutipan-kutipan berikut,&lt;br /&gt;Hari ini aku belajar bahwa setiap orang, bagaimana pun terbatas keadannya, berhak memiliki cita-cita, dan keinginan yang kuat untuk mencapai cita-cita itu mampu menimbulkan prestasi-prestasi lain sebelum cita-cita sesungguhnya tercapai. Keinginan kuat itu juga memunculkan kemampuan-kemampuan besar yang tersembunyi dan keajaiban-keajaiban di luar perkiraan. (Hirata,2008:383)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita ini adalah kutub magnet yang menggerakkan jarum kompas di dalam kepalaku dan membimbing hidupku secara meyakinkan. Setelah selesai merumuskan masa depanku itu sejenak aku merasa menjadi manusia yang agak berguna (Hirata,2008:342)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan tak menyurutkan keberanian seluruh anggota ”Laskar Pelangi” untuk merumuskan masa depan mereka dengan sebuah cita-cita. Bagi mereka cita-cita (= baca mimpi) mampu memberikan energi dan visi dalam berjuang. Dia akan menjelma menjadi sebuah kekuatan baru yang tak terduga-duga pengaruhnya. Tenaga mimpi adalah luar biasa. Don’t ever underestimate the power of dreams! So, dream on!”, demikian dikatakan Andrea Hirata.&lt;br /&gt;Menurut Andre Hirata  Kesuksesan merupakan masalah paradigma sebenarnya. Sesuatu yang meaningful sifatnya itu tidak datang dengan mudah. Kemiskinan adalah sebuah momentum dan jalan seseorang menuju fight . Lebih lanjut Andrea Hirata mengatakan:&lt;br /&gt;”Saya pikir kalau saya kaya, I can do much better than this, karena saya punya resources gitu. Jadi kalau kita kaya ya harus fight bener, tidak ada hubungannya orang miskin terus fight. Banyak orang miskin, fight, jeblok tambah miskin, ada tuh yang kaya gitu. Jadi itu personalan attitude aja, saya pikir bagaimana orang bisa bersyukur aja. Tiga rumus yang selalu saya sampaikan, positive thinking, positive feeling, and positive action!”. Jadi kalau positive thinkingnya positif, terus positive feelingnya positif, maka akan menghasilkan positive action yang positif juga. Tapi kalau positive thinkingnya positif, terus positive feelingnya nol, maka akan menghasilkan positive action yang nol, nggak ada apa-apa. Ini adalah suatu sistem dalam personality. Ini adalah buku yang menertawakan tragedi, memparodikan ironi akan mengkritik tanpa memaki-maki. Inilah implementasi dari positive feeling saya rasa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dampak Reformasi Moral dan Intelektual ”Laskar Pelangi”: Sebuah Akhir Kata &lt;br /&gt;Perjalanan panjang yang dialami seluruh anggota “Laskar Pelangi” selalu diwarnai gejolak. Suka, duka, dan berbagai macam jenis sandungan hidup telah mereka alami. Ikal, Lintang, Sahara, Mahar, A Kiong, Syahdan, Kucai, Borek, Trapani, Harun, dan belakangan Flo adalah representasi dari seluruh kehidupan di Belitong. Sebagai sosok pencanang tonggak reformasi, dinamika kehidupan mereka diwarnai berbagai ujian. Keteguhan pendirian, ketekunan, keinginan kuat untuk mencapai cita-cita, keiklasan berkorban untuk sesama adalah pegangan moral, pengendali dari segenap langkah dan perjuangannya. Keberagaman kepribadian dan bakat, potensi, serta minat mereka, berpengaruh terhadap cita-cita yang mereka idamkan.&lt;br /&gt;Cita-cita ibarat kutub magnet yang menggerakkan jarum kompas di dalam kepala dan membimbing hidup mereka secara meyakinkan. Dengan berbekal semangat moral yang ditanamkan gurunya, cita-cita dan mimpi itu mereka perjuangkan dengan semangat yang membaja.&lt;br /&gt;Meski tidak semua yang mereka mimpikan dapat terealisasi, namun setidaknya cakrawala baru itu telah menjadikan mereka sebagai sosok baru dalam khasanah kehidupan di Belitong. Keberhasilan anggota ”Laskar Pelangi” dalam menumbangkan dominasi sekolah PN Timah adalah bukti awal dari reformasi moral dan intelektual yang mereka gulirkan. Dua predikat kejuaraan berhasil mereka raih, setelah mengalami perjuangan dan pengorbanan yang panjang: Juara 1 dalam lomba Karnaval dan juara 1 dalam Lomba Kecerdasan. Sebuah bukti bahwa keinginan kuat menggapai cita-cita, dan kepercayaan mereka terhadap kekuatan ilmu pengetahuan mampu menempatkan derajat mereka setingkat di atas sekolah PN Timah yang tersohor sebagai center of excellence. &lt;br /&gt;Cita-cita yang mereka mimpikan sejak kecil pun sedikit demi sedikit telah dapat mereka raih. Lintang misalnya, sosok jenius dari Tanjung Kelumpang, meski ia tidak menamatkan SMP, namun berkat kecerdasannya ia telah mampu mewujudkan cita-cita orang tuanya untuk tidak menjadi seorang nelayan. Ia menjadi seorang juragan kopra yang cukup berhasil (dalam Maryamah Kaorpov,2008). Ikal, sosok ’aku’ dalam ”Laskar Pelangi” yang juga sesungguhnya Andrea Hirata, dia berhasil mendapatkan beasiswa S2 di Paris, Perancis. Mahar, tokoh eksentrik itu, menjadi seorang penulis buku yang sukses. Kucai, sang ketua kelas mereka, telah menjadi ketua salah satu fraksi di DPRD Belitong dengan gelar MBA di belakang namanya. Syahdan, menjadi seorang Information Technology Manager, setelah menempuh pendidikan di Kyoto Jepang. Sebuah akibat dari kekuatan mimpi dan memaknai kemiskinan sebagai bentuk kekuatan baru untuk maju.&lt;br /&gt;Sebuah anakronisme terjadi di Belitong, seiring dengan jatuhnya PN Timah pada tahun 1987 akibat merosotnya harga Timah dunia, hegemoni pun berakhir, sekolah-sekolah PN ditutup. Sebuah awal kehancuran agen kapitalis. Orang-orang Staf yang terbiasa dengan segala kemewahan seolah mengalami post power sindrome. Tak jarang yang hidupnya berakhir dengan stroke, operasi jantung, mati mendadak, drop out massal, dan lilitan utang (Hirata,2008:485). &lt;br /&gt;Kondisi ini amatlah berbeda dengan kaum marginal di Belitong. Jatuhnya PN Timah justru membawa berkah bagi mereka. Mereka bangkit di atas puing-puing PN Timah. Mereka telah terbiasa hidup dalam kekurangan. Jatuhnya PN Timah justru mampu membangkitkan semangat kaum marginal untuk lebih maju. Bentuk kontra hegemoni dari PN Timah oleh kelompok ”Laskar Pelangi” ternyata melahirkan pula sebuah bentuk hegemoni baru kaum tertindas. Reformasi moral dan intelektual ternyata mampu mengantarkan seluruh anggota komunitas ke dalam ”derajat” kehidupan yang lebih tinggi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-1623334525807217350?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/1623334525807217350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=1623334525807217350' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/1623334525807217350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/1623334525807217350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2011/02/reformasi-moral-dan-intelektual-kaum.html' title=''/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-5600766832205049939</id><published>2010-01-05T18:52:00.001-08:00</published><updated>2010-01-05T18:52:27.144-08:00</updated><title type='text'>KATA: SEBUAH PANGLIMA</title><content type='html'>KATA: SEBUAH PANGLIMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua berambut putih:&lt;br /&gt;Setiap kata-katamu itulah sebenar-benar puncak gunung es.&lt;br /&gt;Pelaut:&lt;br /&gt;Kalau setiap kata-kataku adalah puncak gunung es, maka dimanakah ngarai-ngarai?. Dimanakah lembah-lembahnya? Dimanakah sungai-sungainya? Dimanakah tanaman-tanamannya? Dimanakah kampung-kampungnya? Dimanakah penghuninya? Dan, dimanakah magmanya?&lt;br /&gt;Orang tua berambut putih:&lt;br /&gt;Semua yang engkau tanyakan itu sebenar-benarnya adalah tersembunyi di bawah permukaan laut. (http://powermathematics.blogspot.com/elegimenggapaidasargunung Es, 17 MARET 2009)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Awal Kata&lt;br /&gt;Penggalan elegi di atas menyiratkan bahwa dalam implementasinya sebagai sarana berpikir ilmiah, ’kata’ (=baca bahasa) memiliki tafsiran makna yang amat luas. Bahkan menurut kaum Atomis Logis, dengan bahasa diharapkan dapat menjelaskan realitas dunia. Dunia pada hakikatnya adalah tersusun atas fakta-fakta yang menunjukkan keberadaan atau peristiwa, adapun fakta-fakta terungkap melalui bahasa. (Kaelan, 2009:263). Lebih lanjut filsuf Hermeneutika mengatakan bahwa melalui bahasa kita dapat mentransformasikan dunia, melalui bahasa pula dunia mentranformasikan kita. Penafsiran kehadiran kata dalam ilmu bahasa dan fungsinya sebagai sarana berfikir ilmiah lebih dari sekedar semantik dan semiotika, namun perlu hermeneutika sebagai pokok acuannya.&lt;br /&gt;Jalan seseorang sampai pada tingkat pemahaman  tentang sesuatu menurut paham hermeneutika, terjadi dengan melakukan analogi (Kaelan, 2009:266). Analogi yang dimaksud adalah dengan jalan membandingkan sesutu dengan sesuatu yang lain yang sudah diketahuinya. Sesuatu yang telah diketahuinya membentuk kesatuan-kesatuan sistematis atau juga membentuk lingkaran yang terdiri atas bagian-bagian. Lingkaran yang dimaksudkan sebagai suatu keseluruhan, menentukan masing-masing bagian, dan masing-masing bagian tersebut secara bersama-sama membentuk suatu lingkaran. &lt;br /&gt;Kata (=baca bahasa) yang merupakan unsur yang fundamental dalam hermeneutika merupakan suatu sistem, artinya suatu kata ditentukan artinya lewat makna fungsinalnya dalam kalimat secara keseluruhan, dan makna kalimat ditentukan maknanya lewat arti satu persatu dari kata yang membentuk kalimat tersebut. &lt;br /&gt;Berdasarkan uraian diatas, dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan suatu simbol yang tidak sekedar urutan bunyi-bunyi secara empiris, melainkan memiliki makna yang sifatnya nonempiris. Dengan demikian kata (bahasa) merupakan alat komunikasi manusia, penuangan emosi manusia serta merupakan sarana pengejawantahan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya. &lt;br /&gt;Berkenaan dengan hal di atas, adanya wacana pensejajaran kata dengan panglima, bukanlah reduksi dari sebuah kata,  namun merupakan salah satu bentuk analogi metafisik dibalik kata. Fenomena ini amatlah menarik untuk diperbincangkan guna mencari kebenaran dari tesis tersebut. Benarkah kata merupakan panglima? Berikut adalah salah satu upaya untuk mencari jawabannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Awal Penggolongan Kata&lt;br /&gt;Pada awal pemunculan filsafat, kajian sintagmatik kata dalam kerangka ilmiah pada dasarnya didahului oleh adanya sebuah kepentingan telaaf filsafati.  Asal muasalnya seorang filsuf Yunani Kuno, Plato menelorkan pembagian jenis kata bahasa Yunani Kuno dalam kerangka teaah filsafati. Murid Socrates tersebut tidak menyadari bahwa ia akan menjadi orang pertama yang memikirkan bahasa dan ilmu bahasa.&lt;br /&gt;Dalam pada itu, Plato membagi jenis kata bahasa Yunani Kuno menjadi dua golongan yakni onoma dan rhemma. Dan oleh Aristoteles ditambahkan satu jenis kata yang dikenal dengan syndesmos. Syndesmos adalah golongan kata yang tidak mengalami perubahan bentuk secara deklinatif maupun secara konjugatif, jadi tidak pernah mengalami perubahan bentuk oleh perbedaan apapun (Soeparno,2006:10). Sedangkan onoma adalah jenis kata yang biasanya menjadi pangkal pernyataan atau pembicaraan. Rhemma adalah jenis kata yang biasanya dipakai untuk  mengungkapkan pernyataan atau pembicaraan (Soeparno,2006:6). &lt;br /&gt;Dari uraian tentang penggolongan kata di atas mencerminkan bahwa kata memiliki peranan yang amat penting dalam telaah filsafat. Kejelasan makna sebuah kata amatlah penting dalam menafsirkan sebuah konsep filsafat. Bukan hanya itu saja, bahkan di India jauh sebelum era Saussure, seorang Panini dan Patanjali telah berusaha menyusun tata bahasa sansekerta demi diperolehnya sebuah pemahaman yang benar terhadap kitab Weda. Dari sepenggal uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa telaah kata pada awal mula berkembangnya pengetahuan telah mendapatkan posisi yang amat penting. Satu tujuan yang ingin dicapai, yaitu kebulatan makna.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;C. Kepanglimaan sebuah Kata&lt;br /&gt;Kata adalah panglima, sebuah kontradiksi yang sepintas lalu tak memiliki hubungan apa-apa. Sebab jika dirunut makna leksikalnya, antara keduanya memiliki pengertian yang tak ada titik singgungnya. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata memiliki arti sebagai unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. Sedangkan panglima memiliki pengertian sebagai hulubalang, pemimpin pasukan atau pemimpin kesatuan tentara. &lt;br /&gt;Dari batasan di atas nampak jelas sekali bahwa pensejajaran makna leksikal  atas predikat kata sebagai panglima jauh mendekati titik singgung. Tak ada satupun ciri fisik yang bisa menjadikan kata mendapat predikat sebagai panglima. Dalam benak setiap orang akan tercipta sebuah imagi tegap, kokoh, tangguh, dan sakti jika disebutkan kata ’panglima’.  Seperti halnya tatkala komunitas suku Dayak mendengar kata ’Pangkalima burung’ (=sosok imaginer yang dianggap sebagai panglima perang suku Dayak), dalam imagi masyarakat Dayak tergambar sosok yang sakti mandraguna yang bisa menjadi ’dewa penolong’ saat suku Dayak mendapat ancaman (Nila Riwut,2003:56)&lt;br /&gt;Pantaskah ’kata’ menggantikan imagery yang sejajar dengan panglima sehingga pantas mendapat jabatan sebagai panglima? Mungkin jawaban sementaranya adalah ’belum tentu’, bisa iya dan bisa juga tidak, bergantung dari sisi mana menafsirkannya.&lt;br /&gt;Dalam kancah pragmatisme dan dunia empiris, kata memang memiliki kesaktian yang luar biasa yang kadang melebihi daya kekuatan manusia sendiri, kata terkadang menjelma menjadi sebuah kekuatan destruktif yang sulit untuk dibendung, kata juga sekaligus bisa membangkitkan semangat manusia melebihi ahli motifator manapun. Kata juga dapat mengiris tanpa percikan darah,  dapat memukul tanpa meninggalkan lebam,  membelai tanpa usapan, dan segalanya. Dalam konteks ini penafsiran kata ibarat sebuah lingkaran yang jalin menjalin menjadi sebuah makna yang amat luas dan kompleks, seperti halnya fenomena gunung es. Kata dapat berperan apa saja. Kata tidak sesempit makna leksikal yang terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;Dalam telaah filsafati, kata (bahasa) merupakan sarana berfikir ilmiah. Berfikir sebagai proses bekerjanya akal dalam menelaah sesuatu merupakan ciri hakiki dari manusia, dan hasil bekerjanya akal ini tidak dapat diketahui oleh orang lain jika tidak dinyatakan dalam bentuk bahasa. Bahasa merupakan pernyataan pikiran atau perasaan sebagai alat komunikasi manusia (Tim Dosen Filsafat Ilmu, 2007:98)&lt;br /&gt;Bahasa pada dasarnya  terdiri dari kata-kata. Kata atau istilah merupakan simbol dari arti sesuatu, atau juga hubungan-hubungan. Dalam taraf ini kata memiliki pengertian yang lebih dari sekedar makna leksikal yang terkandung di dalamnya. Keluasan makna sebuah kata terkadang memerlukan penafsiran yang amat panjang. Bahasa juga merupakan penuangan emosi serta pengejawantahan pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam mencari hakikat kebenaran dalam hidupnya. Bahasa dalam kaitannya dengan kegiatan berfilsafat memiliki sifat vagueness karena makna yang terkandung dalam suatu ungkapan bahasa pada dasarnya mewakili realitas yang diacunya (Kaelan,2009:7)  Pada taraf ini lah ’kepanglimaan’ sebuah kata barangkali dapat ditarik benang merahnya.&lt;br /&gt;Pada dataran ’panglima’ kata lebih berperan sebagai subyek dibanding dengan objek. Kehadirannya mampu ditaruh didepan apa saja yang memiliki jangkauan makna yang melebihi kapasitas makna leksikalnya. Kesaktian, ketangguhan, sekaligus daya destruksi kata kadang melebihi apa yang dimiliki panglima dalam kehidupan nyata. Bahkan dalam tafsir negatif, kata seringkali dianggap lebih tajam dari belati, sayatannya tak meninggalkan percikan darah, namun meningglakan luka yang amat mendalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Akhir Kata &lt;br /&gt;Kata, potensial menjadi subjek yang dapat menentukan gerak langkah kehidupan manusia. Kebijakan manusia sangat diharapkan agar potensi kata tidak menjelma menjadi sebuah kekuatan yang memiliki daya destruksi yang tinggi. Menjaga sang ’panglima’ agar tetap dan terus berkembang menjadi cermin budaya sekaligus sarana berfikir ilmiah adalah tugas kita semua, sebab ’bahasa menunjukkan bangsa’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-5600766832205049939?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/5600766832205049939/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=5600766832205049939' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/5600766832205049939'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/5600766832205049939'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2010/01/kata-sebuah-panglima.html' title='KATA: SEBUAH PANGLIMA'/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-6146801965071122213</id><published>2010-01-05T18:51:00.001-08:00</published><updated>2010-01-05T18:51:33.699-08:00</updated><title type='text'>CATATAN SEKILAS TENTANG PENDIDIKAN, GURU DAN BERBAGAI BEBAN PROFESINYA</title><content type='html'>CATATAN SEKILAS TENTANG PENDIDIKAN, GURU DAN BERBAGAI BEBAN PROFESINYA&lt;br /&gt;Oleh: Rohmad Widiyanto, S.Pd*)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kesulitan atau bahkan kebingungan dalam setiap pembicaraan mengenai pendidikan mungkin bersumber pada kenyataan bahwa lembaga ini merefleksikan masalah-masalah atau tantangan mendalam yang dihadapi bangsa Indonesia sebagai Negara berkembang. Pembicaraan mengenai filsafat dan kebijaksanaan pendidikan  selalu dengan sendirinya  menuntut kejelasan wawasan masa lalu, kebutuhan mendesak masa kini dan harapan subjektif masa depan. Jika wawasan terhadap tiga dimensi kesejarahan dari suatu masyarakat dan suatu negara itu kabur, maka sulitlah diharapkan suatu filsafat dan kebijaksanaan yang jernih dan mantap.&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan lembaga yang sarat dengan beban kesejarahan. Melalui lembaga pendidikan, suatu masyarakat akan melestarikan nilai-nilai. Suatu masalah yang substansial sifatnya atau muncul jika suatu masyarakat tidak mampu secara tegas mendefinisikan masa lalunya serta pertentangan-pertentangan yang terkandung dalam tradisinya.&lt;br /&gt;Dalam jajaran persoalan ini , berhubung Indonesia sedang mengalami masa krisis multidimensional, langkah yang tepat guna mengatasi masalah tersebut seharusnya yang dikedepankan adalah masalah pembinaan wawasan kebangsaan, kemasyarakatan, dan kehidupan kenegaraan yang bersatu. Bukan penyemaian benih primordialisme sempit yang membuat menjadi terkotak-kotak, yang tentu hal ini akan berakibat buruk pada dunia pendidikan.&lt;br /&gt;Tidak kalah beratnya dengan hal tersebut, adalah tuntutan mendesak masa kini yang tumbuh secara objektif, baik dari dalam maupun dari luar. Tekanan penduduk dan penyiapan sumber daya manusia dalam berbagai tingkatannya, serta perencanaan dan koordinasi dengan bidang-bidang lain dalam kehidupan ekonomi masyarakat dengan Negara, tentulah mebutuhkan pemetaan persoalan secara jelas.&lt;br /&gt; Sementara itu, kehidupan di luar pendidikan itu sendiri berubah-ubah dan terkadang menolak untuk diramalkan secara tepat. Kenyataan bahwa Indonesia kini tengah berjuang keras agar terbebas dari segala bentuk krisis, tentulah tercipta pada dirinya suatu tekanan-tekanan yang cukup berat. Kesulitan ekonomi yang menimpa Indonesia dan banyak kawasan dunia, dihadapi dengan sikap keras proteksionis, peningkatan efisiensi dan penataan kembali perekonomian, juga merupakan pertanda yang bias tidak bisa haruslah ditangkap maknanya oleh pemikir pendidikan dan pengelola yang bertanggung jawab atas kelangsungan pendidikan. Dan bukan hanya itu, perubahan jangka pendek juga menimbulkan implikasi terhadap anggaran, dan oleh satu dan lain hal pertimbangan, pendidikan yang kadang-kadang terpaksa tidak memperoleh prioritas yang tinggi, termasuk di dalamnya adalah system penggajian guru yang disamaratakan dengan yang lain. Bukankah ini suatu pertanda buruk terhadap dunia pendidikan kita, apabila dilihat dilihat dari ketiga beban kesejarahan di atas.&lt;br /&gt;Masa depan suatu bangsa, sedikit banyak terbebankan pada dunia pendidikan. Ketidakjelasan secara operasional mengenai masa depan suatu bangsa juga akan mempersulit penegasan filsafat pendidikan dan pemikahan perangkat kebijakan, sebab pada dasarnya pendidikan adalah tempat penempaan manusia untuk masa depan, dan masa depan itu  secara subjektif menuntut disiplin dimasa kini. Jika ada pertanyaan siapa penempa manusia itu? Mungkin tidak ada opsi lain kecuali guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIMENSI DAN SIKAP ETIS YANG TERKANDUNG DALAM PROFESI GURU&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Secara tradisional sebutan profesi hanya diperuntukkan bagi jabatan dan bidang kerja tenaga medis, hokum dan kependetaan. Guru pada perkembangannya dikatakan sebagai profesi karena jabatan dan bidang kerjanya memang memenuhi syarat untuk disebut sebagai suatu profesi. Jabatan dan bidang kerja guru bukan sekedar suatu cara untuk memperoleh nafkah atau mencari uang, tetapi suatu jabatan pelayanan bagi pemenuhan salah satu kebutuhan akan pendidikan. Selain itu jabatan dan bidang kerja guru memenuhi persyaratan profesi dalam pengertiannya sebagai jabatan dan bidang kerja yang menuntut pengetahuan dan kondisi khusus.&lt;br /&gt; Untuk dapat menjamin integritas profesionalnya dalam berbagai segi hubungan tersebut, seorang  guru sebagai tenaga edukatif secara professional terikat oleh moral (baik terhadap anak didik, institusi, maupun teman sejawat), serta berbagai sikap etis profesi yang antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Sikap Tanggung Jawab sebagai Pendidik&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanggung jawab ini meliputi tanggung jawab professional maupun sosial. Guru sebagai tenaga edukatif  dibedakan dari tenaga administrates, karena peran pokoknya sebagai pendidik. Pendidik berarti pengajar dan Pembina. Kendati pendidikan tidak identik dengan pengajaran, namun pengajaran merupakan bagian hakiki dari pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah. Karena pengajaran penting dari tenaga mendidik, maka sikap dan tanggung jawab pendidik menuntu dikuasai dan dimilikinya hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas kepengajaran. Untuk dapat dapat menjadi pendidik yang baik, seorang guru perlu dapat mengajar dengan baik. Untuk ini, pertama-tama guru dituntut menguasai bahan yang bukan sekedar mampu menghafal semalam sebelum disajikan di depan kelas. Menguasai bahan berarti memprogram, mengetahui, memahami, mampu menerapkan, mampu membuat analisa dan sintesis, serta mampu mengevaluasinya. Untuk itu sebagai konsekuensi dari semua itu, kepada guru dituntut harus membuat prosem, prota, Silabus, RPP, analisis materi pelajaran, program evaluasi, remedial, pengayaan, serta analisis hasil evaluasinya.&lt;br /&gt;Selain  penguasaan materi pelajaran dan pemilikan ketrampilan mengajar, termasuk dalam sikap tanggung jawab pendidik adalah adanya usaha untuk memiliki integritas dan kemakmuran sebagai seorang pendidik. Tidak semua orang pandai mempunyai kualitas sebagai pendidik. Karena dalam mendidik tidak hanya tergantung pengertian penataran pengetahuan tetapi juga melatih ketrampilan dan menanamkan nilai-nilai. Seorang pendidik diharapkan mampu memantau terbentuknya sikap dan pandangan hidup yang benar dalam diri peserta didik. Pendidikan nilai tidak dapat dilakukan melulu hanya secara kognitif dengan mengacu pada pemahaman nalar saja, tetapi juga perlu memperlihatkan dimensi afektif (menggerakkan hati) dan konatif (melatih kehendak) dalam diri peserta didik. Untuk ini keteladanan sendiri mempunyai peran penting. Dimensi keteladanan ini memang lebih mendesak pentingnya bagi pendidikan nilai di tingkat dasar dan menengah, karena pada masa ini merupakan masa pembentukan kepribadian anak menuju kedewasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sikap Adil terhadap Siswa dan Lembaga Pendidikan Tempat Bekerja&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sikap adil merupakan sikap etis yang paling dasar, karena dalam sikap ini terkait tuntutan minimal perwujudan sikap tanggung jawab. Sikap adil berarti sikap menghormati dan memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya. Seorang guru bersikap tidak adil pada siswanya misalnya dalam pemberian tugas dan penilaiannya ia dipengaruhi oleh keterlibatan emosional (baik yang negative dalam bentuk sentiment pribadi maupun yang positif dalam bentuk penganakemasan) terhadap pribadi itu, yang oleh T Person dinyatakan perlu ada pada pemegang setiap profesi.&lt;br /&gt; Bersikap adil terhadap lembaga pendidikan tempat guru bekerja berarti melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai dengan aturan pada masing-masing instansi. &lt;br /&gt; Memang sikap adil dari guru terhadap ekolah tempat ia  bekerja biasanya dapat terjadi kalau diimbangi dengan oleh sikap adil pemerintah terhap gurunya. Kalau kesejahteraan guru sebagaimana menurut ukuran kewajaran yang dapat dituntut tidak diperhatikan, maka cukup sulit untuk mengharapkan agar para guru bersikap adil terhadap sekolah tempat ia bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.  Sikap Cinta Terhadap Profesi dan Terhadap Ilmu yang Diajarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berbeda dengan kedua sikap etis sebelumnya yang mengikat guru sebagai suatu kewajiban. Sikap etis yang ketiga lebih merupakan suatu kemajuan yang kalau dimiliki dapat menunjang pelaksaan tugasnya. Sikap cinta tidak pernah dapat dipaksakan, tetapi pantas untuk dikejar dan dicita-citakan serta diusahakan terwujudnya.&lt;br /&gt; Seorang guru diharapkan mempunyai sikap cinta terhadap profesinya. Karena sikap cinta terhadap profesi akan mendorong munculnya semangat dan dedikasi dalam melaksanakan tugasnya yang diemban. Karena guru merupakan salah satu profesi yang tidak memiliki gengsi social tidak terlalu tinggi, tanpa adanya idealisme tidak banyak yang sungguh berminat menjadi guru. Karena tidak disertai kecintaan terhadapnya, kadangkala menjadikan profesi guru hanya sebagai sarana mencari nafkah dan bukan suatu cara hidup. (a way of making maney, and not way of life). Mencintai profesi sebagai guru berarti menemukan kebahagiaan hidup dalam mengajar, mendidik siswa dalam menyebar luaskan pengetahuan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-6146801965071122213?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/6146801965071122213/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=6146801965071122213' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/6146801965071122213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/6146801965071122213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2010/01/catatan-sekilas-tentang-pendidikan-guru.html' title='CATATAN SEKILAS TENTANG PENDIDIKAN, GURU DAN BERBAGAI BEBAN PROFESINYA'/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-6633035099710979882</id><published>2010-01-05T18:48:00.000-08:00</published><updated>2010-01-05T18:49:10.913-08:00</updated><title type='text'>KRITISISME: SUMBANGAN PEMIKIRAN IMMANUEL KANT DALAM DUNIA ILMU PENGETAHUAN</title><content type='html'>KRITISISME: SUMBANGAN PEMIKIRAN IMMANUEL KANT DALAM DUNIA ILMU PENGETAHUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Pendahuluan&lt;br /&gt;Ilmu pengetahuan memiliki jalan yang amat panjang dalam sejarah perkembangannya.  Dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan mengalami perkembangan yang amat kompleks. Seperti diungkapkan van Peursen (dalam Tim Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, 2007:1) bahwa  dahulu orang lebih mudah memberi batasan bagaimana ilmu pengetahuan itu daripada sekarang. Dahulu  Ilmu pegetahuan identik dengan filsafat, sehingga pembatasannya bergantung pada sistem filsafat yang dianut.&lt;br /&gt;Perkembangan filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana ’pohon ilmu pengetahuan’ telah tumbuh mekar dengan subur. Selanjutnya masing-masing cabang melepaskan diri dari batas filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodoliginya sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;Pada saat kelahirannya, ilmu pengetahuan yang identik dengan filsafat yang mempunyai corak mitologik dengan segala sesuatu yang ada dan yang mungkin ada diterangkan. Corak ini telah mendorong upaya manusia untuk berani ’menerobos’ lebih jauh dunia pergejalaan, untuk mengetahui adanya sesuatu yang eka, tetap, abadi, di balik yang bhineka, berobah, dan sementara.&lt;br /&gt;Paham mitologik tidaklah berjalan langgeng, sebuah gebrakan baru yang dikenal dengan ’gerakan demitologisasi’ dipelopori oleh filsuf pra Socrates, filsafat telah mencapai perkembangannya. Berkat kemampuan rasionalitasnya para filsuf telah mampu membuka jalan baru bagi ilmu pengetahuan. ’Trio filsuf’ yang terdiri dari Socrates, Plato, dan Aristoteles telah mampu mengubah corak mitologis menjadi ilmu pengetahuan yang meliputi berbagai bidang. Hal  itu terbukti dari pernyataan Aristoteles yang mengemukakan bahwa filsafat sebagai semua kegiatan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akaliah; dan membaginya menjadi ilmu pengetahuan poietis (terapan), ilmu pengetahuan praktis, dan lmu pengetahuan teoritik sebagai ilmu yang terpenting (Tim Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, 2007:3).&lt;br /&gt;Pasca Aristoteles, yang dipelopori oleh Augustnus dan Thomas Aquinas menjadikan filsafat bercorak teologik. Biara tidak saja menjadi pusat kegiatan agama, akan tetapi juga menjadi pusat kegiatan intelektual.&lt;br /&gt;Jalan panjang perjalanan ilmu pengetahuan melalui proses yang amat rumit, beberapa tokoh mulai dari Arab hingga Eropa saling berjuang untuk memperjuangkan pengetahuan dari sudut pandang yang berbeda-beda. Para filsuf Arab misalnya, mengembangkan ajaran Aristoteles hingga ke Cordova (Spanyol) untuk kemudian diwarisi oleh dunia Barat melalui kaum Patristik dan Skolastik.&lt;br /&gt;Gerakan Renaissance (abad 15)  dan Aufklaerung (abad 18) telah memberikan implikasi yang amat luas dan mendalam bagi ilmu pengetahuan. Kepemilikian otonomi beserta segala kebebasannya masih tetap saja berjalan, namun di pihak lain manusia mengarahkan hidupnya ke dunia sekuler, sebuah kehidupan pembebasan dari kedudukan yang semula koloni agama dan gereja.&lt;br /&gt;Kehadiran Francis Bacon (1561-1626) dan Auguste Comte (1798-1857) membawa warna baru bagi perkembangan pengetahuan. Dengan membawa semangat ‘Knowledge is power’  dan didukung roh Renaissance dan Aufklaerung, Bacon mampu melahirkan keyakinan tentang kemampuan rasionalitas untuk menguasai dan meramalkan masa depan dengan optimis serta berionvasi kreatif untuk membuka rahasia-rahasia alam. Demikian juga Comte, dengan grand- teorynya mengajarkan bahwa, cara berpikir manusia akan mencapai puncaknya pada tahap positif, setelah melampaui tahap Theologik dan metafisik.&lt;br /&gt;Perjalanan Ilmu Pengetahuan tak pernah kunjung usai. Kemunculan ide Immanuel Kant yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Semenjak itu refleksi filsafat mengenai pengetahuan manusia menjadi menarik perhatian. Pada abad ke-18 inilah Filsafat Pengetahuan lahir. Bagaimanakah pandangan Kant, yang terkenal dengan filsafat kritisnya itu? Berikut adalah sepintas uraiannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;B. Kant dan Hubungannya dengan Aliran Rasionalisme maupun Empirisme&lt;br /&gt;Pembicaraan tentang Kant tak dapat begitu saja dilepaskan dari aliran rasionalisme dan Emperisme. Kedua aliran tersebut adalah pemicu munculnya Kritisisme yang dilontarkan oleh Kant. Kant adalah ”jembatan penghubung” antara keduanya. Secara garis besar periode sejarah dapat dikelompokkan menjadi empat periode.&lt;br /&gt;1. Zaman Yunani (600 sM - 400 M)&lt;br /&gt;2.   Zaman Patristik dan Skolastik (300 M - 1500 M)&lt;br /&gt;3.   Zaman Modern (1500 M - 1800 M)&lt;br /&gt;4.   Zaman sekarang (setelah 1800 M).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para filsuf pada masing-masing periode tersebut memiliki tokoh dan karakter yang berbeda. Misalnya, filsafat zaman modern berfokus pada manusia, bukan kosmos (seperti pada zaman kuno), atau Tuhan (pada abad pertengahan).  Dalam zaman modern ada periode yang disebut Renaissance ("kelahiran kembali"). Kebudayaan klasik warisan Yunani-Romawi dicermati dan dihidupkan kembali; seni dan filsafat mencari inspirasi dari sana.  Filsuf penting pada periode ini adalah N Macchiavelli (1469-1527), Thoman Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535) dan Francis Bacon (1561-1626).&lt;br /&gt;Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri.  Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat.  Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio: kebenaran pasti berasal dari rasio (akal).  Aliran empirisme, sebaliknya, meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi.  Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.&lt;br /&gt;Aliran rasionalisme dipelopori oleh Rene Descartes (1596-1650 M).  Dalam buku Discourse de la Methode tahun 1637 ia menegaskan perlunya ada metode yang jitu sebagai dasar kokoh bagi semua pengetahuan, yaitu dengan menyangsikan segalanya, secara metodis.  Kalau suatu kebenaran tahan terhadap ujian kesangsian yang radikal ini, maka kebenaran itu 100% pasti dan menjadi landasan bagi seluruh pengetahuan.&lt;br /&gt;Tetapi dalam rangka kesangsian yang metodis ini ternyata hanya ada satu hal yang tidak dapat diragukan, yaitu "saya ragu-ragu".  Ini bukan khayalan, tetapi kenyataan, bahwa "aku ragu-ragu".  Jika aku menyangsikan sesuatu, aku menyadari bahwa aku menyangsikan adanya.  Dengan lain kata kesangsian itu langsung menyatakan adanya aku. Itulah "cogito ergo sum", aku berpikir (= menyadari) maka aku ada.  Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal lagi.  -- Mengapa kebenaran itu pasti?  Sebab aku mengerti itu dengan "jelas, dan terpilah-pilah" -- "clearly and distinctly", "clara et distincta".  Artinya, yang jelas dan terpilah-pilah itulah yang harus diterima sebagai benar.  Dan itu menjadi norma Descartes dalam menentukan kebenaran. &lt;br /&gt;Descartes menerima 3 realitas atau substansi bawaan, yang sudah ada sejak kita lahir, yaitu (1) realitas pikiran (res cogitan), (2) realitas perluasan (res extensa, "extention") atau materi, dan (3) Tuhan (sebagai Wujud yang seluruhnya sempurna, penyebab sempurna dari kedua realitas itu).  Pikiran sesungguhnya adalah kesadaran, tidak mengambil ruang dan tak dapat dibagi-bagi menjadi bagian yang lebih kecil.  Materi adalah keluasan, mengambil tempat dan dapat dibagi-bagi, dan tak memiliki kesadaran. Kedua substansi berasal dari Tuhan, sebab hanya Tuhan sajalah yang ada tanpa tergantung pada apapun juga. Descartes adalah seorang dualis, menerapkan pembagian tegas antara realitas pikiran dan realitas yang meluas. Manusia memiliki keduanya, sedang binatang hanya memiliki realitas keluasan: manusia memiliki badan sebagaimana binatang, dan memiliki pikiran sebagaimana malaikat. Binatang adalah mesin otomat, bekerja mekanistik, sedang manusia adalah mesin otomat yang sempurna, karena dari pikirannya ia memiliki kecerdasan. (Mesin otomat jaman sekarang adalah komputer yang tampak seperti memiliki kecerdasan buatan).&lt;br /&gt;Aliran empririsme nyata dalam pemikiran David Hume (1711-1776), yang memilih pengalaman sebagai sumber utama pengetahuan.  Pengalaman itu dapat yang bersifat lahirilah (yang menyangkut dunia), maupun yang batiniah (yang menyangkut pribadi manusia). Oleh karena itu pengenalan inderawi merupakan bentuk pengenalan yang paling jelas dan sempurna.&lt;br /&gt;Dua hal dicermati oleh Hume, yaitu substansi dan kausalitas. Hume tidak menerima substansi, sebab yang dialami hanya kesan-kesan saja tentang beberapa ciri yang selalu ada bersama-sama.  Dari kesan muncul gagasan. Kesan adalah hasil penginderaan langsung, sedang gagasan adalah ingatan akan kesan-kesan seperti itu. Misal kualami kesan: putih, licin, ringan, tipis. Atas dasar pengalaman itu tidak dapat disimpulkan, bahwa ada substansi tetap yang misalnya disebut kertas, yang memiliki ciri-ciri tadi. Bahwa di dunia ada realitas kertas, diterima oleh Hume. Namun dari kesan itu mengapa muncul gagasan kertas, dan bukan yang lainnya? Bagi Hume, "aku" tidak lain hanyalah "a bundle or collection of perceptions (= kesadaran tertentu)".&lt;br /&gt;Kausalitas.  Jika gejala tertentu diikuti oleh gejala lainnya, misal batu yang disinari matahari menjadi panas, kesimpulan itu tidak berdasarkan pengalaman.  Pengalaman hanya memberi kita urutan gejala, tetapi tidak memperlihatkan kepada kita urutan sebab-akibat.  Yang disebut kepastian hanya mengungkapkan harapan kita saja dan tidak boleh dimengerti lebih dari "probable" (berpeluang).  Maka Hume menolak kausalitas, sebab harapan bahwa sesuatu mengikuti yang lain tidak melekat pada hal-hal itu sendiri, namun hanya dalam gagasan kita.  Hukum alam adalah hukum alam.  Jika kita bicara tentang "hukum alam" atau "sebab-akibat", sebenarnya kita membicarakan apa yang kita harapkan, yang merupakan gagasan kita saja, yang lebih didikte oleh kebiasaan atau perasaan kita saja. Menurut Hume ada batasan-batasan yang tegas tentang bagaimana kesimpulan dapat diambil melalui persepsi indera kita.&lt;br /&gt;Imanuel Kant (1724-1804) mencoba mengembangkan suatu sintesis atas dua pendekatan yang bertentangan ini.  Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh, dan salah separuh.  Benarlah bahwa pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada faktor-faktor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita.  &lt;br /&gt;Ada kondisi-kondisi tertentu dalam manusia yang ikut menentukan konsepsi manusia tentang dunia.  Kant setuju dengan Hume bahwa kita tidak mengetahui secara pasti seperti apa dunia "itu sendiri" ("das Ding an sich"), namun hanya dunia itu seperti tampak "bagiku", atau "bagi semua orang".  Namun, menurut Kant, ada dua unsur yang memberi sumbangan kepada pengetahuan manusia tentang dunia.  &lt;br /&gt;Yang pertama adalah kondisi-kondisi lahirilah ruang dan waktu yang tidak dapat kita ketahui sebelum kita menangkapnya dengan indera kita.  Ruang dan waktu adalah cara pandang dan bukan atribut dari dunia fisik. Itu materi pengetahuan. &lt;br /&gt;Yang kedua adalah kondisi-kondisi batiniah dalam manusia mengenai proses-proses yang tunduk kepada hukum kausalitas yang tak terpatahkan. Ini bentuk pengetahuan. Demikian Kant membuat kritik atas seluruh pemikiran filsafat, membuat suatu sintesis, dan meletakkan dasar bagi aneka aliran filsafat masa kini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Kritisisme Immanuel Kant dan Sumbangannya pada Dunia Pengetahuan&lt;br /&gt;Menurut Kant, kritisisme adalah filsafat yang memulai perjalanan dengan terlebih dahulu menyelidiki kemampuan dan batas-batas rasio (Kaelan, 2009:60). Menurut Bertens, Kant adalah filsuf pertama yang mengembangkan penyelidikan ini. Dikatakan bahwa para filsuf-filsuf sebelumnya bersifat dogmatis, karena mereka hanya percaya secara mentah-mentah pada kemampuan rasio tanpa menyelidiki terlebih dahulu. Dengan kata lain Kant mampu mengubah wajah dan paradigma filsafat, membedakan dan mempertentangkan antara dogmatisme dan kritisisme.&lt;br /&gt;Kritisisme Kant merupakan buah usaha raksasa untuk menjembatani Rasionalisme dan Empirisme. Pengetahuan tentang alam dan moralitas itu berpijak pada hukum-hukum yang bersifat apriori, yakni hukum-hukum yang sudah ada sebelum pengalaman inderawi. Pengetahuan teoritis tentang alam berasal dari hukum-hukum apriori yang digabungkan dengan hukum-hukum alam obyektif. Sementara pengetahuan moral diperoleh dari hukum moral yang sudah tertanam di dalam hati nurani manusia. &lt;br /&gt;Menurut paham Empirisme  sumber utama pengetahuan manusia adalah pengalaman inderawi, dan bukan akal budi semata (menekankan unsur-unsur aposteriori). Sementara rasionalisme berpendapat bahwa sumber utama pengetahuan adalah akal budi yang bersifat apriori, dan bukan pengalaman inderawi. Terlepas dari rasa kekaguman Kant terhadap Empirisme Hume yang bersifat radikal dan konsekuen, namun ia tidak menyetujui skeptisisme Hume yang menyimpulkan bahwa dalam ilmu pengetahuan, kita tidak dapat mencapai suatu kepastian. Padahal sudah jelas bahwa pada masa-masa Kant, ilmuwan telah menemukan dalil atau hukum-hukum yang sifatnya berlaku umum dan pasti.&lt;br /&gt;Menurut Hume, semua proposisi yang signifikan haruslah salah satu dari kemungkinan ini: (1) bersifat sintesis dan a posteriori atau (2) bersifat analitis dan a priori. Namun Kant memperkenalkan kategori proposisi signifikan yang ketiga, yakni: yang bersifat sintesis a priori. Menurut Kant, proposisi yang bersifat sintesis a priori merupakan proposisi yang sifatnya benar tanpa memerlukan pertimbangan dari pengalaman. Lebih jauhnya, proposisi yang bersifat sintesis a priori seperti misalnya: “Segala sesuatu pasti memiliki sebab”, tidak pernah bisa dibuktikan oleh para penganut aliran empirisme karena mereka telah telah terdoktrin bahwa “pasangan” dari sintesis adalah posteriori dan sebaliknya, “pasangan” dari analitis adalah apriori. Begitu juga dengan penganut aliran rasionalisme. Mereka terlalu terpaku dengan rangkaian istilah tersebut, sehingga mereka seringkali salah. Seperti misalnya dalam proposisi “Diri sendiri merupakan zat tunggal” (The self is a simple substance), mereka mengira bahwa proposisi tersebut dapat dibuktikan secara analitis a priori tapi ternyata tidak. Kant berargumen, bahwa proposisi yang bersifat sintesis a priori memerlukan sejumlah macam bukti dibandingkan proposisi yang sifatnya analitis a priori atau sintesis a posteriori. Petunjuk dari bagaimana melakukannya, menurut Kant, dapat ditemukan dalam sejumlah proposisi yang ada dalam ilmu pengetahuan alam dan matematika. Proposisi geometris seperti “Sudut-sudut dari segitiga selalu berjumlah 180°” merupakan sesuatu yang diketahui secara a priori, namun hal tersebut tidak hanya diketahui dari sebuah analisis atas konsep segitiga saja.&lt;br /&gt;Inovasi Kant secara metodologis adalah dengan menggunakan apa yang ia sebut sebagai argumen transendental untuk membuktikan proposisi yang bersifat sintesis a priori. Salah satu argumennya adalah “ada realitas yang eksis di dalam waktu dan tempat diluar diriku”, yang tidak bisa dibuktikan baik secara a priori maupun posteriori. Menurutnya, ada sebuah realitas yang bersifat independen dan diluar pengalaman manusia. Ia menyebut realitas itu sebagai dunia noumena—yakni dunia realitas dalam-dirinya-sendiri. Sedangkan dunia yang tampak dihadapan kita adalah dunia fenomena—yakni dunia yang ditangkap oleh pengalaman indera kita. Oleh karena itu, ia berpendapat bahwa pasti ada sesuatu yang sifatnya permanen diluar dirinya, yang tidak dapat dijangkau oleh dirinya sendiri&lt;br /&gt;Menurut Kant, baik rasionalisme maupun empirisme sebenarnya kedua-duanya bersifat berat sebelah. Kant berusaha menjelaskan bahwa pengenalan manusia merupakan paduan atau sintesis antara unsur-unsur apriori dengan unsur-unsur aposteriori  (Kaelan, 2009:60).&lt;br /&gt;Kritisisme yang diperkenalkan pertama kali oleh Immanuel Kant (1724-1804) adalah sebuah ajaran yang disebut sebagai filsafat kritis. Tiga karya besarnya disebut sebagai “Kritik”, yaitu : Kritik der reinen Vernunft (Critique of Pure Reason), Kritik der praktischen Vernunft (Critique of Practical Reason), dan Kritik der Urteilskraft (Kritik atas Daya Pertimbangan). (Hadiwijono, 1980 : 64)&lt;br /&gt;Secara harafiah kata kritik berarti “pemisahan”. Filsafat Kant bermaksud membeda-bedakan antara pengenalan yang murni dan yang tidak murni, yang tiada kepastiannya. Ia ingin membersihkan pengenalan dari keterikatannya kepada segala penampakan yang bersifat sementara. Jadi filsafatnya dimaksud sebagai penyadaran atas kemampuan-kemampuan rasio secara objektif dan menentukan batas-batas kemempuannya untuk memberi tempat kepada keyakinan. &lt;br /&gt;Dengan kata lain, filsafat Kant bermaksud untuk memugar sifat objektivitas dunia dan ilmu pengetahuan. Supaya maksud itu terlaksana, orang harus menghindarkan diri dari sifat sepihak rasionalisme dan sifat sepihak dari empirisisme. Rasionalisme mengira telah menemukan kunci bagi pembukaan realitas pada diri subjeknya lepas dari segala pengalaman. Sedangkan empirisisme mengira hanya dapat memperoleh pengenalan dari pengalaman saja. Ternyata bahwa empirisisme sekalipun mulai dengan ajaran yang murni tentang pengalaman, tetapi melalui idealisme subjektif bermuara pada suatu skeptisisme yang radikal. Disini, filsafat Kant memadukan kedua filsafat rasionalisme dan empirisisme manjadi satu kesatuan dalam bentuk filsafat kritis, dan membangun cara berpikir kritis yang tidak terjebak dalam keduanya. &lt;br /&gt;Menurut Kant, pemikiran telah mencapai arahnya yang pasti dalam ilmu pengetahuan pasti-alam yang telah disusun oleh Newton. Ilmu pengetahuan pasti alam itu telah mengajar kita bahwa perlu sekali kita terlebih dahulu secara kritis meneliti tindakan pengenalan itu sendiri. Pengenalan bersandar kepada putusan. Oleh karena itu perlu sekali pertama-tama diadakan penelitian terhadap putusan. &lt;br /&gt;Suatu putusan menghubungkan dua pengertian yang terdiri dari subjek dan predikat. Dalam satu putusan seperti “meja itu bagus”, maka predikatnya (bagus) menambahkan sesuatu yang baru kepada subjeknya (meja). Karena tidak semua meja adalah bagus. Putusan ini disebut putusan yang sintetis, karena menambahkan sesuatu yang baru terhadap subjeknya dan diperoleh secara a posteriori, atau melalui pengalaman dengan melihat meja itu dan membandingkan dengan meja-meja lain. Inilah putusan yang dihasilkan oleh empirisisme. &lt;br /&gt;Dalam putusan yang lain seperti “lingkaran adalah bulat”, ternyata predikatnya (bulat) tidak memberi sesuatu yang baru terhadap subjeknya (lingkaran). Maka hal ini disebut putusan yang analitis, dan bersifat a priori, atau bisa diperoleh hanya melalui kegiatan pemikiran akali saja tanpa dibutuhkannya suatu pengalaman. Inilah putusan yang dihasilkan oleh rasionalisme. &lt;br /&gt;Menurut Kant, syarat dasar bagi suatu pengetahuan adalah bersifat umum dan perlu mutlak namun sekaligus memberi pengetahuan yang baru. Empirisme memberikan putusan-putusan yang sintetis, jadi tidak mungkin empirisme memberikan suatu yang bersifat umum dan perlu mutlak. Sebaliknya rasionalisme memberikan putusan-putusan yang analitis, jadi tidak memberikan suatu pengetahuan yang baru. (Hadiwijono, 1980 : 65-66)&lt;br /&gt;Demikianlah, ternyata baik empirisisme maupun rasionalisme tidak memenuhi syarat-syarat yang dituntut oleh ilmu pengetahuan. Maka dari itu, perlu diselidiki bagaimana membuat suatu putusan-putusan yang sintetis a priori, yaitu suatu putusan yang mampu memberikan sesuatu yang baru, namun tidak perlu tergantung dari pengalaman. Demikianlah bahwa filsafat Kant juga bersifat transendental, yang berusaha meneliti bagaimana cara seseorang untuk mengenal segala sesuatu. (Hadiwijono, 1980 : 65) &lt;br /&gt;Segala pengalaman terjadi karena penggabungan dua faktor, yaitu pengamatan inderawi dan penyadaran akal. Dalam kesadaran sehari-hari, kedua faktor ini tidak terpisahkan. Akan tetapi dalam hal ini secara teoretis keduanya harus dipisahkan, dengan maksud supaya masing-masing dapat diselidiki kemungkinan dan keadaannya secara transendental. &lt;br /&gt;Adapun yang kita amati itu bukanlah bendanya sendiri atau “benda dalam dirinya sendiri” (das ding an sich), melainkan suatu salinan dari pembentukan benda itu dalam daya-daya inderawi lahiriah dan batiniah, yang disebut sebagai penampakan atau gejala-gejala (fenomena). Yang kita amati sesungguhnya bukanlah objek dalam dirinya sendiri, melainkan gagasan kita tentang objek itu yang nampak pada kita melalui indera-indera kita, yang menggerakkan daya tangkap indera kita, sehingga kita membentuknya dalam fantasi menjadi suatu gambaran tertentu. Jadi, mengetahui bukanlah mengetahui benda dalam dirinya (das ding an sich), melainkan mengetahui penampakan atau fenomena, sehingga pengertian hanya dapat dipakai untuk memikirkan penampakan atau fenomena, bukan untuk memikirkan benda dalam dirinya. (Hadiwijono, 1980 : 67) &lt;br /&gt;Dalam hal ini, proses mengetahui dengan pengamatan terhadap objek tersebut terletak dan dikuasai oleh kedua bentuk a priori, yaitu ruang dan waktu. Bagi Kant, ruang dan waktu adalah sebuah “bentuk formal” dari penginderaan. Bentuk ruang membentuk kesan-kesan inderawi yang lahiriah, sedangkan waktu membentuk cerapan-cerapan inderawi yang batiniah. Ajaran Kant tentang etika banyak tertuang dalam bukunya Kritik der praktischen Vernunft (Critique of Practical Reason). Disana dibicarakan tentang syarat-syarat umum dan yang perlu mutlak bagi perbuatan kesusilaan. Yang dijadikan pegangan adalah gagasan bahwa ada suatu “intuisi” yang memberi keyakinan bahwa tiada sesuatu yang lebih tinggi daripada perbuatan yang dilakukan berdasarkan suatu “kehendak baik”. Kelihatannya naluri manusia lebih menentukan “kehendak baik” itu. Namun demikian sesungguhnya naluri senantiasa memperhitungkan faktor-faktor pengalaman. Maka dari itu harus dicari satu faktor yang semata-mata baik dalam dirinya sendiri dan tidak tergantung dari apapun, termasuk hasil yang akan diperoleh. Faktor yang demikian itu hanyalah rasio, yang dalam hal ini dapat memberi suatu patokan praktis dalam setiap tindakan. (Hadiwijono, 1980 : 74) &lt;br /&gt;Menurut Kant, ada dua bentuk ketetapan kehendak, yaitu ketetapan subjektif dan ketetapan objektif. Ketetapan subjektif datang dari subjek dan ada kemungkinan kesewenang-wenangan. Ketetapan yang objektiflah yang memberi perintah (imperatif), dimana terdapat gagasan tentang suatu asas yang objektif, yang menjadikan kehendak itu harus terjadi, lepas dari keinginan pribadi. Jadi, yang menentukan adalah suatu pandangan objektif yang dimiliki rasio, yang seakan-akan memberi perintah “Berbuatlah menurut motif-motif yang diberikan oleh rasio.” Disinilah kehendak benar-benar objektif dan bersifat imperatif. &lt;br /&gt;Tindakan imperatif itu ada dua macam, yaitu imperatif hipotetis dan imperatif kategoris. Imperatif hipotetis adalah suatu perintah yang mengemukakan suatu perbuatan sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu. Yang menjadi tujuan dapat sesuatu yang nyata atau yang mungkin. Contohnya adalah “Jika ingin pandai maka harus rajin belajar.” (Scruton, 1982) &lt;br /&gt;Imperatif yang kedua adalah imperatif kategoris. Imperatif kategoris adalah perintah yang tidak tergoyahkan, yang tidak ada hubungannya dengan tujuan yang hendak dicapai, perintah yang tidak mengenal pertanyaan “untuk apa berbuat sesuatu ?” Perintah ini hanya memiliki tujuan dalam dirinya sendiri, dan bersifat formal yang hanya memformulasikan syarat formal yang harus dipenuhi perbuatan apapun supaya dapat diberi nilai etis yang baik. &lt;br /&gt;Adapun imperatif hipotetis hanya dapat ditaati karena kepentingan diri sendiri, sehingga tersirat di dalamnya suatu dorongan ego. Tidak demikian dengan imperatif kategoris, disini kehendak dan hukum adalah satu. Inilah yang disebut rasio praktis yang murni. Disini tidak ada unsur akal, yang ada hanya “keharusan” sesuatu yang sekaligus adalah kehendak yang sempurna dan murni. Imperatif kategoris inilah yang dipandang Kant sebagai asas kesusilaan yang transendental. Keharusan (sollen) ini mewujudkan segala persoalan etis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-6633035099710979882?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/6633035099710979882/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=6633035099710979882' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/6633035099710979882'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/6633035099710979882'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2010/01/kritisisme-sumbangan-pemikiran-immanuel.html' title='KRITISISME: SUMBANGAN PEMIKIRAN IMMANUEL KANT DALAM DUNIA ILMU PENGETAHUAN'/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-3851571332798041491</id><published>2009-12-15T17:20:00.000-08:00</published><updated>2009-12-15T17:24:04.649-08:00</updated><title type='text'>SANDIWARA PARODI JAKA TARUB</title><content type='html'>SEBUAH LAKON PARODI SATU BABAK &lt;br /&gt;Dipentaskan dalam Acara Bersih Desa Nglanggeran, &lt;br /&gt;14 Desember 2009&lt;br /&gt;“JAKA TARUB”&lt;br /&gt;Karya : Rohmad Widiyanto, S,Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PARA PELAKU : &lt;br /&gt;DALANG, JAKA TARUB, NAWANG WULAN, PAK ARDI SANGGRAH, MBOK ARDI SANGGRAH, PEMBANTU 1, PEMBANTU 2, PEKATIK 1, PEKATIK 2, &lt;br /&gt;NAWANG WULAN, PEREMPUAN 2,  PEREMPUAN 3, PEREMPUAN 4, PEREMPUAN 5, PEREMPUAN 6, PEREMPUAN 7, ROMBONGAN KOOR, DEWA 1, DEWI 1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PANGGUNG : Sisih Kiwo  kelompok musik, kelompok suara lan dalang.&lt;br /&gt;  Ruang tengah tempat bermain.&lt;br /&gt;WAKTU : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;======================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADHEGAN I&lt;br /&gt;MUSIK  WIGARTYAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALANG : Mulo si rembulan koyo rodha cikar bunder abang ing wetan naliko sungkup bumi yoiku wengi. Mbok gendong-gendhong bayimu ing senthong, mbok cencang sapimu ing kandang, mbok obong  lemut nganggo racun koyo saiki mbok bakar danyang siluman nganggo menyan. (nggowo menyan lan kukuse ngepul kandel, sinambi ngubengi panggung).&lt;br /&gt;KOOR : Gung liwang liwung&lt;br /&gt;  Gung liwang liwung (dst)&lt;br /&gt;DALANG : Kabeh alang-alang parewang-rewang .......&lt;br /&gt;  Moro podho ngangkat irung, lan mulih ing gunungmu, alasmu, segaramu, kapal layarmu. Awing-awing, awang, uwung-uwung....&lt;br /&gt;  Podho menengo ing sewalike topengmu sik adoh sik adoh lan nerawang&lt;br /&gt;KOOR : Niyatingsun buka layar&lt;br /&gt;  Buko wayang buko lakon&lt;br /&gt;  Kanthi  kalimat: La ilaa ha illAllah&lt;br /&gt;KOOR : Muhammad rasulullah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOOR : (nyanyi).&lt;br /&gt;  Si Jaka &lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Jaka Tarub&lt;br /&gt;  Anak tani&lt;br /&gt;  Anak lading&lt;br /&gt;  Anak gunung gemunung ing sawah desa Nglanggrah&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Si Jaka &lt;br /&gt;  Jaka Tarub&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALANG : Anakku lanang&lt;br /&gt;  Jaka ora kakean tingkah&lt;br /&gt;  Umure wis meh akhil balig &lt;br /&gt;  Koyo ketulis ing babad&lt;br /&gt;  Ketemu jodoh Nawang Wulan, widodari&lt;br /&gt;  naliko kluwung mlengkung ing wayah surup&lt;br /&gt;  mudhun ing tlogo kang suci&lt;br /&gt;KOOR : Si Jaka&lt;br /&gt;  Si jaka&lt;br /&gt;  Jaka Tarub&lt;br /&gt;MUSIK EBIET G.A.D&lt;br /&gt;JAKA TARUB : (Mlebu ing panggung. Penganggone koyo cah enom jaman saiki lan nyangklong ransel pelancong ing nggeger, lan nggaggo helm cakil, uluk salam). Assalamu ‘alaikum.......&lt;br /&gt;DALANG : (semu kaget lan gumun).&lt;br /&gt;JAKA TARUB : (Cuek).&lt;br /&gt;DALANG : (Membentak). Hei bocah ra urus danyang pretelon! mbok yo sik ngerti sopan santun. Urung wareg mangan menyan lan sajen, kok kowe isih wani ngganggu wilayahku. Awas rasakno dupaku! (nambah dupa lan kukus ngepul soyo akeh. Komat-kamit, bathukke mengkirut).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKA TARUB : (Nyeraki dalang, lan dalang diangkat ngadeg, digawa lungguh ing panggung).&lt;br /&gt;  Mbah, mbah.. simbah.... (koyo nangekke wong turu lungguh). Wis mbah, tangi mbah….)&lt;br /&gt;DALANG : (Alon-alon mbukak mata ....). &lt;br /&gt;JAKA TARUB : Danyange pretelon wis lungo kok mbah, wis mlayu adoh keweden mantramu. Manteramu jan ampuh tenan mbah.&lt;br /&gt;DALANG : Hah? Kowe? Kowe?&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Putumumu dewe mbah. Si Jaka Tarub&lt;br /&gt;KOOR : (menyanyi)&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Si Jaka &lt;br /&gt;  Jaka Tarub&lt;br /&gt;  Wis teka&lt;br /&gt;  Wis lahir&lt;br /&gt;  Cah ndesa penggadang ing dalan gedhe&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Jaka Tarub&lt;br /&gt;MUSIK SAMPAK SONGO&lt;br /&gt;DALANG : (mlumpat lan kaget). Haaaah! Aku ora percaya. Kowe danyang pretelon. Jaka tarub kuwi mesthi persis bapake, persis mbahe, mbah buyute, lan mbah biyunge. Dheweke warisan jaman tua sing ora tau rubah lan owah. Adaptasi seni lan budhaya. Seni. Pribadi. Tumbal. Turun temurun koyo leluhur. Jaka tarub dudu koyo ngene iki.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Aku yo ora gelem to mbah. Aku ki yo koyo ngene iki, Jaka Tarup ki sik pantes yo ngene iki to mbah. Aku duwe coro dhewe mbah. Saiki rak jaman modern to mbah, mosok Jaka Tarub isih kon nganggo surjan lan blangkon. Aku pingin gawe sejarah anyar to mbah, aku pingin duwe dalan dhewe sek bedo karo dalane wong tuo-tuo.&lt;br /&gt;DALANG : Kowe dudu Jaka Tarub.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : La njuk sopo mbah nek aku dudu Jaka tarub, mbah....?&lt;br /&gt;DALANG : Yo danyang pretelon!&lt;br /&gt;JAKA TARUB : We la mbah ki kok ngeyel, aku ki Jaka Tarub mbah. (sinambi mbukak helem cakile) Lho rak Jaka Tarub tenan to mbah. Mosok lali. Aku ngerti gunung Nggeran, alas, sawah, pacul, gaplek, sapi, kebo, angin kulon, perkutut, wayang, keris, primbon, babad, gembleng. Aku yo ngerti poso ngebleng, semedi, pucuk irung. Aku yo kenal Nawang Wulan, Dewi Sri wong iki mau wae lagi bar SMS-an kok, Gusti Kanjeng, Gusti Rasul, lan Gusti Allah. Nanging aku yo ngerti komputer mbah, aku yo ngerti chatting, on line, ugo face book-an. Hebat to mbah Jaka Tarub saiki, aku wae saiki nggowo lab top lo mbah (sinambi njupuk lab top soko tase). Lho, hebat to mbah.. Aku ki malah mesakne kowe mbah, kok isih tetep dadi dhalang.&lt;br /&gt;DALANG : Danyang, danyang, danyang….!! Aku ngimpi opo kok dadi mangkene perkarane (njupuk kitab babad, lan mriksa, membolak-balik kitab). Cocok. Cocok. Wis cocok. Ora ono sik  kleru mbok sak aksara. Aku ora ngerti Le.. Koyo kucing wae kowe ki Le! Tanpa uluk salam tanpa sembah.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : O, la uwis ngono lho mbah mau.&lt;br /&gt;DALANG : Penganggomu kuwi lho Le? kenopo ganti koyo cah kuliahan ngene iki?&lt;br /&gt;JAKA TARUB : O-oh, bab penganggo to mbah, mau tak tukar tambah nong butik Monel, Coro Perancisnya: BOUTIQUE DE MONELE. ben ketoro gaul ngono lho mbah. La sumpek no mbah nek kon nganggo surjan lan blangkon. Ribet, susah lo mbah nek arep mlayu, sopo ngerti ono lindhu. He.. he... (karo sajak urakan)&lt;br /&gt;DALANG : Calon gelandangan.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Yo ojo ngono to mbah, mosok karo putune dewe kok tego ngecap gelandangan. Wis to aku ki Jaka Tarub tenan. gek terusno critane. Aku mengko mulih lho nek kowe ora percoyo nak aku iki Jaka Tarub&lt;br /&gt;DALANG : Rusak, rusak… negarane le nek caramu ngene, kelakon ono crito kang bundhet, ruwet, jan tobat aku ....&lt;br /&gt;  La gek kowe mrene arep ngopo lan ono opo? Arep ngrusak crito leluhur po piye? Ojo kemaki yo Le! Yo wis nek ngono, arep piye maneh, nanging kowe kudu manut dalang. Ora keno gawe crito dewe yo.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Aku ki wis gedhe yo mbah. Iki lho delengen brengosku wis tuwuh, lan ora nganggo umbelen meneh. La lakone opo to mbah mbengi iki?&lt;br /&gt;DALANG : Janji ora ngaco?!&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Wayang sik apik ki yo kudu setia lan paham lan siap kerjo bareng, ugo kudu paham karo dhalange to mbah. Rak yo ngono to mbah karepmu?&lt;br /&gt;DALANG : Nanging kowe kudu ganti penganggo, ora koyo ngene iki.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Alaaa bab embel-embel meneh. Penganggo ki rak mung bungkus to mbah. Sek penting ki budi pekertine. Sesuk rak metu nong koran, yen Jaka Tarub wis rubah dadi menungso sik modern.  Ayo to mbah gek ndang diwiwiti critane. … (nyeraki rombongan koor). He dab, le nembang sik apik, ora gur grunang grunung&lt;br /&gt;KOOR : (nyanyi)&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Si Jaka &lt;br /&gt;  Jaka Tarub&lt;br /&gt;  Wis teka&lt;br /&gt;  Wis lahir&lt;br /&gt;  Cah ndesa Nglanggrah, penggadang ing dalan gedhe&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Jaka Tarub&lt;br /&gt;DALANG : (motong). Stop! Stop! Le, nanging aku ora nanggung lo yen wong tuwamu semaput ngerti kowe koyo cah edan ngene iki.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : (ketawa ).&lt;br /&gt;DALANG : Nong crito sik di gawe mas Rohmad, adegan sak teruse kowe mulih, wong tuwamu wis kangen, wis gedhene semene kok urung rabi-rabi. Yo kono ndang lungo. Dalang je dipaeko. (bali no panggonane dhalang)&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Iyo, iyo mbah.. ngono wae kok repot (mlebu )&lt;br /&gt;KOOR : Huuuuuuu u uu uuu uuu&lt;br /&gt;       Gek mlebuo,..... gek mlebuo... oooo...ooooo.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN II&lt;br /&gt;MUSIK WIGARTYAS&lt;br /&gt;DALANG : Oong..... Anenggih dusun pundi to engkang kaeko adi doso purwa. Eko sawiji doso sepuluh, purwa wiwitan. Injih meniko Dhusun nglanggrah, ingkang pinongko purwakaning carito. Dusun ingkang gemah ripah loh jinawi, karto toto raharjo. Datan wonten dusun ingkang anandingi. Kocab kacarito, Jaka Tarub nedyo mulih ing ndesane, sak wise ngulandara ngangsu kawruh ing negoro. Najan wus selak karo pandoming babad, nanging arep priye maneh, karepe sik gawe crito yo kudu ngono. Tan kocapo, Jaka Tarub naliko sowan wong tuwane, tanpo kanyono-nyono di utus dening wong tuwane supoyo enggal golek konco kanggo mangun bebrayan, ngudi sajatining urip.&lt;br /&gt;KOOR : (nyanyi)&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Si Jaka &lt;br /&gt;  Jaka Tarub&lt;br /&gt;  Wis teka&lt;br /&gt;  Wis lahir&lt;br /&gt;  Cah ndesa Nglanggrah, penggadang ing dalan gedhe&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Jaka Tarub&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Mbok Rondho deso Nglanggrah, lan rewange mlebu panggung, lagi podho jagongan ing ngomah ngarep, sinambi podhoeng  ngrasani Jaka Tarub)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSIK KUTUT MANGGUNG&lt;br /&gt;PEMBANTU 1 : E, kok yo koyo ngene yo rasane dadi babu, pendhak dino anane gur dikongkon karo dikongkon wae. Gajine yo mung sithik. Jan awak-awak kok yo bejo ( sinambi resik-resik ing ngomah ngarep)&lt;br /&gt;PEMBANTU 2 : Iyo yo yu, awake dewe ki ayu-ayu kok mung trimo dadi babu. Kudune rak yo dadi model opo bintang film ngono to?&lt;br /&gt;PEMBANTU 1 : Hus, ojo ngimpi kowe, babu ki yo babu. Senajan ayu koyo ngopo. Ayo-ayo ndang dirampungke gaweane, selak ndarane dewe eko, diecat kapok kowe.&lt;br /&gt;PEMBANTU 2 :  La aku ki rak gur nimbangi omonganmu to yu. Yo wis ayo, la kae opo ndoro kakung putri wis meh teko.&lt;br /&gt;(Pak Ardi lan Mbok Ardi Sanggrah podho mlebu ing panggung)&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Yung, wis resik to, sajake kok le gayeng to? Hayo podho ngrasani sopo.&lt;br /&gt;PEMBANTU 1 : We, ndoro to. Monggo, monggo ndoro pun resik kok. Mboten kok ndoro, .. mboten  ngraosi sinten-sinten&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH :   Opo njaluk mundhak Gaji po piye yung, dadi aku ki kan ngerti karepmu.&lt;br /&gt;PEMBANTU 2 :  Mboten kok ndoro&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH :   Mbokne, wus pirang-pirang wulan aku ngrasakake si Jaka ki kok nganeh-anehi. Sik biasane meh saben dino tilpon utowo SMS, iki kok nganti suwi ora ono kabare, kiro-kiro ono opo yo?&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Enggih, je Pak, kulo yo kawatir mengko gek ono opo-opo. La kulo takon kanca-kancane nggih ngaten. Jarene yo wis ra tau SMS-an malih. Dihubungi yo mail box terus. &lt;br /&gt;PEMBANTU 1 :   Mangkih mas Joko gek setres ndoro, la lare sak niki kan ngoten, senadyan gagah-gagah nanging do gampang setres. Diputus pacare wae rasane donya ki arep kiamat. Mbok di tilpon mawon ndoro.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Kowe neko-neko to yung, mosok anankku Joko kok setres, ora mungkin kuwi, yo coba tak tilpune. (Sinambi njupuk HP) We la nomere ra iso dihubungi je. Gek piye iki mbokne.&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Jan gendheng tenan si Jaka Tarub ki. Nomer wae kok gonta-ganti, nganti koyo teroris wae.&lt;br /&gt;KOOR :   (Salah siji rombongan KOOR mlebu panggung) Pak Ardi, lan mbok Ardi. Sampeyan-sampeyan niki ampun dho bingung. Wonten ing skenario crito meniko sampun gamblang, menawi sekedhap malih, Joko Tarup meniko enggal mlebet panggung. Pun to mang percoyo kalih kulo, kulo niku sik mbaurekso panggung niki.&lt;br /&gt;PEMBANTU 1 :   Mas, mas, mas Heru sampean ki ora kejatah ngomong, kok trunyal-trunyul, ngrusak crito niku jenenge. Karo wong tuwo kok ora ngerti sopan-santun. &lt;br /&gt;KOOR :   Hu u ..... u..... u ....... u.......&lt;br /&gt;DHALANG : (MELU mlebu panggung, nggeret rombongan kur sik melu jagongan, banjur dilungguhke maneh ing panggonan koor) La yo ngene iki yen pemain ora dho manut dhalang. Yen dhalang ora prentanh ngomong ki, yo ojo ngomongan,  gur ngrepot-ngrepotke dhalang wae kowe ki.. (Dhalang Banjur bali ing panggonane)&lt;br /&gt;KOOR : (nyanyi)&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Si Jaka &lt;br /&gt;  Jaka Tarub&lt;br /&gt;  Wis teka&lt;br /&gt;  Wis lahir&lt;br /&gt;  Cah ndesa Nglanggrah, penggadang ing dalan gedhe&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Jaka Tarub&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Jaka Tarub, dikancani 2 pembantune mlebu pangung)&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Assalamu’alaikum .....!&lt;br /&gt;PAK/MBOK ARDI :  Wa’alaikum salam....&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Bune, yen ora salah panduluku kok koyo anak lanang&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Iyo je pake...&lt;br /&gt;PAK/MBOK ARDI :  Joko Tarub anakku, kowe teko tenan le.&lt;br /&gt;(Banjur podho rerangkulan)&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Kok yo dowo umurmu Le, iki mau kowe mentas wae tak rasani karo Bapakmu, e.. kowe kok yo teko tenan&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Kulo nggih kraos kok mbok menawi dipun rasani.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Yo wis ngger, sukur banget kowe mulih tenan, bapak simbok bungah banget. Sak wise suwe ora ketemu, piye ngger kahananmu, rak yo podho slamet to?&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Injih Pak, Mbok, awit pikantuk pangestu njenengan, soho barokahing pangeran sak dangunipun kulo mboten pepanggihan Bapak lan Simbok, kawontenan kulo tansah bagas lan lan waras Pak. Bapak simbok rak njih sami sae to?&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Yo sukur le, yen podho kewarasan, wong tuwo ki wis seneng menowo ngerti kahanane anak podho kewarasan, Bapak simbok ing ndeso yo podho becik, yo mung bingung ngrasakke kowe ora ono kabare.&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Iyo Le, bener opo sik diaturke Bapakmu, Bapak simbok ki jane yo bingung, kok suwe banget kowe ora kabar-kabar, SMS ra tau, opo meneh tilpun.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Yung,... biyung .... e kok malah enak penak jagongan, kono ndang nong mburi, ndramu ki rak yo di gawekke wedang to.&lt;br /&gt;PEMBANTU 1  : Wo, injih ndoro. La kulo niki semlengeren je ngertos mas Jaka. Nopo malih niku lo, rencange mas Jaka. Motone plirak-plirik terus kalih kulo. (sinambi mlebu njero grundelan) E lalah,  wong ayu-ayu koyo ngene kok mung gawe kongkonan.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Jaka Tarub, cah bagus sinambi nunggu wedang, Bapak simbok ki jane pingin ngerti, sak jane sak suwene iki kowe ono ngendi to le. SMS ora pernah, opo meneh kok tilpun. Wong tuwo ki rasane ra karu-karuan, mengko kowe gek ono opo-opo. Sak benere kowe ki ngandi wae to le.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Bapak lan Simbok, kulo nyuwun pangapunten saestu, menawi mboten nate caos khabar. La kadang-kadang sinyale meniko angel kok nggih Pak. La sak estunipun meniko kulo meniko rak ngulondoro sak indenging projo to Pak, Mbok. Saking Aceh dumugi Irian sampun kulo jamah sedoyo, sulawesi, Maluku, malah Batam, Malaysia nopo nggih kulo parani. Sedoyo wau kulo namung badhe ngangsu kawruh amrih ing tembenipun kulo saget sekeco. &lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : E, la kok kowe malah tekan endi-endi le. Yo sukur, sukur le nek ngono. La njuk kancamu iki sopo, mbok dikenalke karo bapak, simbok.&lt;br /&gt;PEMBANTU 1 :  (nyuguhake wedang lan camilan) Monggo ndoro pun unjuk, meniko wau mboten sempat damel nopo-nopo, gek mung tumbas ten nggene mbak Sijam.&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Iyo, moro ngger gek di ombe. Mesti rak podo ngelak&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Matur nuwun pak, Mbok,... dilajengke mawon nggih. Meniko rencang kulo wonten ing mergi. Menawi coro riyen meniko pekathik kulo, ananging menawi sak meniko istilahe, Bodiguard ngaten lo mbok.&lt;br /&gt;PEMBANTU 2 : Mas Jaka, la nopo mboten klentu to. Pekathik kok awak cilik-cilik, kok le ora mrantasi karyo sajake.&lt;br /&gt;PEKATHIK : We la mbake ki ngece, senajan cilik ning tendangane lo mbak.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Yo, wis, ... wis... Bapak wis marem krungu critamu. Banjur ngene Le. Bapak karo simbok jane arep duwe rembuk karo kowe.&lt;br /&gt;JAKA TARUB :  Njih, menopo Pak, kok sajake le meden-medeni....&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Ngene Le, senajan awakmu durung leren, lan kringetmu urung asat. Ojo dadi atimu yo nek wong tuwo mengko ora pener. Ngene Le, kowe ngerti saiki Bapak simbok wis soyo sepuh. Bapak simbok jane yo pingin koyo tonggo-tonggo liyane. Moro to delengen, saiki bocah-bocah sak pantaranmu ing deso kene, koyo-koyo wis ora ono meneh sik legan. Kabeh wis podho omah-omah. Mulo soko iku Bapak pingin takon marang kowe, jane kowe wis duwe pacangan opo durung Le?&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Iyo, le. Ibu yo sejatine podho karo Bapakmu. Jane mono ibu yo selak pingin ngendhong putu. Piye Le, opo kowe wis duwe pacangan opo durung?&lt;br /&gt;DALANG : o,..... Pindho gelap nyamber ing awan padhang, Datan kanyono-nyono Jaka Tarub oleh pitakonan kang koyo mangkono. Sak pandurat pandelengane peteng, ora ngerti opo kang kudu di aturake. Amargo kasunyatane Jaka Tarub durung duwe pacangan.&lt;br /&gt;JAKA TARUB :  Bapak, simbok, nyuwun pangapunten ingkang kathah menawi kulo sampun damel sedihing manah tiyang sepuh. Pak, Mbok,... sewu kutho ibaratipun kulo ngulondoro, ananging kulo dereng manggihaken wanito ingkang kados gadhang-gadhangan kulo Pak.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Walah Le, kok yo koyo ngono lelakonmu. Mbok orasah adoh-adoh, prawan ndeso kene wae yo akeh, tur yo ayu-ayu, ora kalah karo wanito monco. Kae Le ono Tina, Reni, Wulan, Suli, opo si Ida,  kabeh podho ayune, kowe kari milih. Bapak ora kabotan kok nglamarake.&lt;br /&gt;JAKA TARUP : Bapak, simbok nyuwun pangapunten estu. Kulo mboten maido menawi lare-lare mriki kathah ingkang ayu lan gandhes. Ananging Ngaten Pak, menawi miturut crito, kulo meniko saestunipun pingin sanget gadhah estri widodari.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Opo Le?? ... widodari?? Kowe ojo ngimpi Le&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Iyo to Le, Adoh, adoh kowe ngulondoro kok malah gawe pikiranmu nyleneh. La endi to le ono Sejarahe yen menungso kuwi jejodhoan karo widodari, aneh wae kowe ki.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Ibu, la pundi to bu sik nyleneh. Wonten ngalam donya meniko mboten wonten ingkang  mboten mungkin Mbok. Pokokipun menawi mboten angsal widodari kulo trimah dados joko tuwo Mbokk.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : We,... we,... ojo ngomong ngono Le, ngati-ati yen omongan, Gusti alloh ki ora sare. Ora pareng ngono, ora apik.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Mboten Bu, meniko sampun dados tekat kulo. Kantun sak meniko Ibu sarujuk menopo mboten.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Walah Le, kok koyo ngono  kang dadi karepmu. Jane wong tuwo ki yo bingung, arep sarujuk, nanging kok aneh, nek arep ora sarujuk yo piye meneh wong jeneng karepe anak. La gek njur piye dalane Le? Utowo ngene wae, intine, wong tuwamu wis pingin ndang cepet-cepet nduwe putu, sak karepmu sopo calon bojomu.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Matur nuwun Pak menawi tiayang sepuh sampun sarujuk, kulo badhe ngudi kados pundi caranipun amrih kulo enggal-enggal pikantuk jodho.&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Yo, wis, ... nek ngono ngger, wong tuwo mung mangestoni mugo-mugo opo kang dadi sedyamu iso kasembadan. Gek saiki kowe ngaso ndisik ono mburi. Simbok karo Bapak yo arep ngaso ndisik.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Sendiko dhawuh mbok. Ayo podho leren ndisik (sinambi njawil poro pekathike) Menawi ngaten kulo ngrumiyini.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Iyo Le, kono gek do adus-adus ndisik ben ora mambu. Ayo mboke, ngaso ndisik. Yung diberesi disik yo gelase, aku arep ngaso ndisik.&lt;br /&gt;PEMBANTU : Injih Ndoro.&lt;br /&gt;_________________________________________________________________________________&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN III&lt;br /&gt;MUSIK WIGARTYAS&lt;br /&gt;DALANG : OO,.... Tidem ayem, jenjem permanem. Angin sumilir rinoso isis ing bathuk. Ing angkoso mendhung gumantung melengkung, mertandini arep mudhuning tirto soko ing angkoso, anyles. Ananging jroning dodo Jaka Tarub rinoso bedo, mendhung ing atine Joko Tarub, koyo meh njebol-njebolno moto. Atine ora karu-karuan, ati bingung, pikiran cupet, sumpek, lan bebeg. Nora ngerti opo kang kudu dilakoni. Sewu kutho wis dilewati, sewu deso wis sambangi, ananging  durung ono siji-sijio wanito sik gawe gorehing ati. Sejatine mono isih pingin urip mbujang, ananging penjaluke wong tuwane Jaka Tarub kudu enggal bebrayan. Judeg,... judeg .... Jaka Tarub niat arep golek pepadhang. &lt;br /&gt;KOOR : (nyanyi)&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Si Jaka &lt;br /&gt;  Jaka Tarub&lt;br /&gt;  Wis teka&lt;br /&gt;  Wis lahir&lt;br /&gt;  Cah ndesa Nglanggrah, penggadang ing dalan gedhe&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Jaka Tarub&lt;br /&gt;  Pikiran judeg&lt;br /&gt;  Ati sumpeg&lt;br /&gt;  Si Jaka&lt;br /&gt;  Si Jaka ....... Jaka Tarub&lt;br /&gt;MUSIK  SEWU KUTHO&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Le, podo nyerak kene. Aku jan kelakon setres tenan yen ngene iki. La piye to kon ora setres. Teko-teko kok ditari rabi. Kangmongko kowe ngerti dewe, senajan bagus koyo ngene, nanging aku urung duwe pacar. Gek aku kudu piye?&lt;br /&gt;PEKATHIK 1 : Jane kulo yo kaget, teko-teko kok ditari rabi. Tapi jane nggih njenengan sik kleru, ngopo kok golek bojo wae milih-milih. Malah reko-reko arep golek bojo widodari barang. Njenengan ki yo aneh.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : La kowe ki dijaluki iguh kok malah nyalahke aku, opo njaluk dipecat po piye?&lt;br /&gt;DALANG : He,... dhanyange pretelon, Jaka tarub,  mulane to dadi uwong ki ojo iyik. Reko-reko arep dadi bojone widodari barang. Nek ora aku siik tuwek nggerek ngene iki, ora ono uwong sik iso mbantu kowe.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Wo alah kowe meneh to mbah. Yo senajan kowe ki elek, tuwek, nanging aku percoyo karo kowe kok mbah. Ning yo orasah nggowo-nggowo dhanyang pretelon barang to. Gek terus kudu piye mbah aku iki. Wis aku manut.&lt;br /&gt;DALANG : Gampang Le, kanggoku kecil. Sik tak mbukak primbonku. (sinambi mbukak primbon) ngene yo Le, miturut primbonku iki kowe kudu ngulondoro meneh ing sak pucuking gunung api purba. Ono ing kono kowe bakal ketemu Jodhomu. Eling ojo mampir Ndora yo, ndak mengko kowe ora sido mrono.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Yo yen ngono, aku matur nuwun banget mbah, gek aku tak mangkat wae mumpung urung udan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALANG : Yo wis,.. sik ngati-ati wae.. nek perlu pemandu yo ngubungi mas Sugeng utowo mas Suranto. Ono to tilpune.. Kowe ki gur gawe repotku terus. Kudune Dalang ki rak ora melu ngene iki. Yo wis, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN IV&lt;br /&gt;MUSIK KODHOK NGOREK&lt;br /&gt;PAPAN : Ono ing kayangan Njunggring Salaka&lt;br /&gt;DALANG : Nenggih puniko, kayangan njunggring Salaka. Dedep sidem kahanane kayangan. Datan jalmo biso moro, datan karep kang nyawiji kejobo kersaning sang dewo. Ananging padatan kuwi rubah lan owah, sairing lakuning jaman.  Poro putri ngadep marang kangjeng ramane, niyat arep ngajoake proposal perjalan wisata “De Java Tour”, ngrubuhake adat lan kebiasaan poro putri ing Kayangan.&lt;br /&gt;DEWO : Dhiajeng, dino iki rasane kok bedo banget karo padatan. Aku kok rumongso menowo pirang-pirang dino iki putri-putri ne dhewe sajak nganeh-anehi, ono opo yo dhiajeng&lt;br /&gt;DEWI : Menopo injih to kangmas, kulo kok mboten ngraos niku.&lt;br /&gt;DEWO : La sliramu ki cen wis mati roso kok, mosok ora ngerti glagat.&lt;br /&gt;DEWI : Njih ampun ngaten to kang mas. La niko ketingalipun poro putri-putri kayangan badhe marak sowan.&lt;br /&gt;(Nawang Wulan lan kabeh sedulure niat ngadhep marang wong tuwane – mlebu ing panggung)&lt;br /&gt;DEWO : E, e, e .... putri-putriku kabeh, iki mau kanjang rama lan ibumu lagi podho ngrasani kowe kabeh. Kok, yo banjur podho sowan bareng-bareng ki ono opo. Padhatane rak ora mengkene. Ayo enggal maturo ngger.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Njih, nyuwun pangapunten Romo. Keparengo kulo matur minongko wakilipun sedherek-sedherek kulo. Nanging mangkih romo ampun duko lho.&lt;br /&gt;DEWO :  Ora, ora nduk. Angger ora neko-neko rak Romo ora duko. Piye, piye ono opo nduk Nawang Wulan cah Ayu.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Ngaten Romo, sampun dangu saestunipun kulo badhe matur nanging ajrih. Nanging gandheng sampun kepekso njih badhe pripun malih. Romo lan Ibu, Nanging mboten  duko saestu to?&lt;br /&gt;DEWO :  We, la bocah kok ngeyel. Ora, ora yen Romo arep duko. Ndang gek matur, to the poin gitu Lho.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Pripun njih, nganu Romo. Kulo sak sedherek meniko jane wonten kayangan sampun jenuh ngaten Romo. Nek coro boso lare sakniki BeTe ngaten lho. La meh sedoyo panggenan sampun kulo mangertosi sedoyo, lan nggih mung ngaten-ngaten kemawon. Milo kulo sak sedherek niyat badhe ngawontenaken perjalanan wisata dateng ngalam ndonya. Kulo sedoyo rak dereng nate to Romo. Milo saged mboten saged kulo sak sedherek badhe mandhap wonten bumi. Angsal to Romo.&lt;br /&gt;DEWO :  We, la kok njuk mekso koyo ngono. Nduk cah ayu putrine Romo sik tak tresnani, la mbok anggep ngalam ndonya ki apik po. Saiki kahanane wis podho rusak yo nduk, opo meneh cah nom-nomane jan ra iso dijagakke meneh. Ora, ora, ora oleh aku.&lt;br /&gt;DEWI : Iyo to nduk, opo meneh kowe kabeh wong wadon-wadon, mengko nek Joko-joko ing Bumi podho kepencut, njuk kowe diculik piye hayo. Sek kelangan rak yo Romo Ibu To?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAWANG Wulan : Jan romo Ibu ki ra CS tenan kok. LA kulo sedoyo meniko rak sampun dewoso to Romo. Kanthi kasekten kulo, mangkih rak mboten wonten onten sik ajeng ngganggu. Nek mboten angsal nggih empun kulo ajeng mogok makan mawon. Wis ben Loro, pelit, jan pelit Romo ki.&lt;br /&gt;NAWANG SARI : Injih to Romo, ming sedilit mawon Romo, pun to mboten, mboten menawi wonten pemuda ingkang badhe ngganggu. Nek onten njih tak sikat dhewe to Romo. Nek ra oleh yo wis ayo mogok makan wae, ben kapok romo ngurusi.&lt;br /&gt;DEWO : We, la kok kowe kabeh podho ngeyele. Koyo ngene kok widodari.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : La kok malah ngece to Romo? angsal njih Romo.&lt;br /&gt;DEWO : Jan, tobat nek ngene iki. Mosok poro widodari kok njuk ngambekan. Tapi iso jogo diri yo. Cah-cah Bumi ki nek ngerti wong ayu rak mesti matane ijo. Romo gur khawatir wae.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Berarti angsal to Romo. Yes!, Romo jan is the best tenan. Thankyu ya Romo. Ayo sedulur-sedulur ndang mangkat, kan pesawat Ulang-alike wis dicarter. Nggih sampun Romo, Ibu nyuwun pamit.&lt;br /&gt;DEWO : E, e e opo yo secepat itu to nduk. Yo wis nek ra keno dipengkak meneh,  nanging sik ngati-ati yo.&lt;br /&gt;WIDODARI :  Injih Romo, Ibu. Nggih sampun nyuwun pamit njih.&lt;br /&gt;(Poro Widodari podho metu soko panggung)&lt;br /&gt;MUSIK  ELING&lt;br /&gt;DEWO : Jan jaman saiki kok kabeh rubah yo diajeng, poro widodari kok tingkahe koyo mengkono. Yo mugo-mugo wae ora ono alangan opo-opo.&lt;br /&gt;DEWI : Injih kang mas, la badhe pripun malih to kang mas, nggih sampun jamane. Monggo kangmas, kito njih ngaso riyin.&lt;br /&gt;DEWO : Ayo-ayo diajeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN V&lt;br /&gt;MUSIK &lt;br /&gt;PAPAN : Pucuking Gunung Api Purba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALANG : Ing wayah rahino naliko kluwung mlengkung ing sak nduwuring sendang tejo warno, &lt;br /&gt;  Jaka Tarub nedyo golek dalaning urip, ngupadi sampurnaning becik. Sendang tejo warno dadio sarono ketemuning karep kang nyawiji. Wiji kang tinandur abyur ing pucuking Gunung api purba, dadio lan jodhone, angembang ngreboko pindho laron wengi angrubung dian.&lt;br /&gt;  Nawang Wulan, Wulan putri kayangan,  Naliko sore lembayung kluwung mlengkung Nlusup ing satengahing sendang tejo warno.&lt;br /&gt;  Widodari pitu, pitung werno Nlusup ing tirto pindho manuk mliwis, pinongko seksi ilanging jati diri.&lt;br /&gt;  Nawang Wulan, Nawang Wulan, Wulan putri kayangan datan biso wangsul ing kayangan. Slendang biru kanggo tondho jati dirining betari, ilang muspro. Maujud dadi winihing trisno kang nyawiji. Wiji kang tukul angrembak angreboko ing dhodho.&lt;br /&gt;  Wulan kluwung mlengkung ing wayah sore, Jaka Tarup  dadi lan jodhone.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;JAKA TARUB : Le, wis sawetoro wektu awake dhewe mlaku ono ing alas kene. Nanging kok urung ono pertondo opo-opo yo, la jarene mbah Dalang aku arep oleh jodho ing pucuking gunung kene, opo mbah dhalang ngapusi awake dewe yo . Piye apike arep neruske laku opo leren ndisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEKATHIK1 : Nggih saene kendel riyen to ndoro, la kulo nggih pun ngelih niki. &lt;br /&gt;PEKATHIK2 : Kowe kuwi kang, wong gedhene semene kok ngelihan. Aku sik cilik wae betah kok. Kacanga!&lt;br /&gt;PEKATHIK 1 : Ojo ngono to le, la nimbangane mlaku terus tanpo juntrung, la apike rak seren ndisik. Sopo ngerti oleh wangsit. Enggih to ndoro?&lt;br /&gt;JAKA TARUB : La gene mletik utekmu, yo wis, apike saiki golek pangan ndisik. Ayo podho mancing wae, mesti nong sendang kae rak akeh iwake. Ayo nek ngono.&lt;br /&gt;PEKATHIK : Nggih kulo golek cacinge riyen to ndoro.&lt;br /&gt;(wektu Jaka Tarub lan poro pekathike mancing dumadakan poro widodadri podho mudhun lan adus ing sendhang)&lt;br /&gt;JAKA TARUB : E, Le... delengen to, kae kok ono cah wadon akeh banget podho arep adus. Ayo ndelik wae.&lt;br /&gt;PEKATHIK 1 :  La enggih ngaten ndoro, cocok. Ndelik wae. Lumayan Gratisan nonton film he.. he..&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Hus, motomu ijo nek ndelok cah ayu, wis to menengo. Sopo ngerti iki koyo ngendikane mbah Dalang, aku ketemu jodhoku widodari. Asik coy...&lt;br /&gt; (wektu Jaka Tarub lan poro pekathike podho ndelik sinambi ngawat-awati widodari podho adus)&lt;br /&gt;DALANG : Nawang Wulan, Wulan putri kayangan,  Naliko sore lembayung kluwung mlengkung Nlusup ing satengahing sendang tejo warno.&lt;br /&gt;  Widodari pitu, pitung werno Nlusup ing tirto pindho manuk mliwis, pinongko seksi ilanging jati diri.&lt;br /&gt;  Nawang Wulan, Nawang Wulan, Wulan putri kayangan datan biso wangsul ing kayangan. Slendang biru kanggo tondho jati dirining betari, ilang muspro. Maujud dadi winihing trisno kang nyawiji. Wiji kang tukul angrembak angreboko ing dhodho.&lt;br /&gt;  Wulan kluwung mlengkung ing wayah sore, Jaka Tarup  dadi lan jodhone.&lt;br /&gt;MUSIK GUNUNG KIDUL HANDAYANI&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Sedulur-sedulurku kabeh, jan ngalam ndonya ki jebule yo endah tenan yo. Ora kroso iki wis sore. Kesel yo?&lt;br /&gt;NAWANG SARI : Iyo Wulan, aku yo kesel banget ki. Rasane kok gerah banget yo. Apike po adus wae yo?&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Ah, emoh aku nek adus mengko ono wong ngindhik, yo malu to aku. Mulus-mulus ngene kok di gratiske.&lt;br /&gt;NAWANG TALUN : Wulan, nek ora arep melu adus, yo ra popo. Ra isin, kringetmu kuwi lho ambune jan ra nguwati. Ayo gek nyemplung sendang wae yo.&lt;br /&gt;KOOR : Konco-konco sajake kok ono cewek akeh banget, jan kepeneran tenan aku yo urung duwe pacar kok, ayo kenalan&lt;br /&gt;KOOR : Ayo, aku yo urung duwe cewek je.&lt;br /&gt;(Rombongan koor banjur nyalami widodari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSIK ELING&lt;br /&gt;DALANG : (Mlumpat lan nyeraki rombongan koor) He, he,... lakon opo iki, podho pethakilan, ngrusak crito wae, ... ayo podho bali nyang nggon-nggonane dewe-dewe. Ora ngerti aturan. (sinambi nglungguhke rombongan koor) La, nek Dhalange ra popo salaman (terus nyalami widodari siji-siji). Nderek nepangaken mbak kulo Dhalange. (Terus bali ing panggonane) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KOOR : (Nyanyi).&lt;br /&gt;  e-la e-lo&lt;br /&gt;  Walang mata ijo&lt;br /&gt;  pak Dhalang lali bojo&lt;br /&gt;  e-la e-lo&lt;br /&gt;  si mata mata akik&lt;br /&gt;  si Jaka irung plastik&lt;br /&gt;  hore.... &lt;br /&gt;  e-la e-lo &lt;br /&gt;  si akik klambi oblong&lt;br /&gt;  si Wulan kadung ngomong&lt;br /&gt;  e-la e-lo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAWANG WULAN :  Bener yo sedulur, nak pemuda bumi ki podho ijo yen ngematke wong ayu. Ich, ngeri.... tangane yo jail-jail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAWANG  SETO : Alah-alah, lan wulan, mbok ojo GR, mbok ngoco kowe ki ayu ora. Potongan Sapi ngono kok ngaku ayu. Ayo diteruske le adus.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : E, kowe ojo ngenyek yo, wong ayune koyo ngene kok diarani elek. Waduh aku kroso pipis je,  waduh piye iki. (mlumpat lan pipis )&lt;br /&gt;NAWANG SARI : Wulan, wulan... kow ki widodari lho. Mosok pipis kok sembarangan, ra isin po di delok wong semene ambane iki. Ngisin-isini wae kowe ki.&lt;br /&gt;(naliko poro widodari lagi podho adus, Jaka Tarub mendhak-mendhak lan nyolongslendange salah siji widodari terus bali ing panggonan ndhelik)&lt;br /&gt;NAWANG WULAN :  Jan enak tenan yo rasane adus nong bumi, rasane kok koyo ora pingin mentas.&lt;br /&gt;NAWANG SARI : He sedulur-sedulur kok wis wengi yo rasane. Ayo ngono wae le adus, mengko ndak ora iso bali nong kayangan. Ayo mentas.&lt;br /&gt;NAWANG SETO : Iyo je, yo ayo podho mentas, ndang di jupuk slendange.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Emoh aku, aku isih pingin siblonan kok.&lt;br /&gt;NAWANG SARI : Yo sak karepmu, aku arep mentas.&lt;br /&gt;(Poro widodari banjur njupuk slendange dhewe-dhewe, Nawang Wulan yo nyusul njupuk slendange)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Sedulur, la slendangku kok ora ono yo, mesthi podho mbok dhelikke yo, sentimen yo karo aku, dumeh aku ayu dhewe. Ayo ngewangi nggolekki.&lt;br /&gt;NAWANG SARI : La mau mbok deleh ngendi to Wul, gur njogo slendang wae kok ora iso. Aku ora ndelikke tenan&lt;br /&gt;NAWANG SIH : Aku yo ora ndelikke lho. Yo ayo digolekki&lt;br /&gt;(Kabeh podho nggolekki nanging ora ketemu)&lt;br /&gt;Nawang Wulan banjur nangis sesenggukan mbareng slendange digoleki ora ketemu&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Njuk piye iki nek slendangku ora ketemu, aku ora iso bali nong kayangan no, nek ngene carane. Piye sedulur?? (Karo bingung isih nggolekki) Pak Dhalang mesti sik ndelikke, iyo to&lt;br /&gt;DALANG : Hus, sembarangan wae nek ngomong, pencemaran nama baik kuwi jenenge. Nggo opo ndelikke slendange cah elek koyo ngene. Cewekku we luwih ayu kok. Sembarangan.&lt;br /&gt;NAWANG SARI : La piye meneh Wulan, kangmongko iki wis wayah surup koyo ngene, menowo mengo nganti wengi malah kabeh ora iso bali nong kayangan. Ngene wae kowe tak tinggal ndisik,sesuk tak baleni yo.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Aku ojo di tinggal to sedulur, nek dipangan kewan alas piye hayo (karo nangis sesenggukkan)&lt;br /&gt;NAWANG SARI : Yo salahmu dhewe, ndeleh slendang wae ora ngati-ati. Kowe ojo sedih yo, kepekso tak tinggal yo. Ayo sedulur-sedulur podho bali.&lt;br /&gt;(Poro widodari podho mabur lan bali menyang kayangan, Nawang Wulan Nangis gulung-gulungan)&lt;br /&gt;MUSIK IMPLORA&lt;br /&gt;DALANG : Nawang Wulan, Nawang Wulan, Wulan putri kayangan datan biso wangsul ing kayangan. Slendang biru kanggo tondho jati dirining betari, ilang muspro. Maujud dadi winihing trisno kang nyawiji. Wiji kang tukul angrembak angreboko ing dhodho.&lt;br /&gt;  Wulan kluwung mlengkung ing wayah sore, Jaka Tarup  dadi lan jodhone.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : (Nangis gulung-gulungan lan mbengok-mbengok ora karuan koyo cah cilik) Duch Romo ing kayangan, kok koyo ngene nasibku. Iki mengko piye nek njuk aku diperkosa jalmo menungso. (Karo isih nggoleki slendange) Jan kok yo aneh yo aneh yo, slendang kok iso ilang dewe. Duh gusti, aku janji sik sopo wae iso nemokke slendangku, yen wadon arep tak dadekke sedulur sinorowedi, yen lanang aku rilo dadi pendamping uripe.&lt;br /&gt;(Naliko Nawang Wulan isih tetangisan, Jaka Tarup lan poro pekathike teko)&lt;br /&gt;JAKA TARUB : He, kisanak, sampean ki sopo, cah wadon ayu-ayu kok tetangisan dewe nong pucuk gunung, ono opo, sajake kok sedhih banget. &lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Waduh mas keleresan, Mas opo sampean ngerti slendangku. Slendangku ilang mas.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : O alah mung slendang to sik ilang ki. Ngono wae le nangisi kok nganti koyo kelangan Bis.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Yo ojo ngemingke slendang to mas, slendang kuwi slendang ajaib. Iso nggo mebur.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Ha... ha.. sampean niku aneh to mbak, endi ono slendang iso nggo mebur. Nek arep mebur ki yo nganggo Pesawat Merpati, Garuda, opo Buroq ngono lho. Aneh mbak sampean ki. &lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Tenan mas, iku slendang jimatku. &lt;br /&gt;JAKA TARUB : Kok jimat, tambah lunyu sampeanki. La jane sampean ki sopo. Rumangsaku nong gunung kene ki ra ono garukan.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Hus, sampean ki jan menghina tenan. Padhakke bencong wae. Mas, jane aku ki widodari yo mas. Mau sedulurku cacah enem wis podho bali. Aku ditinggal, la ora iso mabur. Mulane tulung golekke slendangku mas.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : We la blaik ane. Jebule sampean ki widodari to. Wis ngene wae mbak, saiki wis wengi. Gandeng sampean ora iso bali nong kayangan, apike sampean saiki melu aku wae, aku yo urung duwe pacar kok mbak. Cah kene nakal-nakal lho mbak, nek sampeyan ora nurut omonganku, aku ora njamin iso slamet. Piye gelem ora. Nek ora gelem aku tak bali ndisik selak wengi (banjur ethok-ethok arep lungo)&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Sik, sik to Mas, ojo kesusu ngono, mase ki ora sabaran ngono lho (sinambi nyeret tangane Jaka Tarub) Yo yen ngono aku manut. Tapi emoh aku nek dijaili.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : We la, kok ora percoyo. Kowe bakl tak rawat sak apik-apike mbak. Opo malah tak dadekke bohoku.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Emoh mas, pacarmu we wis akeh kok.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : We, ora. Aku urung duwe pacar tenan. Mbok suer mbak. Yo wis kono. Kowe ndisiko karo rewangku. Aku tak beres-beres brangku ndisik&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Wo yoh nek ngono aku manut.&lt;br /&gt;(Nawang Wulan lan pekathik banjur lungo, Jaka Tarub terus beres-beres lan nyimpen slendang sik mau di colong)&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Weh, jan klakon rabi oleh widodari tenan aku. Bapak simbok rak seneng banget yen ngerti aku wis oleh jodho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MUSIK BATAL KAWIN P PROJEK&lt;br /&gt;(Jaka Tarub Jogetan, pak Dhalang yo melu-melu njoget, rombongan Koor semono ugo, melu njoget)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN VI&lt;br /&gt;MUSIK KUTUT MANGGUNG&lt;br /&gt;PAPAN : Omah Pak Ardi Sanggrah&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Mbokne, awake dhewe ki koyo dilelogo yo?&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Dilelogo kados pundi to pakne, kulo kok ora nyambung.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : La genah ngono lho. Lagi pirang menit kumpul karo anak lanang, iki malah wis ditinggal meneh. Dadi wong tuo jaman saiki ki jan angel yo mbokne.&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Wo, thole Jaka Tarub to. La niku rak mung tiru bapakne to Pak. Riyin njenengan nggih koyo ngoten to? Ndadak selak.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Hus, ojo ngono to mbokne. Gene kowe yo gelem karo aku.&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : La gelem no, ning kepekso.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : E, kowe ki kok malah aeng to mbokne. Njuk piye Jaka Tarub ki karepe. Bocah saiki ki cen aneh. Dikongkon rabi malah minggat. Wong tuwo ki gek kurang opo.&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : La enggih to pakne, Gek yo wong wadon koyo opo sik digoleki ki. Arep rabi wae ndadak reko-reko golek widodari barang. Mbok ngomong wae nek urung wani rabi, karuan wong tuo ki le mikirke.&lt;br /&gt;(Naliko Pak Ardi Sanggrah lagi rerasanan karo garwane, Jaka Tarub, Nawang Wulan, lan poro pekathike teko)&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Assalamu’alaikum,....&lt;br /&gt;PAK/MBOK ARDI : Wa’alaikum Salam, we la kowe ngger, tuwasne iki mau wis tak rasani neko-neko&lt;br /&gt;JAKA TARUB : La nggih koyo ngoten niku, lawong mriki niku niat golek jodho tenanan kok malah dirasani olo.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Yo ora ngono to Le, la bapak simbokmu ki yo bingung to ngerti kowe koyo ngono. La iki kowe kok malah nggowo cah wadon, e, cah wadon opo dudu to? La kuwi sopo, mentas ono garukan po?&lt;br /&gt;DALANG : Pak Ardi, sampeyan ki salah, kudune miturut skenarione, lare estri niku rupane ayu kinyis-kinyis. Pun dianggep mawon ayu tenan, arepo kahanane koyo ngono.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : We, ngoten to. Sori-sori pak Dhalang. Iyo le tak baleni. La cah ayu iki sopo, opo iki calon bojomu?&lt;br /&gt;JAKA TARUB : La njih meniko Pak calon kulo. Naminipun Nawang Wulan, widodari saking kayangan.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Leres Pak, kulo meniko asli bikinan kayangan, nami kulo Nawang Wulan.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Koyo ngene ki widodari Le?&lt;br /&gt;DHALANG : Pak Ardi, sampean ki kok ngeyel to. Di otar-aturi nek lare meniko ayu kinyis-kinyis kok mbandel. Opo Njaluk dipecat po piye?&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : He...He... iyo,... iyo,... lali aku.&lt;br /&gt;DHALANG : Lali opo nglali. Wong tuwo kok ngeyel.&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Iyo to pakne, ono cah ayune koyo ngene kok diarani elek. &lt;br /&gt;NAWANG WULAN : (ethok-ethok arep metu) Yo wis nek ra percoyo aku mulih wae.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Ojo ngono to nduk, La Bapak ki sik salah-salah terus. La njih meniko Pak, Mbok calon pendamping kulo. Pripun Mantep to. Gek sak niki ugi pokoke kulo nyuwun dikawinke, mangkih selak direbut pak Dhalang.&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : We, la kowe ki piye to Le, njaluk rabi kok koyo pesen Mie Ayam. Ngomong langsung dadi. La opo anggepmu ora nganggo persiapan barang po.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Pokokke mboten sah ngangge persiapan, selak kebelet niki lo Pak.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Yo sabar to kakang Jaka, wis to mengko tak servis sik sip.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Iyo diajeng. Mulo iku aku selak ora sabar. Pak Pripun, saget to?&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Yo arep piye meneh le, wis suwe wong tuwamu nunggu-nunggu kowe ndang duwe bojo. Senajan kesusu koyo ngopo Bapak yo sarujuk wae. Piye rak yo ngono to mbokne.&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : La ajeng pripun malih to pakne. Karang nek cah saiki ki ora kuwatan nek kon nahan. Nek wis kadung kebelet, senenge nabrak-nabrak.&lt;br /&gt;PAK ARDI SANGGRAH : Yo ngene wae, saiki ayo kabeh podho toto, yo sak rasa-rasane wong ndadak kabeh. Yen ngono ayo podho&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN VII&lt;br /&gt;MUSIK ELING&lt;br /&gt;MUSIK KODOK NGOREK.&lt;br /&gt;PAPAN : Kayangan &lt;br /&gt;DHALANG : Anyambung crito kang wus kepungkur, sang Dewo arerasan ngenani putrine sik lagi lungo ngulondoro ing ngalam donya. Penggalihe podho ora kepenak amarga durung ono khabar soko poro putrine. Injih meniko cariosipun...&lt;br /&gt;DEWO : Diajeng, wus pirang-pirang ndino putri-putrine dewe podo nguondoro mudhun ing ngalam donya, kenopo kok yo ora podho kabar-kabar. Wong tuwo ki rak yo miki  terus.&lt;br /&gt;DEWI : La injih to Kangmas, sinaosa widodari ananging wonten ngalam donya meniko sak niki rak mboten aman to Pak. Kulo mireng rawat-rawat kabar mbok bakul sinambi woro. Jarene sakniki peta politik ten Indonesia lagi memanas. Nopo niku sik jarene skandal Bank Century niko lho. La mangkih gek putra putrine awake piyambak dikatut-katutke rak malah repot, Dadi kriminalisasi kayangan no mengko.&lt;br /&gt;DEWO : Hus, sliramu ki kok tekan sik semono. Ojo neko-neko kowe ki. Opo apike aku nusul po piye yo?&lt;br /&gt;DEWI : Njih ampun to kangmas, mengkih malah njenengan dikiro Anggoro. Disel kulo sik cotho.saiki apike diajeng.&lt;br /&gt;DeWO : La njuk piye &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dumadakan poro Putri Kayangan podho jerit-jerit, sajak kesusu ngadep kanjeng ramane)&lt;br /&gt;WIDODARI : Waduh ketiwasan Romo, ketiwasan,....&lt;br /&gt;DEWO : Ketiwasan piye to ngger. La Endi Nawang Wulan Kok ora melu bali. Ono Opo.&lt;br /&gt;NAWANG SARI : La njih meniko wau romo, kolo wau naliko kulo sami adus wonten ing sendang, slendangipun Nawang Wulan Ical. Dados njih mboten saget wangsul mriki malih. Lajeng kulo tilar, lawong selak dalu kok.&lt;br /&gt;DEWO : La rak tenan to, ndisik rak Romo wis wanti-wanti menowo kudu ngti-ati. La Kowe-kowe kabeh podho ora nggugu marang wong tuwo. Dadi Widodari kok podho pethakilan, ora njogo jenenge wong tuo. La njuk piye menowo Nawang wulan dimaongso kewan alas? Mau ki rak yo digoleki ndisik, ojo kesusu di tinggal. Jan ra urus tenan kowe kabeh.&lt;br /&gt;NAWANG SARI : Nggih ampun duko ngaten romo, Mosok dewo kok ora iso nahan howo nepsu.&lt;br /&gt;DEWO : Hus, kowe ki malah mulang. Dewo ki yo duwe hati nurani. Nek ono kahanan ngene ki sopo wae mesti duko. Saiki njuk piye nek koyo ngene iki. Piye diajeng, aku jan budrek tenan. Kumat darah tinggiku, aku wedi yen nganti struk. Wis sak karep dalange wae, aku arep lungo. Bubar, ayo bubar kabeh.&lt;br /&gt;DHALANG : Jojo bang mawingo-wingo, sang dewo duko kepati-pati, pirso putri kesayangane ilang ing alam donya, dianggep musno amblas, koyo kelelep lumpur Lapindo Brantas ing Sidoarjo. Ananging gandheng wekdalipun mboten wonten, kedadean ing kayangan meniko mboten dipun terusaken. Punthel, tugel, penonton piambak kulo aturi nerusakaen. Layar kayangan katutup, dipun gantos pahargyan pengantenan antawisipun Jaka Tarub lan Nawang Wulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN VIII&lt;br /&gt;MUSIk GEBOK GIRO&lt;br /&gt;DHALANG : Poro pamirso sedoyo ingkang dahat kinormatan. Mboten kanyono-nyono Jaka Tarub sampun pikantuk Jodho nipun, injih animas Ayu Nawang Wulan, widodari ingkang mandhap sangking kayangan. Pinurwakan munjuk mujo, muji syukur wonten ing ngarsanipun pangeran, monggo kito sami kito awiti pahargyan meniko kanthi manah ingkang lejar, sampun ngantos wonten ingkang amenggalih ribet. Pinongko pambukaning pahargyan meniko, monggo samangkih kito pirsani pahargyan saking sederek Mio sak rencang, ingkang badhe ngaturaken lampah Kuda Lumpingan. Sugeng midhangetaken ngantos paripurnaning pahargyan.&lt;br /&gt;(Penganten diarak mlebu ono ing panggung sinambi mirsani hiburan  nganti rampung pahargyan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALANG : Sampun paripurno pahargyan adeging panganten wonten dinten meniko. Kanthi kepekso, adhegan bulan madhu mboten dipun peragakaken.&lt;br /&gt;Koor : Pak Dhalang berarti sampung rampung to tugas kulo.&lt;br /&gt;DHALANG : we la urung No. Kowe kabeh ki kepatah nganti rampung crito. Kapok ora. Yo saiki kanggo tombo keju kowe kabeh oleh seneng-seneng. Kono kon nyetelke dangdut karo mas subar gek podho jejogetan. Aku yo kesel je. Ora popo, aku yo arep melu njoget.&lt;br /&gt;MUSIK DANGDUT. &lt;br /&gt;Ing sak tengah-tengahing jejogetan, kanthi kesusu Pak Ardi mlebu panggung.&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : E, e, e... mandheg-mandheg, Pak dhalang, sampean niku pripun to. Urung rampung critane kok malah seneng-seneng. Jane ngerti aturan mboten to sampean niku.&lt;br /&gt;DHALANG : We, la kok ora ono udan ora ono mendhung, kok teko-teko duko ki ono opo. LA aku ki rak gur manut sutradara to mBok. Dhalang ki posisine isih nong ngisore sutradara, ngerti mboten.&lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Wo ngaten to. La tak kiro wis rampung, nggih empun nak ngaten.&lt;br /&gt;DHALANG : Yo kono, gek mlebu aku arep ngrampungke crito ndisik. &lt;br /&gt;MBOK ARDI SANGGRAH : Wo njih pak Dhalang Manang Munung.&lt;br /&gt;DHALANG : Hus, sak-sake kowe ki nek ngomong. (Pak dhalang bali ing panggonane) Carios sak lajengipun. Pitung tahun sampun kapengker, Jaka Tarub amangun urip bebrayan kaliyan Nawang Wulan.  Linambaran roso tresno asih ing antawisipun kekalihipun, Gesangipun bebrayan Jaka lumampah kanthi atut runtut, ayom, ayem, toto titi tentrem. Minongko wohing pepasihan lan tondho tresno Jaka lan Nawang Wulan, piambakipun sampun kaparingan momongan, pun genduk Ayu Wulandari Asmanipun. Ananging sak sae-sae nipun Jaka ambungkus bangke, tetep kemawon saget kaconangan dening kawontenan. Makaten cariosipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADEGAN IX &lt;br /&gt;MUSIK DANGDUT CUMA KAMU&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Diajeng, ora rinoso yo wis pitung tahun awake dhewe jejodhoan, Kakang seneng banget iso nyanding sliramu. Delengen putrine dewe, duh ayune koyo ibune.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : (SINAMBI NGGLENDHOT ONO PUNDHAKE JAKA TARUB) La iyo to mesthi to kakang, la wong ibune ayune koyo ngene, mesthi wae anake yo ayu to.  Ananging aku kok saiki duwe roso kangen karo kanjeng ramaku ing kayang yo. Piye yo kakang carane kanggo ngilangi roso kangen iki. &lt;br /&gt;JAKA TARUB : Yo oleh-oleh wae diajeng kowe kangen karo wong tuwamu, nanging arep priye maneh. Ndang pupusen to, kowe wis ora mungkin bali nong kayangan.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Aku ki yo wis mupus kang, nanging sik dadi bingungku ki, gek sopo yo sik nyolong slendangku ndisik, kok yo tegel-tegele.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Wis to nduk, ojo dipenggalih meneh, malah gur gawe sedhihing atimu. Saiki kowe masako ndisik. Aku selak ngelih.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Uwis kakang, iki gur kari umbah-umbah, mulo kowe tak tinggal nong kali ndisik yo. Tulung aku nitip geni nong pawong, disugokke kayune ndak mati. Nanging welingku, ojo pisan-pisan kowe mbukan kendil yo yen dudu aku sik mbukak, mengko ndak ono kedadean sik ora apik.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Iyo, iyo dhiajeng.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN :  Yo nek ngono aku pamit kangmas, tenan lho ojo diterak welingku, menowo kok terak aku ora tanggung jawab resikone. (Nawang Wulan Banjur mangkat nong kali)&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Kok ora koyo padatane, ngopo kok Wulan welingan koyo ngono. Ojo-ojo Wulan wis ngerti menowo aku sik nyolong slendange. Sikape kok nganeh-anehi. Aku kok penasaran tenan. Wis lah ra popo coba tak bukake kendhile. (Jaka tarub banjur mbukak Kendhile) Lho (kaget) kok isine mung watu. Jan ra urus tenan Wulan ki, la wong lanang kok kon mangan watu.&lt;br /&gt;(tanpo kanyono-nyono, Nawang Wulan teko karo bengok-bengok)&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Kakang Jaka, kok kowe mblenjani janjimu to kang. Aku ki widodari yo kang, aku ngerti lan kroso menowo kowe ora jujur. Kowe wis nerak wewalerku. (nangis sesenggukan) Saiki wis ilang kabeh kasektenku kakang, Awake dhewe kudu urip koyo bangsamu. Ilang, ilang tenan kasektenku. Awake dhewe bakal urip mlarat kang. Gek kepriye yen ngene iki.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Duk yayi tuwasno iki mau aku arep muring karo kowe, mergo kowe gur adang watu. Aku nyesel banget yayi. Apuranen aku yo.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN :  Senajan aku ngapuro kowe nanging tetep wae kasektenku tetep ora iso bali. Saiki gek piye, berase wis ra ono meneh, aku kudu nutu pari. Mulo soko iki, kowe kudu siap dadi wong mlarat, kayune yo wis entek, kowe ndang goleko kayu aku tak nutu, galo ananke wis nangis ngelih.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Iyo diajeng, aku manut (Terus lungo golek kkayu)&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : (AREP NJUPUK PARI DI TUTU ONO IN LUMBUNG Ananging sepiro kagete naliko arep njupuk pari, Nawang wulan weruh slendange sik ndisik ilang) Lho, iki kok koyo slendangku sik ilang mbiyen yo. (dibukak bungkusan slendange) Iyo aku ora pangling, iki slendangku. Nanging sopo sik ndeleh kene? Ojo-ojo kang Jaka Tarub sik nyolong slendangku ndisik. &lt;br /&gt;(Slendang banjur di coba lan bener, kanthi slendang kuwi Nawang Wulan Biso Mabur)&lt;br /&gt;Nawang wulan dadi bingung antarane seneng, sedih, lan muring campur dadi siji)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALANG : Nawang Wulan Nemokake slendang ing tumpukaning pari&lt;br /&gt;  Wulan mbali dadi widodari&lt;br /&gt;  Kumleyang ing sak nduwuring lumbung, kandhang lan pendopo&lt;br /&gt;  Wulan ngancik purnama ping 24&lt;br /&gt;  Jaka Tarub momong anak&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Kakang Jaka, reneo kakang&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Ono opo diajeng?&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : ora diajeng, diajengan kang. Delengen sik nong pundhakku ki opo. Kenopo kowe tego kakakng ngapusi aku. Kowe tego ngapusi anakmu. Kasunyatane kowe to sik nyolong slendangku ndisik.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Aku njaluk ngapura Wulan, kabeh mau tak tempuh mergo aku tersno karo kowe. Nek ora kanthi coro kuwi aku ora mungkin dadi bojomu.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Nanging ora ngene carane kang. Yo wis aku iso ngapuro kowe, nanging gandheng aku wis nemokke slendangku, mulo aku kudu bali ing kayangan, urip karo sedulur-sedulurku. Iki minongko paukumanmu kakang.&lt;br /&gt;JAKA TARUB : Ojo diajeng, kowe ojo lungo. Kowe ojo bali nong kayangan, mesakne anakmu arep priye. Coba delengen iki anakmu.&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : Yo arep priye maneh kakang, kowe wis ora jujur karo aku, aku kudu lungo, bali marang wong tuwaku. (Banjur ngambung anake) wis yo nduk, ibu arep bali nong kayangan sik ngati-ati. Wis kakang, aku njaluk ngapuro, lan njaluk penegestu&lt;br /&gt;JAKA TARUB :  Kowe ojo lungo diajeng (karo sedhopok nagis)&lt;br /&gt;NAWANG WULAN : ora kakang, aku kudu lungo (banjur mabur ing kayangan)&lt;br /&gt;MUSIK ST 12&lt;br /&gt;JAKA TARUB NAGIS  ------ T A M A T&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-3851571332798041491?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/3851571332798041491/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=3851571332798041491' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/3851571332798041491'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/3851571332798041491'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2009/12/sebuah-lakon-parodi-satu-babak.html' title='SANDIWARA PARODI JAKA TARUB'/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-1032148090284708141</id><published>2009-12-09T17:27:00.000-08:00</published><updated>2009-12-09T19:54:30.515-08:00</updated><title type='text'>TUGAS FILSAFAT 2 - ONTOLOGI DIRI</title><content type='html'>Oleh Rohmad Widiyanto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;J&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;enang Abrit pethak puniko kangge nguri-uri lan mepetri Kyai Among, Nyai Among, Kyai Bodho, Nyai Bodho, injih sedherek kita ingkang lahir tunggil papan ingkang sanes panggenan ingkang momong badan seliranipun si ’A’. Menopo to wigatinipun dipun uri-uri lan dipepetri? Mboten sanes kejawi sampun ngantos nggothangi lan ngribeti sedoyo lampah kito wiwit dinten meniko ngantos sak piturut-piturutipun.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda pernah mengikuti kenduri di sebuah pedesaan masyarakat jawa. Kalimat itu tidaklah asing di telinga. Setiap awal kenduri (apapun niat kenduri itu) pasti kata-kata itu selalu diucapkan oleh pak Kaum (modin). Jenang abrit pethak (merah-putih) adalah bagian utama dari seluruh rangkaian prosesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam terminologi Jawa, di kenal istilah Jenang Merah Putih dalam setiap penyelenggaraan ritual “kenduri” (=baca selamatan). Jenang yang secara kasat mata hanya berupa perpaduan antara nasi putih dan nasi putih yang telah dicampur dengan gula merah itu, ternyata memiliki makna persembahan yang amat penting dalam perjalanan ritual itu. Sebuah kenduri-an tidak dapat dikatakan syah jika tanpa itu. Jenang merah putih bahkan menjadi bagian utama dari sejumlah ’persembahan’ lainnya. Ia adalah pembuka dan penutup doa ritual.&lt;br /&gt; Jenang merah putih (=abrit pethak dalam bahasa Jawa) dimaknai sebagai persembahan bagi kyai Among, dan Nyai Among, yang menjaga diri pribadi si empunya hajat. Seperti terlihat dalam kutipan kalimat uraian makna jenang oleh Bapak Kaum (penyampai niat dan pembaca doa dalam kendurian di Jawa) sebagai berikut: ”Jenang abrit pethak meniko kangge nguri-uri lan mepetri Kyai Among, Nyai Among, Kyai Bodho, Nyai Bodho, injih sedherek kita ingkang lahir tunggil papan ingkang sanes panggenan ingkang momong badan seliranipun si ’A’, sampun ngantos nggothangi lan ngribeti wiwit dinten meniko ngantos sak lajeng-lajengipun” dst... Dari penggalan tersebut bisa dimaknai bahwa jenang Merah Putih adalah sebuah persembahan untuk menghormati Kyai Among, Nyai Among, Kyai Bodho, dan Nyai Bodho, sosok imajiner yang menjaga dan melindungi ”si A” (atau seseorang) dari segala macam gangguan dan godaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ranah filsafati, konsep Kyai Among, Nyai Among, Kyai Bodho, dan Nyai Bodho bisa disejajarkan dengan ”si A  yang bukan A”. Dalam konteks ini ”si A yang bukan A” lebih berperan sebagai subjek atas ”si A”. Sedangkan ”si A” hanyalah Objek belaka. Dia selalu mengendalikan, menjaga dan selalu melindungi ”si A” dari segala macam mara bahaya yang akan menimpa ”si A”, bahkan semua yang dilakukan ”si A” di bawah kendalinya. Jika ”si A yang bukan A” sakit, maka ”si A” juga akan sakit. Ini pula yang menjadi dasar pengobatan versi orang pintar (=baca dukun) jika ”si A” sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan di atas kini mulai meredup, pudar oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mengedapankan logika. Tingkat kepercayaan orang mengenai ”si A yang bukan A” pun tak seperti dalam ilustrasi di atas. Pembahasan mengenai kesejatian diri pun kini merambah dunia logika dengan psikoanalisisnya. Benarkah dalam diri ”si A” memiliki ”pelindung diri”  dari ”si A yang bukab A”?. Dapatkah konsep ini bisa disejajarkan dengan konsep ‘jiwa’ dan ‘raga’ Salah satu rujukan yang bisa disejajarkan dengan pandangan di atas barangkali tak salah bila disebutkan bahwa Sigmund Freud lah yang paling relefan.&lt;br /&gt; Sigmun Freud, dalam uraiannya tentang jiwa dan raga, yang sadar dan yang bawah sadar, menyimpulkan bahwa jiwa merupakan gabungan keseluruhan dari proses konatif serta proses kognitif yang terdapat dalam tingkatan yang-sadar dan yang-di bawah sadar. Dalam raga setiap individu terdapat jiwa. Jiwa memiliki peranan yang amat besar dalam segala pikiran dan tingkah laku raga. Dengan kata lain jiwa mengendalikan raga. Setiap bentuk keputusan dan tindakan raga pada dasarnya dikendalikan oleh jiwa, baik secara sadar maupun di bawah sadar. Tentang bagaimana  jiwa bisa mempengaruhi raga, masih menjadi teka-teki dan sulit mencari jawabannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Freud, jiwa seseorang terdiri dari id, ego, dan superego, yang di dalamnya terdapat segenap kegiatan jiwa manusia berupa dorongan konatif serta proses-proses kognitif . Id dan nafsu-nafsunya. Merupakan lapisan paling  bawah jiwa manusia, terdiri dari nafsu-nafsu bawaan. Dua diantaranya adalah mempunyai peranan penting sekali, yaitu libido atau nafsu kelamin dan nafsu agresif. Id merupakan tempat kedudukan nafsu-nafsu, yang menurut maslow dikatakan sebagai nafsu kebinatangan. Nafsu-nafsu tersebut  berusaha menyembul ke permukaan tingkat kesadaran, sehingga dapat  terjelma. Terjelmanya nafsu ke dalam bentuk aksi individu, merupakan bukti konkrit, bahwa jiwa berpengaruh besar terhadap raga. Sayang sekali Freud tidak bisa menjelaskan bagaimana proses pengaruh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jiwa kedua menurut Freud adalag ego atau “aku”. Ego merupakan hasil terjadinya pertentangan antara prinsip dengan kenyataan yang terdapat dalam sesuatu ruang da waktu tertentu. Ego meliputi hampir segenap kesadaran manusia dan bertugas melakukan penyaringan terhadap nafsu-nafsu yang diijinkan muncul dari id yang meunjukkan sikap “keaku-an” diri invdividu. Dia juga bertugas menekan kembali nafsu-nafsu yang bersifat merusak. Dapat dikatakan bahwa ego merupakan semacam perantara yang terdapat diantara nafsu-nafsu di dalam id dengan dunia luar yang terdiri dari kenyataan material serta &lt;a id="publishButton" class="cssButton" href="javascript:void(0)" target="" onclick="if (this.className.indexOf(&amp;quot;ubtn-disabled&amp;quot;) == -1) {var e = document['stuffform'].publish;(e.length) ? e[0].click() : e.click(); if (window.event) window.event.cancelBubble = true; return false;}"&gt;&lt;div class="cssButtonOuter"&gt;&lt;div class="cssButtonMiddle"&gt;&lt;div class="cssButtonInner"&gt;Terbitkan Entri&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/a&gt;kemasyarakatan.&lt;br /&gt; Jiwa ketiga manusia adalah superego. Merupakan sejenis perantara yang menghubungkan id dengan perangkat cita-cita yang dipunyai manusia. Ketika manusia mengalami kemajuan dalam kehidupannya, ia tidak hanya berhasil mengembangkan cara-cara untuk menghadapi kenyataan, melainkan melalui masyarakat ia telah menetapkan seperangkat kaidah serta cita-cita yang merupakan bagian dari segi khidupan kejiwaan manusia. Dengan kata lain, superego merupakan pengendali ego manusia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-1032148090284708141?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/1032148090284708141/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=1032148090284708141' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/1032148090284708141'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/1032148090284708141'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2009/12/tugas-filsafat-2-ontologi-diri.html' title='TUGAS FILSAFAT 2 - ONTOLOGI DIRI'/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-9100334020597494896</id><published>2009-11-30T18:38:00.000-08:00</published><updated>2009-12-09T17:33:15.693-08:00</updated><title type='text'>TUGAS FILSAFAT 1 - BAHASA SEHAT DAN BAHASA SAKIT DALAM KACA MATA FILSAFAT</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rohmad Widiyanto&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Definisi tentang bahasa amatlah beragam. Keberagaman tersebut diakibatkan oleh adanya perpedaan cara pandang tentang bahasa. Salah satu definisi bahasa yang paling banyak disinggung oleh berbagai kalangan yang berbeda latar belakang ilmu yang dimiliki adalah definisi menurut aliran Struktural. Menurut aliran ini, bahasa merupakan sistem tanda arbitrer yang konvensional. Dikatakan sebagai suatu sistem, karena bahasa mengikuti ketentuan-ketentuan atau kaidah-kaidah yang teratur. Dikatakan arbitrer, karena hubungan antara penanda dan petanda (bentuk dan makna, =signifiant, signifie) bersifat semena-mena, namun kesemena-menaan itu masih dibatasi oleh kesepakatan antarpenutur. Makna suatu bahasa sesungguhnya bersifat kesepakatan antarpenutur (konvensional). Lebih lanjut menurut aliran ini, bahwa hanya ujaran saja lah yang dapat dikatakan sebagai bahasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Menurut pandangan di atas, menyiratkan bahwa sesungguhnya tidak ada kata salah dalam berbahasa jika antar sesama penutur itu telah saling memahami makna bahasa yang dipergunakan dalam berkomunikasi. Namun, jika antara penutur satu dengan penutur yang lain terjadi ketidaksepahaman dalam memahami bahasa yang dipergunakan, berarti ada ’permasalahan’ dalam penggunaan bahasa tersebut. ’Permasalahan’ itulah yang menjadi tugas para ahli bahasa untuk menganalisanya dalam tataran ilmu ’bicara tentang bahasa’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Tatkala kita ’berbicara tentang bahasa’, muncul lah istilah ’salah’ dan ’benar’ dalam berbahasa, karena pada bagian ini, bahasa akan dikupas tuntas dalam berbagai aspek dan sudut pandang. Dari kata ’permasaahan’ itu pula rupanya yang melahirkan berbagai variasi pandangan tentang bahasa. Satu hal yang barangkali belum disadari oleh para ahli bahasa, bahwa tak satupun pengguna bahasa yang dengan sengaja melakukan kesalahan dalam berbahasa. Kesalahan berbahasa muncul tatkala bahasa tersebut dimaknai oleh orang lain. Dengan kata lain, kesalahan berbahasa lebih disebabkan oleh kerancuan makna yang ditimbulkan oleh perbedaan penafsiran makna antara penutur dan petutur. Jika digambarkan dalam sebuah diagram, kurang lebih demikian:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1026" style="'position:absolute;"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="';font-size:6.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="';font-size:11.0pt;"&gt;KONSEP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:oval&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1027" style="'position:absolute;left:0;"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'mso-bidi-;font-family:font-size:12.0pt;font-size:7.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;CARA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:oval&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1028" style="'position:absolute;left:0;"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'mso-bidi-;font-family:font-size:12.0pt;font-size:8.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;MAKNA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:oval&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t13" coordsize="21600,21600" spt="13" adj="16200,5400" path="m@0,l@0@1,0@1,0@2@0@2@0,21600,21600,10800xe"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="val #0"&gt;   &lt;v:f eqn="val #1"&gt;   &lt;v:f eqn="sum height 0 #1"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 10800 0 #1"&gt;   &lt;v:f eqn="sum width 0 #0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @4 @3 10800"&gt;   &lt;v:f eqn="sum width 0 @5"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path connecttype="custom" connectlocs="@0,0;0,10800;@0,21600;21600,10800" connectangles="270,180,90,0" textboxrect="0,@1,@6,@2"&gt;  &lt;v:handles&gt;   &lt;v:h position="#0,#1" xrange="0,21600" yrange="0,10800"&gt;  &lt;/v:handles&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1029" type="#_x0000_t13" style="'position:absolute;"&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1030" type="#_x0000_t13" style="'position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:252pt;"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td width="47" height="10"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SxSEEmc3wJI/AAAAAAAAAE0/DrBfkJMEkFk/s1600/rm.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 58px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SxSEEmc3wJI/AAAAAAAAAE0/DrBfkJMEkFk/s320/rm.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410094266954793106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Dari diagram diatas ’Konsep’ merupakan unsur dalam (deep structure) dari penutur, sedangkan ’cara’ adalah perwujudan dari bahasa yang muncul dalam berbagai bentuk (verbal. Nonverbal – lisan atau tertulis) sedangkan ’makna’ merupakan perpaduan dari ’konsep’ dan ’cara’. Antara ’konsep’ dan ’cara’ seringkali tidaklah sama, namun maknanya bisa jadi sama dengan ’konsep’ atau sama dengan ’cara’. Contoh dari argumen ini dapat dilihat dari diagram berikut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1031" style="'position:absolute;"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="';font-size:6.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="'text-align:center'"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="';font-size:11.0pt;"&gt;tidak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:oval&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1032" style="'position:absolute;left:0;"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'mso-bidi-;font-family:font-size:12.0pt;font-size:7.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'font-family:"&gt;Geleng kepala&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:oval&gt;&lt;v:oval id="_x0000_s1033" style="'position:absolute;left:0;"&gt;  &lt;v:textbox&gt;   &lt;![if !mso]&gt;   &lt;table cellpadding="0" cellspacing="0" width="100%"&gt;    &lt;tr&gt;     &lt;td&gt;&lt;![endif]&gt;     &lt;div&gt;     &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'mso-bidi-;font-family:font-size:12.0pt;font-size:11.0pt;"&gt;Tidak,     jangan&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style="'mso-bidi-font-weight:normal'"&gt;&lt;span style="'mso-bidi-;font-family:font-size:12.0pt;font-size:15.0pt;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;     &lt;/div&gt;     &lt;![if !mso]&gt;&lt;/td&gt;    &lt;/tr&gt;   &lt;/table&gt;   &lt;![endif]&gt;&lt;/v:textbox&gt; &lt;/v:oval&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1034" type="#_x0000_t13" style="'position:absolute;"&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1035" type="#_x0000_t13" style="'position:absolute;"&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td width="23" height="11"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr&gt;   &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SxSEEmc3wJI/AAAAAAAAAE0/DrBfkJMEkFk/s1600/rm.bmp"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SxSEyLgoKNI/AAAAAAAAAE8/J-OfUdV8zag/s1600/rm2.bmp"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 320px; height: 61px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SxSEyLgoKNI/AAAAAAAAAE8/J-OfUdV8zag/s320/rm2.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410095049996773586" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Berkenaan dengan ’sehat’ atau ’sakitnya’ bahasa, dalam tataran struktural, sesungguhnya tidak ada istilah itu. Analogi yang bisa dilakukan, bahasa dikatan sehat, jika tidak menimbulkan ’permasalahan’, dan bahasa dikatakan sakit jika menimbulkan ’permasalahan’. Tanpa ’permasalahan’ berarti antar penutur dengan petutur telah terjadi suatu ’intergibility’. Ada ’permasalahan’ berarti antara penutur dengan petutur belum menemukan kesepahaman bahasa. Jadi konsep sehat dan sakitnya suatu bahasa lebih ditentukan pada ada tidaknya kesepahaman ’makna’ antara petutur dan penutur.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Dalam perkembangannya, bahasa mengalami kemajuan yang sangat spektakuler terutama pada tataran ’CARA’. Manifestasi sebuah ’konsep’ menjadi amatlah beragam. Keberagaman itu jumlah amat banyak. Antara individu satu dengan yang lainnya memiliki perbedaan ’cara’ untuk memanifestasikan ’konsep’. Keberagaman juga sekaligus menunjuk pada sebuah jati diri (=identitas) pribadi yang membedakan antara satu individu dengan yang lainnya. Dalam tataran fragmatig, masing-masing individu memiliki kebebasan dalam ber-’cara’. Pada sudut ini sesungguhnya tidak ada istilah ’salah’ dan ’benar’, tidak ada istilah ’sakit’ dan ’sehat’ dalam berbahasa, karena masing-masing individu memiliki pertimbangan tersendiri dalam ber-’cara’ sebagai bagian dari ’pencarian’ jati diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;’Cara’ adalah salah satu bentuk dari pilihan yang telah dipertimbangkan dengan masak untuk memanifestasikan sebuah ’konsep’.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebelum sampai pada penentuan sebuah pilihan ’cara’, masing-masing individu telah mempertimbangkan latar belakang, alasan dan tujuannya dengan cermat. Contoh konkretnya adalah ’matamu’ menjadi ’dagadu’. Tak ada satupun yang bisa mengklaim sebuah ’cara’ dikatakan ’sakit’ atau ’sehat’, ini adalah kekayaan yang menarik untuk diolah dalam tataran ’bicara bahasa’. Sakit itu indah, dan sehat itu menarik. Salah satu catatan yang mungkin perlu untuk diperhatikan, bahwa pilihan ’cara’ janganlah sampai mengaburkan ’makna’.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 45pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="SV"&gt;Rutam nuwun Kab. Iki halas enijiwas odholut owonem ’arac’ uki aro ana ngis halas, ongkem owonem ono natapmesek uka meleg&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;silun kis hiwul owod. Kap Marsigit rutam nuwun, anerak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kapab ayas idajnem kiratret rajaleb tafasfil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-9100334020597494896?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/9100334020597494896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=9100334020597494896' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/9100334020597494896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/9100334020597494896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2009/11/bahasa-sehat-dan-bahasa-sakit-dalam.html' title='TUGAS FILSAFAT 1 - BAHASA SEHAT DAN BAHASA SAKIT DALAM KACA MATA FILSAFAT'/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SxSEEmc3wJI/AAAAAAAAAE0/DrBfkJMEkFk/s72-c/rm.bmp' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-336786388750055495</id><published>2009-11-24T17:49:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T17:49:28.632-08:00</updated><title type='text'>Means of Global: Elegi Menggapai Sastra Jawa</title><content type='html'>&lt;a href="http://powermathematics.blogspot.com/2009/11/elegi-menggapai-sastra-jawa.html"&gt;Means of Global: Elegi Menggapai Sastra Jawa&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-336786388750055495?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://powermathematics.blogspot.com/2009/11/elegi-menggapai-sastra-jawa.html' title='Means of Global: Elegi Menggapai Sastra Jawa'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/336786388750055495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=336786388750055495' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/336786388750055495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/336786388750055495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2009/11/means-of-global-elegi-menggapai-sastra.html' title='Means of Global: Elegi Menggapai Sastra Jawa'/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-5674456784274713125</id><published>2009-11-16T18:28:00.000-08:00</published><updated>2009-11-16T18:34:20.530-08:00</updated><title type='text'>PROFESIONALISME GURU</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:18;"&gt;MENUJU GURU YANG PROFESIONAL&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="NO-BOK"  style="font-size:14;"&gt;Disusun dan untuk Bahan Diskusi pada Forum &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Temu Ilmiah Guru Nasional di Universitas Terbuka &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;Jakarta, 7 s.d. 8 Agustus 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" wrapcoords="-128 0 -128 21472 21600 21472 21600 0 -128 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\pasca\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.emz" title="" croptop="2841f" cropbottom="3551f" cropleft="2925f" cropright="1737f"&gt;  &lt;w:wrap type="through"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Disusun Oleh:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Nama&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Rohmad Widiyanto, S.Pd&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;NIP &lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;19700624 199801 1 001&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Tugas&lt;span style=""&gt;                   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mengajar MP Bahasa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;Unit Kerja&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;SMA Neg&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;eri 3 Sampit, &lt;st1:place st="on"&gt;Kalimantan&lt;/st1:place&gt; Tengah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;Alamat&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jln. Gunung Kerinci No. 2 Sampit &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 108pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:14;"&gt;Kalimantan Tengah 74322 Phone 0531 24133&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:14;"&gt;E-mail&lt;span style=""&gt;         &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:14;"&gt;&lt;a href="mailto:rohmadwidiyanto@rocketmail.com"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);" lang="ES"&gt;rohmadwidiyanto@rocketmail.com&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:14;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:14;"&gt;Blog&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:14;"&gt;Jakarta, 7-8 Agustus 2009&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;KATA PENGANTAR&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Puji syukur yang tak terhingga,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena makalah yang berjudul &lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;Menuju Guru Yang Profesional&lt;span style=""&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;dapat terselesaikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Standar Nasional Pendidikan, adalah sebuah rambu-rambu dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Implementasi dan pelaksanaannya masih perlu mendapat kajian yang komprehensif dari segenap unsur yang terkait dengan dunia pendidikan. Khususnya yang menyangkut kualifikasi dan profesinalisme Guru dalam menjalankan tugas pun juga perlu terus ditafsirkan dan diskusikan bersama. Tujuan akhirnya adalah, menciptakan guru Indonesia yang profesional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Makalah ini disusun dengan menggunakan sistematika penulisan yang amat sederhana. Yaitu hanya terdiri dari tiga bab. Hal ini dilakukan agar pemahaman terhadap karya tulis ini menjadi lebih mudah, sehingga kandungan isinya pun mudah pula dipahami. Makalah ini berisi konsep guru profesional sesuai tuntutan Standar Nasional Pendidikan, Kegiatan-kegiatan penunjang profesionalisme guru, serta MGMP sebagai menunjang profesionalitas Guru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Pada Kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;1.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Rektor Universitas Terbuka yang telah memberikan kepercayaan pada saya untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan Temu Ilmiah Guru Nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;2.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Kotawaringin Timur, yang berkenan mendukung saya untuk berpartisipasi dalam kegiatan Temu Ilmiah Guru Nasional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;3.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Kepala SMA negeri 3 Sampit yang telah mendukung dan memotivasi penulis untuk berpartisipasi dalam kegiatan Temu Ilmiah Guru Nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Ibarat pepatah &lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;tiada gading yang tak retak&lt;/i&gt;, penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Timbang saran dari berbagai pihak amat diperlukan guna perbaikan makalah ini. Semoga makalah yang singkat ini akan bermanfaat bagi banyak pihak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin-left: 252pt; line-height: 150%;"&gt;Sampit, 28 Juli 2009&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Penyusun&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 252pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-size:14;"&gt;DAFTAR ISI&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;table class="MsoTableGrid" style="border: medium none ; border-collapse: collapse;" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Halaman   Judul ……………………………………………………………………&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;i&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;KATAPENGANTAR   ………………………………………………………….....&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;ii&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;DAFTAR   ISI ……………………………………………………………………..&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;iii&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Abstrak   ……………………………………………………………………………&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;iv&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;BAB I PENDAHULUAN&lt;/b&gt;   ………………………………………………………&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;1&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;A.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dasar Pemikiran ………………………………………………………………&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;1&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;B.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Permasalahan …………………………………………………………………&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;3&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;C.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tujuan Penulisan ……………………………………………………………...&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;3&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;BAB II PEMBAHASAN&lt;/b&gt;   ………………………………………………………&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;4&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1. Konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;………….…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;4&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;2. Kegiatan-kegiatan yang Menunjang   Peningkatan Profesionalisme guru &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;.........&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;6&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;3. Peran MGMP dalam menunjang   profesionalitas Guru ………………………... &lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;8&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;BAB   III PENUTUP&lt;/b&gt;   ...............................................................................................&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;11&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;DAF&lt;span style="" lang="SV"&gt;TAR PUSTAKA   ...........................................................................................&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;12&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt;  &lt;tr style=""&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 400.25pt;" valign="top" width="534"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 5.4pt; width: 31pt;" valign="top" width="41"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:14;"&gt;MENUJU GURU YANG PROFESIONAL&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:18;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;Oleh : Rohmad Widiyanto, S.Pd&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;Abstrak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 18pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Makalah ini disusun untu dipresentasikan dalam forum Temu Ilmiah Guru Nasional yang bertujuan bertujuan 1) Mendeskripsikan konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional Pendidikan, 2) Mendeskripsikan kegiatan-kegiatan yang menunjang peningkatan profesionalisme guru, 3) Mendeskripsikan peran MGMP dalam menunjang profesionalitas Guru.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Makalah ini disusun dengan menggunakan metode yang amat sederhana, sistematika penulisannya pun juga hanya terdiri dari tiga bab, yaitu Bab I Pendahuluan, Bab II Pembahasan, dan Bab III Penutup. Ketiga Bab tersebut merupakan sebuah alur pikir yang saling berhubungan.&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style=""&gt;Sesuai dengan tujuan tersebut, kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini &lt;b style=""&gt;1) Konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional&lt;/b&gt;. Sesuai tuntutan standar nasional seorang guru harus memiliki sejumlah kompetensi sebagai bekal menjalankan tugas-tugas keprofesionalannya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Standar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;sebagaimana tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005, &lt;b style=""&gt;2) Kegiatan-kegiatan yang Menunjang Peningkatan Profesionalisme guru &lt;/b&gt;Keprofesionalan seorang guru bisa dibangun dan diusahakan melalui berbagai jenis kegiatan. Jenis-jenis kegiatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi: &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt; &lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Pendidikan &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;b. Melaksanakan &lt;span style=""&gt;PBM dan Proses Bimbingan Siswa c. Pengembangan Profesi&lt;/span&gt; d. &lt;span style=""&gt;Penunjang PBM/Bimbingan. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3) Peran MGMP dalam menunjang profesionalitas Guru&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;BAB I PENDAHULUAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;A.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dasar Pemikiran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Secara tradisional sebutan profesi hanya diperuntukkan bagi jabatan dan bidang kerj&lt;/span&gt;a tenaga medis, hukum dan kependetaan. Guru pada perkembangannya dikatakan sebagai profesi karena jabatan dan bidang kerjanya memang memenuhi syarat untuk disebut sebagai suatu profesi. Jabatan dan bidang kerja guru bukan sekedar suatu cara untuk memperoleh nafkah atau mencari uang, tetapi suatu jabatan pelayanan bagi pemenuhan salah satu kebutuhan akan pendidikan. Selain itu jabatan dan bidang kerja guru memenuhi persyaratan profesi dalam pengertiannya sebagai jabatan dan bidang kerja yang menuntut pengetahuan dan kondisi khusus.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Tanpa guru, pendidikan hanya akan menjadi slogan muluk karena segala bentuk kebijakan dan program pada akhirnya akan ditentukan oleh kinerja pihak yang berada di garis terdepan yaitu guru. “&lt;i style=""&gt;No teacher no education, no education no economic and social development&lt;/i&gt;” demikian prinsip dasar yang diterapkan dalam pembangunan pendidikan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Vietnam&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; berdasarkan amanat Bapak bangsanya yaitu &lt;i style=""&gt;Ho Chi Minh&lt;/i&gt;. Guru menjadi titik sentral dan awal dari semua pembangunan pendidikan. Di Indonesia, saatnya kini untuk membuat kebijakan dengan paradigma baru yaitu membangun pendidikan dengan memulainya dari subyek “guru”. Tanpa itu semua dikhawatirkan mutu pendidikan tidak sampai pada cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pengembangan sumber daya manusia. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005, disebutkan bahwa prinsip profesionalitas dari profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;1. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealism.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;2.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;3.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;4.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;5.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;6.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;7.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;8.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;9.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Memeiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk dapat menjamin integritas profesionalnya dalam berbagai segi hubungan, seorang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru sebagai tenaga edukatif secara profesional terikat oleh moral (baik terhadap anak didik, institusi, maupun teman sejawat), serta berbagai sikap etis profesi yang antara lain sebagai berikut:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;1.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Sikap Tanggung Jawab sebagai Pendidik&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Tanggung jawab ini meliputi tanggung jawab professional maupun sosial. Guru sebagai tenaga edukatif&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dibedakan dari tenaga administrasi, karena peran pokoknya sebagai pendidik. Pendidik berarti pengajar dan pembina. Kendati pendidikan tidak identik dengan pengajaran, namun pengajaran merupakan bagian hakiki dari pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah. Karena pengajaran penting dari tenaga mendidik, maka sikap dan tanggung jawab pendidik menuntut dikuasai dan dimilikinya hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan tugas kepengajaran. Untuk dapat dapat menjadi pendidik yang baik, seorang guru perlu dapat mengajar dengan baik. Untuk ini, pertama-tama guru dituntut menguasai bahan yang bukan sekedar mampu menghafal semalam sebelum disajikan di depan kelas. Menguasai bahan berarti memprogram, mengetahui, memahami, mampu menerapkan, mampu membuat analisa dan sintesis, serta mampu mengevaluasinya. Untuk itu sebagai konsekuensi dari semua itu, kepada guru dituntut harus membuat prosem, prota, Silabus, RPP, menyusun bahan ajar, melaksanakan PBM dengan berbagai metode, menyusun program dan melaksanakan evaluasi, pemeberian remedial dan pengayaan, menganalisis hasil evaluasi belajar siswa, serta menyusun PTK.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;Selain&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;penguasaan materi pelajaran dan pemilikan ketrampilan mengajar, termasuk dalam sikap tanggung jawab pendidik adalah adanya usaha untuk memiliki integritas dan kemakmuran sebagai seorang pendidik. Tidak semua orang pandai mempunyai kualitas sebagai pendidik. Karena dalam mendidik tidak hanya tergantung pengertian penataran pengetahuan tetapi juga melatih ketrampilan dan menanamkan nilai-nilai. Seorang pendidik diharapkan mampu memantau terbentuknya sikap dan pandangan hidup yang benar dalam diri peserta didik. Pendidikan nilai tidak dapat dilakukan melulu hanya secara kognitif dengan mengacu pada pemahaman nalar saja, tetapi juga perlu memperlihatkan dimensi &lt;i style=""&gt;afektif&lt;/i&gt; (menggerakkan hati) dan &lt;i style=""&gt;konatif&lt;/i&gt; (melatih kehendak) dalam diri peserta didik. Untuk ini keteladanan diri sendiri mempunyai peran penting. Dimensi keteladanan ini memang lebih mendesak pentingnya bagi pendidikan nilai di tingkat dasar dan menengah, karena pada masa ini merupakan masa pembentukan kepribadian anak menuju kedewasaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;2. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sikap Adil terhadap Siswa dan Lembaga Pendidikan Tempat Bekerja&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Sikap adil merupakan sikap etis yang paling dasar, karena dalam sikap ini terkait tuntutan minimal perwujudan sikap tanggung jawab. Sikap adil berarti sikap menghormati dan memberikan kepada orang lain apa yang menjadi haknya. Seorang guru bersikap &lt;b style=""&gt;tidak&lt;/b&gt; adil pada siswanya misalnya dalam pemberian tugas dan penilaiannya ia dipengaruhi oleh keterlibatan emosional (baik yang negative dalam bentuk sentimen pribadi maupun yang positif dalam bentuk penganakemasan) terhadap pribadi itu, yang oleh &lt;i style=""&gt;T Person&lt;/i&gt; dinyatakan ‘perlu ada pada pemegang setiap profesi’.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Bersikap adil terhadap lembaga pendidikan tempat guru bekerja berarti melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai dengan aturan pada masing-masing instansi. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;Memang sikap adil dari guru terhadap sekolah tempat ia&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bekerja biasanya dapat terjadi kalau diimbangi dengan oleh sikap adil pemerintah terhap gurunya. Kalau kesejahteraan guru sebagaimana menurut ukuran kewajaran yang dapat dituntut tidak diperhatikan, maka cukup sulit untuk mengharapkan agar para guru bersikap adil terhadap sekolah tempat ia bekerja.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sikap Cinta Terhadap Profesi dan Terhadap Ilmu yang Diajarkan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Berbeda dengan kedua sikap etis sebelumnya yang mengikat guru sebagai suatu kewajiban. Sikap etis yang ketiga lebih merupakan suatu kemajuan yang kalau dimiliki dapat menunjang pelaksaan tugasnya. Sikap cinta tidak pernah dapat dipaksakan, tetapi pantas untuk dikejar dan dicita-citakan serta diusahakan terwujudnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Seorang guru diharapkan mempunyai sikap cinta terhadap profesinya. Sikap cinta terhadap profesi akan mendorong munculnya semangat dan dedikasi dalam melaksanakan tugasnya yang diemban. Karena guru merupakan salah satu profesi yang tidak memiliki gengsi social tidak terlalu tinggi, tanpa adanya idealisme tidak banyak yang sungguh berminat menjadi guru. Karena tidak disertai kecintaan terhadapnya, kadangkala menjadikan profesi guru hanya sebagai sarana mencari nafkah dan bukan suatu cara hidup. &lt;/span&gt;(&lt;i style=""&gt;a way of making maney, and not way of life&lt;/i&gt;). Mencintai profesi sebagai guru berarti menemukan kebahagiaan hidup dalam mengajar, mendidik siswa dalam menyebar luaskan pengetahuan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;B.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Permasalahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;Sejumlah permasalah yang muncul berdasarkan dasar pemkiran di atas adalah:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;1. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Bagaimanakah konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;2.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Kegiatan-kegiatan apa sajakah yang menunjang peningkatan profesionalisme guru?&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;3.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Bagaimanakah peran MGMP dalam menunjang profesionalitas Guru?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;C.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tujuan Penulisan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;1. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mendeskripsikan konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional Pendidikan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;2.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Mendeskripsikan kegiatan-kegiatan yang menunjang peningkatan profesionalisme guru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Mendeskripsikan peran MGMP dalam menunjang profesionalitas Guru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: center; text-indent: -18pt;" align="center"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;BAB II.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;PEMBAHASAN&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Sesuai tuntutan standar nasional seorang guru harus memiliki sejumlah kompetensi sebagai bekal menjalankan tugas-tugas keprofesionalannya. &lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;color:black;" &gt;Standar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat &lt;/span&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;kompetensi utama, yaitu &lt;b style=""&gt;kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional&lt;/b&gt;. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. &lt;/span&gt;sebagaimana tertuang dalam &lt;b style=""&gt;PP nomor 19 tahun 2005&lt;/b&gt;, s&lt;span style="color:black;"&gt;eperti terlihat dalam uraian berikut.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="text-align: justify;color:black;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Kompetensi Pedagogik,      meliputi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;"  lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;"  lang="ES"&gt;Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;"  lang="ES"&gt;moral, spiritual, sosial, kultural, &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;"  lang="ES"&gt;emosional, dan intelektual&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;"  lang="ES"&gt;Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;"  lang="ES"&gt;yang mendidik&lt;/span&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;"  lang="ES"&gt;Mengembangkan kurikulum &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;"  lang="ES"&gt;yang terkait dengan mata &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;"  lang="ES"&gt;pelajaran yang diampu.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;" &gt;Menyelenggarakan &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;pembelajaran yang mendidik&lt;/span&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;5)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;"  lang="ES"&gt;Memanfaatkan teknologi &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;"  lang="ES"&gt;informasi dan komunikasi &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;"  lang="ES"&gt;untuk kepentingan &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;"  lang="ES"&gt;pembelajaran&lt;/span&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;6)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;"  lang="ES"&gt;Memfasilitasi pengembangan &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;"  lang="ES"&gt;potensi peserta didik untuk &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;"  lang="ES"&gt;mengaktualisasikan berbagai &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;"  lang="ES"&gt;potensi yang dimiliki.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;7)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;Berkomunikasi secara efektif, &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;empatik, dan santun dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;" &gt;peserta didik.&lt;/span&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.05pt;color:black;"  lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;8)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.05pt;color:black;"  lang="ES"&gt;Menyelenggarakan penilaian dan evaluasi proses dan hasil bela jar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.05pt;color:black;"  lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;9)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.05pt;color:black;"  lang="ES"&gt;Memanfaatkan hasil penilaian dan evaluasi untuk kepentingan pembelajaran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.05pt;color:black;"  lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;10)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.05pt;color:black;" &gt;Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.&lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.05pt;color:black;"  lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="2" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt;Kompetensi Kepribadian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;"&gt;1)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;" &gt;Bertindak sesuai dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;norma agama, hukum, sosial, &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;dan kebudayaan nasional &lt;/span&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;color:black;" &gt;Indonesia&lt;/span&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;color:black;" &gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;2)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;Menampilkan diri sebagai pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;peserta didik dan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;3)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;Menampilkan diri sebagai pribadi yang mantap, stabil, &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;dewasa, arif, dan berwibawa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;4)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;Menunjukkan etos kerja, &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;tanggung jawab yang tinggi, &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;rasa bangga menjadi guru, dan rasa percaya diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;5)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;" &gt;Menjunjung tinggi kode etik &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;profesi guru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;c.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Kompetensi Sosial&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;Bersikap inklusif, bertindak objektif, serta tidak diskriminatif karena pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;belakang keluarga, dan status &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;" &gt;sosial ekonomi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;Berkomunikasi secara efektif, &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;kependidikan, orang tua, dan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;Beradaptasi di tempat &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;" &gt;bertugas di seluruh wilayah &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;Republik Indonesia yang memiliki keragaman sosial &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.25pt;color:black;" &gt;budaya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;4)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;" &gt;Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;profesi lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="4" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;b style=""&gt;Kompetensi Profesional&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;1)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendukung &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;mata pelajaran yang diampu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;Menguasai standar &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;kompetensi dan kompetensi &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;dasar mata pelajaran yang &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.2pt;color:black;" &gt;diampu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;Mengembangkan materi &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;pembelajaran yang diampu &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;" &gt;secara kreatif.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;4)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;" &gt;Mengembangkan &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;keprofesionalan secara berkelanjutan dengan &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.1pt;color:black;" &gt;melakukan tindakan reflektif&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;5)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;color:black;" &gt;Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;color:black;" &gt;untuk mengembangkan diri.&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;          &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 15.85pt 0cm 0.0001pt 18pt; background: white none repeat scroll 0% 50%; text-align: justify; text-indent: 36pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;color:black;"  lang="SV"&gt;Di pihak lain yang juga bisa dijadikan acuan untuk membangun profesionalitas guru adalah pendapat yang disampaikan &lt;i style=""&gt;Michael Fullan &lt;/i&gt;(2006:3) dengan 3 terobosan baru dalam dunia pendidikan. Pemikiran tersebut bertujuan untuk membangun profesionalisme guru, yang terkenal dengan ”&lt;i style=""&gt;Tripel P Model&lt;/i&gt;”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;&lt;v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" spt="75" preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"&gt;  &lt;v:stroke joinstyle="miter"&gt;  &lt;v:formulas&gt;   &lt;v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 1 0"&gt;   &lt;v:f eqn="sum 0 0 @1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @2 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @0 0 1"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @6 1 2"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @8 21600 0"&gt;   &lt;v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight"&gt;   &lt;v:f eqn="sum @10 21600 0"&gt;  &lt;/v:formulas&gt;  &lt;v:path extrusionok="f" gradientshapeok="t" connecttype="rect"&gt;  &lt;o:lock ext="edit" aspectratio="t"&gt; &lt;/v:shapetype&gt;&lt;v:shape id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="'position:absolute;" wrapcoords="-135 0 -135 21318 21600 21318 21600 0 -135 0"&gt;  &lt;v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\pasca\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image001.emz" title="" cropright="1421f"&gt;  &lt;w:wrap type="tight"&gt; &lt;/v:shape&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/pasca/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.gif" shapes="_x0000_s1026" align="left" height="153" hspace="12" width="156" /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.05pt;color:black;" &gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;color:black;"  lang="SV"&gt;Personalisasi&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;color:black;"  lang="SV"&gt; adalah pendidikan yang “memposisikakan siswa sebagai pusat” (&lt;i style=""&gt;Leadbeater,2002, p. 1&lt;/i&gt;), atau dengan kata lain, &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;masing-masing individu siswa memiliki kedudukan yang amat penting dalam sebuah proses pembelajaran. Dalam proses ini siswa diharapkan mendapat perhatian yang khusus dalam mendapatkan pelajaran, serta terjaminnya kebutuhan motivasionalnya di setiap saat/momen. Siswa tidak dapat memperoleh hak ini jika guru hanya &lt;i style=""&gt;setengah-setengah&lt;/i&gt; dalam ”melayaninya”. Jika ingin menempatkan siswa sebagai pusat perhatian, guru hendaklah menangani secara &lt;i style=""&gt;all Out&lt;/i&gt;, menyeluruh dan berkesinambungan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;Precission, &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;teori penilaian dalam pembelajaran dipersiapkan dalam terminologi [yang] &lt;i style=""&gt;comprehensif&lt;/i&gt;. Beberapa tahun yang lalu sejumlah penulis mencoba menyampaikan hal ini. Sebagai contoh, &lt;i style=""&gt;Sadler&lt;/i&gt; (1989) yang mengembangkan jawaban atas dua permasalahan: (1) ketiadaan suatu teori umpan balik dan penilaian &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;dalam setting &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;pembelajaran yang kompleks, dan ( 2) kebingungan pengamatan pada guru pada saat memberikan pertimbangan penilaian pada siswa yang &lt;i style=""&gt;reliable&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;valid&lt;/i&gt; tentang hasil pekerjaan siswa dan usaha untuk meningkatkannya.&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style=";font-size:14;color:black;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;Sadler’S (1989) solusi utamanya adalah, memusatkan "bagaimana” pertimbangan tentang mutu tanggapan siswa ( capaian belajar, portofolio hasil karya atau pekerjaan) dapat digunakan untuk membentuk dan meningkatkan kemampuan siswa. Lebih lanjut &lt;i style=""&gt;Sadler&lt;/i&gt; menyampaikan, bahwa umpan balik itu menjadi kunci unsur penilaian perkembangan siswa, tetapi umpan balik hendaknya digunakan untuk mengubah kesenjangan dalam pelajaran. Untuk itu sebelumnya siswa harus: a) memiliki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;suatu konsep standard (atau &lt;i style=""&gt;goal&lt;/i&gt;, atau tingkatan acuan) tentang tujuan yang akan dicapai, ( b) berusaha membandingkan antara tingkat pencapaian hasil belajar dengan standard yang telah ditentukan, dan (c) mulai bertindak untuk meminimalis kesenjangan nilai antara mata pelajaran satu dengan yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Professional Learning.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt; Pembelajaran yang profesional adalah suatu alat utama untuk menerapkan perubahan: salah satu dari ketiga kunci standard strategis yaitu perubahan berbasis standar, dan perubahan bentuk proses perencanaan Akademis. Dalam hal ini Guru dituntut untuk selalu berinovasi dalam pembelajaran. Salah satu Implementasinya adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan terus mengkaji ulang semua perangkat pembelajaran dan metode yang dipergunakan dalam pembelajaran tersebut. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Sebuah paradigma yang perlu diubah adalah, adanya anggapan bahwa Silabus dan RPP merupakan harga mati dan tidak perlu diubah-ubah lagi. Kondisi nyata yang ada, banyak diantara kita yang hanya sekedar ”meng-&lt;i style=""&gt;copy-paste&lt;/i&gt;” dalam menyusun silabus dan RPP. Akibat langsungnya adalah, perangkat tersebut menjadi ”tidak berbunyi” (meminjam istilah Pangesti Widarti: Moderator KGI). Jika pembelajaran ingin lebih profesional, seorang guru dituntut untuk selalu berinovasi dan mengadakan perubahan RPP beserta proses pembelajaran di kelas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;color:black;"  lang="SV"&gt;Untuk lebih bisa menjamin keprofesionalan seorang guru pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada jenjang SMA/MA/SMK,&lt;b&gt; &lt;/b&gt;kompetensi awal yang harus dimiliki adalah:&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;ol style="margin-top: 0cm;" start="1" type="a"&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 6.85pt; text-align: justify; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.4pt;" lang="SV"&gt;Memahami konsep, teori, dan materi berbagai aliran      linguistik yang&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;terkait dengan      pengembangan materi pembelajaran bahasa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 3.6pt; text-align: justify; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;" lang="SV"&gt;Memahami hakekat bahasa dan pemerolehan bahasa.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 3.6pt; text-align: justify; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;" lang="ES"&gt;Memahami kedudukan, fungsi, dan ragam bahasa      Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 3.6pt; text-align: justify; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.15pt;" lang="ES"&gt;Menguasai&lt;span style=""&gt;        &lt;/span&gt;kaidah&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;bahasa&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Indonesia&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;sebagai&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;rujukan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;penggunaan&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;" lang="ES"&gt;bahasa      Indonesia yang baik dan benar.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 3.6pt; text-align: justify; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;" lang="ES"&gt;Memahami teori dan genre sastra Indonesia.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"  style="background: white none repeat scroll 0% 50%; margin-top: 3.6pt; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;color:black;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: -0.05pt;" lang="ES"&gt;Mengapresiasi karya      sastra secara reseptif dan produktif.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;2.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Kegiatan-kegiatan yang Menunjang Peningkatan Profesionalisme guru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Sesuai konsep di atas, keprofesionalan seorang guru bisa dibangun dan diusahakan melalui berbagai jenis kegiatan. Jenis-jenis kegiatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:20;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;1) &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Seorang guru harus memenuhi Kualifikasi Pendidikan Sekolah dan Memperoleh Ijazah/Gelar sesuai standar minimal yang telah diamatkan undang-undang. Jika memungkinkan, guna mendukung keprofesionalan tugasnya seorang guru bisa menempuh pendidikan yang melebihi dari standar minimum yang telah ditetapkan Depdiknas (misalnya menempuh pendidikan S2).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;2)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Mengikuti berbagai Pendidikan dan Latihan Kedinasan yang relefan/tidak relefan dengan bidang kerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Pendidikan dan latihan yang relefan maupun tidak relefan dengan bidang kerja/tugas guru amatlah besar peranannya dalam memupuk profesinalisme guru. Melalui diklat-diklat, wawasan dan pengetahuan seorang guru akan terus dikembangkan. Seorang guru yang profesional adalah seseorang yang “mau” terus belajar, dan kadang diperlukan berfikir yang ‘&lt;i style=""&gt;out of the box&lt;/i&gt;’&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;b.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Melaksanakan &lt;span style=""&gt;PBM dan Proses Bimbingan Siswa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;1)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Melaksanakan PBM/Bimbingan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Kegiatan ini merupakan tugas utama bagi seorang Guru. Untuk itu, pada kegiatan ini harus dilaksanakan secara serius, sungguh-sungguh dan profesional mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pada tahap evaluasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;2)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Melaksanakan Tugas Tertentu di Sekolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Seorang guru yang profesional, bukanlah sekedar guru yang hanya bisa mengajar di depan kelas saja, namun juga bisa menjalankan tugas-tugas tertentu di sekolah. Tugas-tugas tertentu tersebut meliputi, wakil kepala sekolah, wali kelas, pembimbing kegiatan ekstra kurikuler siswa, serta kegiatan-kegiatan insidental lain di sekolah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Khusus pada proses pembibingan siswa, seorang guru yang baik adalah guru yang bisa membimbing siswanya sampai meraih prestasi sesuai yang telah ditargetkan. Tak ada artinya segudang prestasi bisa diraih oleh seorang guru, jika yang bersangkutan tidak mampu ”menghantarkan” siswanya untuk meraih prestasi. Untuk itu, dalam hal bimbingan siswa ini pun juga perlu mendapatkan perhatian yang lebih dari seorang guru. Bagaimanapun iklim dan kondisi sekolah, jika seorang guru memiliki keiklasan, ketulusan hati dan bersungguh-sungguh dalam membimbing siswa, hasilnya tidak akan sia-sia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;c.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Pengembangan Profesi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;1)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Membuat Karya Tulis Ilmiah, yang meliput:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;i.&lt;span style=""&gt;    &lt;/span&gt;Penelitian&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ii. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Karangan Ilmiah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;iii. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Ilmiah Populer&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;iv. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Prasaran Seminar&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;v. &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Buku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;vi. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Diktat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;vii.&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Terjemahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Membuat Alat Peraga/Pelajaran/Bimbingan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;3)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Menciptakan Karya Seni&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;4)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Menemukan Teknologi Tepat Guna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;5)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Mengikuti Kegiatan Pe&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;ngembangan Kurikulum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kegiatan ini merupakan kegiatan tambahan bagi seorang guru yang memiliki sifat sebagai ’pengembang’. Layaknya membuat sebuah kue, meskipun bukan sebagai bahan pokok, namun jika kehadirannya diabaikan, hasilnya pun juga tidak akan maksimal, bahkan amat jelek dipandang mata. Demikian juga seorang guru, jika kegiatan ini tidak dilakukan, keprofesionalannya juga tidak akan bisa maksimal. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Berdasarkan pengalaman penulis, kegiatan inilah yang sering menghantar posisi guru ke tempat yang lebih &lt;i style=""&gt;’tinggi&lt;/i&gt;’ dibandingkan teman guru yang lainnya yang tidak melakukan kegiatan pengembangan profesi. Jika guru mau melakukan kegiatan ini, disamping berfungsi untuk mengembangkan profesi individu guru, juga mendatangkan banyak keuntungan, baik moril maupun materiil. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Niat baik, adalah kunci utama dari suksesnya para guru dalam melakukan kegiatan ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;d.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Penunjang PBM/Bimbingan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;1) &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Melaksanakan Pengabdian Pada Masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;2)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Melaksanakan Kegiatan Pendukung Pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 17.85pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;3.&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Peran MGMP dalam menunjang profesionalitas Guru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;a.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Konsep Dasar dan Pelaksanaan MGMP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;script src="http://s.wordpress.com/wp-content/plugins/adverts/adsense.js?1" type="text/javascript"&gt; &lt;/script&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Banyak upaya yang telah ditempuh untuk meningkatkan profesional Guru. Diantaranya melalui optimalisasi peran dan aktivitas MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran). Program pemerintah untuk mendukung MGMP pun mulai digulirkan dalam program &lt;em&gt;Better Education through Reformed Management Universal Teacher Upgriding  (kalau mau disingkat menjadi: BERMUTU) &lt;/em&gt;oleh Departemen Pendidikan Nasional. Kegiatan ini melibatkan PMPTK (Bindiklat &amp;amp; Profesi), Dikti (Ketenagaan), Pemerintah Daerah/Dinas Pendidikan, P4TK, LPMP, LPTK, MGMP, Kelompok Kerja Guru, Kepala Sekolah &amp;amp; Pengawas, Jardiknas (Putekkom) dan Balitbang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;Pembinaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berlangsung&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berkesinambungan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;prinsip mendasar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah guru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;harus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merupakan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;a learning&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;person&lt;/i&gt;,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;belajar sepanjang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;hayat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;masih&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dikandung badan.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sebagai&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru profesional guru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berkewajiban&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mempertahankan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;profesionalitasnya sebagai guru.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Pembinaan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;profesi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;terus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menerus&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(&lt;i style=""&gt;continuous&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;profesional &lt;span style=""&gt;development&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;) menggunakan wadah guru yang sudah ada, yaitu &lt;/span&gt;musyawarah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pelajaran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(MGMP)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk tingkat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;sekolah &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;menengah.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Aktivitas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di MGMP&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tidak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;saja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk menyelesaikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;persoalan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pengajaran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dialami&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berbagi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pengalaman mengajar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;antar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tetapi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;strategi mengembangkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kontak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akademik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan melakukan refleksi diri. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;Desain&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;jejaring&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kerja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(&lt;i style=""&gt;networking&lt;/i&gt;)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;peningkatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;profesionalitas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru berkelanjutan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melibatkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;instansi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pusat,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pusat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pengembangan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pemberdayaan Pendidik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tenaga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kependidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(P4TK),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Lembaga&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penjaminan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mutu Pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(LPMP)&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dinas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Propinsi/ Kabupaten/Kota&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;serta Perguruan Tinggi setempat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;P4TK&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;berbasis&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pelajaran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;membentuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tim&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pengembang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Materi Pembelajaran, bekerjasama dengan Perguruan Tinggi bertugas:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;menelaah dan mengembangkan materi untuk kegiatan MGMP&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;mengembangkan model- model pembelajaran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;mengembangkan modul untuk pelatihan instruktur dan guru inti&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;memberikan pembekalan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kepada instruktur pada LPMP&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;5)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;mendesain pola dan mek anisme kerja instruktur dan guru inti dalam kegiatan MGMP&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;LPMP&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;bersama&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Dinas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Propinsi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melakukan seleksi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk menjadi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Instruktur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pelajaran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tingkat&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Propinsi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;per&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pelajaran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dengan tugas:&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="SV" style="color:black;"&gt;menjadi narasumber dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;fasilitator pada kegiatan MGMP&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="NO-BOK" style="color:black;"&gt;mengembangkan inovasi pembelajar an untuk MGMP&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="NO-BOK"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;menjamin keterlaksanaan kegiatan MGMP&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;Dinas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kabupaten/Kota&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;melakukan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seleksi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Instruktur&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mata&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pelajaran Tingkat Kab/Kota dan membentuk Guru Inti per mata pelajaran dengan tugas: &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;motivator bagi guru untuk aktif dalam MGMP&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;menjadi fasilitator pada kegiatan MGMP&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;mengembangkan inovasi pembelajaran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;menjadi narasumber pada kegiatan MGMP&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;Meningkatnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kinerja&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meningkatkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kualitas&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pembelajaran,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada akhirnya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;akan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;meningkatkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;mutu&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;secara&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;keseluruhan,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;karena&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;ujung tombak&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dari&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kegiatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;adalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;kegiatan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pembelajaran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang dirancang dan dilaksanakan oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;guru.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span  lang="ES" style="color:black;"&gt;Perubahan paradigma pendidikan di era globalisasi ini mengharuskan adanya perubahan pola pikir bagi guru. Guru harus terus berinovasi dan mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang berorientasi pada pembelajaran dari &lt;i style=""&gt;teaching&lt;/i&gt; menjadi &lt;i style=""&gt;learning&lt;/i&gt;. Perubahan pola pikir bagi guru dalam mengelola kelas dan melaksanakan proses pembelajaran mendesak sekali untuk terus dilaksanakan. &lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;Tuntutan ini merupakan implikasi dari perubahan reorientasi pembelajaran yang dilakukan oleh guru mata pelajaran. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;Musyawarah Guru Mata Pelajaran merupakan suatu wadah asosiasi atau perkumpulan bagi guru mata pelajaran yang berada di sekolah maupun kabupaten/kota. Organisasi ini bersifat mandiri dan terbuka bagi semua guru mata pelajaran baik yang berstatus pegawai negeri sipil, guru tidak tetap, dan guru pada sekolah swasta yang berada dilingkungan wilayah kabupaten/kota. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;Secara&lt;b style=""&gt; &lt;/b&gt;konseptual&lt;b style=""&gt; Dasar Kebijakan/Dasar Hukum&lt;/b&gt; penyelenggaraan MGMP adalah a) Undang-Undang Dasar 1945, b) Undang-Undang nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah, c) Peraturan Pemerintah nomor 25 tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan kewenangan propinsi sebagai daerah otonom, d) Undang-Undang nomor nomor 25 tahun 2000 tentang Propenas, e) Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP No. 19 Tahun 2005 tentang SNP, dan Undang-undang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Republik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Indonesia,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;No. &lt;span style=""&gt;14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;Adapun &lt;b style=""&gt;tujuan MGMP&lt;/b&gt; meliputi &lt;b style=""&gt;Tujuan Umum&lt;/b&gt;: mengembangkan kreativitas dan inovasi dalam meningkatkan profesionalisme guru. &lt;b style=""&gt;Tujuan Khusus&lt;/b&gt;: 1) memperluas wawasan dan pengetahuan guru mata pelajaran dalam upaya mewujudkan pembelajaran yang efektif dan efisien. 2) mengembangkan kultur kelas yang kondusif sebagai tempat proses pembelajaran yang menyenangkan, mengasyikkan dan mencerdaskan siswa. 3) membangun kerja sama dengan masyarakat sebagai mitra guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Kesungguhan dan tekad untuk berani memperbaiki dan memperbaharui diri bagi setiap guru yang bergabung dalam MGMP merupakan salah satu hal yang diharapkan dari kegiatan ini. Dalam MGMP, guru dapat memperluas wawasan dan pengetahuan dalam berbagai hal, khususnya penguasaan substansi materi pembelajaran, penyusunan silabus, penyusunan bahan-bahan pembelajaran, strategi pembelajaran, metode pembelajaran, memaksimalkan pemakaian sarana/prtasarana belajar dan memanfaatkan sumber belajar. Berbagi (&lt;i style=""&gt;sharing&lt;/i&gt;) pengalaman juga akan menghantar guru menjadi lebih percaya diri dan merasa mendapat bantuan dan umpan balik dalam proses pembelajaran. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Semua aktivitas dalam MGMP akan menghantar guru lebih berpengetahuan dan lebih terampil dalam langkah pembaharuan pembelajaran yang menyenangkan dan bermartabat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Tentunya semua berpulang kepada  kemampuan mengokohkan: &lt;em&gt;Kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial; &lt;/em&gt;sebagaimana tertuang dalam PP nomor 19 tahun 2005 secara bersama-sama dalam wadah yang kuat dengan didukung orang/manusia yang punya tanggung-jawab dan moral yang tinggi. Perjuangan ini memerlukan kesungguhan dan kejujuran dari semua pihak yang terlibat didalamnya. Berpenghasilan yang sangat cukup bukanlah cita-cita akhir bagi guru, sebab yang menjadi harapan guru adalah mampu mengamalkan ilmu dan ketrampilan untuk meningkatkan mutu dan proses belajar mengajar yang bermanfaat bagi kepentingan pendidikan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;" lang="FI"&gt;b.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Kondisi Nyata dan Tantangan Pelaksanaan MGMP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Dalam waktu yang cukup singkat penulis berusaha mencari tahu tentang pelaksanaan MGMP di beberapa daerah, terutama melalui teman-teman di KGI. Berdasarkan informasi tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa , secara konseptual pelaksanaan MGMP pada masing-masing daerah memiliki banyak kesamaan, yang membedakan hanyalah teknik pelaksanaan dan jenis kegiatannya yang dilaksanakan. Kehadirannya dalam lingkup dunia pendidikan mendapatkan reaksi yang berbeda-beda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Ada sebagian orang yang menganggap bahwa MGMP masih terlalu mandul dalam memberikan kontribusi terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia, sehingga kehadiran dan pelaksanaannya&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;perlu ditinjau ulang. Bahkan ada yang berpendapat bahwa forum MGMP hanyalah dijadikan alat oleh pengurusnya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Yang lebih menyedihkan, MGMP dinilai hanya dijadikan “jembatan” bagi guru tertentu untuk memburu jenjang karier yang lebih tinggi, misalnya kepala sekolah atau jabatan kependidikan bergengsi lainnya. Tidak heran jika sikap sinis pun tak jarang ditimpakan kepada MGMP. MGMP lebih sering diplesetkan menjadi “Mulih Gasik Mampir Pasar” (Pulang awal, kemudian mampir ke pasar) ketimbang Musyawarah Guru Mata Pelajaran. Sebuah ungkapan yang menyiratkan makna betapa MGMP hanya sekadar tempat kumpul-kumpul dan ngrumpi yang jauh dari ingar-bingar dan dinamika untuk mendiskusikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan dunia pembelajaran. Jadwal MGMP pun tak jarang dijadikan sebagai alasan pembenar dan apologi untuk mangkir dari tugas-tugas kedinasan di sekolah. Ya, sebuah tragedi bagi wadah profesi guru semacam MGMP (admin,2009:2)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Terlepas dari kondisi di atas, yang pasti bukan forum&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;MGMP-nya yang perlu dipertanyakan, namun konsep pelaksanaan, pola dan jenis kegiatannyalah yang perlu untuk lebih dimaksimalkan peranannya. Nada-nada sumbang yang menghiasi pelaksanaan MGMP haruslah dipergunakan sebagai daya picu terhadap kemajuan kegiatan MGMP. Anggap itu sebagai sebuah kritik membangun yang akan dijadikan bahan pertimbangan dalam memberdayakan MGMP. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;font-size:14;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;font-size:14;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;font-size:14;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;font-size:14;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;font-size:14;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;font-size:14;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;font-size:14;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;font-size:14;" lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;BAB III. PENUTUP &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;A.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kesimpulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Konsep Guru yang profesional sesuai tuntutan Standar Nasional&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Sesuai tuntutan standar nasional seorang guru harus memiliki sejumlah kompetensi sebagai bekal menjalankan tugas-tugas keprofesionalannya. &lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;color:black;" &gt;Standar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat &lt;/span&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;kompetensi utama, yaitu &lt;b style=""&gt;kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional&lt;/b&gt;. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. &lt;/span&gt;sebagaimana tertuang dalam &lt;b style=""&gt;PP nomor 19 tahun 2005&lt;/b&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: -0.15pt; text-align: justify; text-indent: 18.15pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;2.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;Kegiatan-kegiatan yang Menunjang Peningkatan Profesionalisme guru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Keprofesionalan seorang guru bisa dibangun dan diusahakan melalui berbagai jenis kegiatan. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Jenis-jenis kegiatan tersebut dapat dikelompokkan menjadi:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;a.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="ES"  style="font-size:20;"&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;Pendidikan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;1) &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Seorang guru harus memenuhi Kualifikasi Pendidikan Sekolah dan Memperoleh Ijazah/Gelar &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;2)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Mengikuti berbagai Pendidikan dan Latihan Kedinasan yang relefan/tidak relefan dengan bidang kerja.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="ES"&gt;b.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Melaksanakan &lt;span style=""&gt;PBM dan Proses Bimbingan Siswa&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Melaksanakan PBM/Bimbingan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Melaksanakan Tugas Tertentu di Sekolah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;c.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Pengembangan Profesi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;1)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Membuat Karya Tulis Ilmiah, yang meliput:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;i) Penelitian, &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;ii) Karangan Ilmiah, iii) Ilmiah Populer, iv) &lt;span style=""&gt;      &lt;/span&gt;Prasaran Seminar, v) Buku, vi) Diktat, dan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;vii) Terjemahan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;2)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Membuat Alat Peraga/Pelajaran/Bimbingan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;3)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Menciptakan Karya Seni&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;4)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Menemukan Teknologi Tepat Guna&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;5)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Mengikuti Kegiatan Pengembangan Kurikulum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;d.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;Penunjang PBM/Bimbingan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;1) &lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Melaksanakan Pengabdian Pada Masyarakat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 72pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;2)&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Melaksanakan Kegiatan Pendukung Pendidikan&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;span style=""&gt;       &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;3.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Peran MGMP dalam menunjang profesionalitas Guru&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;a.&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;Konsep Dasar dan Pelaksanaan MGMP&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;Musyawarah Guru Mata Pelajaran merupakan suatu wadah asosiasi atau perkumpulan bagi guru mata pelajaran yang berada di sekolah maupun kabupaten/kota. Organisasi ini bersifat mandiri dan terbuka bagi semua guru mata pelajaran baik yang berstatus pegawai negeri sipil, guru tidak tetap, dan guru pada sekolah swasta yang berada dilingkungan wilayah kabupaten/kota.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify; text-indent: -18pt;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;b.&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;&lt;span style=""&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;" lang="FI"&gt;Kondisi Nyata dan Tantangan Pelaksanaan MGMP&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 54pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;" lang="FI"&gt;MGMP-nya yang perlu dipertanyakan, namun konsep pelaksanaan, pola dan jenis kegiatannyalah yang perlu untuk lebih dimaksimalkan peranannya. Nada-nada sumbang yang menghiasi pelaksanaan MGMP haruslah dipergunakan sebagai daya picu terhadap kemajuan kegiatan MGMP. Anggap itu sebagai sebuah kritik membangun yang akan dijadikan bahan pertimbangan dalam memberdayakan MGMP. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-size:11;color:black;"  lang="FI" &gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 113.35pt;"&gt;&lt;span style=";font-size:11;color:black;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Anonim. 2007. &lt;i style=""&gt;KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, Panduan bagi Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah&lt;/i&gt;. Jakarta:BP. Dharma Bhakti&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Admin. 2009.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;Blog article: Pemberdayaan MGMP dan “Therapi Kejut&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="EN"&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Depdikbud, 1999.&lt;i style=""&gt; Panduan Manajemen Sekolah&lt;/i&gt;. Jakarta: Ditjen Dikmenum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Depdiknas.2002. &lt;i style=""&gt;Kamus Besar Bahasa Indonesia&lt;/i&gt;. Jakarta: B&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;alai Pustaka&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;-------------, 2002. &lt;i style=""&gt;Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah&lt;/i&gt;. Jakarta:Dir. Dikmenum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;-------------. 2002. &lt;i style=""&gt;Pedoman Manajemen Sekolah&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Jakarta:Dir. Dikmenum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;-------------. 2002. &lt;i style=""&gt;Konsep Dasar dan Pola Pelaksanaan&lt;/i&gt;. Jakarta:Dir. Dikmenum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 18.7pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;Departemen&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nasional,2006.&lt;i style=""&gt;Undang-undang&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Republik&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Indonesia,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;No. &lt;span style=""&gt;14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;. Jakarta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;Direktoran&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jendral&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Tinggi,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Depar&lt;/span&gt;&lt;span  lang="NO-BOK" style="color:black;"&gt;temen&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Nasional.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;(2008). &lt;i&gt;Pedoman&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Penyelenggaraan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Program&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Sertifikasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Guru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Dalam&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jabatan Melalui Jalur Pendidikan. &lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;Jakarta.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;h1&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:12;" lang="FI" &gt;http://&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:12;" &gt;&lt;a href="http://bernardsalassa.wordpress.com/"&gt;&lt;span style="text-decoration: none; color: rgb(0, 0, 0);" lang="FI"&gt;Bernardsalassa&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: normal;font-size:12;" lang="FI" &gt;.wordpress.com&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/h1&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span  lang="FI" style="color:black;"&gt;Fasli&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Jalal.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;(2007).&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style=""&gt;Sertifikasi&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Guru&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Untuk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Mewujudkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Yang &lt;span style=""&gt;Bermutu.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Makalah&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;disampaikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pada&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seminar&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pendidikan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;yang &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;d&lt;/span&gt;iselenggarakan oleh&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Program&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Pascasarjana Unair,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;tanggal&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;28&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;April&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;2007.Surabaya &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Presiden Republik Indonesia.2003.&lt;i style=""&gt;Undang-undang Republik Indonesia. Tentang Sistem Pendidikan Nasional&lt;/i&gt;. Jakarta: Setneg&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: -36pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="" lang="FI"&gt;Presiden Republik Indonesia.2003.&lt;i style=""&gt;PeraturanPemerintah Nomor 19 tahun 2005. Standar Nasional Pendidikan&lt;/i&gt;. Jakarta: Setneg&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:11;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-indent: -36pt;"&gt;&lt;span lang="FI"  style="font-size:11;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="letter-spacing: 0.3pt;" lang="FI"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-5674456784274713125?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/5674456784274713125/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=5674456784274713125' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/5674456784274713125'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/5674456784274713125'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2009/11/menuju-guru-yang-profesional-disusun.html' title='PROFESIONALISME GURU'/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-5644942869497769496</id><published>2009-11-02T18:17:00.000-08:00</published><updated>2009-11-02T18:17:07.437-08:00</updated><title type='text'>Means of Global: Elegi Menggapai Bahasa</title><content type='html'>&lt;a href="http://powermathematics.blogspot.com/2009/11/elegi-menggapai-bahasa.html"&gt;Means of Global: Elegi Menggapai Bahasa&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-5644942869497769496?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://powermathematics.blogspot.com/2009/11/elegi-menggapai-bahasa.html' title='Means of Global: Elegi Menggapai Bahasa'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/5644942869497769496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=5644942869497769496' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/5644942869497769496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/5644942869497769496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2009/11/means-of-global-elegi-menggapai-bahasa.html' title='Means of Global: Elegi Menggapai Bahasa'/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-6792411526776869251</id><published>2009-06-22T18:31:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T18:36:53.037-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BAHASA INDONESIA DALAM NAFAS JURNALISTIK&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Jangan tanyakan makna sebuah kata, tetapi tanyakan pemakaiannya (meaning is use)."&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PROFESI jurnalistik yang memiliki tugas utama menulis dan menyajikan berita, tentu sangat erat kaitan&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SkAxSoINJII/AAAAAAAAAD0/lsvMl56lM7U/s1600-h/Copy+of+RM+BLUR+KC+MT+2.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5350330553395389570" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 131px; CURSOR: hand; HEIGHT: 119px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SkAxSoINJII/AAAAAAAAAD0/lsvMl56lM7U/s320/Copy+of+RM+BLUR+KC+MT+2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;nya dengan bahasa sebagai media utama. Efektivitas penyampaian berita (pesan) akan sangat ditentukan oleh kemampuan seorang wartawan dalam menyajikan berita kepada khalayak. Semakin baik penguasaan bahasa seorang wartawan, semakin besar pula kemungkinan berita itu sampai kepada khalayak dengan baik. Dalam konteks ini, wartawan berperan sebagai pengirim pesan dan khalayak sebagai penerima pesan.&lt;br /&gt;Setidaknya ada lima unsur utama dalam proses penyampaian pesan, seperti dikemukakan pakar komunikasi dan sosiologi AS, Harold Dwight Lasswell, yaitu&lt;br /&gt;Ø who (siapa),&lt;br /&gt;Ø says what (mengatakan apa),&lt;br /&gt;Ø to whom (untuk siapa),&lt;br /&gt;Ø in what channel (dengan media apa), dan&lt;br /&gt;Ø with what effect (dengan efek seperti apa),&lt;br /&gt;yang dikenal sebagai Paradigma Lasswell.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Terkait kehidupan modern yang penuh dinamika, wartawan menghadapi tantangan untuk terus mengembangkan kemampuannya dalam berbahasa. Tanpa itu, seorang wartawan akan tertinggal dan sulit bersaing dalam proses penyajian berita. Hal ini kurang lebih senada dengan pendapat filsuf Yunani, Heraclitus bahwa semua berubah secara konstan, atau dalam bahasa Spanyolnya, panta rei. Orang Amerika dan Eropa menerjemahkan kata bijak ini sebagai everything flows atau everything is constantly changing.Proses perubahan yang terus berlangsung sebenarnya merupakan tantangan yang amat menarik bila seorang wartawan benar-benar mencintai profesinya. Oleh karena itu, tak bisa ditawar lagi, seorang wartawan harus benar-benar mencintai dunianya, sehingga apa pun akan dilakukan agar dia bisa menjalankan profesinya secara maksimal.Dinamika kebahasaan juga harus benar-benar dicermati, termasuk dalam pemaknaan kata, baik secara leksikal maupun gramatikal. Makna kata-kata terus berkembang, bahkan bisa melampaui arti yang pernah ditetapkan sebelumnya. Jadi pemaknaan tidak sebatas arti lema dalam kamus. Hal ini senada dengan pendapat filsuf bahasa Ludwig Wittgenstein bahwa pemaknaan kata sangat bergantung pada pemakaiannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAHASA Jurnalistik adalah gaya bahasa yang digunakan wartawan dalam menulis berita. Disebut juga Bahasa Komunikasi Massa (Language of Mass Communication, disebut pula Newspaper Language), yakni bahasa yang digunakan dalam komunikasi melalui media massa, baik komunikasi lisan (tutur) di media elektronik (radio dan TV) maupun komunikasi tertulis (media cetak dan online), dengan ciri khas singkat, padat, dan mudah dipahami.&lt;br /&gt;Bahasa Jurnalistik memiliki dua ciri utama : komunikatif dan spesifik. Komunikatif artinya langsung menjamah materi atau langsung ke pokok persoalan (straight to the point), bermakna tunggal, tidak konotatif, tidak berbunga-bunga, tidak bertele-tele, dan tanpa basa-basi. Spesifik artinya mempunyai gaya penulisan tersendiri, yakni kalimatnya pendek-pendek, kata-katanya jelas, dan mudah dimengerti orang awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Prinsip Dasar Bahasa Jurnalistik&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Singkat, artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele.&lt;br /&gt;Padat, artinya bahasa jurnalistik yang singkat itu sudah mampu menyampaikan informasi yang lengkap. Semua yang diperlukan pembaca sudah tertampung didalamnya. Menerapkan prinsip APA yang terjadi, SIAPA yang terlibat, kejadiannya BAGAIMANA, KAPAN, dan DI MANA itu terjadi, dan MENGAPA, membuang kata-kata mubazir dan menerapkan ekonomi kata.&lt;br /&gt;Sederhana, artinya bahasa pers sedapat-dapatnya memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks. Kalimat yang efektif, praktis, sederhana pemakaian kalimatnya, tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis)&lt;br /&gt;Lugas, artinya mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga .&lt;br /&gt;Menarik, artinya bisa menarik minat pembaca dan tidak membosankan.&lt;br /&gt;Jelas, artinya informasi yang disampaikan jurnalis dengan mudah dapat dipahami oleh khalayak umum (pembaca). Struktur kalimatnya tidak menimbulkan penyimpangan/ pengertian makna yang berbeda, menghindari ungkapan bersayap atau bermakna ganda (ambigu). Oleh karena itu, seyogyanya bahasa jurnalistik menggunakan kata-kata yang bermakna denotatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tips Menulis Berita&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tulislah berita yang menarik dengan menerapkan gaya bahasa percakapan sederhana . Tulislah berita dengan lead yang bicara. Untuk menguji lead anda “berbicara” atau “bisu” cobalah dengan membaca tulisan yang dihasilkan. Jika anda kehabisan nafas dan tersengal-sengal ketika membaca maka led anda terlalu panjang.&lt;br /&gt;Gunakan kata/Kalimat Sederhana. Kalimat sederhana terdiri dari satu pokok dan satu sebutan. Hindari menulis dengan kata keterangan dan anak kalimat. Ganti kata-kata yang sulit atau asing dengan kata-kata yang mudah. Bila perlu ubah susunan kalimat atau alinea agar didapat tulisan yang “mengalir”. Ingat KISS (Keep It Simple and Short)&lt;br /&gt;Hindari kata-kata berkabut. Kata-kata berkabut adalah tulisan yang berbunga-bunga, menggunakan istilah teknis, ungkapan asing yang tidak perlu dan ungkapan umum yang kabur. Yang diperlukan BI ragam jurnalistik adalah kejernihan tulisan (clarity).&lt;br /&gt;Libatkan pembaca. Melibatkan pembaca berarti menulis berita yang sesuai dengan kepentingan, rasa ingin tahu, kesulitan, cita-cita, mimpi dan angan-angan. Tapi ingat: jangan sampai terjebak menulis dengan gaya menggurui atau menganggap enteng pembaca. Melibatkan pembaca berarti mengubah soal-soal yang sulit menjadi tulisan yang mudah dimengerti pembaca. Melibatkan pembaca juga didapat dengan menulis sesuai rasa keadilan yang hidup di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Gantilah kata sifat dengan kata kerja.&lt;br /&gt;Baca kalimat ini: “Seorang perempuan tua yang kelelahan bekerja di sawahnya!”&lt;br /&gt;Bandingkan dengan: “Seorang perempuan tua membajak, kepalanya merunduk, nafasnya tersengal-sengal!”&lt;br /&gt;6. Gunakan kosakata yang tidak memihak&lt;br /&gt;Baca kalimat ini: Seorang ayah memperkosa anak gadisnya sendiri yang masih berusia 12 tahun&lt;br /&gt;Bandingkan dengan: Perkosaan menimpa anak gadis yang berusia 12 tahun.&lt;br /&gt;7. Hindari pemakaian eufemisme bahasa.&lt;br /&gt;Baca kalimat: Selama musim kemarau terjadi rawan pangan di Gunung Kidul&lt;br /&gt;Bandingkan dengan: Selama musim kemarau terjadi kelaparan di Gunung Kidul. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-6792411526776869251?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/6792411526776869251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=6792411526776869251' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/6792411526776869251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/6792411526776869251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2009/06/bahasa-indonesia-dalam-nafas.html' title=''/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SkAxSoINJII/AAAAAAAAAD0/lsvMl56lM7U/s72-c/Copy+of+RM+BLUR+KC+MT+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-9050653175123073763</id><published>2009-06-19T23:58:00.000-07:00</published><updated>2009-06-20T00:27:03.833-07:00</updated><title type='text'>ALBUM FOTO</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;FOTO-FOTO KENANGAN SELEKSI GURU BERPRESTASI&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjyPEnMmrnI/AAAAAAAAADE/v2JUD4kAfAs/s1600-h/CIMG0690.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349307766813404786" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjyPEnMmrnI/AAAAAAAAADE/v2JUD4kAfAs/s320/CIMG0690.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjyMgu0UjqI/AAAAAAAAAC8/17fnAKigQwk/s1600-h/CIMG0711.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349304951360491170" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjyMgu0UjqI/AAAAAAAAAC8/17fnAKigQwk/s320/CIMG0711.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjyK_Y5FIpI/AAAAAAAAAC0/sew09EEyChM/s1600-h/DI+DPN+KNTR+GBR.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349303279027561106" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 226px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjyK_Y5FIpI/AAAAAAAAAC0/sew09EEyChM/s320/DI+DPN+KNTR+GBR.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-9050653175123073763?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/9050653175123073763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=9050653175123073763' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/9050653175123073763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/9050653175123073763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2009/06/album-foto.html' title='ALBUM FOTO'/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjyPEnMmrnI/AAAAAAAAADE/v2JUD4kAfAs/s72-c/CIMG0690.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-6446752806226634940</id><published>2009-06-19T01:41:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T23:55:51.780-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjyH5YofVlI/AAAAAAAAACs/ZW60cIyQPtM/s1600-h/Copy+of+rm.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5349299877343876690" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 235px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjyH5YofVlI/AAAAAAAAACs/ZW60cIyQPtM/s320/Copy+of+rm.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtPmAfS-vI/AAAAAAAAACY/fujI90VWc_A/s1600-h/Copy+of+Copy+of+rm.JPG"&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;PENGEMBANGAN SEKOLAH: SEBUAH ALTERNATIF MANAJEMEN SEKOLAH PADA JENJANG SMA&lt;br /&gt;ROHMAD WIDIYANTO&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB I&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Dasar Pemikiran&lt;br /&gt;Visi makro pendidikan nasional adalah terwujudnya masyarakat madani sebagai bangsa dan masyarakat Indonesia baru dengan tatanan kehidupan yang sesuai dengan amanat proklamasi Negara Kesatuan republik Indonesia melalui proses pendidikan. Sesuai visi tersebut jelas sekali yang dimaksud masyarakat madani adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai, norma, hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban (Pusat Bahasa,2002:720). Sedangkan ‘masyarakat baru’ yang dimaksud adalah masyarakat yang memiliki keimanan dan akhlak tinggi, kemerdekaan dan demokrasi, toleransi dan menjunjung hak asasi manusia, serta berpengertian dan berwawasan global.&lt;br /&gt;Visi mikro pendidikan nasional adalah terwujudnya individu manusia baru yang memiliki sikap dan wawasan keimanan dan akhlak tinggi, kemerdekaan dan demokrasi, toleransi dan menjunjung hak asasi manusia, saling pengertian dan wawasan global.&lt;br /&gt;Dari visi makro dan mikro tersebut selanjutnya dijabarkan dalam misi pendidikan nasional yang menjangkau rentang waktu jangka pendek, menengah, dan panjang. Secara garis besar misi tersebut adalah menciptakan masyarakat madani untuk misi jangka panjang, pemberdayaan organisasi maupun proses proses pendidikan sebagai misi jangka menengah, dan untuk jangka pendeknya adalah mengatasi krisis. Guna merealisasi visi dan misi pendidikan nasional tersebut, diperlukan strategi tertentu dalam membangun pendidikan di Indonesia.&lt;br /&gt;Bila dilihat dari visi dan misi pendidikan nasional tersebut, problema dan tantangan pendidikan memang terasa berat, teknologi dan masyarakat berubah dengan cepat, sementara itu pada era-era sebelumnya struktur dan manajemen sekolah tidak mengalami perubahan yang berarti untuk dapat mengakomodasi perubahan yang terjadi di bidang teknologi, ekonomi, sosial, dan hubungan antar manusia tersebut. Akibatnya, pendidikan tidak berdaya menghadapi perubahan-perubahan tersebut di atas. Peran pendidikan kedodoran dalam menanggapi perubahan. Pendidikan Indonesia telah tertinggal oleh laju kemajuan.&lt;br /&gt;Keadaan semakin memprihatinkan kalau dicermati bahwa perkembangan masyarakat menunjukkan adanya kecenderungan orang tua semakin sibuk dengan pekerjaan. Dari waktu ke waktu partisipasi tenaga kerja wanita semakin besar. Hal ini berarti kedua orang tua terlibat dalam pekerjaan dari hari ke hari. Oleh karena itu, tidak mengherankan kalau dewasa ini orang tua seolah-olah menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak ke sekolah. Sudah barang tentu beban sekolah semakin berat.&lt;br /&gt;Beban sekolah semakin berat kalau dilihat bahwa dewasa ini kualitas sumber daya manusia di kalangan masyarakat Indonesia dapat dikatakan rendah. Survey dari United Nation Development Program (UNDP) tahun 2001 menunjuk posisi Indonesia pada ranking 102, berada di bawah Vietnam (101) dan Aljazair peringkat 100 (Nursisto,2001:x). Dilain pihak sesuai catatan Human Developing Index (HDI) pun menunjukkan bahwa mutu guru Indonesia masih jauh dari memadai untuk melakukan perubahan yang sifatnya mendasar. Dari data statistik HDI terdapat 60% guru SD, 40% guru SMP, SMA 43%, dan SMK 34% dianggap belum layak untuk mengajar di jenjang masing-masing. Selain itu, 17,2% guru atau setara dengan 69.477 guru mengajar bukan bidang studinya. Dengan demikian, kualitas SDM kita berada pada urutan 109 dari 179 negara di dunia (Dharma Bhakti,2007:6)&lt;br /&gt;Dengan keadaan seperti itu, beban yang tertumpu pada dunia pendidikan di Indonesia kian menjadi berat dari hari ke hari. Melalui pendidikan yang bermutu diharapkan kualitas sumber daya manusia akan semakin meningkat guna memasuki era persaingan sebagai konsekuensi globalisasi.&lt;br /&gt;Di samping itu, dibalik berbagi beban berat pendidikan tersebut, kesulitan atau bahkan kebingungan dalam setiap pembicaraan mengenai pendidikan mungkin bersumber pada kenyataan bahwa lembaga ini merefleksikan masalah-masalah atau tantangan mendalam yang dihadapi bangsa Indonesia sebagai negara berkembang. Pembicaraan mengenai filsafat dan kebijaksanaan pendidikan selalu dengan sendirinya menuntut kejelasan wawasan masa lalu, kebutuhan mendesak masa kini dan harapan subjektif masa depan. Jika wawasan terhadap tiga dimensi kesejarahan dari suatu masyarakat dan suatu negara itu kabur, maka sulitlah diharapkan suatu filsafat dan kebijaksanaan yang jernih dan mantap.&lt;br /&gt;Pendidikan merupakan lembaga yang sarat dengan beban kesejarahan. Melalui lembaga pendidikan, suatu masyarakat akan melestarikan nilai-nilai. Suatu masalah yang substansial sifatnya atau muncul jika suatu masyarakat tidak mampu secara tegas mendefinisikan masa lalunya serta pertentangan-pertentangan yang terkandung dalam tradisinya.&lt;br /&gt;Dalam jajaran persoalan ini , berhubung Indonesia sedang mengalami masa krisis multidimensional, langkah yang tepat guna mengatasi masalah tersebut seharusnya yang dikedepankan adalah masalah pembinaan wawasan kebangsaan, kemasyarakatan, dan kehidupan kenegaraan yang bersatu. Bukan penyemaian benih primordialisme sempit yang membuat menjadi terkotak-kotak, yang tentu hal ini akan berakibat buruk pada dunia pendidikan.&lt;br /&gt;Tidak kalah beratnya dengan hal tersebut, adalah tuntutan mendesak masa kini yang tumbuh secara objektif, baik dari dalam maupun dari luar. Tekanan penduduk dan penyiapan sumber daya manusia dalam berbagai tingkatannya, serta perencanaan dan koordinasi dengan bidang-bidang lain dalam kehidupan ekonomi masyarakat dengan negara, tentulah membutuhkan pemetaan persoalan secara jelas.&lt;br /&gt;Sementara itu, kehidupan di luar pendidikan itu sendiri berubah-ubah dan terkadang menolak untuk diramalkan secara tepat. Kenyataan bahwa Indonesia kini tengah berjuang keras agar terbebas dari segala bentuk krisis, tentulah tercipta pada dirinya suatu tekanan-tekanan yang cukup berat. Kesulitan ekonomi yang menimpa Indonesia dan banyak kawasan dunia, dihadapi dengan sikap keras proteksionis, peningkatan efisiensi dan penataan kembali perekonomian, juga merupakan pertanda yang bisa tidak bisa haruslah ditangkap maknanya oleh pemikir pendidikan dan pengelola yang bertanggung jawab atas kelangsungan pendidikan. Dan bukan hanya itu, perubahan jangka pendek juga menimbulkan implikasi terhadap anggaran, dan oleh satu dan lain hal pertimbangan, pendidikan yang kadang-kadang terpaksa tidak memperoleh prioritas yang tinggi. Hal itu dapat terbukti dari minimnya anggaran pendidikan yang dipatok dalam APBN maupun APBD sesuai amat Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Bukankah ini suatu pertanda buruk terhadap dunia pendidikan kita, apabila dilihat dilihat dari ketiga beban kesejarahan di atas.&lt;br /&gt;Masa depan suatu bangsa, sedikit banyak terbebankan pada dunia pendidikan. Ketidakjelasan secara operasional mengenai masa depan suatu bangsa juga akan mempersulit penegasan filsafat pendidikan dan pemilahan perangkat kebijakan, sebab pada dasarnya pendidikan adalah tempat penempaan manusia untuk masa depan, dan masa depan itu secara subjektif menuntut disiplin dimasa kini. Jika ada pertanyaan siapa penempa manusia itu? Mungkin tidak ada opsi lain kecuali guru, dan guru sendiri berada dalam sebuah institusi. Dengan demikian maka penempaan tersebut berada dan menjadi tanggung jawab institusi tempat guru tersebut mengabdi.&lt;br /&gt;Dari sejumlah persoalan tersebut di atas sesungguhnya akar permasalahannya adalah terletak pada sistem pendidikan di sekolah-sekolah sementara ini yang kurang berorientasi pada kecakapan hidup. Dengan kecakapan hidup diharapkan siswa akan mampu memecahkan problematika kehidupan yang dihadapi, termasuk mencari atau menciptakan pekerjaan bagi mereka yang tidak melanjutkan pendidikannya. Untuk mewujudkan hal tersebut perlu dan mendesak diterapkannya prinsip pendidikan berbasis luas (Broad-Based Education) (Depdiknas,2002:4)&lt;br /&gt;Implementasi pendidikan kecakapan hidup memerlukan adanya manajemen yang tepat, kesamaan visi dan misi yang menjadi dasar dalam pengembangan dan atau pensiasatan kurikulum dan tradisi pembelajaran, manejemen personalia yang tepat, manajemen sarana dan prasarana, manajemen keuangan, manajemen kesiswaan, dan manajemen humas sekolah. Pendek kata, implementasi pendidikan kecakapan hidup diperlukan suatu reformasi manajemen yang efektif dan efisien. Yang perlu menjadi perhatikan, manajemen tersebut haruslah tetap berada pada kerangka paradigma baru sebagaimana dikembangkan dan menjadi arah reformasi Negara tercinta kita ini. Reformasi yang dimaksud adalah berubahnya system ketatanegaraan dari sentralisasi kearah desentralisasi atau otonomi daerah. Implikasinya dalam dunia pendidikan adalah berbentuk manajemen berbasis sekolah (School-Based Management). Demikian pula kaitannya dengan peningkatan mutu pendidikan juga diarahkan pada manajemen peningkatan mutu yang juga berbasis di sekolah, seperti telah dicanangkan pemerintah sejak tahun 2001, yang terkenal dengan Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (MPMBS).&lt;br /&gt;Guna mewujudkan visi dan misi pendidikan nasional tersebut di atas serta implementasi MPMBS hendaknya sekolah mampu merencanakan, mengorganisasi, mengerahkan segenap komponen sekolah, serta mengawasi sejumlah program reformasi sekolah. Hal itu dikandung maksud agar manajemen yang diberlakukan di sekolah itu benar-benar dapat efektif dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan. Untuk itu peran kepala sekolah dalam merealisasi tujuan itu menjadi sangat dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Permasalahan&lt;br /&gt;Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas guna peningkatan mutu pendidikan, khususnya di jenjang pendidikan menengah atas (baca SMA) beserta pengembangannya dan agar pelaksanaan MPMBS di sekolah dapat berjalan lebih efektif dan efisien maka sejumlah permasalahan yang penting untuk diangkat adalah:&lt;br /&gt;1. Bagaimanakah konsep manajemen sekolah agar bisa diimplementasikan dalam setiap kebijakan sekolah yang mengarah pada peningkatan mutu pendidikan di SMA?&lt;br /&gt;2. Bagaimanakah model Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) sesuai dengan tuntutan Depdiknas?&lt;br /&gt;3. Bagaimanakah realisasi konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam upaya menyusun rencana pengembangan sekolah guna peningkatan mutu pendidikan di SMA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BAB II&lt;br /&gt;PEMBAHASAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pembahasan mengenai rencana program pengembangan sekolah (SMA) dilakukan, terlebih dahulu akan dibahas mengenai konsep manajemen sekolah dan implementasinya pada pelaksanaan manajemen sekolah serta model manajemen berbasis sekolah sesuai tuntutan Depdiknas. Hal ini dikandung maksud agar program pengembangan sekolah (SMA) yang dilakukan oleh kepala sekolah beserta seluruh warga sekolah tidak terlepas dari kerangka teori dan konsep manajemen sekolah yang telah digariskan oleh Dediknas melalui Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah. Untuk itu sebuah tuntutan mutlak yang harus dikuasai oleh kepala sekolah sebelum menyusun rencana pengembangan sekolah, adalah menguasai konsep Manajemen Sekolah dan konsep Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah seperti yang telah ditetapkan Depdiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Konsep Manajemen Sekolah dan Implementasinya pada pelaksanaan Manajemen di SMA&lt;br /&gt;Menurut Sergiovanni dkk (dalam Direktorat Pendidikan Menengah Umum,2002:12) manajemen adalah proses kerja dengan dan melalui (mendayagunakan) orang lain untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien. Dari pendapat itu dapat ditarik kesimpulan bahwa manajemen dititik beratkan pada sebuah proses yang terdiri atas kegiatan-kegiatan dalam upaya mencapai tujuan bersama (administrasi) secara efisien.&lt;br /&gt;Lebih lanjut Gorton (dalam Direktorat Pendidikan Menengah Umum,2002:13) menegaskan bahwa manajemen merupakan strategi atau langkah-langkah yang digunakan administrator untuk melakukan tugas tertentu atau mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian manajemen menurut Gorton dipandang sebagai sebuah strategi intrumentalis dalam menjalankan sebuah pekerjaan teknis guna mencapai sebuah tujuan manajerial yang telah disusun bersama.&lt;br /&gt;Dari kedua pendapat di atas jika digabung akan menjadi sebuah sinergi dalam menjalankan organisasi (baca sekolah) guna mencapai tujuan yang telah digariskan bersama.&lt;br /&gt;Menurut Sergiovanni dkk kegiatan-kegiatan manajemen meliputi:&lt;br /&gt;a. Perencanaan (planning)&lt;br /&gt;b. pengorganisasian (organizing)&lt;br /&gt;c. pengerahan ( leading), dan&lt;br /&gt;d. pengawasan (controlling)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Perencanaan (planning)&lt;br /&gt;Perencanaan adalah keseluruhan proses pemikiran dan penentuan semua aktivitas yang akan dilakukan pada masa yang akan dating dalam rangka mencapai tujuan (Direktorat Pendidikan Menengah Umum,2002:15). Perencanaan merupakan langkah awal dalam proses manajemen yang harus dilakukan oleh seorang kepala sekolah bersama segenap warga sekolah.&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan sebuah perencanaan yang baik maka dalam menyusun perencanaan seorang kepala sekolah harus melibatkan segenap warga sekolah, yaitu wakil Kepala Sekolah, guru, staf TU, dan perwakilan orang tua siswa yang tergabung dalam Komite Sekolah. Agar perencanaan tersebut bisa efektif maka hendaknya memperhatikan aspek-aspek perencanaan yang tepat, yaitu a) perencanaan harus disertai rincian kegiatan yang teliti, b) tidak terlepas dari pemikiran pelaksanaan, c) terdapat tempat pengambilan resiko, d) memiliki sifat sederhana, luwes, dan praktis, d) didasarkan pada keadaan nyata masa kini dan masa depan, e) mendapatkan rekomendasi Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Pengorganisasian (organizing)&lt;br /&gt;Pengorganisasian merupakan keseluruhan proses pengelompokan semua tugas, tanggung jawab, wewenang, dan komponen dalam proses kerjasama sehingga tercipta suatu sistem kerja yang baik dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Direktorat Pendidikan Menengah Umum,2002:15). Dalam hal ini seorang kepala sekolah harus mampu mengorganisasi (baca:memanage) sekolah secara maksimal. Hal ini sejalan dengan konsep kepemimpinan kepala sekolah yaitu cara atau usaha kepala sekolah dalam mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan guru, staf, siswa, orang tua siswa, dan pihak lain yang terkait (depdikbud,1999:11). Dengan demikian seorang kepala sekolah akan mampu mengorganisasi stafnya apabila memahami konsep, prinsip, dan tipe kepemimpinan kepala sekolah dan mampu ‘membuat’ orang lain bekerja untuk mencapai tujuan sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Kepemimpinan (Leading)&lt;br /&gt;Kepemimpinan adalah keseluruhan proses mempengaruhi, mendorong, mengajak, menggerakkan, dan menuntun orang lain dalam proses kerja agar berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan aturan yang berlaku dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Direktorat Pendidikan Menengah Umum,2002:15). Dengan demikian seorang kepala sekolah harus mampu memadukan konsep kepemimpinan dan majerial (memimpin dan mengelola) agar peningkatan mutu pendidikan SMA bisa benar-benar terealisasi dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Pengawasan (controlling)&lt;br /&gt;Pengawasan adalah proses memonitor kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk menentukan harapan-harapan yang secara nyata dicapai dan melakukan perbaikan-perbaikan terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi. Dari batasan di atas seorang kepala sekolah tidak cukup hanya sekedar mendelegasikan tugas dan kewajiban kepada seluruh staf dan guru saja, namun juga harus mau dan mampu mengawasi tugas dan kewajiban yang telah didelegasikan tersebut. Hal ini dikandung maksud agar setiap kegiatan yang dilaksanakan disekolah menjadi lebih bermakna. Disamping itu pengawasan juga sangat berguna untuk meminimalisasi penyimpangan-penyimpangan dari pelaksanaan program yang telah ditetapkan sebelumnya dan sebagai bahan evaluasi program yang mengarah pada perbaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Model Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Sesuai dengan Tuntutan Depdiknas&lt;br /&gt;Pada dasarnya manajemen berbasis sekolah dilaksanakan untuk tujuan pengembangan pendidikan kecakapan hidup. Untuk itu implementasi manajemen berbasis sekolah dalam kerangka kecakapan hidup harus dilakukan melalui langkah operasional tertentu dan sistematis. Dalam hal ini Depdiknas melalui Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah menetapkan model manajemen berbasis sekolah, yaitu:&lt;br /&gt;a. Penyusunan data dan profil sekolah yang komprehensif, akurat, valid dan sistematis.&lt;br /&gt;b. Melakukan evaluasi diri-menganalisis kelemahan dan kekuatan seluruh komponen sekolah.&lt;br /&gt;c. Mengidentifikasi kebutuhan sekolah, merumuskan visi, misi, dan tujuan sekolah dalam rangka peningkatan kualitas pendidikan bagi siswa berdasarkan hasil evaluasi diri.&lt;br /&gt;d. Menyusun program kerja jangka panjang dan jangka pendek sesuai dengan visi, misi, dan tujuan sekolah yang telah dirumuskan, yang diprioritaskan pada peningkatan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;e. Mengimplementasikan program kerja.&lt;br /&gt;f. Melakukan monitoring dan evaluasi atas program kerja yang diimplementasikan, dan&lt;br /&gt;g. Menyusun program lanjutan (untuk tahun berikutnya) atas dasar hasil monitoring dan evaluasi. (Direktorat Pendidikan Menengah Umum,2002:27).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model inilah yang akan menjadi kerangka dasar dalam merencakan program pengembangan sekolah. Hal ini dikandung maksud agar rencana pengembangan sekolah (SMA) tidak terlepas dari konsep yang telah menjadi kebijakan umum Depdiknas. Karena pada dasarnya sekolah adalah kepanjangan tangan dari Depdiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Realisasi Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam Upaya Menyusun Rencana Pengembangan Sekolah guna Peningkatan Mutu Pendidikan di SMA&lt;br /&gt;Secara konseptual manajemen berbasis sekolah dapat didefinisikan sebagai proses manajemen sekolah yang diarahkan pada peningkatan mutu pendidikan, yang mana secara otonomi direncanakan, diorganisasikan, dilaksanakan, dan dievaluasi sendiri oleh sekolah sesuai dengan kebutuhan sekolah dengan melibatkan semua stakeholder sekolah. Beberapa hal implementasi dari Manajemen berbasis sekolah adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Menyusun Rencana Pengembangan Sekolah&lt;br /&gt;Agar pengembangan sekolah (SMA) bisa dilaksanakan secara optimal maka perlu sekali disusun sebuah rencana pengembangan. Rencana pengembangan inilah yang akan menjadi landasan kerja seluruh komponen sekolah. Secara garis besar, penyusunan rencana pengembangan sekolah hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Kepala sekolah membentuk tim penyususun program pengembangan sekolah, yang terdiri dari perwakilan semua unsur (warga) sekolah, setidaknya terdiri dari unsur guru, staf administrasi, komite sekolah, dan OSIS.&lt;br /&gt;2) Anggota tim yang dipilih kepala sekolah hendaknya terdiri personil yang memiliki wawasan kependidikan yang memadai dan memiliki minat dalam kegiatan perencanaan.&lt;br /&gt;3) Jenis perencanaan yang harus disusun meliputi rencana jangka panjang, rencana jangka menengah, dan rencana jangja pendek.&lt;br /&gt;4) Agar rencana dapat tersusun dengan baiknya hendaknya memperhatikan prinsip a) mengacu pada tujuan, b) dapat dilaksanakan, artinya dapat dilaksanakan dengan mengacu pada situasi dan kondisi sekolah, c) komprehensif dan integrated (menyelurus dan saling terkait), dan d) harus efektif (mencapai tujuan) dan efisien (menggunakan tenaga, sarana, atau dana minimal)&lt;br /&gt;5) Penyusunan rencana dapat ditempuh melalui langkah-langkah: a) mengkaji kebijakan yang relefan, b) menganalisis kondisi sekolah, c) merumuskan tujuan, d) mengumpulkan data dan informasi, e)menganalisis data dan informasi, f) merumuskan dan memilih alternative program, dan g) mengumpulkan data dan informasi.&lt;br /&gt;Setelah semua program telah tertuang dalam rencana pengembangan sekolah, hal yang tidak kalah penting adalah menumbuhkan kultur sekolah yang spesifik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Menumbuhkan Kultur (Budaya) Sekolah yang Spesifik&lt;br /&gt;Pada dasarnya kultur sekolah diartikan sebagai kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai tertentu yang dianut sekolah (Direktorat Pendidikan Menengah Umum; Kultur Sekolah,2002:15).. Spirit dan nilai-nilai tersebut misalnya spirit dan nilai-nilai disiplin diri, tanggung jawab, kebersamaan, dan keterbukaan. Secara umum kultur sekolah dapat tercermin dari hal-hal berikut ini:&lt;br /&gt;1) Fasilitas-fasilitas fisik sekolah dirawat dengan baik, termasuk segera diperbaiki fasilitas yang rusak.&lt;br /&gt;2) Penampilan fisik sekolah yang bersih, rapi dan nyaman serta memperhatikan keamanan.&lt;br /&gt;3) Pekarangan dan lingkungan sekolah ditata sedemikian rupa sehingga memberi kesan asri, teduh dan nyaman.&lt;br /&gt;4) Poster-poster afirmasi (poster berisi pesan-pesan positif) digunakan dan dipajang diberbagai tempat strategi yang mudah dan selalu dilihat oleh siswa.&lt;br /&gt;5) Sekolah menciptakan rasa memiliki sehingga guru dan siswa menunjukkan rasa bangga terhadap sekolahnya.&lt;br /&gt;6) Kondisi kelas yang menyenangkan sehingga tercipta suasana yang mendorong siswa belajar.&lt;br /&gt;7) Acara-acara penting disekolah dijadwal sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu waktu belajar.&lt;br /&gt;8) Ada transisi/peralihan yang lancar dan cepat antar kegiatan-kegiatan disekolah maupun di dalam kelas.&lt;br /&gt;9) Guru mau mengubah metode-metode mengajar, bila metode yang lebih baik diperkenalkan kepadanya.&lt;br /&gt;10) Penggunaan sistem moving-class.&lt;br /&gt;11) Penciptaan relasi kekeluargaan dan kebersamaan.&lt;br /&gt;12) Memberdayakan fungsi Perpustakaan sebagai kelas&lt;br /&gt;13) Membentuk tim siswa Pengatur kedisiplinan.&lt;br /&gt;14) Membudayakan lima menit berbahasa Inggris&lt;br /&gt;15) Menyusun formasi kelas yang ideal&lt;br /&gt;16) Menggalang potensi alumni&lt;br /&gt;17) Membentuk perpustakaan khusus bagi guru&lt;br /&gt;18) Memberdayakan fungsi 7 K di lingkungan Sekolah&lt;br /&gt;19) Memberlakukan kartu (kuning dan merah) bagi pelanggaran tata tertib siswa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Memanajemen Kurikulum&lt;br /&gt;Salah satu tugas utama sekolah adalah melaksanakan kegiatan pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku. Dengan demikian pemahaman terhadap kurikulum sampai dengan strategi pelaksanaan sangat penting. Dalam hal pengeloalaan kurikulum peran kepala sekolah menjadi sangat penting, mulai kegiatan perencanaan, koordinasi pelaksanaan, sampai evaluasinya.&lt;br /&gt;Sesuai amamat dari Permen No 24 tahun 2006 tentang pelaksanaan permen no 22 dan 23, jika sekolah belum memiliki dokumen kulrikulum KTSP, maka langkah pertama yang harus ditempuh oleh kepala sekolah adalah segera menyusun dokumen kurikulum mengembangkannya sesuai dengan pedoman/panduan yang telah dikeluarkan BSNP. Jika sekolah telah memiliki dokumen KTSP, atau bahkan telah melaksanakan KTSP, maka langkah yang harus diambil kepala sekolah adalah terus memantau pelaksanaan kurikulum dan melakukan evaluasi guna revisi/penyempurnaan kurikulum, terutama yang menyangkut masalah struktur dan muatan kurikulum. Hal ini dikandung maksud agar kurikulum yang dimiliki sekolah akan benar-benar mampu meningkatkan mutu pendidikan di SMA, hingga pada akhirnya siswa akan benar-benar bisa mandiri setelah lulus dari satuan pendidikan dan mampu mewujudkan harapan untuk dapat berpikir global dan bertindak sesuai dengan karakteristik dan potensi lokal. Dengan demikian muatan lokal dan kegiatan pengembangan diri harus diprogramkan, ditangani, dan dilaksanakan dengan serius.&lt;br /&gt;Selama ini masih jarang sekali institusi pendidikan SMA yang menjalin hubungan kemitraan dengan Dunia Usaha/ Dunia Industri yang berada di lingkungan sekolah, guna memaksimalkan implementasi kurikulum dan pelaksanaan pendidikan kecakapan hidup. Untuk itu alangkah lebih baik jika pihak sekolah dengan dibantu oleh Dinas Pendidikan dapat menjalin hubungan kerjasama itu guna peningkatan mutu pendidikan.&lt;br /&gt;Hal yang paling mendesak untuk segera diperbaiki adalah menyangkut masalah PBM. Seperti telah menjadi rahasia umum, bahwa ternyata sampai saat ini masih banyak guru yang belum merubah metode belajar mengajar di kelas, sehingga siswa tetap menjadi obyek dan guru adalah satu-satunya sumber belajar anak. Hal ini menyangkut sumber daya manusia, karena selama ini memang para guru masih sulit menemukan acuan metode pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Pengaktifan MGMP di sekolah adalah prioritas utama guna meminimalisasi penyimpangan-penyimpangan pelaksanaan kurikulum. Berkaitan dengan itu tugas kepala sekolah adalah memfasilitasi kegiatan itu agar pengetahuan guru, terutama menyangkut metode belajar mengajar di kelas terus berkembang, karena sesungguhnya letak perbedaan proses belajar mengajar dan bimbingan antara kurikulum sebelumnya dengan KBK maupun KTSP adalah berkaitan dengan metode mengajar guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Memanajemen Personalia.&lt;br /&gt;Tujuan akhir dari manajemen personalia adalah untuk mengoptimalkan potensi sumber daya manusia yang dimiliki sekolah guna tercapainya tujuan institusional. Berkaitan dengan manajemen ini tugas seorang kepala sekolah menyangkut: 1) pengadaan tenaga, 2) pemanfaatan tenaga yang telah dimiliki, dan 3) pembinaan dan pengembangan. Sebuah kesulitan yang cukup menghambat dan memerlukan penanganan serius dari kepala sekolah adalah tidak memadainya tenaga (guru) yang dimiliki sekolah, baik secara kuantitas maupun kualitas. Untuk itu seorang kepala sekolah harus pandai-pandai mengatur strategi guna memenuhi kekurangan tersebut, tentu dengan segenap usaha bersama warga sekolah, dinas Pendidikan dan komite sekolah. Berkenaan dengan pemanfaata, pembinaan dan pengembangan tenaga, kepala sekolah bisa melakukan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;1) Sekolah menciptakan hubungan-hubungan kerja kesejawatan diantara semua guru dan staf.&lt;br /&gt;2) Pengawas melakukan supervisi kooperatif guna memberikan masukan bagi peningkatan kompetensi guru.&lt;br /&gt;3) Terdapat program pengembangan profesional guru dan staf berdasarkan pada kebutuhan sekolah guna perbaikan pelayanan sekolah.&lt;br /&gt;4) Ada assesment mengenai kekuatan dan kekurangan setiap guru dan staf, khususnya terkait dengan kompetensi dan keterampilan yang terkait dengan pelaksanaan pembelajaran efektif.&lt;br /&gt;5) Pengembangan guru ditekankan pada pembentukan keterampilan profesional mereka.&lt;br /&gt;6) Ada data-base mengenai profil guru mencakup berbagai aspek yang berhubungan dengan kompetensi profesional (masa kerja, latar pendidikan, pengelaman diklat dan penataran, karya-karya, dsb)&lt;br /&gt;7) Ada program pengembangan staf berbasis sekolah, melalui program-program yang direncanakan sendiri oleh sekolah dan/atau melalui jaringan antar sekolah.&lt;br /&gt;8) Kesempatan yang tersedia untuk pengembangan kapasitas profesional, diberikan secara bergilir, adil dan merata kepada semua guru dan staf.&lt;br /&gt;9) Ada kegiatan sosialisasi lanjutan tentang hasil pelatihan/penataran yang diikuti staf tertentu kepada semua staf lainnya disekolah.&lt;br /&gt;10) Guru aktif mengikuti dan memanfaatkan kegiatan MGMP untuk pengembangan diri.&lt;br /&gt;11) Guru aktif secara mandiri dalam berbagai kegiatan-kegiatan mengkomunikasikan pengalaman – pengalaman dan pemikiran-pemikirannya, baik melalui penulisan artikel, makalah atau laporan penelitian, khususnya penelitian tindakan kelas.&lt;br /&gt;12) Sekolah memiliki program pembinaan kesejahteraan baik yang bersifat material dan nonmaterial yang mengarah kepada kepuasan kerja. Untuk itu perlu dilakukan hal-hal antara lain sebagai berikut:&lt;br /&gt;a). Memberikan apa yang menjadi hak guru dan staf administrasi.&lt;br /&gt;b). Memberikan penghargaan, baik berupa material maupun nonmaterial, bagi setiap staf yang berprestasi atau telah mengerjakan tugas dengan baik.&lt;br /&gt;c) Membina hubungan kekeluargaan di antara para guru/staf beserta keluarganya.&lt;br /&gt;d) Jika kondisi memungkinkan mengupayakan kesejahteraan guru dalam RAPBS, sepanjang tidak menyalahi aturan yang berlaku.&lt;br /&gt;e) selalu mendorong dan memfasilitasi agar setiap staf dan mengaktualisasikan potensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Memanajemen Kesiswaan&lt;br /&gt;Tujuan akhir dari manajemen ini adalah untuk membantu siswa mengembangkan dirinya. Kegiatan ini dimulai sejak seleksi penerimaan siswa baru sampai siswa tamat/lulus dari sekolah. Berkaitan dengan manajemen kesiswaan sekolah dapat menrapkan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;Layanan Pendukung Siswa.&lt;br /&gt;1) Siswa memiliki kesempatan yang cukup untuk praktek terbimbing dengan menggunakan konsep dan keterampilan baru.&lt;br /&gt;2) Guru memberikan tugas-tugas pada siswa pada jam pelajaran, bila guru yang bersangkutan tidak bisa hadir.&lt;br /&gt;3) Siswa dilibatkan setiap hari dalam kegiatan-kegiatan belajar yang membawa keberhasilan bagi mereka.&lt;br /&gt;4) Guru bersifat demokratis atas pikiran dan pendapat siswa baik terhadap pendapat yang benar maupun yang salah.&lt;br /&gt;5) Terdapat ruang khusus untuk melaksanakan program layanan bimbingan konseling terhadap siswa, khususnya yang mengalami kesulitan belajar.&lt;br /&gt;6) Terdapat program-program khusus untuk meningkatkan kapasitas dan keterampilan belajar siswa, seperti cara belajar efisien, cara mengatur kegiatan belajar dan waktu luang, peningkatan motivasi belajar, dsb.&lt;br /&gt;7) Guru dan konselor melakukan assesment dan pemantauan terus menerus terhadap kesulitan belajar siswa.&lt;br /&gt;8) Terdapat layanan pembimbingan khusus bagi siswa yang memiliki keberbakatan/kecerdasan khusus.&lt;br /&gt;9) Guru berlaku adil bagi siswa baik yang pintar maupun yang lambat.&lt;br /&gt;10) Ada jaringan kerja dan diskripsi tugas yang jelas antara guru, konselor, dan ortu dalam pelaksanaan pelayanan bimbingan kepada siswa.&lt;br /&gt;11) Tersedia banyak pilihan aktivitas untuk program ekstrakurikuler sesuai bidang bidang minat dan bakat siswa.&lt;br /&gt;12) Aktivitas-aktivitas ekstrakurikuler dilandasi dan dikaitkan dengan usaha pengembangan secara integral kecerdasan intelektual, emosional dan spritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan Dan Tanggungjawab Siswa.&lt;br /&gt;1) Siswa dapat memberikan masukan untuk pengembangan dan pengimplementasian kebijakan disiplin sekolah.&lt;br /&gt;2) Jalur komunikasi yang terbuka terjadi antara siswa dengan guru.&lt;br /&gt;3) OSIS aktif melakukan kegiatan dan ikut bertanggungjawab atas perilaku siswa.&lt;br /&gt;4) Terdapat kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan bakat dan pengalaman belajarnya diluar kelas reguler.&lt;br /&gt;5) Kurikulum dan peralatan dimodifikasi untuk memberikan jalan bagi siswa yang cacat untuk dapat mengikuti semua program.&lt;br /&gt;6) Siswa diberi kesempatan untuk memberikan masukan pada proses pengembangan pembelajaran.&lt;br /&gt;7) Semua kegiatan ekstrakurikuler tersedia bagi semua siswa, tanpa ada diskriminasi jenis kelamin, suku, agama atau kondisi-kondisi yang menghambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata Tertib Dan Kedisiplinan&lt;br /&gt;1) Terdapat peraturan tertulis yang menetapkan tingkah laku siswa yang bisa diterima, prosedur-prosedur disiplin dan sanksi-sanksinya.&lt;br /&gt;2) Penyusunan tata tertib melibatkan dan atau mendengarkan aspirasi siswa.&lt;br /&gt;3) Terhadap pelanggaran-pelanggaran, dengan cepat dilakukan tindakan kedisiplinan.&lt;br /&gt;4) Pemberian tugas tambahan atas ketidakhadiran dan keterlambatan yang dilakukan siswa.&lt;br /&gt;5) Tata tertib disosialisasikan kepada siswa melalui berbagai cara, termasuk menuliskannya dalam bentuk poster afirmasi yang dipajang dilokasi-lokasi strategis.&lt;br /&gt;6) Sosialisasi dan penerapan tata-tertib terutama difokuskan pada upaya membantu siswa memahami dan mampu menyesuaikan diri dengan setiap butir aturan dalam tata-tertib tersebut.&lt;br /&gt;7) Orangtua siswa memberikan dukungan kepada sekolah mengenai kebijakan disiplin sekolah.&lt;br /&gt;8) Penjatuhan hukuman atas pelanggaran tata-tertib hendaknya disertai dengan penjelasan mengenai alasan dan maksud positif dan pengambilan tindakan tersebut.&lt;br /&gt;9) Penegakan tata-tertib merupakan bagian dan terintegrasi dengan upaya membangun budaya perilaku etik dan sikap disiplin, baik dilingkungan internal sekolah maupun dilingkungan luar sekolah.&lt;br /&gt;10) Siswa memperlakukn guru dan siswa lainnya dengan rasa saling harga menghargai.&lt;br /&gt;11) Ada konsistensi/kesepakatan diantara para guru mengenai prosedur-prosedur disiplin bagi siswa.&lt;br /&gt;12) Guru memiliki standar tertulis tentang perilaku siswa yang harus dipatuhi secara konsisten dalam kelas.&lt;br /&gt;13) Terdapat kebijakan kedisiplinan bagi guru dan sekolah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f. Memanajemen Keuangan&lt;br /&gt;Masalah keuangan seringkali menjadi masalah rumit di sekolah. Guna meminimalisasi permasalahan yang menyangkut keuangan, seorang kepala sekolah harus transparans, akuntabel dan profesional khususnya dalam pengelolaan keuangan. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam manajemen ini adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Menyusun RAPBS&lt;br /&gt;Langkah awal yang harus ditempuh oleh kepala sekolah dalam hal manajemen keuangan adalah menyusun RAPBS dengan melibatkan guru, staf administrasi dan komite sekolah. Hal ini dikandung maksud untuk mengetahui sejauh mana program sekolah dapat dilaksanakan berdasarkan anggaran yang ada. Disamping itu dari RAPBS dapat diketahui sumber-sumber dana berasal dan sejauh mana dana tersebut dapat dimanfaatkan dengan benar.&lt;br /&gt;2). Pelaksanaan administrasi keuangan.&lt;br /&gt;Setelah program sekolah dilaksanakan, hal itu akan berdampak pada penggunaaan dana sesuai yang telah tertuang dalam RAPBS. Setiap kegiatan yang melibatkan keuangan harus dilakukan proses administrasi keuangan sesuai dengan aturan administrasi keuangan yang berlaku. Untuk itu perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;a). Pemasukan dan pengeluaran uang harus tercatat secara tertib dan disertai bukti-bukti yang syah, sesuai dengan aturan yang berlaku.&lt;br /&gt;b). Bukti pencatatan tersebut harus siap untuk diperiksa setiap saat.&lt;br /&gt;c). Administrasi keungan harus dilaksanakan secara terbuka. Artinya semua pihak yang terkait dapat melihat laporan keuangan tersebut.&lt;br /&gt;3). Penyusunan Laporan&lt;br /&gt;Laporan keuangan adalah salah satu bentuk laporan pertanggungjawaban penggunaan dana. Hal ini dilakukan untuk kepentingan pemeriksaan baik secara internal maupun secara eksternal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g. Memanajemen Sarana dan Prasarana&lt;br /&gt;Sarana dan prasarana sekolah pada dasarnya merupakan pendukung dan penunjang pelaksaan program-program sekolah. Seorang kepala sekolah yang baik adalah seorang yang mampu mendayagunakan sarana dan prasarana sekolah secara optimal guna mendukung kesuksesan pelaksanaan program. Agar kepala sekolah dapat mendayagunakan sarana dan prasarana sekolah dengan baik maka perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1). Melakukan inventarisasi barang milik.&lt;br /&gt;Proses inventarisasi ini meliputi seluruh bangunan dan ruangan beserta perangkat yang ada di dalamnya. Hal ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sarana yang ada, baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Dari kegiatan ini pula dapat diketahui kekurangan dan kelebihan sarana yang dimiliki, baik secara kuantitas maupun secara kualitas.&lt;br /&gt;2). Melakukan analisis kebutuhan sarana dan prasarana sekolah.&lt;br /&gt;Dari kegiatan inventarisasi barang milik yang telah dilakukan sebelumnya dapat diketahui kondisi barang baik secara kualitas maupun kuantitas. Setelah itu yang diperlukan adalah kegiatan analisis tentang kebutuhan sarana dan prasaran sesuai dengan program yang telah disusun sebelumnya.&lt;br /&gt;3). Perawatan sarana dan prasarana sekolah dengan alokasi dana yang tersedia.&lt;br /&gt;4) Mengajukan usulan penambahan/pengadaan sarana pada dinas Pendidikan berdasarkan kajian dan skala prioritas atau membuat terobosan pengadaan sarana dari sumber lain, selain yang diperoleh dari pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h. Membangun Hubungan Baik dengan Orang Tua Siswa dan Masyarakat&lt;br /&gt;1) Sekolah senantiasa menjalin komunikasi yang harmonis dengan orang tua siswa dan masyarkat.&lt;br /&gt;2) Sekolah berusaha melibatkan para orang tua siswa dalam pelaksanaan program-program sekolah.&lt;br /&gt;3) Sekolah berusaha membina hubungan kerjasama (kolaborasi) dengan dunia usaha dan dunia industri di sekitarnya guna mendukung dan menyukseskan program pengembangan sekolah&lt;br /&gt;4) Prosedur-prosedur untuk melibatkan para orangtua siswa dalam kegiatan-kegiatan sekolah disampaikan secara jelas, dan dilaksanakan secara konsisten.&lt;br /&gt;5) Orangtua siswa disekolah ini mempunyai kesempatan-kesempatan untuk mengunjungi sekolah guna mengobservasi program pendidikan.&lt;br /&gt;6) Pada pertemuan antara orangtua dengan sekolah, tingkat kehadiran orangtua siswa tinggi.&lt;br /&gt;7) Ada kerjasama yang baik antara guru dan orangtua siswa, sehubungan dengan pemantauan pekerjaan rumah (PR).&lt;br /&gt;8) Orangtua masyarakat dilibatkan dalam pembuatan keputusan-keputusan disekolah.&lt;br /&gt;9) Para guru sering berkomunikasi dengan para orangtua siswa tentang kemajuan siswa, dan menunjukkan bidang-bidang keunggulan dan kelemahan.&lt;br /&gt;BAB III&lt;br /&gt;PENUTUP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Kesimpulan&lt;br /&gt;1. Konsep Manajemen Sekolah dan Implementasinya pada pelaksanaan Manajemen di SMA meliputi kegiatan&lt;br /&gt;a. Perencanaan (planning)&lt;br /&gt;b. Pengorganisasian (organizing)&lt;br /&gt;c. Pengerahan ( leading), dan&lt;br /&gt;d. Pengawasan (controlling)&lt;br /&gt;2. Model Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) Sesuai dengan Tuntutan Depdiknas&lt;br /&gt;Pada dasarnya manajemen berbasis sekolah dilaksanakan untuk tujuan pengembangan pendidikan kecakapan hidup. Untuk itu implementasi manajemen berbasis sekolah dalam kerangka kecakapan hidup harus dilakukan melalui langkah operasional tertentu dan sistematis dengan model manajemen berbasis sekolah sesuai harapan Depdiknas melalui Direktorat Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah.&lt;br /&gt;3. Realisasi Konsep Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dalam Upaya Menyusun Rencana Pengembangan Sekolah guna Peningkatan Mutu Pendidikan di SMA&lt;br /&gt;Agar pengembangan sekolah dapat dilakukan dengan baik maka penyusunan rencana pengembangan sekolah menjadi sangat urgen dan wajib untuk disusun.&lt;br /&gt;a. Menyusun Rencana Pengembangan Sekolah&lt;br /&gt;b. Menumbuhkan Kultur (Budaya) Sekolah yang Spesifik&lt;br /&gt;c. Memanajemen Kurikulum&lt;br /&gt;d. Memanajemen Personalia.&lt;br /&gt;e. Memanajemen Kesiswaan&lt;br /&gt;f. Memanajemen Keuangan&lt;br /&gt;g. Memanajemen Sarana dan Prasarana&lt;br /&gt;h. Membangun Hubungan Baik dengan Orang Tua Siswa dan Masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Saran&lt;br /&gt;Karya tulis ini adalah salah satu alternative program pengembangan sekolah, khususnya pada jenjang SMA. Mengingat singkatnya uraian pada setiap bagian karya tulis, maka kepala sekolah perlu mempelajari lagi beberapa aturan dan panduan yang telah disusun oleh pemerintah, dalam hal ini adalah Depdiknas hingga diperoleh pemahaman yang terpadu dalam menjalan tugas memimpin sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. 2007. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual, Panduan bagi Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. Jakarta:BP. Dharma Bhakti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdikbud, 1999. Panduan Manajemen Sekolah. Jakarta: Ditjen Dikmenum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Depdiknas.2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------, 2002. Pedoman Pengembangan Kultur Sekolah. Jakarta:Dir. Dikmenum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------. 2002. Pedoman Manajemen Sekolah. Jakarta:Dir. Dikmenum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------. 2002. Konsep Dasar dan Pola Pelaksanaan. Jakarta:Dir. Dikmenum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-6446752806226634940?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/6446752806226634940/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=6446752806226634940' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/6446752806226634940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/6446752806226634940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2009/06/pengembangan-sekolah-sebuah-alternatif.html' title=''/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjyH5YofVlI/AAAAAAAAACs/ZW60cIyQPtM/s72-c/Copy+of+rm.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-6765895756686561057</id><published>2009-06-19T01:06:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T01:28:37.945-07:00</updated><title type='text'>Mengenal Lebih Jauh</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtJ4aTywBI/AAAAAAAAACQ/e5lbyATQ07c/s1600-h/PICT0463.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348950215916437522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 239px; CURSOR: hand; HEIGHT: 212px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtJ4aTywBI/AAAAAAAAACQ/e5lbyATQ07c/s320/PICT0463.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtIRQYg3lI/AAAAAAAAACI/Ql9Iyi_dyqo/s1600-h/Copy+of+PICT0070.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348948443725356626" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 173px; CURSOR: hand; HEIGHT: 221px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtIRQYg3lI/AAAAAAAAACI/Ql9Iyi_dyqo/s320/Copy+of+PICT0070.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtHsNW1LSI/AAAAAAAAACA/gyROV3b1ZrE/s1600-h/Copy+(2)+of+Copy+of+PICT0252.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348947807257832738" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 174px; CURSOR: hand; HEIGHT: 221px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtHsNW1LSI/AAAAAAAAACA/gyROV3b1ZrE/s320/Copy+(2)+of+Copy+of+PICT0252.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;TENTANG AKU DAN PARA SUPORTER&lt;/strong&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Foto-foto di atas adalah sumber inspirasi dalam hidupku. Suka dan duka kami lalui dalam mengarungi kehidupan ini. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sekedar tambahan tentang pribadiku:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Nama : Rohmad Widiyanto&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tugas : Lama - Guru SMA N 1 Cempaga, Kotawaringin Timur, Kalteng&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Baru - Guru SMA N 3 Sampit, Kalteng&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Prestasi:&lt;/div&gt;&lt;div&gt;1. Pemenang Lomba Penulisan Cerpen (LMCP) Tingkat Nasional thn. 2003&lt;/div&gt;&lt;div&gt;2. Pemenang Lomba Penulisan Cerpen (LMCP) Tingkat Nasional thn. 2005&lt;/div&gt;&lt;div&gt;3. Guru Berprestasi 1 tkt. Kabupaten Kotim kategori Guru SMA/SMK &lt;/div&gt;&lt;div&gt;4. Guru Berprestasi 1 tkt. Propinsi Kalimantan Tengah Katergori SMA/SMK&lt;/div&gt;&lt;div&gt;5. Guru Berprstasi Tkt Nasional Kategori SMA/SMK Tahun 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-6765895756686561057?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/6765895756686561057/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=6765895756686561057' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/6765895756686561057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/6765895756686561057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2009/06/mengenal-lebih-jauh.html' title='Mengenal Lebih Jauh'/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtJ4aTywBI/AAAAAAAAACQ/e5lbyATQ07c/s72-c/PICT0463.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-7131701504094884804</id><published>2009-06-19T00:37:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T00:52:05.105-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtCuAt5QAI/AAAAAAAAABw/7FEM6JW5HIw/s1600-h/Copy+of+PICT0084.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348942340666507266" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 240px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtCuAt5QAI/AAAAAAAAABw/7FEM6JW5HIw/s320/Copy+of+PICT0084.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtCt44KqxI/AAAAAAAAABo/Y_4_7hi6CYU/s1600-h/Copy+of+PICT0065.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348942338562108178" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 240px; CURSOR: hand; HEIGHT: 320px" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtCt44KqxI/AAAAAAAAABo/Y_4_7hi6CYU/s320/Copy+of+PICT0065.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;DI BAWAH AKAR ILALANG&lt;br /&gt;Oleh : Rohmad Widiyanto, S,Pd&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(1)&lt;br /&gt;            Bulan separuh baya menari-nari di atas air, seolah malas menyaput awan kelabu yang menyelimuti badannya. Temaram sinarnya membuat suasana redup bersama turunnya embun pagi yang mulai menggeliat, menari di atas dedaunan, atap rumah dan segala yang menengadah ke langit. Kokok ayam jantan di perkampungan amat sangat memukau merdunya, seolah memanggil semua makhluk untuk segera terjaga dari istirahat panjang.&lt;br /&gt;            Basiput,  sebuah desa yang cukup padat penduduknya, terletak di pinggiran sebuah sungai, masih tertidur lelap. Rumah-rumah panggung di pinggiran sungai itu seolah mirip berhala apabila dipandang dari kejauhan. Anggun dan berwibawa. Liukan jukung&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4837501816984051548#_ftn1" name="_ftnref1"&gt;[1]&lt;/a&gt;, kelotok&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4837501816984051548#_ftn2" name="_ftnref2"&gt;[2]&lt;/a&gt;, dan lanting&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4837501816984051548#_ftn3" name="_ftnref3"&gt;[3]&lt;/a&gt; yang tertambat di tongkat-tongkat rumah warga manambah pesona tersendiri, berlenggak-lenggok bagai seorang ‘puteri’ yang sedang menari. Lemah gemulai, lembut dan berkarisma.&lt;br /&gt;Sebentar lagi biasanya akan ramai orang turun ke batang4 untuk mengambil air wudlu dan membuang hajat pada jamban yang dibangun di atas beberapa batang kayu yang mengapung di pinggir sungai tersebut. Ya, orang-orang di sana memanfaatkan sungai sebagai multi fungsi. Sebagai lalu lintas air, sebagai tempat mandi, sebagai tempat mencuci, dan sekaligus buang hajat. Satu jamban biasanya dipakai oleh dua sampai tiga keluarga. Kayu-kayu penyangga jamban tersebut diikat pada kedua ujungnya dan ditambatkan pada tongkat kayu ulin penyangga rumah panggung dan di tengah-tengahnya ditancapkan beberapa tongkat panjang untuk mengunci ‘batang’ agar tidak terbawa arus sungai.&lt;br /&gt;Sebuah kenikmatan tambahan saat buang hajat adalah ketika ada kelotok lewat, jamban akan terayun-ayun mengikuti irama gelombang air.&lt;br /&gt;Tak seperti hari-hari biasanya, suana pagi itu terasa amat lain, hampir semua warga desa turun ke batang, hingga terlihat antrean di depan batang jamban. Pemandangan seperti ini hanya terjadi beberapa kali saja dalam setahun, biasanya pada hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha. &lt;br /&gt;Hari ini sesungguhnya bukan hari raya keagamaan, namun warga masyarakat menyambutnya dengan sangat antusias layaknya menghadapi hari-hari besar keagamaan. Itu pertanda  bahwa masyarakat sangat mendukung acara yang akan dilaksanakan pada pagi hingga siang ini&lt;br /&gt;Sejak subuh tadi alunan ayat-ayat suci Al-qur’an telah dikumandangkan dari pengeras suara yang di pasang di lapangan depan kantor kecamatan. Ya, hari ini akan diadakan tabligh akbar, upacara selamatan doa bersama dan sekaligus acara kirim doa buat arwah yang dikubur massal di ujung kampung beberapa tahun silam, akibat sebuah ‘tragedi kemanusiaan’.&lt;br /&gt;            Siapapun tak akan menyangka, desa yang begitu indah tersebut ternyata menyimpan kenangan yang tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2)&lt;br /&gt;            Jauh di ujung kampung, di pinggiran hutan lindung, sekelompok ‘massa’ dari dunia yang berbeda sedang mengadakan pembicaraan yang serius mengenai nasib mereka.&lt;br /&gt;“Saudaraku, sulit rasanya kita melupakan kata-kata bapak Camat, kita juga tidak menyangka bahwa itulah pesan terakhir yang sempat kita dengarkan, masih terbayang dalam ingatan kita kata-kata bapak Camat ‘kita ini adalah saudara, berdoalah dan tabahkanlah hatimu Saudaraku, Tuhan Maha Tahu, kulepas kepergianmu dengan isak tangisku, akupun turut berdoa semoga Saudaraku semua mendapat keselamatan dan bimbingan ke jalan yang diridloi Tuhan’. Ya, itulah pesan terakhir yang tak pernah bisa aku lupakan. Setelah itu kita berangkat ‘mengungsi’, seolah lega rasanya setelah kita berada di atas truk pengangkut dengan pengawalan ketat aparat” ‘seseorang’ mulai membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;“Betul, betul sekali apa yang kau katakan saudaraku, namun, ….. siapa pun tak akan menyangka, kita semua juga tidak menyangka, hanya dalam hitungan menit setelah itu, lalu tiba-tiba dari balik kegelapan malam beratus orang menghadang kita. Beratus tumbak, pedang, dan parang seolah menghipnotis kita, menghipnotis bapak-bapak aparat, hingga diluar kesadaran kita, kita digiring ke sebuah lapangan, dan dengan suka rela kita menyerahkan kepala, menyerahkan jantung, hati, serta semua yang kita miliki untuk santapan pedang tumbak dan parang mereka. Aku tak sanggup mengingatnya lagi saudaraku!” Kata hati salah seorang penghuni liang lahat massal di ujung desa, yang rupanya sebagai orang yang paling dipercaya memimpin ratusan penduduk di sana.&lt;br /&gt;Sementara yang lainnya hanya bisa tertunduk, lemas tanpa daya mendengar kata hati pemimpinnya. Ada yang tanpa kepala, tanpa lengan, tanpa telinga, tanpa hati, tanpa jantung, bahkan banyak diantara mereka yang tanpa alat kelamin. Mereka saling bicara dengan kata hati, dan perasaan. Itupun hanya segelentir orang yang mau menyampaikannya. Sebagian besar lainnya hanya dapat terdiam, pasrah seolah-olah tanpa keinginan dan tanpa tuntutan. Walau sesungguhnya mereka ingin angkat bicara, namun mereka tidak tahu apa yang harus dikatakan, dan untuk apa mereka bicara. Keadaan menyudutkan mereka ke dalam sebuah kondisi selalu diam, diam dan diam, jangankan hanya dengan kata hati, orang-orang kecil seperti mereka berbicara dengan mulutpun tak ada yang mau mendengarkan. Itulah rupanya yang membuat mereka enggan bicara.&lt;br /&gt;“Betul katamu pemimpinku, tapi apa yang dapat kita perbuat disini?” sahut penghuni yang lainnya.&lt;br /&gt;            “Ya, itulah yang kini sedang kupikirkan” sahut sang pemimpin&lt;br /&gt;            “Empat tahun sudah kita disini pemimpinku, aku tak berpikir lagi rumah dan hartaku yang sudah dibakar, dijarah, dan diperebutkan, itu tiada lagi berarti bagi kita. Aku pun juga sama sekali tak mempersoalkan siapa yang salah dan siapa yang benar, karena dalam kondisi kita semacam ini bukanlah pengakuan seperti itu yang kita perlukan, lagian antara benar dan salah sangatlah tipis batasnya, dan tinggal dari sisi mana kita melihatnya, dan toh itu juga bukan urusan kita lagi. Jujur aku katakan, aku rela sudah seperti ini, dan  andai kita yang dianggap bersalah menurut tata hukum manusia, biarlah itu semua, bukan waktunya lagi kita mengadakan pembelaan. Menurutku, hanya Tuhan sendiri yang tahu. Andai pun kita dianggap bersalah, sudah cukuplah kejadian ini untuk yang terakhir kalinya. Aku hanya merindukan alunan ayat-ayat-Nya, yang tak pernah lagi kita dengar, berkatalah, bertindaklah pemimpinku, agar nasib kita tidak terus begini!” sambung yang lainnya.&lt;br /&gt;            “Betul pemimpinku, kita tidak bisa lagi begini terus, aku hanya meminta, agar kita semua yang disini dirawat dengan sewajarnya, aku sudah muak berjejal dan bertumpuk  begini Saudaraku!” sahut yang lain lagi dengan emosi yang tinggi.&lt;br /&gt;            “Aku setuju sekali dengan apa yang kalian katakan, tapi bagaimana dan kepada siapa kita meminta, sementara dari sini segala doa sudah tidak akan didengar Tuhan, dari sini suara kita tak terdengar lagi oleh siapapun, Polisi, Lurah, Camat, atau Bupati sekalipun, dan bahkan sampai komnas HAM. Kita tidak didengar lagi. Kita semua disini orang kecil saudaraku. Tangan, kepala, hati, jantung, mata, bahkan alat kelamin kita yang kita korbankan paksa tak mampu lagi mengetuk hati sipapun. Lihatlah anak-anak kita saudaraku, mereka seharusnya tidak disini, mereka semua tanpa dosa, tapi mengapa berada disini pula, seharusnya mereka masih sibuk dengan urusan sekolahnya. Tapi apa yang dapat kita perbuat, Apa!?, sebagai pemimpin kalian aku menyerah saudaraku!”. Pemimpin kelompok itu bicara dengan nada yang sedikit meninggi, sambil sesekali pandangannya menerawang jauh entah kemana.&lt;br /&gt;Seluruh penghuni terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing sambil menunggu apa yang akan dikatakan lagi oleh pemimpinnya. Hening, syahdu, dan menyayat hati. Mereka sama-sama berharap akan datang perubahan nasib. Ini adalah pembicaraan penting yang sudah mereka lakukan entah untuk yang keberapa kali. Mereka juga berharap kepada pemimpinnya agar bisa menuntaskan masalah yang mereka hadapi.&lt;br /&gt;“Saudaraku, … pada dasarnya saya memiliki kedudukan yang sama dengan kalian, sama persis. Kalau toh kalian menganggap aku sebagai pemimpin di sini, itu pun tanpa dasar yang kuat.  Jadi suaraku sama dengan suara kalian semua. Apa yang dapat kuperbuat di bawah akar ilalang ini, nyaris tak ada saudaraku. Tengoklah di atas sana, tak satu pun orang ada yang peduli dengan kita di sini. ‘Rumah’ kita telah ditutup ilalang yang lebat, yang tak seorang pun pernah menjamahnya. Kita adalah generasi yang hilang saudaraku. Tengoklah juga di seberang pulau sana, di Poso, Ambon, Aceh, Jawa, juga terdapat ribuan orang yang memiliki nasib serupa dengan kita, dan kita semua tahu apa yang mereka terima? Apa? sama persis, persis dengan kita di sini saudaraku, memang kadangkala kesalahpahaman harus ditebus dengan amat mahal, bahkan teramat mahal bagi orang kecil seperti kita ini, dan kita harus sadar itu, kita pun tidak bisa menyalahkan siapa-siapa, ibarat dalam keluarga, andai terjadi percekcokan antara anak dengan anak, lantas siapa yang harus bertanggung jawab? Siapa?.. Ya tentu orang tuanya, tak bisa dong orang tua main tunjuk siapa yang salah dan siapa yang benar, orang tua harus bisa berdiri di tengah untuk mereda ketegangan. Harusnya orang tua cepat tanggap mengapa anak sampai cekcok, apa masalahnya, kenapa bisa begitu, dan segera menumpas bibit-bibit percekcokan tersebut agar tidak sampai tumbuh menjadi persengketaan yang lebih lebar. Bukan malah membiarkan anak kelahi sampai babak belur atau justru kelahi sendiri, itu namanya orang tua pengecut dan tidak bertanggung jawab, serta tidak pantas dijadikan contoh. Jadi apa yang kita alami ini persis dengan contoh itu. Kita semua ini sesungguhnya punya orang tua, punya pemimpin Saudaraku, harapan satu-satunya adalah mengetuk hati para orang tua kita, para pemimpin kita, karena kita begini juga karena orang tua kita membiarkan anak-anaknya kelahi sendiri, coba dari awal orang tua cepat tanggap, mungkin tidak akan terjadi seperti ini. Sebagai orang tua harus bertanggung jawab dan jangan hanya berkutat menangani orang-orang di atas sana saja, kita-kita yang di sini juga perlu untuk ditangani, toh kesalahan mereka juga kita sampai begini” penjelasan panjang pemimpin dengan tegas dan berwibawa.&lt;br /&gt;Para warga yang mendengarkan uraian pemimpinnya hanya bisa diam dan membisu, mungkin mereka tidak paham apa yang disampaikan pemimpin kelompoknya, mereka justru mengalami masa puncak kebingungan dan semakin tidak tahu apa yang harus mereka perbuat. Keberadaan mereka yang antara ada dan tiada ternyata sangatlah menyulitkan untuk diatasi. Hanya orang yang memiliki mata hati yang tajam yang memahami permasalahan mereka.&lt;br /&gt;Memecah keheningan suasana waktu itu, salah seorang dari mereka mengajukan usul, “Mohon maaf  Saudara-saudara, apapun yang kita bicarakan di sini hasilnya akan sia-sia saja, tak ada gunanya lagi kita ngomong, tak ada! Jangankan sekarang, dulu sewaktu kita masih hidup saja para pemimpin kita telinganya telah diprogram dengan teknologi canggih untuk tidak bisa mendengar jeritan hati rakyat kecil dan matanya pun juga telah dilapisi lensa kontak yang dirancang khusus agar tidak bisa melihat penderitaan orang kecil. Apalagi sekarang kita di sini, jelas tak akan mampu menerobos teknologi itu. Kita ini kan cuma bikin pusing kepala para pemimpin  aja. Ya sudahlah, sudah jadi nasib kita begini. Tak perlu macam-macam. Sejak jaman Gestok dulu juga sudah begini, yang pasti kita bisa berbangga karena penderitaan kita telah mengantarkan orang pada kedudukan yang lebih mapan dan tinggi, kita ini agen perubahan. Sudah janganlah berharap terlalu banyak kepada bapak-bapak aparat sebagai pemimpin kita dan sekaligus orang tua kita di atas sana, tiada gunanya mengurus kita. Nambah kerjaan aja, yang hidup aja tidak keurusan apalagi yang seperti kita, sudah baiknya kita jadi hantu aja hingga kita bebas kemana saja suka”&lt;br /&gt;Seluruh penghuni tiba-tiba tertawa mendengar pernyataan temannya. Mula-mula tawa mereka pelan saja, tetapi semakin lama semakin keras, semakin keras, dan akhirnya meledaklah seluruh penghuni. Satu persatu mereka bangkit dan membubarkan diri, membentuk sebuah barisan panjang, terus tertawa dan tertawa. Dan tiba-tiba suasana jadi berubah, semua penghuni kubur berhenti tertawa, lalu mereka menangis, semua menangis, gerakan tubuhnya semakin tak teratur, saling tabrak saling tindih dan saling menginjak. Perundingan kali itu tak membuahkan hasil apa-apa selain kekacaun.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(3)&lt;br /&gt;            Ruang pertemuan di kantor lembaga independen telah dipadati oleh warga masyarakat dari berbagai latar belakang desa dan etnis. Pada hari ini akan diadakan musyawarah bersama untuk yang kesekian kalinya sebagai wujud nyata rasa empati mereka terhadap tragedi kemanusiaan beberapa tahun silam.&lt;br /&gt;            Dari pertemuan-pertemuan terdahulu nyatalah bahwa sesungguhnya mereka tak menghendaki peristiwa tersebut sampai terulang kembali, mereka sama-sama menyadari perlunya iktikat baik dari semua unsur, untuk menyikapi permasalahan yang melanda daerah mereka beberapa tahun silam.&lt;br /&gt;            Setelah pembicaraan panjang dilakukan, mereka berinisiatif untuk mengadakan sebuah acara khusus keagamaan, semacam doa bersama dan sekaligus mengirim doa khusus untuk para korban yang telah tiada agar arwahnya dapat diterima disisi-Nya. Ini adalah sebuah langkah positif demi terciptanya kedamain, sambil menunggu keputusan dari pemerintah yang tak kunjung ada.&lt;br /&gt;            “Bapak-bapak, dan Ibu-ibu yang saya hormati, sesungguhnya apa yang kita lakukan sekarang ini adalah sebuah langkah yang terlambat. Namun keterlambatan ini bukanlah tanpa sebab. Kita tahu bersama langkah-langkah rekonsiliasi yang pernah dilakukan selalu dan selalu menemui jalan buntu, hingga kata sepakat itu tak pernah terwujud. Untuk itu sebuah langkah yang tepat apabila kita berinisiatif mengadakan acara yang telah kita susun secara matang tersebut,  semoga acara yang akan kita lakukan beberapa hari mendatang dapat berjalan dengan lancar dan mendapatkan sambutan yang cukup antuasias dari seluruh warga,” demikian kata penutup pertemuan yang disampaikan oleh pemimpin rapat.&lt;br /&gt;            Sampit, 2005&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn1" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4837501816984051548#_ftnref1" name="_ftn1"&gt;[1]&lt;/a&gt;   Semacam perahu sampan, terbuat dari batang kayu ulin yang dipahat. Biasanya dipergunakan petani sebagai alat pengangkut karet sadapan dari kebun dan memancing memancing udang&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn2" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4837501816984051548#_ftnref2" name="_ftn2"&gt;[2]&lt;/a&gt;   Perahu dengan mesin, biasanya digunakan sebagai sarana angkutan penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a title="" style="mso-footnote-id: ftn3" href="http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=4837501816984051548#_ftnref3" name="_ftn3"&gt;[3]&lt;/a&gt;  Bangunan rumah yang didirikan di atas beberapa batang kayu meranti yang dijajarkan terapung sebagai tempat mandi dan jamban&lt;br /&gt;4. Semacam MCK di pinggiran sungai yang terbuat dari susunan batang meranti   &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-7131701504094884804?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/7131701504094884804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=7131701504094884804' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/7131701504094884804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/7131701504094884804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2009/06/di-bawah-akar-ilalang-oleh-rohmad.html' title=''/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtCuAt5QAI/AAAAAAAAABw/7FEM6JW5HIw/s72-c/Copy+of+PICT0084.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4837501816984051548.post-3774180508410721839</id><published>2009-06-19T00:30:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T01:01:02.889-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='UJIAN NASIONAL'/><title type='text'>RENUNGAN SEPUTAR PELAKSANAAN UN 2009</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtFDTtNCKI/AAAAAAAAAB4/7GmQ2k-6ows/s1600-h/Copy+of+PICT0146.JPG"&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5348944905564391586" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 210px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtFDTtNCKI/AAAAAAAAAB4/7GmQ2k-6ows/s320/Copy+of+PICT0146.JPG" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="color:#ffffcc;"&gt;&lt;strong&gt;RENUNGAN SEPUTAR PELAKSANAAN UJIAN NASIONAL 2009&lt;br /&gt;Oleh : Rohmad Widiyanto, S.Pd&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang menyengat, seorang wali kelas XII di sebuah SMA ternama, tak mampu lagi menahan air mata. Amplop demi amplop yang berisi pengumuman kelulusan telah habis dibagi. Setiap amplop yang dibuka siswa selalu menghasilkan jeritan pilu dan tangisan yang tak terbendung. Hampir semua siswa secara serentak menghambur ke pelukan wali kelas, dan meledaklah tangisan pilu itu. Sang bintang kelas yang terkenal pandai, berkepribadian baik, dan aktivis kegiatan OSIS, tak ketinggalan terlibat dalam kejadian itu. Sebuah cerita yang amat memilukan, karena tak satupun siswa di kelas tersebut lulus dari bangku sekolah. Itulah sepenggal “fragmen” pilu penutup perhelatan akbar yang digelar Depdiknas, Ujian Nasional namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepenggal kisah di atas hanyalah salah satu di antara banyak kejadian memilukan di balik pelaksanaan Ujian Nasional tahun 2009, sebagai salah satu alat ukur dari pencapaian tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan memang tidak terlalu mudah untuk dirumuskan dan diukur. Hasil-hasilnya pun juga tidak selalu dapat dirasakan seketika, namun setidaknya jika ditarik sebuah kesimpulan, tujuan pendidikan pada dasarnya adalah sebuah upaya untuk memaksimalkan potensi manusia.&lt;br /&gt;Pendidikan antara lain memberikan peluang kepada seseorang untuk memiliki ilmu pengetahuan, teknologi, berbagai kemahiran, dan keahlian. Melalui pendidikan orang bisa sampai pada kesadaran “pemilikan” bahkan “penguasaan” ilmu pengetahuan dan teknologi, sehingga meningkat pula kesadarannya akan kemampuan untuk bergumul dalam berbagai masalah.&lt;br /&gt;Di pihak lain pendidikan tak boleh mengabaikan tugasnya untuk membangun diri pribadi sebagai penanggung jawab eksistensi manusia. Manusia sebagai mana “adanya” yang sejati adalah hasil perkembangan yang juga dipengaruhi oleh upaya pendidikan. Dalam hal ini pendidikan lebih ditujukan pada kemantapan kesejatian diri pribadi sebagai pusat orientasi. Pada pusat inilah terdapat fungsi cipta, rasa, dan karsa yang manifestasinya baik langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan kesadaran nilai-nilai pada diri pribadi yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Jika dalam hal pertama pendidikan memberikan peluang untuk memiliki sesuatu (having), maka dalam hal kedua pendidikan ditujukan pada mantapnya kesejatian diri pribadi (being). Tidak keliru Ujian Nasional pada hakikatnya adalah sebuah ihktiar untuk memberikan kesempatan “to have” serta memantapkan kesadaran “to be” sekaligus jalan pemantapan potensi diri, bukan sebuah judgement. Pengukuran penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai salah satu kompetensi yang harus dikuasai siswa seharusnya tidak bisa mengabaikan praktik hidup sehari-hari, karena pada dasarnya pengetahuan ilmiah bersumber dari pengetahuan-pengetahuan pra-ilmiah sehari-hari (lebenswelt). Hal itu pun sesungguhnya sudah tertulis jelas dalam Permen no. 20 tahun 2007 tentang prinsip penilaian.&lt;br /&gt;Jika pemerintah tetap ingin mempertahankan Ujian Nasional seharusnya pelaksanaanya didasarkan atas prinsip penilaian tersebut. Prinsip-prinsip penilaian sesuai Permen no. 20 tahun 2007 meliputi:&lt;br /&gt;1. sahih, berarti penilaian didasarkan pada data yang mencerminkan kemampuan yang diukur.&lt;br /&gt;2. objektif, berarti penilaian didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas, tidak dipengaruhi subjektivitas penilai.&lt;br /&gt;3. adil, berarti penilaian tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berkebutuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.&lt;br /&gt;4. terpadu, berarti penilaian oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.&lt;br /&gt;5. terbuka, berarti prosedur penilaian, kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan dapat diketahui oleh pihak yang berkepentingan.&lt;br /&gt;6. menyeluruh dan berkesinambungan, berarti penilaian oleh pendidik mencakup semua aspek kompetensi yang meliputi aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.&lt;br /&gt;7. sistematis, berarti penilaian dilakukan secara berencana dan bertahap dengan mengikuti langkah-langkah baku.&lt;br /&gt;8. beracuan kriteria, berarti penilaian didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.&lt;br /&gt;9. akuntabel, berarti penilaian dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkenaan dengan prinsip penilaian poin 6, yakni menyeluruh dan berkesinambungan sesungguhnya Depdiknas lah yang mengawali “penabrakan” aturan ini. Sungguh tidak adil jika penilaian yang dilakukan oleh pemerintah hanya mengambil salah satu aspek penilaian, yaitu aspek kognitif saja. Langkah itu sekaligus mengabaikan penilaian proses dan kompetensi siswa pada ranah psikomotor dan afektif yang telah dilakukan guru. Tak ada artinya penilaian proses, pembinaan budi pekerti, bimbingan psikomotor, dan pemupukan sikap yang positif (afektif) pada mata pelajaran yang dilakukan guru jika dimentahkan oleh ketentuan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan siswa yang nota bene hanya mengukur aspek kognitif saja. Kondisi itu diperparah dengan kenyataan bahwa masa pendidikan siswa selama tiga tahun seolah hanya ditentukan dalam waktu dua jam (120 menit) mengerjakan soal ujian. Yang menjadi pertanyaan, lantas apa makna prinsip berkesinambungan dalam Permen itu?&lt;br /&gt;Kondisi di atas barangkali pernah dialami oleh semua sekolah di negeri ini. Hampir setiap tahun penyelenggaraan Ujian Nasional meninggalkan luka bagi siswa yang menurut penilaian pendidik (guru) memiliki prestasi yang baik dan mendapat rangking di kelasnya. Luka itu disebabkan oleh ketidaklulusan siswa tersebut menempuh ujian nasional. Bahkan pernah juga seorang siswa yang memenangkan olimpiade sains tingkat propinsi tidak lulus dari satuan pendidikan karena yang bersangkutan tidak lulus ujian nasional. Mengapa hal itu bisa terjadi?&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang bisa menjadi faktor penyebab. Salah satu penyebab adalah sistem penilaian yang diterapkan dalam ujian nasional mengabaikan prinsip penilaian berkesinambungan yang telah dilakukan guru. Jika penilaian proses berkesinambungan (yang tertera dalam buku Raport) dijadikan bahan pertimbangan pemerintah dalam mengambil keputusan untuk menentukan nilai standar nasional baragkali hal di atas tidak akan terjadi. Artinya, jika pemerintah ingin menghargai prinsip penilaian yang berkesinambungan yang telah dilakukan pendidik, nilai standar nasional bukan hanya di ambil dari hasil Ujian Nasional itu saja, tapi dengan jalan mencari nilai rata-rata antara nilai raport dan nilai ujian nasional.&lt;br /&gt;Akibat dari kebijakan itu fatal sekali. Salah satu contohnya, seorang siswa kelas XII yang dalam kesehariannya menduduki rangking 3 besar dikelasnya, satu hari sebelum mengikuti ujian nasional tiba-tiba siswa itu mengalami peristiwa yang luar biasa, misalnya orang tua masuk rumah sakit, atau ada masalah keluarga. Dengan adanya peristiwa itu, praktis siswa yang bersangkutan tidak bisa berkonsentrasi dalam belajar, dan akibatnya, siswa tersebut tiak bisa mengerjakan soal Ujian Nasional dengan maksimal. Hasil akhirnya, nilai ujian nasional anak tersebut belum memenuhi krteria yang telah ditetapkan pemerintah. Jika dalam hal ini pemerintah (depdiknas) mau memperhatikan nilai yang didasarkan atas prinsip berkesinambungan, peristiwa itu tak akan pernah terjadi, dan siswa tersebut tetap saja bisa lulus.&lt;br /&gt;Akibat yang paling fatal dari sistem penyelenggaraan ujian nasional seperti tersebut di atas adalah tidak terwujudnya peta mutu pendidikan di Indonesia yang sesungguhnya. Dengan kata lain jika saat ini Depdiknas memiliki peta mutu pendidikan di daerah, barangkali hal itu tidak mencerminkan kondisi yang sesungguhnya. Kondisi ini disebabkan oleh adanya prasangka-prasangka negatif terhadap pelaksanaan Ujian Nasional. Hampir di setiap tahun penyelenggaraan Ujian Nasional dan di setiap daerah selalu diwarnai dengan ”keanehan-keanehan”. Keanehan-keanehan itu antara lain, sekolah-sekolah maju dengan kategori standar nasional bahkan yang berstandar internasional tidak mampu meluluskan siswanya 100%, atau justru 1 % pun tidak ada yang lulus. Sementara di sekolah lain yang nota bene memiliki mutu pendidikan yang rendah, karena tidak memiliki sarana prasarana lengkap dan gurunya pun tidak lengkap, misalnya sekolah-sekolah di daerah terpencil, justru bisa meluluskan 100% siswanya dengan nilai yang amat fantastis. Ada apa dengan ini semua? Solusinya, mungkin tidak pantas jika pemerintah menempatkan posisi guru sebagai orang yang selalu dicurigai atau bahkan mengirim Densus 88 untuk menangkap guru yang dicurigai dan terbukti melakukan kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Pelaksanaan Ujian Nasional yang bisa menghasilkan peta mutu pendidikan yang real adalah tantangan bagi pemerintah. Bukan Ujian Nasionalnya yang salah, namun sistem dan konsepnya yang perlu dibenahi.&lt;br /&gt;Buruknya hasil Ujian Nasional tahun 2009 ini tidak sepantasnya jika hanya diakhiri dengan komentar saling menyalahkan tanpa memberikan solusi yang tepat. Tidak benar pula jika ada beberapa kalangan yang langsung memfonis jika rendahnya tingkat kelulusan siswa tahun 2009 karena disebabkan oleh adanya penyalahgunaan anggaran dana pendidikan, seperti yang baru-baru ini terjadi. Masalah pendidikan adalah masalah yang amat kompleks, sehingga memerlukan pemikiran yang jernih untuk mengatasinya. Termasuk dalam hal ini adalah Ujian Nasional.&lt;br /&gt;Pelaksanaan Ujian Nasional Ulang yang terapkan pada 33 SMA di Indonesia, dan sekaligus menjadi perdebatan sengit antara DPR dan Pemerintah seharusnya tak selayaknya terjadi jika Depdiknas jauh-jauh sebelumnya telah mengantisipasi tentang hal itu. Bahkan menurut beberapa kalangan, ditafsirkan sebagai ketidakmampuan Depdiknas dalam menyelenggarakan Ujian Nasional yang jujur, adil, dan bermartabat. Antisipasi tentang segala kemungkinan yang bakal terjadi di seputar Ujian Nasional tersebut seharusnya dan akan lebih baik jika dituangkan dalam POS (Prosedus Operasi Standar) Ujian Nasional. Ujian Nasional Ulang juga meninggalkan bekas luka mendalam bagi sekolah yang hanya meluluskan siswanya kurang dari 5%, karena sekolah tersebut merasa tidak mendapatkan keadilan. Kenapa sekolah-sekolah itu tidak diikutkan dalam Ujian Nasional Ulang, padahal mungkin kasusnya juga kurang lebih sama. Apa beda antara 100% tidak lulus dengan 1 % lulus. Meskipun Ketidaklulusan siswa bukan berarti menutup jalan meraih masa depan, namun ketidaklulusan yang ditimbulkan akibat adanya penerapan sistem yang tidak adil akan melahirkan kondisi yang amat menyakitkan. Kalangan pendidik sesungguhnya telah menanamkan pemahaman tentang kesuksesan dan kegagalan pada diri siswa, namun kegagalan yang disebabkan oleh faktor yang kurang masuk akal akan melahirkan kekecewaan.&lt;br /&gt;Pemerintah dalam hal hal ini Depdiknas tentu saja tidak akan membiarkan hal ini terus berlangsung. Indonesia yang sangat terkenal dengan adat ketimurannya dan menjujung nilai-nilai moral ini, sesungguhnya tidak seharusnya membiarkan sesuatu yang tidak pantas menurut kriteria kepatutan moral tumbuh subur. Ujian Nasional sebagai penentu standar pendidikan nasional masihlah sangat perlu untuk tetap dipertahankan, namun konsep dan tujuan pelaksanaannya yang perlu direfisi dan dikaji lebih mendalam. Dengan biaya yang mencapai ratusan milyar, mungkin akan lebih baik jika Ujian Nasional diharapkan bisa mendapatkan hasil yang benar-benar mencerminkan mutu pendidikan di setiap daerah sekaligus merujuk pada kualifikasi apa yang diperolehnya oleh lulusannya? Bagaimana mengubah image kata ”Lulus” yang berarti menjadi tanda berakhirnya seorang siswa menempuh pendidikan di masing-masing tingkatan sekaligus menjadi kualifikasi? Inilah beban terberat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampit, 18 Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4837501816984051548-3774180508410721839?l=rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/feeds/3774180508410721839/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4837501816984051548&amp;postID=3774180508410721839' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/3774180508410721839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4837501816984051548/posts/default/3774180508410721839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rohmadwidiyanto-sampit.blogspot.com/2009/06/renungan-seputar-pelaksanaan-un-2009.html' title='RENUNGAN SEPUTAR PELAKSANAAN UN 2009'/><author><name>Rohmad Widiyanto</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07541869609897791257</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='31' height='25' src='http://1.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/Su-RVerOweI/AAAAAAAAAEE/2nRUZG0AmCE/S220/rm.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_CJFWcnqkUPU/SjtFDTtNCKI/AAAAAAAAAB4/7GmQ2k-6ows/s72-c/Copy+of+PICT0146.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
